Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
batu bertuah


__ADS_3

Point of view.


Satella dan Starla sudah berusia 14 tahun. Bahkan sebelum mengikuti akademi sihir mereka sudah dapat mempelajari sihir dengan sangat sempurna. Magician ternama telah disewa sebagai guru les privat dua putri kembar keluarga Charlotte.


Ketika orang awam mempelajari kemampuan sihir diusia lima belas tahun disekolah, Satella dan Starla belajar sihir sejak delapan tahun.


Namanya juga anak ningrat.


POV end....


.


.


Istana raja.


Di ruang takhta raja lagi bersama orang kepercayaan. Sebastian akan mengakhiri masa baktinya kepada kerajaan. Hari ini Sebastian sudah pensiun sebagai jendral kerajaan. Sebastian adalah orang yang telah menjabat sebagai jendral. Harusnya Sebastian pensiun lima tahun lalu. Tetapi atas wewenang raja maka jabatannya diperpanjang lagi.


"Tak kurasa, orang yang ku percaya sudah pensiun. Saya jadi takut kalau ada orang yang tidak terpercaya itu mengacak-acak istana." Ucap raja.


Sebastian tak sedikitpun memberi komentar.


"Ada permintaan terakhir dariku." Kata raja.


"Akan ku kerjakan." Ujar Sebastian.


Raja memberikan sebuah kotak peti seukuran kotak sepatu. Sebastian membuka petinya, itu berisi dua permata. Ada permata merah yaitu batu ruby. Batu permata biru yaitu batu sapphire. Sebastian terkejut.


"Dua batu permata?" Sebastian bernada bingung.


"Itu bukanlah batu permata, tapi disebut batu bertuah." Tukas raja.


"Batu bertuah?" Sebastian diam.


"Batu bertuah adalah perangkat magis overpower. Batu bertuah kekuatannya hampir setara dengan pedang suci." Kata raja.


"Kekuatan besar, berarti tanggung jawab besar." Ucap Sebastian.


"Karena itulah aku mempercayai orang kepercayaan ku. Berikan satu kepada Historia, satu lagi kepada cucumu. Lakukan apa yang sudah kukatakan!" Perintah raja.


"Tapi aku bingung, aku kan punya banyak cucu." Balas Sebastian.


"Berikan kepada salah satu dari si kembar." Kata raja.


"Segera ku laksanakan." Sebastian berlutut.


Skip....


Tidak lama setelah pensiun sebagai jendral kerajaan, Sebastian pulang ke house of Charlotte. Pagi hari, kedua cucunya sedang ada di halaman belakang mansion. Mereka sedang bermeditasi sebagai latihan untuk menaikkan stat spiritual point.


"Ahem." Sebastian berdeham, lalu kedua putri kembarnya terkejut.


"Kakek...." Seru Satella.


"Historia."


Sebastian memanggil Historia.


"Apa kakek?" Balasnya.


"Aku punya hadiah untukmu, ayo pilihlah satu!" Ujar Sebastian yang menunjukkan kedua batu permata.


Batu ruby ditangan kanan, lalu batu sapphire ditangan kirinya.


"Aku suka warna biru, kakek." Kata Historia, tersenyum kecil.


Spontan Satella dan Starla berlari kearah kakeknya.


"Aku mau, aku mau, aku mau, aku mau, aku mau." Satella dan Starla merengek meminta batu berkilau yang sama dengan Historia.


"Salah satu dari kalian akan aku berikan ini." Kata Sebastian.


Satella menoleh kearah adiknya kemudian berkata.


"Kamu mengalah saja ya, berikan permata itu padaku!" Ujar Satella.


"Maaf kak, untuk yang satu ini aku tidak mau mengalah!" Balas Starla.


"Dik Starla, kenapa udah gedenya menjadi adik durhaka!" Satella pun mengomel pada Starla.


"Maaf kak, aku sudah keseringan nurutin kakak. Untuk kali ini aku udah gak bisa nurutin lagi." Starla membantah.

__ADS_1


"Yaudah, awas ya ... kamu bakalan menyesal!" Omel Satella.


"Batu ruby ini akan kakek berikan kepada yang paling tinggi kekuatan sihirnya." Kata kakek.


"Kekuatan sihirku lebih kuat dari Starla, berikan itu padaku kakek." Kata Satella.


"Itu tidak benar, adik tidak akan kalah dari kak Stella." Sahut Starla.


"Percuma, kamu kan anak payah." Satella memprovokasi.


"Akak jahat." Starla merengek.


