
Tahun 400, tahun merpati.
Di akademi terlihat ada beberapa orang, siswa sihir. Mereka sedang berada diruang rekreasi.
"Hei ... Roland, hei Roland." Seorang siswa memanggil temannya.
"Apa Salazar?" Tanya siswa itu.
"Aku berhasil mencuri item rare dari pak kepala sekolah." Salazar berkata kepada Roland.
"Celakalah kamu Salazar! Kamu harusnya cepat sembunyikan itu sekarang juga!" Roland memegang kerah jubah kawannya, ditarik dan didorong.
"Ini artefak sihir kuno berkekuatan restart, kamu tahu! Dengan ini kita bisa menjadi legenda." Ujar Salazar, memberi pembelaan diri.
"Pertama, kita sembunyikan benda artefak sihir ini didalam peti kayu kecil. Kedua, kubur ini di halaman belakang sekolah. Setelah kelulusan nanti kita ambil lagi!" Seru Roland.
"Ide bagus." Balas Salazar.
Tersadar...
>Tahun 843, tahun merpati.
Seorang perempuan ras setengah elves sedang duduk diperpustakaan sekolah. Memegang sebuah benda, melakukan psikometri terhadap benda tersebut. Dengan psikometri siswi itu mampu melihat kenangan pemilik benda tersebut. Ini adalah benda peninggalan beberapa siswa sihir jaman dulu. Yaitu buku catatan pelajaran milik siswa yang hidup di 400 tahun yang lalu.
Kemudian gadis setengah elves itu melanjutkan aktivitas menerawang yang tadi. Menggali lagi ingatannya pemilik benda tersebut.
Psikometri !!
Semua berlanjut dihari kelulusan sekolah. Semua berkumpul diruang perjamuan yang luas, atapnya telah disulap menjadi bintang malam. Lebar jendela satu meter tingginya dua meter. Jendela disulap menjadi pemandangan awan putih ala airship. Ruangan perjamuan dari masa ke masa penuh dengan sihir ilusi. Ruang perjamuan punya luas setengah lapangan bola.
"Saya kepala sekolah mengucapkan selamat atas kelulusan kalian, siswa tingkat akhir." Kepala sekolah diam dengan ekspresi senyum. Menepuk tangannya, disusul tepukan tangan para siswa siswi sihir.
"Bagi yang melihat buku sihir yang bertuliskan restart pada covernya, tolong kembalikan padaku. Benda itu dibuat melewati ritual alkimia kegelapan.
"Aku hanya diberikan kepercayaan oleh kementerian sihir sebagai sang penjaga artefak kegelapan berbahaya. Kalau aku menjadi kalian, aku akan mengembalikan benda gelap itu segera. Benda itu punya kekuatan sihir hitam. Huruf rune bertulis, 'mencuri pesan dari bintang' Benda itu berkekuatan hitam.
"Siapapun, tolong kembalikan!" Kepala sekolah mewanti-wanti.
Tak lama kemudian muncul ledakan yang berasal dari luar. Itu ledakan sihir tingkat tinggi, membuat atap ruang perjamuan runtuh. Kebetulan dalam ingatan milik orang ini dia tewas tertimpa reruntuhan atapnya.
Gadis penerawang tersentak kaget.
"Kya...."
"Diam sedikit!" Penjaga perpustakaan memarahinya.
"Maaf ... sekali lagi, maaf." Si penerawang memohon maaf.
"Hu ... melamun berjam-jam dasar gadis kelainan!" Gumam penjaga perpustakaan.
"Eh ... eh!" Gadis penerawang mengepal tangannya saat merasa kesal sekali.
Memasukan buku catatan tersebut kedalam kantong sihir. Magic bag adalah item sihir dengan kekuatan manipulatif. Memanipulasi ruang penyimpanan internal dalam tas tanpa mempengaruhi ukuran tas.
Skip...
Berada dihalaman belakang sekolah sihir. Siswi penerawang mencoba mengingat-ingat dimana letak titik penguburan. Akhirnya memutuskan mulai menggali setelah yakin akan titik penggalian dia menggali lubang.
selesai menggali.
Satella memakai sihir ledakan berbasis element es yang ringan untuk membuka kunci peti kayu. Gembok dilempar kedalam tanah lalu siswi penerawang segera mengambil buku artefak sihir itu. Siswi penerawangan tidak langsung mengetes tuahnya, disimpan saja kedalam tas sihir. Melempar peti kayunya, dikubur kembali ketanah.
"Aku dapat ... aku dapat ... yeay." Seru siswi penerawang, melompat-lompat kegirangan.
