Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
ramalan cinta


__ADS_3

Hubungan Satella dengan Ernest sudah membaik. Nyatanya Satella membuat siswi-siswi satu kelas menjadi iri padanya. Tapi Satella responnya biasa saja. Ernest pun bercerita banyak kepada Satella.


"Apa-apaan ini, baru kenal sudah banyak bercerita!" Protes Satella, memasang wajah jutek.


"Tidak, hanya saja aku merasa baik setelah bercerita." Kata Ernest.


"Aku pergi deh." Satella pamit.


"Tunggu dulu!" Ernest menahan.


"Apa lagi!" Satella memasang raut wajah yang jengkel.


"Aku perlu bantuan!" Pinta Ernest.


"Bicaralah!" Balas Satella.


"Materi selanjutnya terlalu berat untuk dijalankan aku yang payah. Tolong bantu aku Sat.. em, Stella!" Ernest bernada gugup.


"Sat... Sat... Sat, emangnya aku ini SATAN! Hati-hati dong mengeja namaku!" Omel Satella, nge-gas.


"Maaf." Ernest menunduk.


"Kamu kan pemateri, mana ada sih guru yang meminta tolong kepada murid untuk menjalankan materi." Kritik Satella.


"Sama aja kamu begini!" Satella memasang wajah tegas.


"Bantu aku dalam mengajari kamu!"


"Begitu!"


"Lebih baik aku belajar sendiri!"


Satella mengomel lagi pada Ernest blak-blakan. Ernest geleng-geleng kepala, ia menunduk dan berkata.


"Aku dikritik habis-habisan oleh dirimu. Sebagai seorang pengajar diriku tidak memiliki harga diri." Keluh Ernest.


"Maaf ya Ernest, aku mengatakan seperti itu demi membangun kamu jadi lebih baik." Ujar Satella.


"Tapi." Satella menginterupsi.


"Kalau kamu memintaku menjadi asisten pemateri silahkan saja ya Ernest." Kata Satella.


"Ide bagus, aku pasti bisa kalau materi sulit inj diterangkannya berdua. Terimakasih karena mau berbagi beban dengan aku yang payah ini." Seru Ernest.


"Sama-sama, payah!" Balas Satella.


Ernest menampakkan wajah yang sangat muram.


Atas ke muraman Ernest, Satella terkikik puas.


Baru saja selesai menghentikan tawanya, Emili berjalan melewati Satella. Berjalan begitu saja Emili menatap Satella dengan tajamnya.


"Dasar jahat!" Gumam Emili yang suara bervolume kecilnya dapat didengar Satella.


"Aku tinggal ya!" Satella pamit.


"Materi berikutnya adalah tentang lycan. Sampai nanti ya Sat.. eh, iya sampai nanti Stella." Ernest pamit.


Satella melanjutkan langkahnya menuju kafetaria.


Skip...


Kafetaria.


Memasuki ruang kafetaria, yang pertama dilihatnya adalah gadis tercantik berambut ungu. Adalah ungu violet tentunya, jika tidak berarti namanya bukan Violetta.


Satella pergi menuju meja yang ditempati Violetta. Melihat sosok tersebut membuat Satella gatel kepengen komentar tentangnya.


"Kalau mata sayu dan wajah lesu tidak punya karakter yang bikin orang sebel, udah pasti kakak ku kepincut sama kecantikan cewek paranormal itu." Gumam Satella.


Tak lama Satella pun sampai.


"Hai Vio!" Sapa Satella.


"Ngomongin aku ya?" Violetta mencurigai.


"Loh kok?" Satella kaget.


"Aku tadi menerawang dirimu loh." Kata Violetta.


"Ya udah aku mohon ampun kalau begitu, jangan balas aku oke." Ucap Satella dengan wajah muramnya.


"Aku gak jahat, kita kan teman terdekat." Balas Violetta.


"Serius?" Satella kaget.


"Bukannya aku itu orang baru di kelompok kalian." Kata Satella.


"Menurutku, aku itu paling cocok denganmu. Dengan Isyana selalu bertengkar, Minerva galaknya itu bikin canggung, Iota itu kaya anak kecil, dewi Eris juga kurang feeling aku tuh." Ujar Violetta.

__ADS_1


"Sungguh." Satella tersanjung.


Suasana hening sesaat.


"Pelayan!" Violetta memanggil pelayan cafetaria.


"Loh kamu gak nunggu yang lain?" Tanya Satella.


"Duluan aja sih." Balas Violetta.


"Iya deh Vio." Satella nurut.


Kemudian..


Tau-tau Violetta menaruh sebuah buku diatas meja. Buku bersampul kulit warna cokelat, bergambar manusia serigala. Satella baru saja melihat covernya sudah terkejut.


