Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Pemuja setia


__ADS_3

Sehari setelah digangguin sama manusia kucing, besoknya Satella kembali berlatih sihir. Sore hari disaat Satella pergi ke halaman belakang, ia dikejutkan sesuatu.


Satella berlari saking terkejutnya.


"Apa yang kamu lakukan, sepupu Margareth?" Tanya Satella, sedikit kesal menyaksikan yang ia lihat.


"Eh?" Margareth menoleh kearah Satella, terlihat kaget.


Margareth sedang memegang erat pedang kayu. Dihadapannya ada manusia kucing cantik yang agak babak belur. Sepertinya mereka beradu dengan pedang kayu. Rika duduk dirumput, pedang kayunya terlepas dari tangganya.


"Kamu apakan Rika?" Tanya Satella.


"Tuan...." Seru Rika.


"Anu ... sebenarnya kami sedang berlatih teknik pedang. Aku sudah bilang untuk menghentikan sesi latihannya, tapi Rika menolaknya. Rika memaksa agar latihan terus dilanjutkan, aku jadi bingung loh." Ujar Margareth.


"Kenapa kamu gak berhenti saja?" Satella menolak pinggang sambil melotot marah kearah Rika.


"Rika mau jadi pendekar pedang terkuat. Rika mau jadi kesatria nya tuan Stella." Ucap manusia kucing.


Rika adalah manusia kucing yang usianya sebaya dengan Satella.


"Ayo, ku obati." Satella memberi uluran tangannya.


Rika meraih tangan Satella lalu ia segera dibopong oleh Satella untuk berjalan kedalam mansion.


[Author : Di alur maju mundur ini, Satella masih berusia 14 tahun.]


Kamar.


Satella sedang mengobati luka Rika yang lebam. Satella memunculkan sebongkah es batu ditangan kanan sebelum ditempelkan di luka Rika.


"Ah, aduh sakit." Keluh Rika.


"Tahan sedikit ya." Kata Satella.


"Diperhatikan oleh tuan Stella itu adalah mimpi yang menjadi nyata, huhuhu." Rika kesenengan.


"Jangan banyak bicara dulu dong!" Satella mengomel.


Skip....


Kini Satella mengolesi kulit lebam Rika dengan balsem pereda nyeri. Bukan hanya meredakan nyeri tapi meregenerasi kulit. Bekas luka pun akan sembuh dengan balsem ini.


"Sudah...." Seru Satella bernada periang.


Rika membalas menatap Satella dengan wajah bengong campur sedikit senyuman.


"Apa?" Satella bingung.


"Anu ... apa tuan Stella tahu kalau manusia kucing itu lebih cepat pubernya daripada ras manusia biasa?" Tanya Rika.


"Apa itu puber?" Tanya Satella.


"Serius tuan gak tau?" Rika pun terkejut.


Satella mengangguk dengan raut wajahnya yang polos dan lucu.


"Imutnya...." Seru Rika.


Semula Satella duduk disisi kasur dengan wajah bengong. Kemudian wajahnya mulai memerah.


"Jangan panggil aku imut, bikin merasa aneh!" Omel Satella.


Rika menunduk kebawah.


"Ada yang bisa ku bantu, lagi?" Kini Satella sudah riang kembali.


"Anu, begini, aku penasaran apa boleh." Rika berhenti disini, kedua telunjuknya saling bersentuhan.


"Boleh, apa?" Tanya Satella.


"Aku penasaran, boleh aku minta sebuah sandaran paha?" Begitulah permintaan Rika.


"Sandaran paha?" Satella bingung.


"Aku menjadikan paha tuan Stella sebagai bantal. Nantinya tuan akan mengelus kepalaku dengan lembut." Rika menjelaskan.


"Ayo mulai." Seru Satella sambil menampakan wajah malu-malu.


"Serius?" Rika kaget.


"Aku tahu hewan berbulu itu kan senang dielus bulunya. Mereka digendong, berarti demi-human sepertimu dipangkuan paha kan?" Balas Satella.


"Eh, benar." Rika dengan mimik pura-pura konyol.


Rika berbisik kecil pada dirinya sendiri.


"Kupikir tuan akan memarahiku kemudian aku disebut kucing echi." Bisik Rika.


Kepalanya Rika kini sudah berada dipangkuan paha Satella. Satella membelai bulu di kepalanya Rika secara lembut.

__ADS_1


"Anu ... tuan Stella." Rika nampak gelisah.


"Iya ... Rika?" Sahut Satella.


"Apa tuan tahu, aku ini kan kucing laki-laki. Demi-human berkelamin laki-laki." Rika dengan ekspresi malu-malu. Kedua telunjuknya itu saling bersentuhan.


