
Perang perebutan kastil pun masih terjadi. Dinding kastilnya dirusak dengan sihir dahsyat. Pihak musuh memajukan pasukan penunggang naga darat terlebih dahulu. Mereka knight reguler dengan teknik yang matang. Pasukan yang awalnya disiapkan menyambut mereka saat gerbangnya jebol, telah disibukan dengan kelompok mage. Serangan dadakan membuat pasukan bagian dalam sangat kerepotan.
Starla pun bertindak.
Memunculkan api ditangan kanan yang berwarna merah, inti apinya berwarna kuning. Empat detik kemudian berubah menjadi api berwarna hijau cerah. Starla pun melempar kobaran api dari tangan kanannya. Api yang dilemparkan Starla berubah bentuknya menjadi tombak api yang melaju kencang.
Tombak apinya tak seperti tombak yang digunakan kesatria. Tetapi api berbentuk kerucut segitiga. Segitiga runcing didepan dan melebar pada ekornya. Kerucut itu luas ekornya sebesar lima belas derajat ukuran busur garis. Tombak api menabrak tanah didekat gerbang dindingnya.
Tombak api hijau itu membentur tanah. Secara ajaib mana roh api memperkuat sihir apinya menjadi tornado api. Yang Starla lakukan adalah sihir tingkat satu, tetapi menjadi sekuat sihir tingkat lima keatas. Tombak api hampir sama dengan bola salju. Kalau bola salju dapat membekukan satu target, tombak api membakar satu target. Ketika penyihir kembar itu yang melesatkan sihir tingkat satu, entah bagaimana efeknya sekuat sihir tingkat lima keatas.
Fire pilar !!
Tornado api menghempaskan dan menghanguskan pasukan kesatria yang menerobos masuk melewati gerbang rusak. Zirah pelat besinya meleleh, apalagi dagingnya. Dalam sekejap pasukan yang menerobos diratakan. Pintu gerbangnya telah tertutup api. Jalur ditutup api yang tidak bisa membakar dindingnya.
Strom gust !!
Sihir badai salju dilesatkan untuk memadamkan apinya. Angin yang kencang menyulitkan bagi regu penjaga dinding. Beberapa orang terhempas kebawah dinding, jatuh kemudian gugur. Efeknya tidak berlaku untuk Starla yang kebal.
Gelombang angin kencang yang bersalju terbelah saat mengarah ke tubuh Starla. Seolah salju tak mau melukai Starla. Itulah berkah yang dimiliki oleh ras snow elves. Regu yang berdiri dekat gerbang yang tugasnya menyambut pasukan penjebol dinding, menggunakan tombak dua tangan yang panjang, besar. Senjata mereka efektif tuk menikam leher naga darat yang menerobos masuk. Tapi sihir badai salju telah membekukan mereka.
"Orang-orang itu membeku." Ucap Starla, sambil mencari-cari letak pamannya yang belum muncul.
Pamannya telah memakai sihir tingkat tinggi sebanyak dua kali.
"Paman, dimana dia?" Starla pun masih mencari-cari.
Apinya sudah padam, setengah pasukan memasuki gerbangnya secara serentak. Tau-tau gerbang dindingnya disulap Satella jadi dinding es. Setengah dari pasukan lawan masih diluar. Satella pun melesatkan sihir tingkat satu nya.
Front driver !!
Bola salju dengan pola pusaran melesat kearah barisan pasukan musuh. Membentur satu, salju meluap kesegala arah. Pusaran saljunya membesar, meluap, membekukan seluruh pasukan terdekat. Dua ratus lebih pasukan dibekukan seketika itu.
Starla masih bingung, Starla belum bisa menemukan dimana posisinya Satella atau pamannya. Mereka bagaikan penembak gelap yang tak terlihat. Mantra sihirnya terlihat, tetapi pengirimannya tak nampak.
"Dimana kamu twin?" Gumam Starla yang mengkerutkan keningnya.
"Aku harus memancingnya!" Pikir Starla.
Starla memakai flying magic untuk turun kebawah dan menampakkan diri.
Starla berdiri di darat, ia menoleh kesegala sudut. Tiba-tiba Starla terkena sihir elemen bumi. Kali ini bukan sihir tanah atau gravitasi, melainkan akar belukar tanaman.
Tiba-tiba akar yang sebesar batang pohon melilit kedua kaki Starla bagaikan seutas tali pengikat. Akar belukar menjalar sampai pinggang Starla seolah pinggangnya dipeluk dengan mesra. Mukanya memerah seperti sedang kekurangan oksigen.
