
Putri kembar yang mungil juga lucu memasuki desa. Ada banyak rumah mereka tengok. Bagi anak sekecil mereka, rumah selain yang mereka tempati selama ini adalah sesuatu yang baru dilihat. Bukan hanya rumah yang mereka lihat tetapi perkebunan. Si kembar pun sibuk melihat-lihat. Satella pun menarik lengan Starla karena ada gerobak dagang ditarik naga yang melintas.
"Awas, nanti kena tabrak!" Satella menegur adik kembarnya.
Berjalan dipingigran jalan setapak melihat kearah sawah.
"Itu apa kak?" Tanya Starla.
"Aku pernah lihat dibuku cerita berwarna. Mereka sedang bertani." Jawab Satella kecil.
Tentu buku cerita berwarna itu dibacakan ibunya.
"Bertani itu apa?" Tanya Starla.
"Mereka menggandakan kentang." Jawab Satella sambil menunjuk kearah area perkebunan.
Melangkahkan kakinya lagi lalu mereka bertemu anak laki-laki seumuran.
"Kalian...." Seru bocah laki-laki menyapa.
Starla bersembunyi dibelakang kakaknya.
"Kamu siapa?" Tanya Satella.
Bocah laki-laki itu seperti sedang mengusap ingusnya lalu mengusap pada bajunya.
"Ihh ... menjijikkan." Ucap Satella.
"Perkenalkan namaku Artha, salam kenal." Bocah laki-laki mengulurkan jabat tangan.
"Aku," Belum Satella menjawab, bocah laki-laki itu memotong.
"Kamu pasti putri salju kan." Ucap bocah laki-laki, cengengesan.
"Kok tau." Sahut Satella.
"Habisnya kulitnya putih seperti boneka porselen." Kata anak itu.
"Hei ... Artha, kau menakuti adik kembarku!" Satella menegurnya.
"Kembar, apa itu kembar?" Tanya Artha.
"Serius, kamu gak tau?" Satella memiringkan wajah dengan mimik bingungnya.
"Tidak pernah dengar." Jawabnya.
"Kalau begitu ketemu lagi nanti, setelah kamu tahu." Ujar Satella, memalingkan wajah dan pergi.
"Bocah ingusan." Ujar Satella yang menuntun adiknya agar ia tidak tersasar.
Akhirnya mereka bergegas pulang kerumah.
Skip....
Besoknya setelah putri kembar sarapan, mereka pun mengobrol tentang kemana mereka pergi bermain hari ini. Kalender jelas memperlihatkan bahwa sekarang adalah dua hari sebelum winter.
Kamar.
Satella kecil berada dikamarnya. Kamarnya sangatlah lega, kala itu terlihat seolah seperti taman main anak-anak. Buku-buku berserakan, buku cerita berwarna. Lalu ada balok-balok untuk permainan dan rubik salah satu mainan khas ala anak-anak. Banyak boneka yang bentuknya seperti monster, tetapi jenis monster jinak yang lucu.
Dilantai nya ada permadani yang bergambar tokoh kartun lucu. Lalu banyak puzzle disana. Saat melihat kemeja banyak mainan yang dari bentuknya mirip dengan apa yang disebut action figur. Action figur berbentuk beragam, ada miniatur monster ada miniatur pahlawan.
Pintu terbuka.
Kamar ini milik Satella dan Starla.
Starla iseng mengambil miniatur action figur dimeja.
"Jangan sentuh! Tegur Satella, Satella yang awalnya duduk kemudian melangkah menuju kearah Starla.
"Aku cuma mau main." Keluh Starla.
"Itu bukan untuk mainan tetapi pajangan." Ujar Satella.
Starla mengembalikannya lagi.
"Kalau bukan mainan namanya apa kak? Masa mereka dibuat persis mainan hanya untuk dipajang saja." Kata Starla.
"Namanya action figur. Dibuatnya dari bahan yang tidak bisa pecah, tetapi bisa meleleh." Jawab Satella.
"Meleleh, apa mereka lilin?" Tanya Starla.
"Bukan lilin, karena mereka padat juga keras." Kata Satella.
Kemudian Starla dengan isengnya menyentuh action figur dengan telunjuknya.
"Sentuh." Ucap Starla.
"JANGAN...." Seru Satella.
"Kenapa kak?" Tanya Starla.
"Nanti posisinya berubah lagi, kan supaya enak dilihat mereka harus ditata rapih tau!" Tegur Satella.
Starla kecil pun menggembungkan pipinya.
"Kalau dilihat boleh." Kata Satella.
Starla menyenderkan kepalanya dimeja yang menjadi alas menata action figurnya. Menghitung satu demi satu saat jarinya menunjuk action figur itu.
