
Point of view.
Dua semester telah berlalu. Satella dan Starla kini telah mempelajari lebih banyak mantra sihir. Mereka sudah lebih kuat dari sebelumnya. Mereka sedang menjalani liburan sekolah. Setelah tiga bulan liburan, mereka akan menjadi siswi sihir tingkat dua. Sekarang mereka ini sedang pergi ke desa Alechia untuk berzirah ke makam ibunya.
Kereta naga yang mengangkut dua putri kembar sungguh estetik. Ada lambang kebangsawanan keluarga Charlotte, berupa logo besar dari logam emas. Naga darat yang lagi membawa gerbongnya adalah naga yang sehat. Staminanya tinggi, jadi cukup kuat menempuh perjalanan sejauh apapun.
Mereka turun dari gerbang kereta naga. Kemudian berjalan menuju kompleks pemakaman yang rapi, dipagari pagar kayu yang kokoh.
Setelah berziarah mereka bukannya kembali menuju kereta, tapi malah berjalan menuju jalan tikus yang mengarah ke tempat yang sepi.
POV end....
Satella dan Starla berhadapan satu sama lainnya. Starla dengan tatapan tegasnya. Kini mereka berdua telah berusia 16 tahun. Starla memakai gaun merah, adalah warna yang ia sukai. Sementara Satella memakai gaun hitam, warna yang ia sukai.
"Kita pernah berduel disini, kamu masih ingat kak?" Tanya Starla.
"Iya, masih." Satella dengan wajah kesalnya.
"Ayo kak, aku mau tanding ulang!" Starla menunjuk kearah Satella dengan telunjuknya, menantang kakak kembar tercinta.
"Baiklah." Tanpa ragu Satella pun menerima tantangan.
"Kamu boleh pakai Ruby!" Starla memberi syarat.
"Apa kamu meremehkan aku ya Starla!" Satella bernada kesal.
"Bukan, sedikitpun aku tidak ingin meremehkan kakak." Bantah Starla.
"Kamu kira tanpa Ruby aku tidak mampu mengalahkan mu? Kalau bukan meremehkan lalu apa dik!" Protes Starla.
"Habisnya element sihirnya kakak adalah es. Aku kan resist terhadap element es, kak." Jawab Starla.
"Yasudah, alasanmu masuk akal. Sekarang aku akan menggunakan tongkat Ruby!" Ujar Starla.
Satella mengeluarkan sebongkah permata ruby. Bukan sembarang permata, itu adalah batu alkemis. Permata yang telah diracik oleh alchemist kuno jaman dulu yang paling hebat di bidangnya. Dengan ilmu alkimia tingkat tinggi maka permata menjadi batu bertuah.
Batu Ruby bentuknya seperti hati. Bagian bawahnya terbentuk satu gagang tongkat sebagai pegangan tongkat sihir. Panjangnya masih sekitar satu meter yang dibentuk seberkas cahaya sihir white magic.
"Sudah puas?" Satella amat jutek.
"Mulai ya...." Seru Starla dengan ekspresi sok imut.
Starla mengeluarkan baut apinya. Sihirnya lebih kuat lagi daripada setahun yang lalu. Starla memang berniat memamerkan sihir apinya.
Seperti biasanya Satella memakai perisai es untuk menahannya. Tapi rentetan baut api mengakibatkan percikan bunga api yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Seolah setiap bautnya punya daya serang yang jauh lebih tinggi dari setahun yang lalu. Raut wajah Satella agak terkejut, Starla pun menyeringai.
Perisai es nya mulai retak. Baut api terakhir membuat perisai es nya pecah. Satella kian terkejut ketika melihat sihir pertahanannya amat rapuh saat menghadapi serangan sihirnya Starla. Starla merapal lagi sihirnya. Satella menyulap ulang perisai es nya. Perisai es memiliki bentuk seperti corak butir salju.
Cooldown skill Starla sangat cepat. Selain baut api adalah skill poke sehingga cooldown nya singkat, ia juga mempelajari skill pasive yang dapat mempersingkat cooldown.
Dengan waktu singkat Starla telah melesatkan baut api.
Tapi....
Perisai es Satella baru setengah jadi.
Beberapa detik kena rentetan sihir baut api, perisai es nya sudah pecah. Efek dari durasi menyulap perisai baru setengah jalan. Akhirnya sisa rentetan baut api nya menghantam tubuh Satella tanpa perisai es lagi.
Permata bernyawa, Ruby segera berinisiatif untuk menyelamatkan tuannya. Ruby menyulap defensif barrier berbasis white magic. Itu menahan rentetan baut api nya.
"Lihat kak, tanpa kekuatan Ruby kamu sudah kritis." Ujar Starla.