"Kalian akan melakukan duel sihir untuk mendapatkan batu ruby ini." Kata kakek.


"Siap ... aku siap, siapa takut." Kata Satella.


"Baiklah, aku akan memiliki batu ruby itu." Starla mengepal tangan.


Tapi, kemampuan apakah yang dikuasai Satella dan Starla? Kita saksikan duel sihir sakral satu ini. Satella dan Starla berdiri terpisah jarak sampai beberapa meter.


"Oke siap!" Kakek memberikan isyaratnya.


Pertempuran dimulai....


Dengan bernafsu, Starla melepas berondongan baut api. Rentetan sihirnya begitu banyak dan amat cepat lajunya. Baut api melajunya hampir secepat senjata api.


Tapi Satella membentuk perisai es untuk mementahkan serangan api Starla yang liar itu.


Starla pun berhenti sejenak sambil terengah-engah. Sepertinya spam mantra sihir terlalu banyak telah membabi-buta berpengaruh pada stamina. Starla memegang dadanya. Dilihat dari gesturnya, ulu hatinya Starla terasa nyeri dan juga sesak.


"Gerbang sihirmu sudah lelah ya?" Satella mengolok-olok adiknya.


Tidak berkomentar, Starla hanya berdiam diri sambil mengatur napasnya agar lebih tenang lagi.


Satella menembakan baut esnya sedikit demi sedikit. Namun Starla sudah menguasai fusi sihir, yaitu elemen api yang dipadukan angin menjadi elemen asap. Starla pun memakai flying skill bukan untuk terbang tetapi bermanuver cepat menghindari baut es milik Satella.


"Apa ... sudah kewalahan, dada mu sudah terasa sesak? Napas sihirku masih panjang, dadaku terasa amat lapang." Satella mengolok-olok adik kembarnya, seraya terus menembak baut es kearahnya.


Starla menggenggam magic gem ditangannya. Mulai melemparkan permata sihir yang ukurannya itu sebesar kelereng tapi bentuknya seperti segi enam pipih. Saat batu sihirnya membentur tanah maka sihirnya pun keluar secara instan.


Batu sihir yang dilemparkan Starla menghasilkan sihir ledakan tingkat satu. Ketika batu sihirnya meledak terlalu dekat dengan Satella itu tak melukainya, tetapi bikin kaget.


"Kya ... kaget...." Seru Satella yang mengelus dadanya. Satella tidak mengelus dada karena mengalami kelelahan di gerbang sihirnya tapi karena efek kaget.


Starla bermanuver sambil terus melempar magic gem miliknya.


Pertempuran terjadi secara alot.


Dua orang yang seharusnya mulai masuk sekolah sihir tahun depan, beradu sihir seolah-olah mereka adalah siswa tingkat dua saking powerful nya mereka.


Starla bermanuver zig-zag untuk mencoba memangkas jarak. Starla berniat melempar magic gem dari jarak dekat untuk mengalahkan kakak kembarnya. Satella terus melakukan pressure dengan cara menembak baut es tanpa hentinya.


Satella membentuk banyak baut es melayang disekitarnya. Baut esnya melesat beruntun kearah Starla.


Cara Starla memanfaatkan flyng magic sebagai sarana manuver di darat sangat lihai. Melesat zig-zag kemudian memutari tubuh Satella, berotasi. Akhirnya satella gagal mengimbangi kecepatan manuver Starla dengan lesatan baut esnya.


Kini Starla berada dibelakang sang kakak kembar. Starla melesat amat kencang seolah-olah ia mengincar tengkuk kakaknya. Bermanuver sambil tangannya bersiap untuk melemparkan magic gem miliknya.


Starla hampir meraih kemenangan.


"Rasakan ini, kak Stella tersayang!" Starla yang bermanuver kencang, mengambil ancang-ancang untuk melemparkan magic gem.


Tapi....


"Ice wall!"


Satella yang tidak sempat untuk memutar tubuhnya lebih memilih menyulap tembok es dibelakang tubuhnya. Sementara Starla yang melesat cepat tak sempat berhenti.


Kedebug....


Yang dialami Starla sungguh tak beruntung.


Terpental kebelakang setelah kepala juga badannya menabrak dinding.


"Aduh pusing, aku pusing." Keluh Starla, terbaring dirumput sambil menatap awan dengan tatapan kosong. Kepalanya sungguh terasa berat, seolah ada bintang-bintang berotasi diatas kepalanya.