__ADS_1
"Hah ... Ini kan, kak ini kakek kan?" Tiba-tiba Starla menunjuk kearah satu action figur.
Seorang pendekar pedang yang memakai tuxedo berdiri didepan barisan kesatria berzirah.
"Iya kakek." Jawab Satella.
"Kenapa kakek dijadikan mainan?" Tanya Starla.
"Kakek kan jendral yang terkenal, pastilah dibuat action figurnya, dik Stalla." Jawab Satella.
"Oh...." Starla dengan raut wajah bengong nya yang imut.
Beberapa saat kemudian nampak Starla menguap. Menjatuhkan tubuhnya yang mungil dikasur.
"Tidurlah, dik Stalla." Seru Satella, seolah menahan tawanya.
"Hoam ... ngantuk kak, biasanya kan kita bobo siang barengan." Gumam Starla kecil.
Satella kecil terkekeh.
"Aku tinggal main." Ucap Satella, seketika berlari keluar kamarnya.
"Hei, tunggu, kak tunggu...." Starla merengek.
Skip....
Akhirnya mereka kembali bermain keluar rumah. Sesampainya mereka berdua di gerbang, ada dua orang kesatria zirah selaku kru penjaga mansion bangsawan. Seperti biasa penjaga akan melarang putri dari keluarga bangsawan untuk main keluar karena sikap proteksinya.
Mulanya Satella berjalan lurus kedepan, terhenti didepan pintu pagar yang terkunci. Satella kecil terdiam didepan pagar dengan ekspresi bengong yang imut lalu menoleh kesamping.
"Kenapa tidak boleh?" Tanya Satella kecil, menatap penjaga.
Penjaga gerbang terkekeh.
"Apanya yang tidak boleh?" Balas penjaga sambil menahan tawanya.
"Aku mau main loh." Kata Satella.
"Memangnya kemana mbak maid nya? Mau lah didalam rumah ya." Kata penjaga.
"Aku mau pergi ke desa." Satella bernada merengek.
"Tidak boleh." Larang penjaga.
"Kenapa tidak boleh?" Tanya Satella lagi, dengan mimik yang membuat orang menjadi kasihan sekaligus tertawa atas keimutannya.
"Diluar berbahaya, nanti diculik." Kata penjaganya.
Alhasil Satella cemberut.
Satella memanyunkan bibirnya. Satella kecil putar arah kemudian berjalan kearah mansion.
Memandang kedepan, Satella pun melihat Starla dari kejauhan yang berlari kecil kearahnya. Alih-alih tersenyum riang, Satella dibuat mengerutkan kening seolah tidak mengharapkan kedatangan adik kembarnya. Akhirnya mereka pun berpapasan, Satella cemberut.
"Kak kenapa aku ditinggal?" Protes Starla.
"Memang aku mau main sendirian!" Balas Satella dengan raut jutek.
"Yah ... Kakak." Starla cemberut.
"Jangan merengek, mukamu jadi asem. Kalau mau ikut ayo cepetan ikut." Ujar Satella.
"Yeay." Starla bersorak-sorai.
Skip....
Dilorong mansion seorang maid sedang bersih-bersih. Ia menyapu lantai dengan perlahan tapi amat bersih. Hingga putri kecilnya sang majikan datang menarik-narik roknya. Mbaknya terhenti sejenak.
"Mbak ... sini mbaknya." Seru Satella memanggil-manggil.
"Kenapa nak?" Tanya maid.
"Mau belanja gak?" Tanya Satella.
"Untuk hari ini, tidak." Jawabnya.
"Belanja aja ya." Bujuk Satella.
"Gak ada yang mau dibeli kok." Balas maid nya.
"Tapi aku mau main keluar, aku pengen main ke desa." Ucap Satella, merengek.
Mbaknya terkekeh atas kelucuan putri majikannya.
"Ara ... ara, imutnya." Ucap maid, seraya mencubit pipi Satella kecil.
Skip....
Jalan setapak.
Biasanya pelayan rumah keluarga ningrat ini akan pergi ke desa tuk membeli bahan masakan di pasar kecil di desa. Akhirnya pelayan itu berbohong mau pergi belanja dan ditemani putri majikan. Padahal pelayan mau menemani anak-anak majikannya untuk pergi bermain.
"Yeay pergi main." Seru Starla.
"Iya, iya, pergi sana jauh-jauh." Candaan Satella.
"Kakak!" Starla cemberut.
"Adik-adik, apakah kalian senang?" Tanya mbak maid.
__ADS_1
Satella dan Starla menjawabnya secara bersamaan.
"Iya, senang."
"Syukurlah." Mbak maid terkekeh.