__ADS_1
Ini adalah item rare pertama yang dimiliki siswi penerawang. Sampai saat ini, berjalan kegirangan menuju koridor sekolah. Siswi penerawang dengan kuping lancip dan rambut silver memamerkan senyumannya kepada semua orang yang dilewati.
Berjalan riang seolah dia melompat dan melompat bagai kelinci. Tangan lentik yang seputih salju diayunkan ke depan dan kebawah. Bernyanyi dengan mimik ceria yang imutnya mengalahkan anak kecil padahal dia sudah masuk usia remaja. Setelah menaiki tangga yang panjang pada akhirnya dia sampai di asrama siswi putri. Berada dipintu otomatis.
"Password?" Seru suara.
"Putri penyihir." Sahut siswi.
Pintu asrama terbuka. Lalu siswi penerawang segera masuk, sambil melambai kepada beberapa teman siswi putri yang dia kenal dengan riangnya sebelum masuk kedalam kamarnya. Disini setiap satu kamar akan ditempati satu siswi. Kamar memiliki panjang lima belas meter lebar tujuh meter dan tinggi tiga meter saja, kamar yang cukup luas.
Skip...
Besoknya.
Siswi penerawang berjalan riang disepanjang koridor menyanyikan lagu anak-anak walaupun dia sudah memasuki masa remaja. Siswi itu bertingkah sangat childish sekali.
"Hai." Sapa siswi lain yang berambut hitam.
"Hai juga." Sahut siswi penerawang.
"Datang lebih awal?" Tanya siswi rambut hitam.
"Oh tentu, waktunya praktik sihir." Balas siswi penerawang.
"Y-yeah benar." Siswi berambut hitam menjawab gagap dan panik.
"Good luck Emili." Senyum siswi penerawang, melambaikan tangan penuh keramahan.
"Sama-sama Satella." Balas siswi rambut hitam yang bernama Emili, dengan senyum yang tertekan.
"Em...." Satella tersenyum jahat.
Ruang praktik.
"Oke silahkan ... silahkan." Satella tiba-tiba ada di paling depan dari semua siswa-siswi ujian praktik.
"Kamu belum ibu panggil kan hei, Satella!" Protes ibu guru.
"Tidak ... aku mau pertamax!" Pinta Satella, dengan senyum imut yang penuh sifat pemaksa.
"Haduh ... haduh, baiklah, tapi cepat yah!" Jawab Ibu guru, menolak pinggang seraya melotot kearahnya.
"Jangan ... buk...." Seru seorang siswi berambut hitam.
"Ya ... Emili?" Tanya guru.
"...." Satella melangkah kearah Emili lalu menolak pinggang dan melotot kearahnya dari dekat dengan pipi yang menggembung.
"Tidak ... silahkan dilanjutkan." Ucap Emili dengan perasaan ciut, mimik wajahnya terlihat bermasalah. Berlanjut oleh tolakan tangan seolah minta jangan mendekat lalu diakhiri tawa kecil yang sangat resah.
"Baiklah penonton...." Seru Satella seraya mengibaskan rambut peraknya dengan tangan lentiknya. Satella berjalan manja.
Kini Satella berdiri menghadap manekin hidup. Menolak pinggangnya sambil menengadahkan kepalanya yang condong kedepan. Menatap sinis pada lawannya itu. Kemudian kembali tegak, melakukan gestur menerima bisikan Satella pun menaruh ujung tangannya di kuping lancipnya.
"Apa kamu bilang? Jangan sakiti aku wahai penyihir agung. Yasudah ... yasudah." Seru Satella. Setelah bicara dengan gestur seolah menerima bisikan, Satella mengayunkan tangannya sebagai gestur memberi pengampunan.
Satella menunjuk kearah manekin hidup yang tak bisa bicara.
"Aku hanya akan memakai sihir tingkat satu saja. Makanya jangan khawatir, tapi ... ayo bersiaplah!" Satella mengangkat tangan kanan keatas dengan telunjuk mengacung. Kemudian telunjuk diarahkan ke manekin bergerak itu.
"Bisa dimulai sekarang?" Tanya ibu guru, dengan mimik sebal.
Terdengar gemuruh suara tawa dari siswa-siswi. Beberapa menertawakan kejenakaan Satella, tetapi beberapa menghina kebodohan tingkah laku Satella. Suara-suara berisik mulai terdengar riuh dikelas, disebabkan oleh ulah konyol Satella yang polos.
__ADS_1
"Orang gila mana yang berbicara dengan manekin yang tidak bisa bicara." Siswa mengejek Satella.
Hahaha.. hahaha haha..
"Eh ... eh," Satella menghadap kearah para siswa-siswi yang sedang nonton peserta ujian praktik yang pertama. Kemudian menimpali, "jangan bilang kalian gak bisa mendengar suaranya manekin ini, namanya itu Steve tau."