Baru sebentar terjerat, langsung diserang oleh sihir. Sihir yang menyerang Starla adalah baut es. Sebagai snow elves, Starla resist terhadap serangan es. Malah jadi terasa geli bagi Starla. Itu hanya gertakan saja. Sebab apabila Starla kabur dengan transfigurasi asap, Starla bisa luka parah kalau kena serangan element es. Dalam posisi sekarang, Satella kalang kabut.
Satella yang awalnya bersembunyi bagai penembak gelap, kini mulai keluar. Wujud merpati hitam dari Satella hadir dihadapan Starla, ia berubah menjadi sosok Satella.
Satella membentuk pedang es yang tajam dan ringan. Bahkan tangan gemulai Satella bisa mengayunkan pedang es secara leluasa seolah itu pedang plastik mainan anak-anak. Meski pedang es sangat tajam, akar belukar cukup tebal juga keras.
Akar belukar mulai teriris hingga serabut dan getah akarnya terlihat jelas. Cara Satella mengayunkan pedangnya sangat amatir, Satella mengayunkan pedang asal-asalan. Gaun merah Starla sampai kena tebasan. Akan tetapi kulit Starla hanya kena luka lecet seolah itu di pecuti oleh cemeti bukanya seperti kena tebas pedang tajam. Karena pedangnya element es maka bilah pedangnya resist saja bagi Starla.
Jadi itu alasan Satella menebas akarnya dengan pedang es bukan Griffin sword. Mungkin bisa buat Starla tewas kalau itu pakai Griffin sword, bahkan hanya merobek dagingnya saja tanpa melukainya dibagian organ dalam sekalipun.
Satella tak mau mencelakai, sadar kalau tebasan nya sangat ceroboh juga amatiran.
"Hei ... hentikan itu. Hentikan merobek gaunku!" Protes Starla.
"Aku tidak sengaja, pokoknya aku tidak sengaja." Seru Satella, dengan nada menjerit-jerit kecil.
Satella terus menebas pedang es secara asal-asalan. Bahkan posisi pinggangnya sampai terpeleset, hampir saja kena tenggorokannya Starla. Dengan nada kaget agak menjerit Satella minta maaf.
"Maaf, gak sengaja." Seru Satella yang juga menjerit kecil.
"Berhenti merobek gaunku. Sudah kubilang jangan merobek gaunku!" Seru Starla, sangat kesal.
"Hanya gaun saja ya, nanti ku ganti dengan yang baru." Jawab Satella.
__ADS_1
"Bukan begitu!" Sentak Starla.
"...." Satella diam dan berhenti mengayunkan. Wajahnya diam sejenak, kening mengkerut.
"Kalau gini terus lama-lama jadi melorot tau!" Omel Starla.
"Eh ... ada benarnya juga." Balas Satella dengan wajah bengong.
Secara tiba-tiba paman Hesper si elves berambut panjang segera melesat. Ia menuju kesini dengan flying magic. Paman terbang sangat cepat kearah mereka berdua. Ia mengenakan jubah hitam, kepala ditutup oleh tudung jubahnya. Ia memegang belati dikedua tangan.
"Kya ... awas belakang!" Seru Starla menjerit heboh.
"Apa, kenapa?" Satella menoleh ke kanan dan kiri. Itulah saat terakhir Satella bisa berkata-kata.
Tiba-tiba punggungnya ditebas dengan belati. Dua sayatan belati dipunggung. sayatannya ada dua dan sama-sama searah dan berjarak empat senti antara satu belati dan belati yang lainnya. Tebasan nya sangat kuat.
"Tidak...." Starla menjerit.
Satella ambruk dengan posisi tengkurap didepan mata Starla. Pamannya tertawa dengan nada jahatnya sampai benar-benar puas. Starla tidak tega melihat, sesekali mengintip kebawah nya.
Yang Starla lihat adalah punggung.
Iya benar, punggung. Punggung itu seperti daging sapi diiris dengan pisau daging. Sayatan yang dalam, bahkan serat tendon sampai putih lemak terlihat. Malah sampai pada memperlihatkan putih tulangnya.
"Aku akan memberikan hukuman karena tidak menurut!" Pamannya menyeringai kepada Starla.
Starla mendengar suara batuk dari Satella.
"Sakit ... sakit ... sakit ... sakit." Keluh Satella, merintih diambang kritis.
Lebih parahnya lagi, paman mendaratkan sepatunya itu tepat dipunggung Satella. Diinjak juga ditekannya hingga darah Satella merembes keluar dari punggung Satella yang teriris dalam-dalam.
"Tidak ... jangan lakukan, tidak...." Jerit Starla, histeris.
Paman mengarahkan ujung belatinya pada punggung Satella. Ditikam punggung Satella sampai tertembus ke jantung.