__ADS_1
"JANGAN SOMBONG!" Satella pun semakin kesal dengan Starla.
Satella menembakan bola laser dengan cara mengayunkan Ruby. Tetapi Starla menghindari dengan mudahnya. Starla sangat terampil dengan sihir flyng magic nya.
Tetapi Satella gak mau gagal begitu saja. Satella gak mau gagal dalam memberi pelajaran kepada Starla.
Tembakan bola laser kedua sudah dilesatkan tapi meleset lagi.
"Adik bandel harus dihukum sama kakaknya!" Seru Satella dengan kesalnya saat melempar sihir bola laser yang ketiga.
Tembakan yang keempat, kelima, keenam, ketujuh, hingga kesekian dilesatkan. Tak ada satupun yang mengenai Starla karena ia sangat terampil dengan flyng magic nya.
Starla memberi gestur menguap.
"Segitu aja kak?" Starla dengan ekspresi tidak puas.
"Sekarang Ruby!" Seru Satella.
"Baiklah." Suara yang asalnya dari dalam tongkat ruby.
Seketika tongkat Ruby menghisap partikel mana alam diudara. Mana dengan kepekatan yang besar itu mulai terlihat. Yang ada titik-titik cahaya putih, warnanya seperti cahaya flash yang amat silau. Mana alam sebesar kunang-kunang pada awalnya. Titik-titik white element seakan terhisap kedalam Ruby.
Hisapannya kian kencang seolah hisapannya bertenaga mesin kipas raksasa. Tak lama mulai muncul partikel-partikel white element sebesar bola tenis, lalu bola voli. Partikel mana alam masih dengan warna flash yang sama.
Batu permata ruby pun semakin bersinar terang semakin silau dari waktu ke waktu. Bahkan area yang diinjak Satella semakin terang.
Area yang diinjak Satella seolah diterangi lampu neon. Area yang berada diluar nya menjadi gelap.
Tempat yang menghisap semakin terang. Yang dihisap pun semakin gelap dan semakin gelap. Hingga kecerahan permata Ruby sudah mencapai puncaknya. Energinya dilepaskan kearah lawannya.
Satella menembakan sinar laser berwujud satu garis lurus. Starla hanya sanggup menghindarinya dengan flyng magic. Kemanapun Starla menuju, sinar laser terus menerus mengincarnya. Itu sangat cepat, hingga Starla kerepotan.
Satu garis lurus dari sinar laser nya mengenai pohon. Cahaya panasnya menembus pohonnya. Lima detik membuat pohon besar kena tebang secara instan, terjatuh kesamping.
Begitulah teriakan Starla karena ketakutan. Starla jejeritan persis kelakuan kakak kembarnya itu.
"Larilah, takutlah sampai ngompol dasar adik bendel!" Satella sangat menikmati serangan baliknya ini.
Terus mengarahkan sinar laser kemanapun Starla terbang hingga laser nya hampir saja menyentuh bokongnya. Air mata Starla menjadi basah karena sensasi rasa takutnya.
Semula mereka bertarung ditanah yang agak lega, penuh rerumputan. Sampai Starla bermanuver ke area yang banyak pohonnya. Pohonnya menjadi perisai bagi Starla. Banyak sekali pohon yang tumbang pada pertempuran ini.
Hingga energi sihir yang ditembak Ruby telah habis.
"Ayo hisap mana alam lagi, Ruby!" Pinta Satella.
"Masih cooldown!" Balas Ruby.
Satella merasa kurang puas.
"KELUAR KAMU STARLA!" Umpat Satella, amat emosi.
Fire ball !!
Bola api sebesar buah pumpkins melesat kearah Satella. Dengan lengahnya Satella tidak menyadari hingga tertabrak bola api. Bola api menghasilkan ledakan tingkat kecil yang damage nya dapat membuat tembok retak, remuk bahkan bisa bolong kecil. Untungnya ada Ruby dengan inisiatif menyulap perisai.
Resist !!
Perisai berbasis white magic telah disulap oleh Ruby sepanjang waktu. Hanya saja ketika sense Ruby telah bereaksi, ia memperkuat shield nya.
Tak sampai disini. Starla kembali menembakan bola apinya. Kali ini bola api ditembak dalam jumlah sangat banyak. Satella menyulap tembok es untuk posisi bertahan.
__ADS_1
"Terbang saja!" Usul Ruby.
Suara ledakan terjadi berulangkali. Lama-lama tembok es retak, remuk, runtuh. Satella mengikuti usulan Ruby. Satella menggunakan flyng magic yang merupakan satu sihir bawaan Ruby. Saat tembok es nya hancur dan Satella terbang, kaki terkena bola api. Tiga hit bola api masih di resist oleh perisai Ruby.
