
Sore hari.
Sekarang hari kelima berjalannya third semester. Waktu telah sore, Satella berjalan dilorong setelah ia selesai mengikuti kelas diprogram third semester. Memulai dari pagi sampai sore, sangat melelahkan. Karena masih minggu pertama jadi hanya sebatas kelas teori, mungkin akan tiba waktunya kelas latihan.
"Semoga dua bulan cepat berlalu." Gumam Satella, bernada lesu saat berjalan lunglai.
Kebanyakan murid akan menuju asrama masing-masing. Tapi lain cerita bagi Satella, justru menaiki anak tangga ke lantai sembilan.
Skip..
Ruang kebutuhan.
Satella memasuki ruangan ini dan lagi-lagi hanya ada dewi Eris yang duduk sendiri. Theodore masih terdiam dalam keadaan pasive nya sebagai Phoenix. Satella berjalan ketitik tengah meja pertemuan ia disambut oleh dewi Eris.
"Kamu datang lagi." Sambut dewi Eris.
"Iya aku datang." Sapa Satella.
Satella Senderan disofa dengan lelahnya. Mengecek cangkir teh, ternyata sudah dingin untuk ia nikmati segera. Menyulap air teh menjadi sedingin air es sehingga sangat berdahaga tuk diminum.
"Segarnya." Satella melepaskan dahaga dengan es teh manisnya.
"Theodore siapkan kuali bundar untuk mandi!" Seru Satella.
Menanggapi permintaan Satella, Theodore beralih wujud ke avatar manusianya. Menanggapi seruan majikannya, Theodore membalas
Berganti kewujud avatar manusia, Theodore menjawab perintah dari majikannya. Sementara itu Satella meneguk es teh manis dicangkir sambil menoleh kearah Theodore.
"Yes master." Sahut Theodore.
"Habisnya kamar mandi asrama selalu mengantri pada jam segini semenjak adanya third semester." Curhat Satella.
Theodore memakai magic scroll untuk memunculkan kuali bundar khusus masak ramuan. Namanya inventori scroll, yaitu magic scroll yang fungsinya menyegel benda didalam gulungan. Sebab kalau disimpan didalam magic bag tidak akan bisa. Pertama berat kuali tak mampu ditampung kapasitas dari magic bag, lalu kuali terlalu besar untuk masuk kedalam celah tas.
"Aku telah membeli vitamin untuk master, ini vitamin kualitas yang cukup bagus." Seru Theodore saat persiapan alat mandi air panas dadakan telah tuntas ia sediakan.
"Berikan, aku butuh pemilihan secepat mungkin." Ujar Satella.
Theodore memberikan vitamin berbentuk sirup kepada Satella sebelum kembali menuju kuali bundar. Dengan cincin batu air pemberian Eris, Theodore segera mengisi air kuali untuk dipakai mandi malam yang hangat.
Satella meraih krdua botol yang ditaruh dimeja.
"Ada madu juga?" Ucap Satella.
"Soalnya vitamin itu ada bahan dedaunan herbal pait, saya takut master gak kuat pahit jadi saya menambah sebotol madu untuk master." Jawab Theodore.
Dalam hatinya Satella senang atas inisiatif Theodore, akan tetapi tak ingin mengakuinya dan membuat alasan. Dengan ekspresi pura-pura cemberut ia mengomentari.
"Siapa bilang aku takut pahit ya Theodore! Aku tahan obat yang rasanya pahit." Satella beralasan, membuang muka dengan mimik wajah cemberut.
"Serterah master mau meminum madu nya atau tidak." Theodore menanggapi santai.
Satella mengambil botol vitamin segera.
"Energizer adalah vitamin campur herbal, pereda rasa letih." Gumam Satella, membaca kemasannya.
Meminum sesendok vitamin itu kemulutnya. Wajah Satella sangat mengkerut saat menahan rasanya. Akhirnya sanggup ditelan dengan penuh rasa penderitaan di lidah.
[Satella : dasar beg*k Theodore ini, aku dikasih yang pahit banget.] š«
Dengan cepat Satella berusaha tuk meraih botol madu.
"Pait banget." Batin Satella dengan nada berbisik, tidak mau didengar siapapun.
Wajahnya menampakan mimik penuh kelegaan setelah meminum madu yang manis.
"Sudah." Gumam Satella dengan ekspresi puas saat madu selesai diminumnya.
"Mau mandi sekarang, masterku?" Tanya Theodore.
Skip...
Satella telah selesai dengan mandi hangat. Sudah mengeringkan diri kemudian memakai baju sekolah dengan rapih. Rambut basahnya disisir perlahan sambil mengering.
"Aku butuh tenaga mu Theodore!" Perintah Satella.
"Selalu siap masterku." Theodore memberi sikap pengabdian tanpa syarat pada Satella.
