Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
selamat bergabung


__ADS_3

Ruang kebutuhan.


Dikala sakit hanya Minerva yang datang berkunjung. Meski begitu bukan berarti yang lain gak punya rasa peduli dengan Satella. Hanya mereka gak sempet aja.


Satella memasuki ruangan kumpul kelompoknya. Ia melewati karpet panjang dekorasi warna biru tua. Disambut dengan hangatnya oleh teman-teman sekalian.


"Ini dia." Sambut Isyana tersenyum masam.


"Sudahlah.. sudahlah.. ayo kesini." Minerva mengayunkan tangannya meminta Satella datang. Dibanding lainya, Minerva tersenyum paling tulus dan merona.


"Lihat.. sudah kubilang kan dia orangnya baik." Kata dewi Eris.


"Gak nyangka ternyata temen ku ikutan kesini." Ucap Iota.


"Em.. ahem." Violetta dingin.


Semuanya memberi penerimaan tanpa penolakan. Satella ikutan kelompok Eris tanpa ada siklus perulangan waktu lagi. Semuanya tidak akan melupakan Satella lagi.


"Apa aku sudah diterima disini? Sudah dianggap sebagai bagian dari kalian belum?" Tanya Satella agak sedikit ragu.


Isyana mengerutkan keningnya melotot kearah Satella.


"Apa maksudmu kami berniat mengusir mu Satella? katakan kapan kamu pernah usir kami!" Isyana marah-marah pada Satella.


"Ahem."


Minerva berdeham kemudian menoleh ke arah Violetta sedikit melotot.


"Apa kamu pernah melakukannya?" Tanya Minerva kepada Violetta.


"Aku tidak pernah." Balas Violetta.


"Aku juga tidak." Ucap Minerva melipat tangan, memanyunkan bibirnya.


[Satella : padahal di loop waktu sebelumnya kalian mengusirku.] 🤨


Satella terkekeh.


"Jangan marah padaku Minerva, habisnya kamu kalau cemberut cantiknya gak terkalahkan." Kata Satella sambil terkekeh.


Isyana mengalami perubahan pada mimik wajahnya. Semula merasa kesal kini merasa lucu dan terkekeh.


"Huhu.. aku tahu." Seru Isyana.


Minerva kian kesal menoleh kearah Isyana, Minerva melotot.


"Kamu tau apa!" Minerva melotot kearah Isyana.


"Semenjak napas buatan kemarin kalian jadi saling suka. Dasar cewe menyimpang, dasar kalian yuri." Isyana mengolok-olok.


"Gara-gara kamu!" Keluh Minerva menolak pinggang sambil melotot kearah Satella.


"Harusnya cewe gak muji cewe seperti itu, disangka lesbian kita jadinya deh." Protes Minerva.


"Rasanya persis kaya cowo dikatain homo tau!" Minerva marah kepada Satella dengan ekspresi cemberut yang paling manis, pipinya merah.


"Maaf." Satella menunduk.


Satella tambah malu saat Isyana Violetta dan Iota menertawakan dirinya.


"Kalian membuatku merasa malu." Keluh Satella tak bisa mengangkat kepalanya, masih menunduk malu.


"Sudahlah.. sudahlah.. janganlah kalian membuly Satella." Bela dewi Eris, terkekeh.


"Perlakukan aku dengan baik ok." Satella tersenyum lebar.


"Semoga kamu suka dengan terapi urat syaraf dariku ya." Kata Isyana, menutupi bibir dengan ujung jari menahan tawa jahatnya.


Melihat Isyana, Satella dibikin mengerutkan keningnya. Satella menatap Isyana hendak bertanya.


"Apa kamu pikir aku orang yang kurang bertanggung?" Ucap Satella.


"Kamu nih ngomong apa?" Isyana mengerutkan keningnya membuat satu ekspresi kecut.


"Aku udah membekukan satu kelas tapi takut minta maaf, aku harusnya dihukum." Ucap Satella.


Isyana sukses memahami hingga mendapat satu niat. Sementara itu Minerva merasa bersalah karena mengingat momen dirinya marah kepada Satella ketika dia bertemu Satella di turunan tangga spiral.


"Ya ampun, kamu masih mengingat kritikan ku. Mohon maaf Satella." Kata Minerva, lirih.


"Aneh aja rasanya ngelihat kamu berani melakukan itu, menurutku kamu gak seberani itu." Isyana pun memanas-manasi Satella.


"Jangan remehkan aku, tentu aku berani." Balas Satella.


"Ku tantang kamu!" Isyana pun menunjuk kearah Satella.


"Besok minta maaf didepan kelas, berani tidak?" Tanya Isyana.


"Apa yang sudah kami perbuat Isyana!" Protes Minerva.


Isyana terkekeh saja.

__ADS_1


"Kamu juga aku mau dengar ini darimu, apa kamu tulus berteman denganku Minerva?" Tanya Satella.