Satella terus melesat dengan flyng magic. Kini Starla yang mengejar. Sihir bola api tidak efektif untuk target yang melaju cepat. Starla mengganti strateginya agar dapat menang. Satella yang kabur pun sesekali melihat kebelakang sambil menembaki Starla dengan bola laser nya. Tapi upaya Satella sia-sia.
Terus mengejar.
Masih mengejar.
Pengejaran flyng magic terjadi terus-menerus.
Gubrak....
Suara genteng terbentur kakinya Satella. Satella mendarat di genteng rumah penduduk desa. Pengejaran dari tanah lapang yang sepi telah sampai ke desa. Satella menginjak genteng, berdiri menatap adiknya yang melayang diudara. Perisai es dibentuk oleh Satella sehingga kini sihir pertahanan telah di stack dua.
"JANGAN BOLA API!" Seru Satella.
Tapi Starla terus menyulap bola api yang meluncur kearah Satella.
Perisai es pecah setelah menahan serangan bola api yang keempat. Satella berlari ke kanan lalu putar arah, berlari ke kiri. Kaki lentiknya dan langkah yang kecil dipaksa tuk sekuatnya menghindari bola api.
"Panas!" Satella berlari, keringat mengucur. Kulitnya yang seputih salju kini mengkilat karena basah keringatnya.
"Kya ... panas...." Seru Satella, jerit Satella berlarian keujung genteng.
Jeritan kepanasan bukan karena terbakar api. Satella merasa panas yang berasal dari uap api. Apinya berkobar diatas genteng. Satella berpindah dari genteng ke genteng dengan flyng magic. Menginjakkan kakinya di genteng manapun, bola apinya terus mengejar, mengincar.
Rumah ke enam belas yang Satella injak. Satella segera putar badan kemudian menembak bola laser. Terjadilah jual beli serangan sihir antara bola laser dan bola api yang silih berganti. Satella berlarian ke kanan lalu ke kiri. Ia melompat kesana kemari, sambil sekali ia menembak bola laser. Sulit untuk Satella menyerang balik. Satella menunggu celah untuk menembak bola laser, menunggu saat bola api tidak mengarah padanya lagi.
Walau beberapa kali Satella bisa menyerang balik, bola laser nya Satella tidak mampu mengenai sasarannya. Flyng magic nya Starla terlalu expert untuk ditandingi kemampuan lesatan sihir Satella.
"Lambat ... lambat kak ... akak itu sangat lambat...." Seru Starla yang mengolok-olok dengan puasnya.
Starla mengeluarkan scroll untuk memunculkan benda yang telah disegel didalamnya. Dari dalamnya Satella mengeluarkan longbow.
Kini Starla bersenjatakan longbow.
Starla membidik Satella memakai tujuh anak panah sekaligus. Lalu melesatkan anak panahnya tanpa kekuatan magic archer.
Satella membentuk balok es yang sebesar lemari. Balok es melayang didepannya ternyata untuk media penahan anak panah. Balok es nya terjatuh kebawah, membuat retak genteng yang ditimpah nya.
Starla membidik Satella, sekarang dengan kekuatan magic archer nya. Ujung anak panahnya mulai terang menyala. Cahaya kian terang lalu anak panahnya dilesatkan. Satella dengan cepat menghindari dengan kemampuan flyng magic. Lesatan magic archer membuat dampak ledakan. Gentengnya hancur dan roboh kedalam, lalu menyisakan lubang yang besar.
"Gawat!" Batin Satella.
Starla melesatkan magic archer berikutnya. Ketika menghindari tembakan panah sihir yang kedua, Satella terpeleset dan jatuh. Lalu Starla membidik Satella tanpa ragu.
"Jangan mati ya kak!" Ucap Starla dengan entengnya.
Ujung anak panah Starla makin terang terisi daya dari sihir panah.
Ice wall !!
Ledakan terjadi, dinding es Satella mengalami keretakan yang parah. Selang beberapa saat kemudian dua lesatan terjadi dalam satu waktu. Dinding es akhirnya hancur pada lesatan panah sihir yang ke tiga.
Satella dengan afinitas sihir es terlampau tinggi. Apabila mage dengan afinitas es biasa saja pasti dinding es nya hancur dalam satu lesatan panah sihir.
Starla pun semakin barbar dalam melesatkan anak panahnya.
Puluhan panah sihirnya dilesatkan dalam waktu singkat. Ledakan yang terjadi membuat banyak penduduk desa berlarian keluar rumah dan pertempuran terjadi sangat alot.
__ADS_1
~Bersambung~