"Tentang lycan?" Satella nadanya seperti bertanya-tanya.


"Aku meramalkan bahwa kamu itu membutuhkan buku ini. Menjadi asisten pemateri untuk membahas tentang mahluk mitologi berjenis manusia setengah serigala bukan." Kata Violetta, mengangkat senyum berwajah datar dan mata sayu.


"Terimakasih banyak, aku sudah sangat terbantu." Satella senang.


"Aku juga meramalkan beberapa murid memberi tekanan berupa pertanyaan yang sulit dijawab." Violetta memberi senyuman yang tidak didukung garis muka yang sesuai. Ekspresi senyum Violetta seperti sedikit seram jadinya.


Violetta mengeluarkan kertas dari saku jubahnya, dilempar kemeja dekat Satella. Satella membukanya lalu melihat isinya, iya terkejut.


"Emili akan bertanya begini lalu inilah jawabannya, lalu Adriana bertanya ini maka ini jawabannya."


"Eh... Bisa diramalkan oleh Vio, hebatnya dirimu Vio." Satella pun memberikan sanjungan dengan gestur bersujud sambil duduk, ia merelakan jidatnya menempel di meja demi memberi sanjungan kepada Violetta.


"Jangan berlebihan." Ucap Violetta, tersenyum sebisanya.


Pelayan datang.


"Ini pesanan meja nomor enam belas." Seru pelayan kafe.


"Disini." Violetta melambai dengan nada lesu yang khas.


Karena isi cangkir masih panas, mereka menunggu sampai bisa diminum. Sambil menunggunya, mereka sedikit mengobrol.


"Kamu gak pernah cerita padaku kalau kamu punya kakak laki-laki." Violetta membuka topik.


"Iya satu kakak laki-laki, satu lagi perempuan." Jawab Satella.


"Aku prediksi, kakak laki-laki mu lebih tampan daripada yang mulia pangeran." Kata Violetta.


"Aku tidak tertarik dengan kakak laki-laki mu!" Ujar Violetta.


"Eh?" Satella shock karena kaget.


"Terus kamu sukanya dengan siapa vio? Kamu ini cantik banget, aku sampai envy sama kecantikan mu. Dengan indahnya paras mu, kamu bisa mendapatkan siapapun Vio." Sanjung Satella.


"Mau aku ramalkan?" Violetta.


"Coba ramal!" Respon Satella.


Violetta pun diam barang sejenak sambil memejamkan mata. Semua memakan waktu satu menit saja.


Kemudian..


"Aku meramalkan!" Seru Violetta.


"Ya." Sahut Satella.


"Kita jatuh cinta pada lelaki yang sama." Ujar Violetta.


"Demi dewi Eris, apa-apaan dengan ramalan mu itu!" Satella menjadi tegang, sangat jengkel tapi ia tidak bisa menyangkalnya.


"Gak percaya dengan ramalanku?" Tanya Satella.


"Ramalan mu itu paling jitu Vio, tetapi aku tidak bisa menerima kenyataan yang seperti itu Vio!" Satella terlihat muram.


Disisi lain Satella masih merasa penasaran.


"Apa pasangan kita dimasa depan adalah seorang raja? Raja itu kan kebanyakan memiliki harem kan, namanya juga raja. Yang kutahu berdasarkan buku cerita, raja itu kadang memiliki lebih dari satu permaisuri." Satella agak murung.


"Aku gak mau spoiler!" Violetta memberikan jawaban.


"Dugaan ku sih seperti begitu Vio." Satella bernada lirih.


"Jangan muram begitu, pasangan Stella dimasa depan nanti selalu memprioritaskan dirimu dan tak pernah menyakiti hatimu! Begitu ramalanku ya Stella!" Ujar Violetta.


"Makasih Vio." Satella pun berseri kembali.


Satella mulai menyeruput kopi kapucino yang ia pesan, kopinya sudah bisa diminum.


Ikatan pertemanan Satella dengan Violetta semakin kuat.


Skip...

__ADS_1


Point of view.


Setelah pertemuan Satella dengan Violetta, Satella membaca buku tentang lycan. Satella masih butuh waktu untuk memahami seluruh materi sampai paham ke akarnya.


Buku yang diberikan Violetta itu sangatlah tebal, akan tetapi daya pikirnya Satella cukup mumpuni untuk mempelajarinya dengan mendalam. Kendalanya adalah banyaknya waktu untuk Satella gunakan membaca sangat minim. Soalnya Satella mengikuti kelas sampai sore. Sementara dari sore sampai jam makan malam harus beristirahat total dari kelelahan.


