Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 127


__ADS_3

Banya hal yang terjadi dalam kisah tuan Hans belakangan ini, hari-hari dilalui dengan bayang-bayang papi William.


Semuanya nampak sudah membaik, namun kadang kala ada rasa sedih yang menyeruak kembali dalam relung hati.


Meskipun begitu, mereka semua berupaya agar suasana di dalam mansion dapat kembali ceria seperti sedia kala.


Hari ini adalah hari ulang tahun Amira dan Amara yang ke-empat, di hari ulang tahunnya yang keempat ini mereka merayakannya tanpa kehadiran papi William.


Mami Hellena mengadakan pesta sederhana untuk cucu-cucunya, hanya pihak keluarga saja yang diundang. Pesta kali ini lebih kepada ungkapan syukur mereka, atas bertumbuhnya Amira dan Amara dengan sehat dan baik.


Sebenarnya Hans dan Airen sepakat untuk tidak merayakan ulang tahun anak-anaknya yang ke empat ini, namun mami Hellena memaksa. Katanya pasti akan sangat seru dan ramai jika ada pesta.



Amira dan Amara nampak sudah siap dengan baju yang dirancangan oleh mami Hellena, Amira memegang bunga berwarna merah sedangkan Amara memegang bunga berwarna putih.


Keduanya nampak cantik dan anggun, Gebila juga tak mau kalah berdandan cantik seperti kedua kakak perempuannya itu.


Semuanya sudah berdatangan, Gibran dan Eranson yang asyik berfoto bersama. Eza yang sedang menggendong Eliana, anak dari Roni dan Endah yang sama sekali tidak mau lepas dari Eza.


Robi yang selalu ingin menempel kepada Amira, namun Amira sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Robi. Dia lebih suka berada di dekat ibunya.


Berbeda dengan Amira, justru Amara saat ini sedang bertengkar kecil dengan Gebila karena adiknya itu hanya memberikan kado kepada Amira saja.


"Ebi mana kado uat kaka Ala, masa kak ila aja yang dikasih."


"Nda ada Ala, kadona uat kak ila aja."


"Papa, aku engga dapet kado asa." rengek Amara kepada Hans.


Hans dengan sigap menggendong putri keduanya. "Nanti papa berikan untuk Amara yang banyak ya, sudah jangan merengek seperti ini. Nanti cantiknya hilang." tutur Hans.


Hans merasa mual, dia pun menurunkan Amara dan berlari menuju toilet. Airen mengikuti suaminya, dengan menitipkan kedua anaknya kepada mami Hellena.


Di dalam toilet Hans terus memuntahkan isi perutnya, meskipun hanya air saja yang keluar. Karena setiap kali Hans ingin makan, pasti dia akan mual dan langsung memuntahkan isi perutnya.


"Mas, apa sebaiknya mas diperiksa dulu?"


"Ngga sayang, aku baik-baik saja."


Hans memeluk Airen, untunglah setiap dekat dengan istrinya rasa mual itu akan menghilang. Airen mengelus lembut punggung suaminya.


"Makanya jangan capek-capek mas, habis acara ini sebaiknya mas istirahat di kamar saja."


Hans mengangguk, "Iya, yasudah ayo kita kembali. Sebentar lagi acaranya dimulai."


Hans dan Airen kembali ke ruang pesta, saat semuanya dirasa sudah siap. Mami Hellena pun memulai acaranya.


Mulai dari kata sambutan, dan juga diakhiri dengan potong kue dan foto-foto bersama. Hari itu, pesta tidak selesai sampai di foto-foto saja.


Karena mami Hellena dan Airen sudah menyiapkan kejutan yang lebih spesial lagi. Terlihat dua orang yang membawa kado besar, dan meletakkannya di depan mereka.

__ADS_1


Raja sudah merasa iri kepada Hans, karena ntah hadiah apa yang hendak diberikan maminya kepada anak-anak Hans.


Mami Hellena meraih mikrofon. "Hallo semuanya, kado yang tepat berada di hadapan kalian adalah kejutan spesial dari Airen untuk suami dan anak-anaknya."


Ternyata dari Airen toh. batin Raja.


Hans langsung menatap istrinya, sedangkan Airen hanya tersenyum lembut saat melihat Hans yang memandang wajahnya penuh tanda tanya.


"Kira-kira apasih yang disiapkan Airen untuk anak dan suaminya? ada yang tahu engga? Nanti mami kasih hadiah kalau yang jawabannya benar." tutur mami Hellena.


Raja yang mendengar kata hadiah langsung maju menghampiri mami Hellena, dan mengambil alih mikrofon yang sedang dipegang ibunya.


"Aku tahu, umm mungkin sepeda."


Mami Hellena mengambil kembali mikrofon tersebut, "Oke, Raja menebak sepeda. Ada yang mau menebak lagi?"


Kini giliran Barra yang maju. "Umm, tiket liburan." ujarnya.


"Mana ada tiket liburan sebesar itu." celetuk Raja.


"Bisa saja, siapa tahu isinya kecil."


"Nggak mungkin."


"Mungkin."


"Oke kita lihat saja, siapa yang benar." tutur Raja menantang Barra.