"Tidak...."
Restart !!
**Efek sihir sage diary bekerja. Mulailah tercium aroma benda magis yang dibuat dari alkimia kegelapan.
Perspektif kembali ke Satella**....
Skip.
Masih ada diatas dinding.
"Sakit...." Satella merintih walau sebenarnya tak terluka.
"Kenapa?" Minerva menoleh.
"Sakit?" Violetta menoleh.
Saat ini mereka sedang berada di turunan dinding. Menuruni anak tangga, Satella berhenti sejenak. Satella terhenti, membuat nada merintih walau tak ada apa-apa.
"Kamu baik-baik saja?" Minerva dengan mimik khawatir.
"Tidak, itu bukan apa-apa." Balas Satella.
"Ada-ada saja." Minerva menghela napas lega.
Mereka melangkahkan menuju kearah bawah.
Angin berhembus santai.
Sudah dibawah.
__ADS_1
[Satella : itu tadi tempat aku kena tikam belati si licik itu.] 😞
Satella menatap ke sudut tempat dirinya mati terakhir kali.
"Kenapa murung?" Violetta agak menaruh curiga.
"Aku baik-baik saja kok." Jawab Satella.
Mereka terus melangkah.
"Aku meramalkan, nanti datang pasukan mage. Mereka berhasil melewati dinding, mereka mulai menyerang dari dalam." Violetta bilang.
"Serius, mereka pakai portal scroll atau door crossing?" Tanya Minerva.
"Mereka memakai sapu terbang tuk melewati dindingnya." Kata Violetta.
"Masa?" Seru Minerva, bernada tak percaya.
"Aku percaya itu akan terjadi nanti." Kata Satella.
Tentu saja, semua ramalan Violetta akan terjadi nanti. Itu semua telah dilihat Satella sebelum mengalami restart. Satella terus berpikir-pikir bagaimana caranya melewati siklus kematian lagi.
Minerva menatap keatas, hendak melihat kastil yang lebih megah daripada kastil sekolah mereka. Minerva melihat seekor Phoenix melintas tepat dipandangnya.
"Itu pasti Theodore." Seru Minerva sambil menatap ke udara.
"Iya benar, aku memerintahkan Theodore untuk mengintai area langit." Ujar Satella.
"Tentu saja itu dia, habis Phoenix adalah mahluk sihir yang langka. Siapa lagi orang di zaman ini yang punya binatang sihir langka yang tingkatannya adalah mitologi." Violetta menanggapi.
"Aku pengen punya hewan sihir setingkat mahluk mitologi kaya kamu." Seru Minerva mengarah kepada Satella.
"Dasar iri." Sindir Violetta.
"Kalau bukan karena bantuan dari dewi keberuntungan, aku gak akan bisa dapet binatang sihir setingkat mahluk mitologi." komentar Satella.
"Lagipula harganya juga mahal, sekitar 25 koin emas putih. Harus menjual rumah orang tuaku dulu baru bisa. Itupun kalau beruntung, kalau dapetnya binatang sihir biasa yang harga aslinya cuma dibawah sepuluh koin emas. Sebenarnya membeli telur gacha sama dengan berjudi tau." Minerva agak bawel.
"Makannya jadi anak orang kaya." Satella mengolok-olok.
"Kalau bisa aku mau pecat orang tuaku itu. Teruskan aku diadopsi oleh seorang raja dari negri dongeng. Nasibku jadi calon ratu penuh kemewahan deh." Canda Minerva.
"Walah ... dasar anak durhaka." Satella mengedutkan alisnya.
"Bercanda." Tukas Minerva.
"Yang ada raja bukan mengadopsi kamu sebagai anak angkat, tapi menjadi selirnya." Komen Violetta.
"Pedes!" Minerva mengangkat tinjunya, memanyunkan bibirnya.
"Aku meramalkan Isyana bakalan bicara begini." Kata Violetta, mengangkat tangan.
"Eh, bisa kaya gitu?" Minerva terbengong.
"Minerva bisa saja menjadi istri seorang raja. Soalnya Minerva itu orangnya cantik. Tapi jadi istri kesebelas raja berusia tujuh puluh tahun." Violetta menirukan nada bicaranya Isyana.
"Begitu katanya." Ucap Violetta dengan suara aslinya.
"Asem!" Minerva hilang muka.
"Walah ... persis banget mulutnya Isyana." Komentar Satella.
"Aku menerawang loh." Kata Violetta.
Singkat cerita apa yang terjadi selanjutnya tidak ada yang berubah. Kejadian berlanjut sampai scene dimana Starla akan terjerat oleh akar-akaran yang disulap paman.
~bersambung~
__ADS_1