"Iya ... Riko kucing." Sahut Satella.


"Namaku Rika!" Protes Rika.


"Eh." Satella cengar-cengir.


"Ahem!" Rika berdeham.


"Aku laki-laki." Rika mengulangi perbuatannya.


"Terus?" Tanya Satella.


"Aku mau tanya." Kata Rika.


"Em, tanya apa?" Balas Satella yang terus mengelus bulu demi-human dengan lembut. Manusia kucing itu kepalanya bersandar di pahanya.


Rika berfikir dalam hati.


[Rika : Jangan-jangan manusia itu hanya menyukai sesama manusia. Mana mungkin manusia menyukai demi-human sebagai cintanya.]


"Apa tuan Stella benci memiliki seorang anak dengan paras seperti manusia kucing?" Tanya Rika.


"Maksudmu mengadopsi anak dari manusia kucing?" Tanya Satella.


Sejenak Rika menegangkan raut wajahnya karena Satella salah memahami pertanyaan darinya.


"Maksudnya anak kandung seperti ibunya tuan Stella melahirkan tuan Stella." Rika mempertegas.


Satella hanya menanggapi dengan.


"Oh ... begitu...." Satella cengengesan.


"Pasti jijik kan." Kata Rika yang memasang wajah kurang pede.


"Gak jijik, justru malah lucu kan." Balas Satella.


"Seriusan?" Rika kaget.


"Emangnya kenapa kalau aku ini punya anak manusia kucing yang lucu?" Balas Satella dengan polos.


Tiba-tiba jantung Rika berdetak kencang.


"Aku mau kok punya anak seorang manusia kucing." Kata Satella.


"Jantungku berdebar-debar." Balas Rika.


Satella terlalu polos untuk memberi jawaban atas pertanyaan dari Rika. Bagi wanita bangsawan umumnya memiliki anak demi-human yang berwujud kucing adalah tabu. Tapi Satella seolah pikirannya lurus tak terbebani. Anak demi-human kucing dengan tubuh kecil seperti kucing sangat lucu pikirnya. Sementara orang pada umumnya akan segera membuangnya bila kejadian.


Sementara bagi Rika itu adalah jawaban yang mengubah hidupnya. Untuk pertama kalinya Rika telah merasakan apa yang dinamakan sebagai jatuh cinta. Jawaban polos Satella seakan jadi sebuah harapan.


Dengan hati yang berbunga-bunga, Rika mengingat masa lalunya.


Flashback....


Peperangan antara manusia terjadi saat demi-human mulai mencoba merebut kota dikerajaan manusia. Setelah jendral kerajaan manusia berhasil merebut kembali wilayah mereka, disini demi-human pun merasakan penderitaan mereka.


Dua jenderal sekaligus diturunkan untuk merebut kota yang sempat direbut selama dua bulan. Secara kebetulan waktu itu kakek Satella adalah salah satu jendral yang berhasil merebut kembali kotanya.


Tapi cerita tidak dimulai terlalu kebelakang.


Momen pertemuan pertama Satella dan Rika telah terjadi enam tahun yang lalu. Waktu itu Satella yang berusia delapan tahun sedang asik berjalan-jalan bersama kakeknya.


Kemudian ada seorang anak kecil berasal dari ras demi-human. Ialah seorang anak kecil manusia kucing yang melarikan diri dari seorang pedagang budak. Kebetulan anak manusia kucing itu menabrak kaki kakeknya Satella dan terjatuh.


"Manusia kucing." Seru Satella, tersenyum riang saat melihat apa yang belum pernah dilihatnya.


"Dia kenapa kek?" Tanya Satella.


Kakeknya terkekeh melihat cucu perempuan dengan nada imutnya.


"Kenapa tubuhnya penuh luka, kek?" Tanya Satella.


"Ia budak, mungkin banyak disiksa oleh majikan sebelumnya." Jawab kakeknya.


"Kasian kan, kek." Jawab Satella yang bernada lirih karena bersimpati.


Kemudian pedagang budaknya pun tiba. Alih-alih membawanya pulang menuju tenda pedagang, pedagang malah menendangnya.


"Jangan ditendang." Ucap Satella.


Pedagang budak akan memukul seorang anak manusia kucing itu tetapi dihalangi kakeknya Satella. Ketika pedagang itu melayangkan pukulan, Sebastian menangkap tangannya. Awalnya pedagang itu kelihatan kesal dan murka, tetapi setelah melihat Sebastian ia diam.


"Yang mulia panglima jenderal Sebastian Charlotte." Pedagang berlutut dihadapan Sebastian.