"Aku hitung sampai sepuluh, kalau gak bangun berarti kalah." Satella berdiri disamping tubuhnya Starla.


"Kak udah kak, aku kalah aja kak." Starla merengek sambil tubuhnya terbaring tanpa bisa bergerak lagi.


"Satu, dua tiga, empat." Satella pun mulai menghitung.

__ADS_1


"Akak ... udah kak, aku kalah kak!" Starla merengek seperti menangis, tetapi tidak menangis dengan air matanya. Hanya bernada pasrah.


"Iya deh iya, jangan nangis ya dik Starla." Satella terkekeh.


"Kamu baik-baik saja?" Historia berjongkok disamping Starla yang masih terbaring pusing.


"Kayaknya Historia lebih care deh daripada kakak kembarku sendiri." Keluh Starla.


"Jangan manja." Balas Satella.


Sebastian melangkah mendekati cucunya.


"Apa perlu kakek panggilkan tabib untukmu Starla?" Tanya Sebastian.


"Gak usah kek, Starla cuma butuh tiduran dikasur aja." Balas Starla.


"Sini gendong punggung aku, dik Starla." Seru Satella yang peduli dengan adik kembarnya.


"Makasih akak ... tapi, wangi mu kok beda." Ucap Starla yang kini sudah bertengger dipunggung.


"Itu bukan punggungku ya, tapi punggungnya historia." Satella mengedutkan alisnya.


"Eh, maaf ya Historia, habisnya mataku kunang-kunang gak jelas begini." Starla cengar-cengir.


Skip....


Satella sedang diam dikamarnya. Sekarang kamarnya sudah pisah dengan saudari kembarnya. Tapi mereka bakal sekamar lagi kalau habis baca buku cerita berwarna dengan genre horor.


Satella duduk ditepian kasurnya sambil menatap permata ruby nya. Matanya berkilauan saat menatap permata merah tersebut. Matanya seolah adalah mata burung gagak.


"Permata yang indah...." Satella mengagumi permata merah itu.


"Halo gadis kecil...." Ada suara yang menyapa Satella.


Tetapi Satella tidak mengetahui pemilik suara itu.


"Kya ... ada s*tan, suara set*n dik Starla aku takut!" Satella lagi-lagi jejeritan gak karuan.


"Aku bukanlah s*tan." Jawabnya.


"Lalu apa? siapa kamu, dimanakah dirimu berada?" Satella merinding.


"Aku adalah batu ruby." Jawabnya.


"Oh my God, batu permata ini telah dikutuk! Batu ruby ini berhantu!" Satella merinding gak karuan.


"Aku bukan hantu!" Ujar Ruby, bernada sangat kesal.


Disaat Satella sibuk menuduh Ruby sebagai hantu, tangan Satella masih memegang batu ruby dengan agak gemetaran. Tangannya gemetaran, matanya menatap permata dengan perasaan merinding dan gemetar.


"Aku adalah batu bertuah!" Ruby bernada kesal.


"Eh, apa itu batu bertuah?" Satella bernada bingung.


"Wajar saja kalau kamu bingung, kamu belum mendapat pelajaran dasar sihir disekolah." Kata Ruby.


"Aku kan baru mulai sekolahnya tahun depan." Kata Satella.


"Perkenalkan namaku Ruby!" Ujar permata tersebut.


"Kya ... aku ngompol!" Satella pun menjerit malu.


Karena tak bisa mengendalikan ketakutannya, akhirnya Satella mengompol.


Skip....


Setelah mencuci kakinya, Satella segera kabur dari kamarnya dan meninggalkan Ruby. Ia pergi ke kamarnya Historia tetapi tidak bertemu dengannya. Akhirnya ia masuk kedalam kamar Starla dan ternyata ada Starla dan Historia.


Disitu Starla masih terbaring saja dikasur dengan kepala yang sakit. Historia memijat kepalanya Starla.


"Kak Stella kelihatan seperti habis dikejar hantu?" Komen Historia.


"Memang aku lari karena hantu." Jawab Satella.


"Hantunya seperti apa?" Historia bertanya.


"Didalam permata ruby ada hantu." Ujar Satella.


"Itu bukan hantu kak, tapinya batu bertuah. Didalam batu bertuah itu memang ada rohnya, tapi bukan hantu. Mereka itu roh yang baik kok kak Stella." Kata Historia.


"Benarkah itu, aku pegang ucapan kamu ya Historia." Ucap Satella.

__ADS_1


Satella malah jadi makin penasaran terhadap Ruby.


~bersambung~


__ADS_2