"Oke bagus." Satella puas.
Mulai berdiri, Satella melangkah menuju lemari kaca. Sementara Satella mengambil benda sihirnya, Theodore sedikit menginterupsi.
"Apa yang harus aku kerjakan itu master?" Tanya Theodore.
"Ikuti saja aku!" Pinta Satella.
__ADS_1
"Baiklah." Ucap Theodore sambil memandang masternya berjalan menuju lemari kaca dipojokkan.
Dimata Theodore Satella adalah bidadari paling cantik sejagat raya. Sementara Satella hanya menatap Theodore sebagai Phoenix yang tak lebih seperti unggas peliharaan.
Memandang masternya berdiri didepan lemari kaca. Theodore menginterupsi Satella kembali.
"Tapi master mau kemana?" Tanya Satella.
"Sudah ikuti saja." Balas Satella tak menatap sama sekali Theodore, ia malah fokus dengan lemari kaca.
"Tapi aku mau keluar kota." Jawab Satella.
"Tapi ini kan sudah malam?" Kata Theodore dengan nada khawatir.
Tau-tau Satella menoleh kearah Theodore.
"Mau jadi penurut atau tidak?" Balasan Satella, tatapannya lurus kearah Theodore dengan tatapan setajam elang dan sedikit sebal.
"Serius master?" Ucap Theodore bernada khawatir.
"Kamu Theodore yang penurut ataukah Theodore yang mau ku tendang? Kalau kamu gak nurut akupun gak akan membutuhkan dirimu lagi!" Ancam Satella yang menatap tegas.
Theodore diam bagai kerbau yang dicocol hidungnya. Mimik wajah gundah pun terlihat setelah Satella mengatakannya.
"Maafkan saya master." Theodore pun membungkuk dihadapan Satella.
"Bagus." Satella mengukir senyum bagai seorang ibu memarahi anak yang tidak mau makan. Ia tersenyum dengan sedikit garis wajah yang sebal.
Satella kembali fokus pada lemari kaca. Satella mengambil beberapa benda yang ia simpan sebelumnya. Dimasukkan kedalam magic bag, yang terakhir adalah mengambil sebuah jam pasir ajaib.
Menutup lemari kaca yang secara otomatis muncul huruf rune yang menandakan lemari kaca telah disegel mantra sihir. Terkuncilah lemari kaca magis tersebut. Lalu Satella memutar badan hingga ia menghadap lurus kearah Theodore.
"Kita cuma punya batas waktu tiga jam saja!" Seru Satella, memegang jam pasirnya dengan dua tangan.
Ada angka yang bisa digeser pada bagian kayu di dam pasir antik itu. Seperti nomor kombinasi pembuka kunci pada sebuah koper. Satella melakukan pengaturan dengan menggeser nomornya. Fungsinya untuk mengatur perjalanan waktu yang akan diambil oleh Satella.
"Sudah." Seru Satella.
"Theodore cepat kemari!" Perintah Satella.
Theodore melangkah perlahan menuju Satella.
Satella menggunakan jam pasir. Munculah lingkaran sihir dilantai yang Satella injak.
"Apa yang kamu lakukan, cepat kemari!" Omel Satella.
"CEPATLAH MASUK KEDALAM LINGKARAN SIHIRNYA!"
Satella membentak dengan agak emosi karena Theodore tak cepat tanggap. Akhirnya Theodore pun berlari menuju lantai yang diinjak Satella. Tak lama setelah Theodore masuk kedalam lingkaran sihir, perspektif waktu pun berubah.
Awalnya ada kilatan cahaya tak bersuara yang silau.
"Selamat pagi!" Seru dewi Eris.
"Pagi?" Theodore heran.
"Selamat pagi kembali goddess tercantik." Sahut Satella.
"...." Theodore pun menampakkan mimik wajah bingungnya.
"Kamu tidak sekolah?" Tanya dewi Eris.
"Iya ini baru mau." Jawab Satella.
"Eh.. tunggu!" Seketika dewi Eris merasakan kejanggalan.
"Apa goddess ku?" Sahut Satella.
"Kenapa bisa ada dua Theodore disini?" Tanya dewi Eris sambil ia menunjuk ke sangkar burung.
Didalam sangkar terlihat Theodore dalam wujud Phoenix masih tidur lelap. Setelah dewi Eris menunjuk kearah sangkar burung besar maka Theodore berwujud manusia juga ikutan bingung.
"Penjelasannya nanti saja!" Satella dengan tergesa-gesa menarik paksa tangan Theodore menuju keluar ruangan tersembunyi ini.
"Master?" Seru Theodore dengan penuh kebingungan.
Skip...
Green apple village.