"Dasar baka~dere!" Seru siswa yang melempar kata hinaan.
"Lelaki g*blok mana yang suka dengan cewe bertipikal baka~dere seperti kamu." Sekarang siswi yang berambut pirang meledek Satella.
"Sudah jelas kan ... aku punya kemampuan Esper paling tinggi dikelas ini. Makanya aku mampu berbicara dengan manekin. Um ... maksudku Steve." Balas Satella.
"Ahem." Ibu guru berdeham, Satella menoleh kearah guru yang mimik wajahnya kian kesal.
"Bisa kita mulai?" Tanya ibu guru sambil menahan kesal.
"Maaf ... sekali lagi maafkan Stella." Satella membalas. Satella melangkah ke manekin yang disediakan sebagai alat praktikum sihir, bersiap-siap.
"Akan ku gunakan sihir tingkat satu!" Seru Satella dengan semangat dan mimik yang riang, mengangkat kedua tangan lentiknya.
"Sudah lakukan saja!" Protes siswa karena Satella kelamaan.
"Driver frost!" Satella melempar mantra sihir.
Proyektil bola sihir transparan pun melesat kearah manekin. Warnanya biru air agak seputih salju, bola sihir itu mengenai manekin dan berubah menjadi pusaran salju kecil. Sedikit demi sedikit manekin membeku. manekin membeku setelah empat detik tertabrak pusaran bola salju sihirnya.
"Maafkan Stella ya ... Steve." Ucap Satella melakukan kata-kata konyolnya itu untuk kesekian kalinya.
Titik pusaran salju telah membuat manekin membeku. Tetapi pusaran salju belum hilang setelah manekin sepenuhnya membeku. Satella pun mengkerutkan alisnya, bibirnya membentuk senyum yang masam.
"Eh ... kok begini?" Batin Satella.
Tiba-tiba titik pusaran salju segera membesar. Butiran salju pun ditiup angin kemana-mana dengan sangat kencangnya. Volume butir salju dan ekstremnya suhu ruangan sungguh tak terkendali. Dalam ruang praktik ada embun, angin kencang beserta sihir pendingin berkekuatan sihir element es. Fatalnya sihir tersebut terlalu overpower untuk disebut sebagai sihir tingkat satu. Umumnya sihir tadi bisa membekukan singgel target saja. Tapi disaat Satella yang melakukannya, satu kelas membeku.
"Acih, eh?" Satella bersin, kemudian menoleh kesemua sudut ruangan. Mendapati tembok membeku dan lantai seperti arena ice skate. Para siswa-siswi menjadi balok es beku kecuali Satella yang punya afinitas tinggi terhadap sihir element es.
"Ya ampun ... ya ampun ... ya ampun ... ya ampun." Satella mulai bertindak sangat resah gak karuan.
Skip...
Ruang kepala sekolah.
"Sejak tahun pertama kan sudah bapak bilang! Kamu dilarang buat menggunakan sihir element es ... ngerti gak!" Kepala sekolah dengan rambut panjang beruban terlihat memarahi Satella dengan kesal.
"Iya, pak." Bibirnya ditekuk dan matanya menyipit memancarkan Kilauan air di mata. Menampakkan wajah sedih yang imut dan lucu.
"Satu kelas membeku, Sungguh gak habis pikir. Memangnya kamu itu pakai sihir apa?" Kepala sekolah memukul meja dengan keras, kesal.
"Sihir tingkat satu pak." Satella menjawab dengan ekspresi merana dan cemberutnya yang lucu.
"Apa katamu, sihir tingkat satu saja bisa membekukan satu kelas?" Kepala sekolah merenung sesaat.
"Memang kenapa aku gak boleh memakai sihir es? Aku kan pengen bercita-cita jadi penyihir es seperti dicerita dongeng pak." Protes dari Satella atas larangannya itu.
"Siswa paling berbakat adalah yang punya afinitas tingkat 10. Sementara kamu 13/10, bakat es mu itu setara monster dari dunia lain. Ya ... walau bapak belum pernah lihat monster dari dunia lain, tapi!" Lalu kepala sekolah mengarahkan telunjuknya kearah Satella, hampir mengenai keningnya. Kepala sekolah bersiap untuk mewanti-wanti.
"Takutnya, Kalau kamu itu terus-menerus melatih sihir es mu itu, bisa-bisa setengah dunia beku dengan es loh kamu tau!" Kepala sekolah memberi peringatan pada Satella.
"Hah ... apa, se ... se ... se-setengah dunia?" Satella tersentak kaget dan meluap heboh sendiri. Berjingkrak berdiri dengan kecemasan.
"Satella, duduk manis!" Omel pak kepala sekolah.
~Bersambung~
__ADS_1