Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
menggerebek


__ADS_3

Katanya ada event THR, syaratnya up ditanggal sekian sampai sekian. Karena penasaran saya mau coba up walaupun sebenarnya mau di up nya nanti sekalian.


______________________________________________


Kamar asrama.


Satella bermimpi aneh hari ini. Didalam mimpinya ia ada didalam dunia Romeo dan Juliet. Didalam mimpinya, Satella hanya seorang figuran saja. Matanya tertutup, tubuhnya terlentang, lalu bibirnya tersenyum tanpa alasan seolah ia sedang menahan tawanya. Setelah beberapa saat, Satella terbangun.


Pagi sekali.


Satella terbangun dalam kondisi terkejut.


Satella membuka matanya sambil mengucek nya. Menatap ke atap kamarnya Sebelum bangkit untuk terduduk disisi ranjang. Satella berdiri lalu ia melangkah kearah cermin. Memandang ke cermin, Satella senyam-senyum sendiri.


"Walah ... aku mimpi jadi seorang figuran. Isyana jadi Juliet terusnya Violetta menjadi pembuat obatnya. Violetta memberikan obat untuk pura-pura mati kepada Isyana yang jadi Juliet. Isyana minum obat itu terus dia mati suri. Romeo melihat Isyana mati terus dia ikutan mati.


"Isyana bangun dari mati surinya. Romeo nya udah mati, Isyana jadi nangis bombai deh. Ya dewi ... itu sangat menggelitik perut." Setelah curhat didepan kaca, Satella pun terlihat seperti menahan tawanya.


"Ku ku ku ... Isyana nangis bombai. Ngebayangin nya aja aku gak kuat menahan tawa, bisa-bisa aku akan mengompol." Satella terkikik.


Ketawa-ketawa sendiri didepan cerminnya.


Skip...


Satella pun bergegas, setelah siap segera bertemu teman-teman.


Ruang kebutuhan.


Semua sudah duduk dimeja nya masing-masing.


Violetta memulai, dengan isyarat.


"Baiklah langsung saja!"


Selanjutnya Violetta menjelaskan detailnya.


"Aku berhasil menginterogasi dan mengungkapkan suatu kelompok kriminal di kota. Informasi itu aku dapat dari orang-orang yang aku interogasi." Ujar Violetta.


"Kenapa pelajar bisa terlibat akan semua ini?" Komentar Minerva.


"Iya juga ya." Sahut Satella.


"Mudah saja." Violetta mengangkat tangannya sambil tersenyum tipis.


"Mereka ingin mendapat kekayaan sebelum waktunya." Ujar Violetta.


"Dengan uang yang kotor." Ucap Minerva.


"Uang kotor itu menggiurkan ya." Isyana ikutan bicara.


"Waduh, giliran bicara uang aja jenong nyamber aja." Minerva berkomentar.


"Sahna jenong emang mata duitan. Udah toxic matre juga." Iota ikut berkomentar. 


"KALIAN!" Isyana meradang.


Skip...


Area dinding utara.


Empat orang sedang bersama tuk berpartisipasi dalam menggerebek sindikat jahat. Kejahatan mereka, memproduksi dan mengedarkan ramuan yang dilarang kerajaan.


Mereka adalah Violetta, Minerva, Satella dan satu pengikut setianya yaitu Theodore. Mereka berjalan distrik dekat dinding utara, yaitu perumahan kumuh. Perumahan kumuh ini memiliki ruas jalan sebesar dua kereta naga. Komplek perumahan yang dekat dinding, apalagi jauh dari gerbang pada umumnya komplek perumahan kumuh. perumahan silver dust. 


Distrik apple cloud, dinding kota bagian utara.


Berdiri didinding utara kita bisa melihat menara besar Juno jika memakai teropong besar. Tetapi terkadang pegunungan disekitar dataran tinggi Juno dikelilingi tebalnya kabut putih yang dingin.


Mereka berempat terus berjalan dijalanan kumuh hingga terhenti tepat di satu rumah. Dasarnya itu rumah dua tingkat dan kayu jadi struktur utama rumah itu.


"Kenapa berhenti?" Tanya Satella.


Ketiganya memakai jubah hitam penyihir. Mereka semua berjalan dengan kepala ditutup penutup kepala di jubahnya.

__ADS_1


"Ini dia." Seru Violetta.


Tak ada yang berkomentar karena yang lainnya tidak tahu apa-apa.


Violetta melangkah menuju pintu masuknya. Tanpa mengetuk untuk memastikan, Violetta langsung saja menerobos masuk. Alih-alih masuk pakai teknik lock pick, Violetta merusak pintunya secara paksa.


Bukan menendang pintunya tapi memakai tenaga pysche untuk menjebolnya. Menendang pintu mungkin butuh berkali-kali usaha untuk membuka. Tetapi dengan kekuatan pysche wave Violetta, pintunya terlepas dari temboknya.