Satella melewati recovery dengan cepatnya, karena punya bak mandi air panas pribadi diruang rahasia. Sementara murid-murid lain harus berebut mandi air panas dikamar mandi asrama. Waktu yang mereka pakai tuk memakai kamar mandi sangat terbatas. Setiap orang yang mengantri selalu menagih giliran mandi dengan tidak sabarnya.


POV end...


Ruang perjamuan.


Tiba kembali di ruang berkumpul akbar, dimana ribuan murid ada untuk makan malam serempak. Tetapi ruangan super megah ini nampaknya agak sepi dari biasa. Karena murid tingkat satu juga tingkat dua sudah libur karena mereka tidak ikut third semester.


Karena Satella paling cepat dalam pemulihan fisiknya, ia tiba paling pertama diruang perjamuan ini.


"Pertamax!" Seru Satella.


Orang kedua yang tiba diruang perjamuan adalah Violetta.


"Hai." Violetta pun melambaikan tangannya dari kejauhan.


"Vio." Seru Satella.


Mereka pun duduk berhadapan dimeja makan panjang diruang perjamuan nan megah. Ruangan memiliki tingkat kecerahan yang remang-remang. Lilinnya tidak ditaruh diatas meja, melainkan ditaruh di piring yang melayang diudara secara ajaib. Lilin-lilin sangatlah tinggi diatas, kalau mau melihatnya haruslah menengadah keatas. Saat menatap cahayanya berarti melihat atap khas ruang perjamuan yang disulap menjadi penuh bintang-bintang layaknya menatap antariksa.


Ruang masih sangat sepi, Violetta menatap langit-langit ruangan ini. Satu demi satu murid tingkat tiga berdatangan. Staf sekolah datang mendorong troli pengantar menu makanan didalam nampan yang tertutup tudung saji bundar logam.


Violetta menatap ke atap ruang perjamuan.


"Kenapa Vio menengadah keatas begitu?" Tanya Satella.


"Apakah kamu pernah berjalan menuju menara tertinggi kastel akademi ini?" Tanya Violetta.


"Waktu tingkat satu." Jawab Satella.


"Waktu itu kita melihat dengan teleskop di menara astronomi." Violetta membuka topik.


"Lalu?" Tanya Satella.


"Seperti itukah langitnya!" Violetta menunjuk kearah atap yang telah disulap jadi langit antariksa.


Satella menengadah keatas.


"Kamu benar Violetta." Satella memandang atapnya.


Satella dan Violetta sangat enjoy memandangi langit yang disulap menjadi ruang antariksa.


Langit malam yang dilihat dari daratan tidak sama dengan langit malam yang dilihat dari teleskop.


Bintang bisa memancarkan cahaya sendiri. Cahaya yang dipancarkan itu berbeda-beda, tergantung dari suhu atmosfernya. Bintang yang memiliki suhu yang tinggi atau panas bewarna biru. Bintang yang memiliki suhu yang rendah atau dingin berwarna merah. Lewat warna cahaya itulah astronom mengetahui suhu pada bintang-bintang dilangit antariksa.


Satella tercengang menatap rona bintang yang indah.


"Wah.. indahnya. Itu rona cahaya merah, hijau, biru, ungu. Semua warna gelombang cahaya langit antariksa sungguh keren." Satella sangat takjub.


"Hei Stella." Seru Violetta.


"Ya Vio." Sahut Satella.


"Pastinya kamu merasa kesal atas ramalanku tadi siang." Violetta pun meminta maaf.


"Sejujurnya iya, cinta dibagi dua rasanya mana enak." Keluh Satella.


"Ramalannya ada lanjutannya tau." Kata Violetta.


"Apa itu Vio?" Tanya Satella.


"Aku melihat gambaran dirimu dimasa depan sangat bahagia dan tidak pernah bersedih. Kalaupun menangisi sesuatu itu bukanlah tentang cinta." Ujar Violetta.


"Sekian ramalan dariku." Violetta menutup bahasan yang tadi siang.


"Aku lega mendengarnya, fakta dimasa depan aku bahagia sudah cukup memberi rasa lega. Yang terpenting cintaku membuatku menikmati hidup bahagia." Ucap Satella, tersenyum merona.


"Iya seperti itulah ramalan ku." Violetta membenarkan.


Suara gemuruh diruangan tanda bahwa banyak murid tingkat tiga sudah datang. Orang ketiga yang datang adalah Minerva.


[Author : orang ketiga itu adalah Minerva, seperti pertanda.] 🤫


"Hai semuanya." Seru Minerva, langsung bergabung setelah ia mencari-cari tempat temannya.


"My best Minerva." sambut Satella dengan gestur mengecup udara, tertuju kepada Minerva seorang.


"Satella ku gerak-geriknya pada malam ini genit sekali." Sahut Minerva, dengan rona senyum.


Suasana makan malam berlalu dengan penuh sukacita.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2