Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Pembuat onar


__ADS_3

Alur cerita Maju dua tahun kedepan. Perspektif waktu telah kembali pada saat Satella mengalahkan dark mage dan ular balisik.


The butterfly efek selesai....


[Note : Dark mage merujuk kepada penyihir yang menghalalkan sihir gelap yang dilarang dikerajaan.]


Disana seorang perempuan kuping lancip pendek dan berambut silver dengan seragam sekolah berjalan di koridor.


"Aku datang, kakak...." Tertawa sepuasnya.


Skip....


Ruang kebutuhan.


Beberapa saat telah berlalu sejak kedatangan gadis biang kerok yang menjemput kakaknya.


Satella memasuki ruang kebutuhan.


"Hai kalian...." Seru Satella.


"Itu dia!" Minerva yang duduk pun mengerutkan keningnya.


Minerva mengedutkan alisnya, mengepal tinjunya.


"Langsung eksekusi saja." Tukas Isyana.


Satella berjalan santai menuju teman-teman.


"Kenapa kalian semua kelihatannya kesal begitu?" Ucap Satella dengan wajah polosnya disertai senyuman cerianya.


"Tella jahat!" Iota menatap Satella dengan cemberut sambil melipat tangannya.


"Ada apa?" Balas Satella.


Minerva berdiri.


Ketika menatap Satella, Minerva seperti akan meluapkan mukanya.


"Ada apa sih?" Tanya Satella kepada Minerva saat melihat wajah murka Minerva yang terjaga cantiknya.


Minerva dengan wajah murkanya maju selangkah demi selangkah.


Langkah ketiga.


"Hentikan itu, kamu menakuti ku." Satella memasang ekspresi wajah gemetaran.


Langkah keenam.


"Minerva...." Satella mengangkat kedua tangannya dengan gestur memohon jangan didekati.


Langkah kesepuluh, masih ada tiga langkah lagi Sebelum Minerva tiba dihadapan Satella.


"Kya ... jangan bully aku seperti itu, kumohon." Satella kian gelisah.


Sisa dua langkah.


Kaki Satella gemetaran, lututnya terlihat jelas sangat gemetaran.


"Eng, anu ... Minerva?" Satella kini terlihat seperti anak yang sebentar lagi akan menangis.


Sisa satu langkah.


"Jangan nge prank plis, gak lucu!" Satella terlihat ketakutan.


Tau-tau Minerva meninju kearah kening Satella. Akan tetapi segera menarik tinjunya sebelum terkena kening Satella. Penyebab Minerva menghentikan tinjunya adalah seseorang yang menginterupsi.


"Hentikan itu!" Violetta yang baru memasuki ruangan, menghentikan tindakan Minerva.


Kala itu tinjunya Minerva berjarak lima sentimeter dari kening Satella. Lutut Satella semakin gemetaran.


"Yang menjahili kalian bukanlah Satella, tapi kembarannya yang bersekolah di Blue Rose akademi!" Violetta menjelaskan.


"Eh, apa? Satella punya kembaran?" Minerva melongo.


"Mereka kembar?" Isyana bengong.


"Permisi, ya. Tapi apa itu yang basah dilantai?" Isyana menginterupsi.


"Eh, yang mana?" Balas Minerva.


"Itu, dibawah kaki Satella." Jawab Isyana, menunjuk kearah kakinya Satella sambil ketawa ngakak.


"Walah ... dia mengompol." Nada kaget Minerva.


"Ulala ... Tella tukang ngompol." Iota mengolok-olok Satella.


"Ara ... kamu keterlaluan Minerva." Isyana menahan tawanya.


"Se, serem." Satella dengan wajah ciutnya, bengong tak berdaya.


Parahnya Minerva malah tertawa sepuasnya.


"Semuanya, aku salin pakaian dulu ya." Ucap Satella dengan wajahnya yang muram dan tak bergairah.


Skip....


Beberapa saat telah berlalu. Satella sudah rapih lagi setelah mengganti bawahannya. Semuanya lagi duduk dengan manisnya. Olokan terus datang kepada Satella yang kurang beruntung nasibnya pada hari ini.


"Kok ada bau pesing sih." Isyana meledeknya.


"Isyana, hentikan!" Omel Minerva.


Satella menatap kesal pada Isyana.

__ADS_1


"Aku sudah ganti bawahan kok tadi. Sudah pula mandi di bathtub yang lama, sampai bersih. Punya mulut toxic banget!" Protes Satella.


Violetta membela.


"Udah jangan didengerin, Isyana dasarnya emang bermulut toxic. Sehari gak ngatain orang tuh bikin Isyana kejang-kejang." Violetta berkomentar.


Satella memanyunkan bibirnya.


"Minerva sih, tau-tau kaya gitu." Protes Satella.