Mami Hellena kembali bertanya apakah ada yang ingin menebaknya? Namun sayangnya hanya dua orang saja yang berani untuk menebak. Lebih tepatnya, hanya dua orang saja yang tergiur akan hadiahnya.


"Oke karena sudah tidak ada yang mau menebak, mari kita hitung mundur bersama. Tiga dua satu. Bukaa!!"


Dua orang yang tadi membawa kado itu lantas membuka kadonya saat mendengar aba-aba dari mami Hellena.


Balon berwarna pink dan biru keluar secara bersamaan dari dalam kado, dan ada tulisan. welcome hans junior.


Semua orang nampak riuh, terlebih para wanita karena tahu maksud dari kejutan tersebut. Ratu, Bella, Endah, dan Nisa sangat antusias kala melihat tulisan tersebut.


Hans yang tidak paham, hanya dapat berdiam diri sambil mencerna kejutan apa yang diberikan istrinya untuk dirinya dan juga anak-anaknya.


Mami Hellena juga nampak bersorak riang gembira, dan langsung memeluk Airen. Semua para wanita yang hadir juga turut memeluk Airen, Hans memundurkan langkahnya menjauh dari para wanita yang sedang berpelukan tersebut.


"Lo ngerti Hans?" tanya Bima sang kakak.


Hans menggeleng, "Kejutan apaan? Balon doang sama tulisan selamat datang Hans junio--r?" Hans nampak berpikir.


"Junior? Lo punya anak lagi?" tanya Barra kepada sahabatnya itu.


"Anak?" Hans langsung membulatkan matanya, dan berlari ke arah istrinya yang sedang dikerumuni para wanita.


"Minggir!" ucapnya.

__ADS_1


Ratu, Bella, Endah, Mami Hellena dan juga Nisa langsung minggir dibuatnya. Hans menatap istrinya dengan serius, lalu beralih menatap perut sang istri.


"Kamu hamil?" tanyanya dengan suara bergetar.


Airen tersenyum dan mengangguk, Hans langsung memeluk Airen dan menumpahkan isak tangisnya.


Mami Hellena dibuat terharu dengan berita kehamilan Airen kali ini, karena akan ada pertemuan baru setelah adanya perpisahan.


Semuanya ikut bahagia, termasuk Raja. Sudah tidak ada rasa iri lagi, jika para adiknya memiliki banyak anak. Dia ikut bahagia, karena rumah ini akan semakin ramai dibuatnya.


pih, kamu lihat? Anak kita, Hans. Dia akan memiliki anak lagi, dan kita akan memiliki satu cucu lagi. batin Hellena.


Hans terus memeluk dan memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah Airen, sebagai bentuk rasa terimakasih kepada istrinya.


"Bunda, papa." panggil Amara.


Hans dan Airen menatap kedua buah hatinya, mereka berlutut menyeimbangi tubuh anaknya. Airen memeluk Amara, dan habs memeluk Amira.


"Sayang, kalian akan menjadi seorang kakak." tutur Hans memberitahu.


"Kakak?"


Airen mengangguk, "Iya, nanti Ara akan dipanggil kakak. karena kalian akan memiliki adik." ucapnya.


"Yeayy, adiknya dimana bunda?" tanya Amara.


"Disini sayang, diperut bunda."


Mereka berdua terlihat heran. "Oh nanti pelut unda, sama sepeulti mama Bella ya?" tanya Amira yang cepat tanggap.


Airen mengangguk, "Iya sayang."


Amira mendekat ke arah Airen, dan berjongkok lalu mengelus lembut perut ibunya. "Ade baik-baik dipelut unda ya, anan nakal otey."


Semuanya langsung terharu dengan perlakuan Amira, anak itu memang pintar dan juga penuh kasih sayang. Hans dan Airen bersyukur, memiliki dua buah hati yang sangat pintar, cerdas dan juga baik.


Semua orang, saling bergantian mengucapkan selamat untuk Hans dan Airen. Karena mereka akan memiliki buah hati kembali.


"Selamat ya Hans, Kaka ngga nyangka lho. Kamu anak ketiga, tapi juga kamu yang akan memiliki tiga anak." ucap Raja.


Hans memeluk kakak pertamanya itu dengan erat, menumpahkan kesedihan dan juga kebahagiaannya. "Makasih kak." lirih Hans.


Raja pun tak dapat menahan tangisannya, mereka berdua menangis di dalam pelukan. Bima tak ingin melewatkan kesempatan itu, dia pun ikut bergabung dan memeluk kakak dan juga adiknya.


"Mami dilupain nih?" tutur Mamih Hellena yang sudah menangis pilu.


Mereka bertiga menatap sang ibu, lalu menghampiri mami Hellena dan memeluknya dengan erat. Momen itu sangat mengharukan hati, semuanya ikut menangis dan membiarkan mereka saling berpelukan.


Hari itu, menjadi hari yang paling spesial untuk Hans dan keluarga kecilnya. Di hari itu, semua orang juga nampak bahagia. Karena akan ada yang datang, setelah kepergian papi William.


Hidup memang seperti itu, ada yang datang dan pergi. semuanya silih berganti.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2