Kedua putri kembar dituntun oleh pelayan rumah. Satella dituntun disebelah kanan sementara Starla disebelah kirinya.
"Kenapa kalian ingin bermain ke desa?" Tanya mbak maid.
"Habisnya kami bosan, ditambah banyak anak-anak kecil seumuran kami disana." Jawab Satella.
"Hem ... gitu, mau mencari teman ya...." Seru mbak maid.
"Habisnya kalau dirumah terus aku kesepian." Kata Satella.
"Aku juga ingin mencari teman seumuran ku, terutama laki-laki." Kata mbak maid, cengar-cengir.
"Kenapa harus laki-laki?" Tanya Satella.
"Ada deh." Kata maid, dengan raut wajah berseri-seri.
Skip....
Meanwhile.
Di desa terdapat banyak space nan luas untuk anak-anak bermain, itu tidak perlu dibangun sedemikian rupa. Tempat dimana anak-anak bermain cukup ditanami rumput pendek dan dipagari oleh batang bambu yang tipis.
Ada sebuah gubuk kayu yang luas. Gubuk tersebut seperti memiliki banyak kamar. Diatasnya ada satu papan kayu bertulis 'panti asuhan' itulah tulisannya. Biasanya disaat masa damai seperti ini, hanya ada sedikit anak yang tidak memiliki orang tua. Walau tidak memberi keuntungan, yayasan seperti ini sangat berguna dalam memagari anak-anak kecil daripada praktik perdagangan manusia. Bisa saja mereka dibesarkan oleh kawanan bandit apabila tidak ada yang mau mengurusnya.
Diarea yang tertulis garden pada papan nama kayu, beberapa anak sedang bermain. Meski disebut garden, itu lebih seperti rumput pendek dipagari papan bambu.
Taman garden masihlah menjadi bagian dari panti asuhan itu.
Beberapa orang sedang bermain disana, sementara itu dua orang bocah laki-laki bermain bersama.
"Hei ... Rain, kamu tahu apa itu kembar?" Tanya anak laki-laki berpakaian lusuh.
"Aku tidak tahu, nanti tanya suster saja." Jawab bocah satunya.
Ada dua bocah yang berada disana. Satu bocah berambut pirang dan satunya berambut hitam. Bocah laki-laki berambut hitam itu lebih rapih baik rambut dan pakaiannya dibandingkan anak yang berambut pirang itu. Kalau saja mereka itu berkunjung ke kota terus duduk dipinggir jalan, bocah berambut hitam akan dikira anak hilang sementara bocah rambut pirang pastinya dikira sedang mengemis.
Mereka berdua masuk kedalam gubuk panti asuhan.
Didalam.
"Suster, suster...." Seru anak yang berambut pirang.
"Ada apa Artha?" Tanya bapak tua pengurus panti asuhan.
"Dimana suster?" Tanya Artha.
"Oh suster, tadi bilang mau pergi ke mansion." Jawab pak tua.
"Mau apa ke mansion?" Tanya Rain.
Sementara Artha sih masa bodo.
"Mau minta sumbangan untuk keperluan panti asuhan ini nak." Jawab pak tua.
"Mansion itu, seperti apa?" Gumam Rain.
"Mansion adalah tempat keluarga ningrat tinggal nak." Jawab pak tua.
"Ningrat?" Rain bingung.
"Memangnya kalian ini mencari suster mau apa?" Tanya pak tua.
"Artha mau tanya tuh." Ucap Rain.
"Tanya apa?" Pak tua bilang.
"Memangnya bisa jawab, pak tua...." Seru Artha.
"Sembarangan!" Pak tua mengepal tangannya.
Bocah pirang itu terkadang suka sembarangan dengan orang yang lebih tua.
"Apa sih yang dimaksud kembar?" Tanya Artha.
"Apa kamu benar-benar bertemu dengan anak kembar, setahuku disekitar sini tidak ada anak yang kembar." Kata pak tua.
"Kemarin mereka bilang begini, 'kamu menakuti adik kembarku' begitu katanya. Kembar itu apa?" Tanya Artha.
"Siapa yang bilang?" Pak tua tanya balik.
"Putri salju, dua orang putri salju yang wujudnya sama." Jawab Artha.
"Kamu menganggu putri ningrat, dasar bocah semprul!" Pak tua mengomeli Artha.
"Tidak menganggu." Jawab Artha.
"Itu buktinya, kamu menakuti adik kembarnya ia bilang." Omel pak tua.
"Aku tidak menganggu." Bantah Artha, sambil mengelap ingusnya.
"Bocah ingusan...." Seru pak tua.
"Pak tua bangka...." Balas Artha.
__ADS_1
~bersambung~