Karena Satella tak mempelajari cabang sihir teleport maka Satella memakan waktu 20 menit dengan terbang. Didalam bentuk merpati hitam Satella bisa terbang dengan kecepatan yang tidak masuk akal cepatnya. Bahkan wujud merpati hitam Satella lebih cepat daripada wyvern dragon ataupun Griffin.
Mungkin saja Satella mempelajari cabang keterampilan pasive yang meningkatkan movement disaat ia berwujud merpati hitam.
Diteras rumah Bellatrix, Satella berdiri dengan Theodore berada disampingnya.
__ADS_1
Perspektif waktu, sementara adalah pagi hari.
Pagi hari.
"Kamu punya waktu 30 menit buat bersihin rumah ini!" Satella ngasih perintah.
"Kita datang kesini pagi-pagi cuma untuk bersih-bersih dirumah kayu yang reot ini?" Theodore bernada protes campur bingung.
"Tujuan utamanya bukan itu ya Theodore. Tapi males aja rasanya kalau setiap datang kesini keadaan rumah yang kotor selalu." Satella mengerutkan keningnya.
"Iya kotor banget." Theodore pun ikut-ikutan pusing.
"Makanya kita haruslah mencicil bersih-bersih rumah ini setiap kali mampir kesini." Kata Satella.
"Kita?" Theodore mengerutkan keningnya.
"Maksudku kamu." Ucap Satella terkekeh.
"Jangan banyak protes!" Satella pun sedikit melotot kearah Theodore sambil menunjuk-nunjuk.
Skip..
Satella sudah lama duduk dikursi teras selagi Theodore beres-beres rumah tua ini. Satella juga dengan baik memanfaatkan ini untuk memulihkan tubuh dari rasa letih akibat ikut kelas dari pagi sampai sore hari. Setengah jam ia duduk bagai mahluk tanpa tulang belakang, Theodore menghampirinya ketika waktu sudah berlalu setengah jam.
"Sudah setengah jam tuan." Seru Theodore yang baru tiba diteras.
Satella pun segera berdiri.
"Carikan aku cerminĀ dengan bola mutiara dengan batu ruby!" Pinta Satella.
"Permisi?" Theodore bingung.
"Item sihir yang disembunyikan dirumah ini." Ujar Satella.
"Akan aku cari." Kata Theodore.
Theodore memasuki ruang bawah tanah untuk mencari benda yang diminta Satella. Sementara Satella dilanda rasa gabut segera masuk ruangan. Memungut sapu untuk mencoba bersih-bersih, tapi debu-debu beterbangan diudara lalu Satella menjadi batuk-batuk karenanya.
"Uhuk-uhuk."
Satella batuk, menaruh lagi sapu ditempatnya.
"Putri ningrat gak biasa menyapu." Gumam Satella dengan logat yang sedikit nyebelin.
Skip...
"Ketemu master." Seru Theodore.
"Mana?" Satella menagih dengan tangannya.
Satella mendapat horcrux yang keempat. Segera memasukannya kedalam magic bag.
"Kunci lagi rumahnya!" Perintah Satella.
Theodore berdiri didekat Satella.
"Kita pulang ke kastel akademi!" Perintah Satella.
Skip..
Lorong sekolah.
Satella telah kembali ke akademi tepatnya lantai sembilan. Masih berdiri dilorong permadani yang bergambar troll. Perspektif waktu masih pagi. Sebelum ia memasuki pintu ghaib ruang kebutuhan yang amat rahasia, Satella mencoba membatalkan sihir waktunya itu sebelum durasi habis. Perspektif waktu pun dikembalikan kedalam keadaan sebelumnya.
Lingkaran sihir keluar, waktu pun kembali normal.
Malam hari..
Satella menarik Theodore masuk kedalam ruang rahasia itu.
Ruang kebutuhan.
Aneh bagi Theodore karena telah melihat dirinya dan Satella berada didepannya. Kenapa ada dua dari mereka, keadaan sungguh timpang tindih. Satella dan juga Theodore yang berada di dekat lemari kaca sedang berdiri diatas lingkaran sihir. Baru sekali berkedip, Theodore yang berada di dekat pintu masuk kaget karena dirinya dan Satella yang satunya menghilang setelah tadi masih berada dekat lemari kaca.
"Kenapa kalian ada dua?" Itulah pertanyaan dewi Eris.
"Ceritanya rumit." Kata Satella.
Satella berlari kecil kearah lemari kaca dengan terburu-buru.
"Nanti jatuh loh master!" Tegur Theodore terlihat perhatian.
Lalu..
Satella berdiri didepan lemari kaca kemudian menaruh cermin sihir miliknya. Beberapa item sihir sekali pakai yang tidak jadi digunakan ia letakan kembali kedalam lemari.
__ADS_1
~bersambung~