Kuningan besi pengunci dan yang menempelkan pintu pada dinding pecah. Pintunya terpental jauh kedalam membuat suara gaduh. Seperti suara kayu bertubrukan dengan kayu. Sepertinya pintunya membentur lemari atau sesuatu seperti perabot kayu. Violetta pun masuk saja tanpa gentar. bahkan walau seandainya hanya sendiri.


"APA ITU!" Suara teriakan lantang yang bernada was-was. Suaranya pemuda yang kuat.


Benar saja, didalam ada banyak bandit. Mereka para bandit yang bertangan kosong. Meski begitu mereka memiliki belati terletak dipinggangnya. Bandit memakai armor berupa jaket kulit dengan beberapa pelindung tangan yang terbuat dari kulit. Dari lehernya terlihat jelas bahwa para bandit memakai chain mail.


Violetta berdiri diruang tamu berbekal nyali.


Seorang orang berlari dari lorong dalamnya. Violetta pun melesatkan tenaga pysche kearah bandit nya hingga ia menabrak dinding. Satu serangan dan ia merintih dilantai. Damage pertama menghantam ke tulang rusuknya. Damage kedua menghantam punggung beserta kepala belakangnya. Bandit lainnya segera datang, mereka tiga orang.


Seperti tanpa cooldown, Violetta melesatkan pysche wave secara bertubi-tubi. Ketiga bandit jatuh, dilumpuhkan tanpa perlawanan.


Violetta melangkah lagi masuk ke area dalam. Tak sedikitpun merasa gentar, tapi Violetta tetap waspada. Memasuki ruang tengah dihadang tujuh orang, dengan sigap semua dilumpuhkan oleh Violetta.


Satella dan lainnya baru memasuki ruang tamu. Mereka terkejut saat beberapa banditnya dikumpulkan dengan segitu mudahnya.


"Walah ... aku gak kebagian jatah ngelawan penjahatnya." Satella bernada canda gurau.


Sihir netral element seperti pysche wave hampir sulit untuk dilihat. Wujud sihirnya nyaris transparan.


"Boleh juga orang itu, mata sayu." Minerva nyaris melangkahi tubuh bandit seolah tidak ada nilainya dimatanya.


Skip...


Kamar.


Seorang bandit sedang terduduk dengan seorang wanita panggilan tau-tau pintu didobrak. Wanita itu dilihat dari bentuk fisiknya seperti masih pada usia remaja setengah matang. Kalau didunia modern ini kelas dua SMP. Sementara bandit laki-lakinya boleh ditafsir berusia pertengahan dua puluh. Banditnya menoleh, merasa sangat terusik.


Cewek mungil dengan wajah belia terlihat bete dan gak tulus saat barusan duduk dirangkul bandit tersebut.


Baru saja banditnya melangkah menuju Violetta. Dengan sekali gerakan tangan, satu lesatan sihir menghempaskan tubuh bandit sehingga membentur dinding.


"Celakalah Rogue!" Violetta puas menyeringai.


[Note : Rogue \= bandit, begal, rampok.]


"Jangan sakiti aku." Cewe jalanan berusia tanggung itu memohon diampuni oleh orang asing yang menyakiti kenalannya.


"Kamu boleh pergi!" Ujar Violetta.


"Aku belum mendapat bayaran darinya." Kata cewe itu.


Violetta geleng-geleng kepala.


"Kehidupan jalanan memanglah malang." Violetta simpati.


"Lakukan sesukamu!" Violetta memilih apatis.


Cewe itu mengambil kantung uang milik bandit.


"Maaf aku ambil hak milikku. Adik kecilku butuh makan." Mengambil sekantung uang yang lumayan banyak isinya ia bergegas pergi.


"Hei." Violetta memanggil.


Cewe kecil setengah matang itu terlihat ketakutan, terdiam saja seolah tanpa daya.


"Pergi melewati pintu belakang!" Perintah Violetta, mungkin tidak ingin teman-temannya diluar itu salah tangkap.


Violetta dengan jijik menendang tubuh bandit yang terbaring tanpa daya dilantai.


"Mengeksploitasi anak dibawah umur. Dasar sampah menjijikkan!" Violetta meludah kelantai.


Violetta seolah menjadi agen FBI. Mendobrak pintu dan berteriak lantang, 'open the door is't fbi' itu kata-kata yang mewakilinya.


Skip...

__ADS_1


Selanjutnya Violetta membuka satu pintu tak terkunci.


"Apa ini ... kosong huh?" Violetta bergumam datar, sangat datar ekspresi dan nadanya.


Bergegas pergi.


Another room.


Didalam satu ruangan sekumpulan Rogue sedang bermain kartu. Ada beberapa gelas dan botol wine yang nampak disana. