
(Dua kantung? dan Kesalahpahaman)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Hari ini Hans mengajak istrinya untuk pergi memerika kandungannya, Hans tak sabar melihat anaknya dilayar monitor.
"Sayang, ayo." ucap Hans yang sudah siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Nanti saja, aku malas." akhir-akhir ini Airen memang sering berdandan namun setelah berdandan dia menjadi malas untuk keluar.
Hans tak memperdulikan ucapan Airen, dia langsung menggendong tubuh istrinya. Sontak Airen membelalakkan matanya, menatap tajam ke arah suaminya itu.
"Turunin aku!" ucap Airen dengan sedikit keras.
"Ngga, kecuali kamu mau untuk pergi periksa kandungan."
"Yauda iya, turunin dulu. Aku ngga suka digendong." ucap Airen.
Hans pun menurunkan istrinya dengan perlahan, Hans menggandeng tangan Airen menuju mobilnya. Sedangkan Airen merasa dongkol dengan suaminya.
Padahal belum juga dimaafin sepenuhnya, ini malah berani bangat gendong-gendong aku huh. batin Airen sebal.
Hans melajukan mobilnya dengan perlahan, karena jalanan desa tidak semulus dikota. Hans harus berhati-hati, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada anaknya.
"Ihh, lambat bangat sih." protes Airen.
"Sabar sayang, ngga usah cepat-cepat. Keselamatan kita yang paling utama." ucap Hans dengan lembut.
Aneh sekali rasanya, Tuan arogan yang pernah ku temui mengapa jadi jinak seperti ini. batin Airen terkekeh.
"Apa kau sedang mengumpat ku?" tanya Hans menatap wajah aneh istrinya.
Ternyata masih sama, selalu bisa menebak jika ada orang yang mengumpatnya. batin Airen.
"Tidak, perhatikan jalannya!" ucap Airen, Hans hanya mengangguk patuh.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit yang Hans dirikan.
Hans membukakan pintu mobilnya perlahan, dia mengulurkan tangannya agar Airen berpegangan padanya. Namun Airen lebih memilih untuk turun sendiri, tanpa bantuan dari Hans.
Sabar. batin Hans.
Mereka berjalan beriringan, semua perawat dan suster menunduk sebagai bentuk penghormatannya kala melihat kedatangan Hans yang notabennya adalah pemilik rumah sakit ini.
Aneh, kenapa semua orang menundukkan kepalanya? batin Airen.
Hans menggenggam tangan Airen, dia tersenyum saat Airen melihat ke arahnya. Airen pun pasrah membiarkan Hans menggenggam tangannya.
__ADS_1
Syukurlah, dia tidak menolak ku. batin Hans.
Mereka pun menuju ruang pemeriksaan kandungan, Hans langsung masuk begitu saja padahal ada beberapa orang yang sedang mengantri. Namun, langkahnya terhenti saat dia memegang hendel pintu. Karena suara teriakan orang-orang kepadanya.
"Hei, jangan menyerobot masuk!" ucap salah satu bapak-bapak yang menemani istrinya.
"Iya benar, kami sudah menunggu lama. Sedangkan kalian, langsung masuk begitu saja. Itu namanya tidak adil tahu." ucap salah satu Ibu-ibu.
Hans menggertakan giginya, rahangnya mengeras mendengar semua ocehan orang lain. Belum sempat Hans membuka pintu, dia pun membalikan tubuhnya menatap tajam ke arah orang-orang yang tadi meneriaki dirinya.
Semua orang nampak menelan salivanya kasar, ada yang ketakutan akibat tatapan tajam Hans, ada yang terkesima dengan ketampanan yang dia miliki. Sedangkan Airen mencoba untuk mengelus lengan suaminya, Airen tahu betul karakter Hans seperti apa.
"Apa kalian protes kepada ku?" tanya Hans dingin.
"T--Tidak Tuan, silahkan kalian duluan saja. Pasti istri Tuan tidak sabar untuk melihat kandungannya. Semoga anak Tuan sehat selalu." ucap bapak-bapak yang tadi menegur Hans.
"Sudah, sebaiknya kita mengantri saja." ucap Airen yang juga mendapatkan tatapan tajam suaminya.
"Nyonya sebaiknya duluan saja, kami tidak apa-apa kok." ucap ibu-ibu.
Hans tersenyum senang karena semua orang sudah mengalah, dia pun menggenggam tangan Airen dan menariknya masuk ke dalam.
Astaga kucing garong ini benar-benar membuat semua orang takut, jangan seperti ayah ya nak. batin Airen sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Dok cepat periksa istri dan anakku!" ujar Hans.
Airen berbaring diatas brankar, Dokter wanita itu pun mengoleskan gel pelumas ke perut Airen dengan merata, dia pun memulai untuk melihat kondisi janin.
"Wahhh, Tuan Nyonya lihatlah. Disini ada dua kantung kehamilan." ucap Dokter itu yang sangat senang.
"Apa artinya?" tanya Hans yang penasaran.
"Itu artinya, kemungkinan besar Nyonya dan Tuan akan memiliki bayi kembar. Namun untuk lebih lanjutnya, Nyonya harus diperiksa kembali." ucap Dokter itu.
Apa!
Airen dan Hans sama-sama terkejut, Hans sangat bahagia karena sekali tanam langsung tumbuh dua buah. Sedangkan Airen gelisah sendiri, dia tak tahu harus berekspresi seperti apa.
Airen melihat wajah Hans yang sangat bahagia, dilihat suaminya yang tersenyum senang ke arah layar monitor. Hati Airen sedikit menghangat melihat senyuman tulus yang terluas di bibir suaminya.
Hans menyadari jika Airen tengah menatapnya, dia pun menatap balik istrinya. Hans tak dapat menahan kebahagiaannya, dia langsung mencium kening Airen dengan sayang. Dokter itu terkejut dengan kehadiran Hans yang mencium Airen, padahal dirinya masih sedang memeriksa istrinya.
Astaga calon Hot Daddy. batin Dokter itu.
"Tuan menyingkirlah sebentar, saya belum selesai untuk memeriksa Nyonya." ucapnya.
Hans pun menjauhkan dirinya dari Airen, dia membiarkan Dokter itu memeriksa istrinya dengan nyaman.
Setelah pemeriksaan beberapa lama, akhirnya Airen telah selesai diperiksa. Mereka pun menghampiri Dokter untuk meminta resep vitamin, dan juga bertanya beberapa hal mengenai kehamilan. Setelah semuanya selesai, Hans langsung pergi dari sana bersama Airen. Hans meminta agar hari ini rumah sakit menggratiskan siapa saja yang ingin berobat. Dan mereka pun pulang ke rumah.
__ADS_1
Meskipun aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa, yang jelas aku merasa senang karena hari ini semua orang dapat pengobatan gratis. batin Airen.
Sesampainya di rumah.
"Cahya, terimakasih banyak. Aku sangat bahagia." ucap Hans sambil memeluk istrinya.
Airen hanya terdiam, dia bingung harus menanggapi seperti apa. Pikirannya kalut memikirkan ucapan Hans, yang akan menceraikan dirinya setelah dia melahirkan. Hans menyadari jika istrinya hanya diam saja.
"Ada apa? Apa kau tidak bahagia hm?" tanya Hans sambil menatap mata Airen dengan dalam.
Airen memperlihatkan mata sendunya kepada Hans, tiba-tiba airmatanya mengalir begitu saja. Hans dibuat kaget, apa Airen sangat membenci bayi mereka?
Hans tersenyum kecut, "Tidak apa-apa, jika kau tidak menginginkan bayi ini. Biar aku yang mengurus mereka nanti." Hans berfikir jika Airen tak menginginkan kehadiran anak mereka.
Airmata Airen semakin mengalir deras, begitu sesak rasanya mendengar ucapan Hans. Airen mundur beberapa langkah dari hadapan Hans.
"Hikss.. Kau jahat sekali Tuan! Kau hanya menginginkan anak ini, bahkan setelah anak ini lahir kau mengatakan akan menceraikan aku, Kau pikir aku akan menyerahkan bayi ini kepada mu hah! Tidak akan pernah! Kau jahat, sangat jahat. Padahal aku berusaha mencoba untuk menerima mu sebagai suamiku, tapi nyatanya kau hanya menginginkan anak ini. Hikss.." teriak Airen sambil berderai airmatanya, Airen langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Brak!
Airen menutup pintunya dengan sangat kencang.
Deg.
Hans hanya mematung ditempat, dia tak menyangka jika Airen sudah menerima dirinya. Hans merutuki kebodohannya, kenapa bisa dia mengatakan hal itu kepada istrinya.
A--aku menyesal, sangat menyesal pernah mengatakan hal itu. Ku mohon maafkan aku Cahya. batin Hans.
Bibirnya kelu, tak dapat mengucapkan kata-kata apapun, bahkan kakinya terasa lemas saat menyaksikan Isak tangis istrinya. Baru saja dia merasakan kebahagiaan, kini harus hancur karena melihat air mata istrinya yang mengalir deras.
Tok.. tok.. tok..
"S--sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ayo kita bicarakan kembali, aku tidak akan menceraikan mu, sungguh! Kita akan merawat anak itu bersama-sama. Sayang." ucap Hans di depan pintu kamar.
"Hikss.. pergilah! Aku ingin sendiri!" teriak Airen dari dalam kamar.
"Baiklah, tapi ku mohon jangan mengurung diri di dalam kamar. Kita bisa bicarakan hal ini dengan baik-baik, kamu salah paham sayang." ucap Hans sendu.
"Pergi!!" teriak Airen.
Hans pun melangkah kakinya keluar rumah, dia memilih untuk duduk di depan rumah. sambil menunggu Airen keluar dari kamarnya.
Arrghh kenapa aku sebodoh ini, baru saja dia memaafkan dan menerimaku. Tapi kini harus ku hancurkan kembali dengan kata-kata ku. Kau bodoh sekali Hans. batin Hans yang merutuki kebodohannya.
**Bersambung...
......Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya. ......
......Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️**.......
__ADS_1