"Em.. em, aku tulus." Sahut Minerva mengangguk.


"Kamu?" Satella menatap kearah Iota.


"Aku biasa aja." Balas Iota, dengan mimik wajah masam.


"Ya sudahlah." Satella menatap bete kearah Iota.


"Kalau kamu?" Satella menatap kearah Violetta.


"Aku, yes." Jawab Violetta datar.


"Aku percaya Minerva yang paling mengerti aku, dia paling care ke aku sebagai teman." Kata Satella.


Isyana yang biasa bermulut toxic memilih diam, justru Violetta lah mengomentari.


"Teman huh?" Ucap Violetta yang berwajah minim ekspresi.


"Aku kira kalian berdua itu saling berpacaran." Ucap Violetta datar.


Minerva pun tersedak air liurnya sendiri.


"Uhuk.. uhuk."


"Apa katamu!" Sentak Minerva memarahi Violetta.


"Kejamnya." Gumam Satella yang tertunduk dengan ekspresi wajah malu yang tersindir.


"Savage tuh." Seru Iota terkekeh.


"Ya ampun, kamu boleh juga toxic nya." Kata Isyana tersenyum tengil menatap Violetta.


"Teman-teman nyebelin!" Keluh Satella dengan nada merengek.


Semua menertawakan Satella dan juga Minerva. Kemudian dewi Eris datang dengan seduhan teh tawar panas dipoci. Mereka menikmati suasana penuh ketenangan dengan minum teh seduh kualitas tinggi.


Hubungan Satella dengan mereka bertambah baik.


Skip...


Ruang kepala sekolah.


"Apakah kamu tahu kenapa kamu berada disini?" Tanya kepala sekolah.


"Mana aku tahu pak." Satella hanya duduk menunduk.


"Biasanya kamu dipanggil kalau berbuat bandel. Selama tiga tahun kebelakang kamu termasuk anak yang paling sedikit berbuat salah apalagi melanggar aturan. Tetapi untuk kali ini kamu udah bersinar layaknya pahlawan."


Kepala sekolah menjelaskan itu dengan suara parau. Suara yang pantasnya disebut narator cerita dongeng, suara yang agak serak. Kepala sekolah menyatakan satu kalimat tulus, pernyataan bahwa lawan bicaranya adalah sesosok murid teladan penerima bintang.


Atas pernyataan bangga kepala sekolah, Satella menanggapinya.


"Sudah pak pidatonya?" Satella dengan entengnya.


Yang dibalas oleh kepala sekolah dengan gestur ingin menyentil. Tangan kepala sekolah dibentuk menjadi ancang-ancang menyentil walau hanya pura-pura saja.


Spontan Satella menutupi kuping karena kupingnya elves nya yang ultra sensitif itu.


"Maaf pak aku usil." Satella yang bernada ketakutan, takut disentil hingga kuping lancip sensitifnya merasa linu nantinya.


Kepala sekolah menarik nafas beratnya. Alih-alih menyusun kata-kata, ia langsung pada inti.


"Langsung ke intinya."


Saat Kepala sekolah mengatakan begitu, hati Satella girang karena dirinya bisa cepat-cepat pergi dan berekreasi ria.


"Kamu otomatis menjadi lulusan terbaik tahun ini." Kepala sekolah bilang.


"Itu aja?" Tanggapan Satella yang membuat ekspresi datar.


Kepala sekolah sampai mengerutkan keningnya. Ia mengambil satu napas panjang seraya mengusap wajahnya seolah ia sedang meraup air.


"Gak puas?" Kepala sekolah sampai menatap jengkel.


"Nilai akademik aku yang tinggi emang gak cukup dinobatkan jadi lulusan terbaik?" Tanya Satella.


"Kalau dinobatkan menjadi satu lulusan terbaik dengan alasan yang demikian! Itu tidak memandang kemampuan individual ku, jerih payahku selama tiga tahun tidak diakui dong." Protes Satella.


"Seperti padi! Kian berisi kian menunduk." Ucap kepala sekolah dengan ekspresi wajah malas.


"Apa?" Sahut Satella.


"Semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya."


"Kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati."


Kepala sekolah dengan pepatah nya yang bijak. Sementara itu Satella menanggapi dengan tidak sejalan.


"Aku bukan tetua bijak pak! Aku sebagai putri bangsawan, kalau ketemu dengan bangsawan lain pastilah terjadi adu gengsi, kami punya kebanggaan. Gak mungkin anak yang terlahir dengan darah ningrat bertingkah seperti tetua bijak." Bantah Satella.

__ADS_1


"Maaf pak bukannya aku sombong atau semacamnya itu. Realitasnya memang gitu, terus bukanya aku belajar membantah pendidik atau apapun itu, iya kami punya adat seperti itu." Satella dengan wajah penyesalannya.