"Maaf, aku kesel." Balas Minerva.


"Sebenarnya ada apa sih? Salahku apa?" Tanya Satella.


"Jadi begini." Minerva bercerita.


Kilas balik....


Training ground.


Minerva sedang mampir ke area pelatihan sihir. Tempat para murid mencoba sihir barunya, disebuah lapangan rumput yang luas. Tempat ini juga sering digunakan Satella.


Minerva lagi bareng Violetta dan Isyana.


Sejak awal mereka memang trio penyihir yang klop. Terkadang menjadi terkenal karena ciri khas mereka, yaitu trio tukang bully.


Isyana menegur siswi penyihir lain yang lagi latihan teknik sihir.


"Bukankah tahun ajaran sudah berakhir. Kenapa kalian berlatih kemampuan sihir lagi?" Isyana bertanya-tanya.


"Kami mau mencoba peruntungan dengan ikut turnamen sihir antar sekolah." Jawab siswi.


"Yakin?" Isyana dengan nada yang meremehkan.


"Kami optimistis?" Jawabnya.


"Apa kamu keturunan darah murni? Kedua orang tuamu penyihir atau bukan? Kalau iya, keluargamu jadi penyihir sudah berapa lama? Apa kamu tahu, semakin tua keluarga penyihir maka semakin kuat juga supranatural powernya. Aku tahu, hanya salah satu dari kedua orang tuamu yang penyihir. Itu artinya potensi sihirmu sejak lahir hanya sedikit. Kamu tahu Satella, murid berdarah murni penyihir dimana keluarganya sudah berabad-abad menjadi penyihir makanya Satella sanggup mengalahkan ular balisik. Kamu yakin akan menang melawan kontestan lain yang kemampuan sihirnya sehebat Satella, yakin?"


Sementara Minerva menegur.


"Isyana, hentikan! Kamu itu udah membunuh mental orang tau gak?" Minerva mengomel Isyana.


"Bagi Isyana, ngatain orang itu enaknya seperti pamvire yang menghisap darah." Violetta ikut memberikan komentar.


"Aku gak apa-apa." Kata siswi yang diceramahi Isyana.


Siswi tersebut meninggalkan area latihan.


"Udah kenyang dahaga menghina orang lainnya?" Tanya Violetta, bernada sarkastik.


Tiba-tiba terdengar suara siswi tertawa puas.


Seorang siswa laki-laki baru saja dikalahkan duel. Siswi yang tadi tertawa habis mempermalukan seseorang lewat duel sihir.


"Eh, iya, dia ngapain?" Minerva menanggapi.


"Bukan, itu bukan Satella." Violetta membalas.


Tapi Isyana dan minerva tidak percaya.


Mereka berdua melangkah kearah Satella.


Itu Starla, tanpa mereka sadari.


"Ara ... hanya sebatas ini keahlian sihir kalian?" Ucap Starla.


"Ada apa ini?" Tegur Minerva.


Starla menanggapi teguran dari Minerva.


"Halo, kakak bermelon besar." Ucap Starla sambil melakukan gerakan tangan yang memegang dua melon didekat dadanya.


"Melon, apa!" Minerva emosi.


"Walah ... bisa toxic juga." Isyana tidak menyadari kalau itu bukan Satella.


"Eh, rambutmu poninya aneh deh. Jidatmu jadi kaya lapangan untuk parkir kereta naga." Tukas Starla.


"Apa!" Isyana tercengang.


Isyana dan minerva membalas.


"ADA APA DENGANMU!" Umpatan kekesalan Minerva dan Isyana.


"Kompaknya, apa kalian sepasang kekasih. Dasar cewe yang berbelok arah." Starla meledek mereka.


"Kami bukan yuri!"


Isyana dan minerva serempak menjawab.


"Kok dia hari ini jadi nyebelin!" Minerva naik darah.


"Bersaing lah secara kompetitif di turnamen sihir! Kalian murid dari akademi ini sungguh tak ada yang berbakat." Ujar Starla.


Sementara beberapa siswa lelaki menentang.


"Mau duel?" Tantang Starla.


"Ayo lawan aku!" Tantang siswa.


Skip....


Satu persatu penantang pun kalah oleh Starla.

__ADS_1


Mereka dibuat tiduran dirumput. Adalah barisan penantang yang ditumpuk dalam posisi tak berdaya. Di tumpuk menjadi barisan diatas rumput lapangan ini.


"Apa kamu mau duel denganku?" Starla menantang Minerva.


"Gak!" Bentak Minerva.


"Maaf, aku ada janji." Isyana pun segera pergi.


Dengan usil Starla mengarahkan telunjuknya kearah Isyana ketika dirinya pergi.


Dari telunjuknya keluar api kecil seukuran api obor. Apinya melesat kearah Isyana, mengenai bokong Isyana dengan telak. Awalnya itu membara, tapi bisa dipadamkan.


"Kya ... panas...." Jerit Isyana.


Isyana menepuk roknya untuk memadamkan api. Rasa panasnya membuat matanya membelakak. Isyana mendaratkan pantatnya dirumput supaya api cepat padam.


"Sudah padam?" Tanya Minerva.


Isyana menatap Starla.


"Maaf aku tidak punya kekuatan untuk berduel. Kalau kamu ingin menghukum ku, ayo lakukan ini dengan cepat! Isyana mengangkat kedua tangannya.


Isyana berwajah pasrah.


Beberapa siswi yang menonton kemalangan Isyana, seolah dalam hatinya berkata.


Azab tukang bully....


Sementara Minerva memberikan teguran terhadap Starla yang ia sangka sebagai Satella itu.


"Hei, kamu keterlaluan oy!" Tegur Minerva.


"Mau duel denganku, melon besar?" Ucap Starla.


"Hei, hentikan itu! Tolong jangan menghinaku seperti itu. Janganlah menghina wujud seksualitas orang lain. Sesama cewe jangan ngatain bentuk gender tau!" Ujar Minerva.


"Yasudah, ayo duel!" Starla pun kembali menantang.


Bukannya memberi sokongan tuk Minerva, Isyana malah menikmati setiap detik penghinaan terhadap Minerva. Isyana menutupi bibir dengan ujung jari. Isyana tersedak liurnya sendiri akibat menahan tawanya. Isyana sangat menikmati penghinaan terhadap Minerva.


Apa yang menimpa Minerva justru membuat Isyana bergairah.


"Aku gak mau!" Balas Minerva.


Starla memprovokasi Minerva.


Mengarahkan telunjuknya kearah Minerva.


"Tidak, tidak, jangan lakukan itu!" Minerva menjerit.


Starla menembak api sebesar obor. Starla berniat melucuti Minerva dengan membakar baju atasannya.


Dan itu benar-benar membakar pakaiannya.


Membakar almamater hitam milik Minerva. Almamater hitam yang merupakan bagian dari seragam sekolah pun dilepas dan dibuang kebawah. Lalu diinjak-injak agar apinya cepat padam. Kini Minerva hanya memakai kemeja putih saja.


"Hu ... kakak melon memang seksi dengan kemeja putih saja. Kakak sudah berubah pikiran belum, aku bisa mati karena bosan tau." Ucap Starla, pura-pura menguap.


"Cukup sudah!" Minerva geram.


Minerva berlari kearah Starla.


Starla menyulap tornado api yang mengurung Minerva. Tapi Minerva memperkuat dirinya dengan sihir. Semacam zirah gaib yang dialiri energi sihir. Tentu tornado api tak mampu melukai Minerva, tapi.


Bukan itu yang dimaksud Starla.


Tornado api hilang setelah nyala beberapa waktu.


"Baik aku sudah selesai." Starla menahan tawa.


"Apa yang lucu, kenapa tau-tau udahan?" Bentak Minerva.


"Kakak pasti kegerahan deh, iya bukan." Kata Starla.


"Eh?" Minerva terdiam.


"Melon kakak tembus pandang tuh liat." Kata Starla.


Keringat Minerva membasahi baju atasnya. Kemejanya seperti habis dibasahi hujan. Kulit lehernya agak mengkilap seksi. Minerva sampai kaget melihat dirinya sendiri basah kuyup oleh keringatnya. Saking basahnya membuat kemeja putih yang ia pakai jadi tembus pandang.


Sudah jelas niat Starla menyulap tornado api hanya untuk membuat Minerva kegerahan.


Violetta melangkah kearah Minerva.


Alih-alih membela, Violetta hanya bersikap netral.


"Lihat tuh, cowok-cowok matanya jelalatan." Kata Violetta memberi peringatan.


"Astaga, mereka memandangiku dengan tatapan nafsu!" Minerva merasa shock dibuatnya.


"Ini, aku pinjamkan mantel hitam milikku. Pakailah agar menutupi kemeja putih mu yang tembus pandang itu. Cepat ke asrama ya." Violetta menolong Minerva.


"Walah, kakak rambut ungu itu memiliki lebih dari melon. Kak, ukuran mu kelapa ya?" Starla bercanda seenaknya.


"Diam dasar *****!" Balas Violetta.


"Kakak rambut ungu, titip pesan boleh? Katakan, aku menunggu di turnamen sihir. Katakan itu pada, kakak tahu siapa." Starla langsung meninggalkan akademi sihir ini.


Kilas balik selesai.


Sementara Satella bereaksi dengan.


"Eh ... eh? Ternyata punya adik kembar itu, menyusahkan!" Satella berteriak panjang dengan bernada frustasi.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2