"Berdirilah." Ujar Sebastian.

__ADS_1


Sementara Satella menarik-narik lengan baju kakeknya sambil terus merengek padanya.


"Kasian anak manusia kucing itu kakek. Boleh kita rawat yah." Bujuk Satella kecil yang simpati Rika kecil.


"Aku beli budak ini darimu!" Kata Sebastian.


"Terimakasih banyak." Pedagang budak menjadi senang.


"Ambil kembaliannya!" Sebastian melempar sekantung uang kepada pedagang budak itu.


"Wah ini sih kebanyakan, aku amat berterimakasih panglima jenderal." Ucap pedagang budak, ia langsung pergi dengan wajah yang lega.


Satella melihat seorang anak kecil seumurannya. Anak demi-human bertipe kucing. Manusia kucing dihadapannya terlihat menangis.


"Kamu kenapa nangis?" Satella kecil mengelap pipinya manusia kucing kecil itu. Satella membelai lembut bulu-bulu dikepala manusia kucing.


Rika kecil merasakan kenyamanan. Ketika ia menatap Satella kecil, ia sadar bahwa ia menyukai sosoknya. Semenjak itu Rika kecil mengagumi sosok Satella.


"Siapa namamu?" Tanya Satella.


"Riko." Jawabnya.


Perkenalan pertama, Rika masih mengenalkan diri sebagai nama aslinya.


"Namaku Stella." Balas Satella.


"...." Rika kecil terpukau dengan kecantikan Satella.


"Sekarang kita berteman." Satella tersenyum sambil memiringkan wajahnya dengan raut yang imut.


Rika alias Riko semakin terpukau dengan kecantikan dan keimutan milik Satella.


"Malaikat...." Gumam Rika kecil.


Rika kecil itu sungguh mengagumi Satella.


Flashback end....


"Eh? Eh...." Satella terkejut karena Rika tertidur dipangkuan pahanya.


"Walah ... kucingnya ketiduran deh." Batin Satella yang memasang raut wajah bete.


Entah bagaimana kakaknya datang disaat yang tidak tepat.


"Cie ... adek pacaran sama manusia kucing." Diana terkekeh.


"Kya ... tidak, ini gak seperti." Satella pun mendesis kesal.


"Aku adukan ke papah." Canda Diana sambil terkekeh puas.


"Dianya aja kak yang ketiduran." Satella mulai sebal.


Yang Satella tau adalah buku cerita berwarna. Tentang pangeran dan Cinderella yang berdansa ataupun duduk berdua di taman. Pacaran adalah apa yang diperlihatkan pada buku cerita, begitulah pikirnya.


Bangsa elves pada umumnya baru pubertas diusia seratus tahunan. Bahkan ibunya Satella itu berusia ratusan tahun saat menikah dengan sang ayah. Satella tahu itu, cinta ataupun pacaran yang ia tahu itu hanya berdasarkan referensi dari buku cerita berwarna.


"Akan kubilang kepada Margareth!" Canda Diana.


"Jangan kak, nanti salah paham loh. Aku maunya disebut pacaran sama pangeran kecil kak." Balas Satella.


"Bye adek." Diana mengolok-olok.


Diana yang berjalan dilorong pun berkomentar dengan nada seperti bergumam.


"Jadi ini yang dinamakan fetisme. Dialah sang Pemuja adikku." Diana terkekeh atas penggambarannya.


Sebuah mimpi.


Realitanya Rika kehilangan kedua orangtuanya dan adik juga kakak. Keluarganya tewas akibat perang antara manusia dan demi-human.


Tapi tidak dengan di mimpinya.


Sebuah rumah gubuk yang di kota demi-human. Pintunya terbuka dan seseorang masuk kedalamnya.


"Selamat datang Rika." Sambut seorang wanita paruh baya yang berwujud manusia kucing.


"Anak kita sudah besar ya." Ucap seorang lelaki paruh baya dari ras manusia kucing.


Kedua orang yang duduk disofa itu adalah ayah dan ibu Rika. Dalam mimpinya, semua keluarganya itu masihlah hidup. Rika sumringah.


"Masuklah." Rika bicara kepada seseorang dibelakang pintu.


Seseorang masuk.


Adalah sosok Satella versi remaja.


"Kamu bersama temanmu?" Tanya ibunya Rika.


"Aku menikah dengan seorang manusia, ibu." Kata Rika dengan ekspresi wajah berseri-seri.


"Istrimu cantik." Kata ibu Rika.

__ADS_1


Betapa indahnya dunia didalam mimpinya Rika itu.


~Bersambung~


__ADS_2