"Sekali lagi mohon maaf." Satella menunduk didepan kepala sekolah selaku pendidik.


"Nilai akademik mu yang tinggi sangat cukup untuk dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Tetapi penghargaan secara de fakto juga harus diberikan nantinya." Kepala sekolah bernada pasrah.


"Maaf pak." Sekali lagi Satella menyesali ucapannya.


"Lalu apa yang terjadi dengan yang namanya Snape?" Tanya Satella.


"Menjadi tahanan." Jawabnya.


"Terus kalau kabur?" Satella kurang puas dengan jawabannya.


"Itu kan belum terjadi." Jawaban kepala sekolah.


"Bangkai balisik nya?" Tanya Satella.


Kepala sekolah mengulur waktu dengan berdiam saja.


"Biar ku tebak, mereka membawa sebagai barang bukti." Ucap Satella merasa marah dengan gigi elves menyeringai.


"Iya anda tahu itu." Kata kepala sekolah.


"Oke aku permisi." Satella berdiri.


"Tentang pepatah padi!" Satella mengangkat tangannya.


"Biar petani saja yang mengurusi urusan itu, jangan libatkan orang ningrat tentang urusan padi." Ucap Satella, membuang muka sambil mengibaskan rambut peraknya sok cantik. Ia memutar badan terus melangkah sendiri menuju pintu.


Kepala sekolah geleng-geleng kepala saja dibuatnya..


"Orang bertalenta selalu saja lahir dengan gengsinya." Ucap kepala sekolah, sambil mengusap jenggot.


Lorong sekolah.


Satella berjalan cepat disana, juga terlihat banyak kerumunan orang dilorong berkumpul. Murid yang berkerumun dilorong biasanya itu duduk dikursi pinggiran lorong atau menyender disisi tembok. Memang mau gimana lagi, toh ujian sudah sepenuhnya selesai.


Untuk lorong yang ada di sisi luar bangunan kastel, ada jendela tanpa kaca setinggi dua meter dan lebar setengah meter. Biasanya berdiri disana sambil memandangi kota membawa rasa relaks tersendiri.


Tapi jendela batu tanpa kaca itu sangatlah besar. Bisa-bisa jatuh kebawah dan mati kalau lengah sedikit saat berdiri disana. Tetapi nyatanya aman-aman saja, kalau orangnya sudah ada niat untuk bunuh diri maka itu lain cerita.


Tapi..


Suara gemuruh terdengar riuh saat Satella lewat. Kali ini gemuruh suara yang persis sebagai penyambutan pahlawan. Disaat terhentinya siklus putaran waktu, Satella keluar jadi seorang yang dipuja-puja seluruh murid yang ada disekolah sihir ini.


"Itu dia orangnya."


Semula Satella berjalan dengan santainya. Matanya terpejam ia bersenandung ria. Tau-tau suara mengalihkan perhatiannya.


"Ada apa sih." Bisik Satella.


Satella berniat mengacuhkannya tetapi kuping lancipnya tiba-tiba berkedut sendiri.


"Kuping, tenanglah kuping!" Satella memegangi kedua kuping elves nya karena terus bergerak-gerak sendiri.


Perlahan Satella mulai menyadari bahwa itu gemuruh pujian yang datang kepadanya.


"Itulah pahlawan kita."


Satella mendengar pujian itu lalu tersanjung.


"Huhu.. aku tersanjung." Gumam Satella, bernada bisikan.


"Dia memang penyihir agung." Puji orang-orang bergema.


"Tunggu dulu." Satella terdiam sejenak.


"Arc mage itu kan biasanya berisi mage yang sudah tua-tua." Satella bergumam.


"Aku bukan nenek!" Batin Satella setelah mendapat sebutan sebagai penyihir agung.


Sebab arc mage biasanya gelar diberikan kepada penyihir yang sudah veteran. Rata-rata usianya sudah 40-50 tahun lebih. Walau sebagai elves dia awet muda, tapi delusi di alam pikiran lain cerita.


Skip...


Dikamar dia duduk diatas ranjang dengan lutut menginjak alasnya.


Imajinasi Satella..


"Nenek.. nenek.. apa nenek.. itu seorang arc mage." Seorang anak laki-laki kecil menarik lengan baju seorang elves wanita yang bahkan wajahnya masih seimut remaja.


"Ceritakan saja ibu! Ayo ceritakan kisah dimana ibu mendapatkan tugas-tugas dari raja." Seorang pria paruh baya yang bahkan pantas disebut sebagai ayah dari wanita elves tersebut justru menyebutnya sebagai ibunya.


"Pada suatu hari." Nenek berwajah remaja bersuara dengan suaranya yang imut.


Delusi berakhir.


"TIDAK AKU BUKAN NENEK!"


Satella membenamkan wajahnya diatas bantal penuh rasa malu.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2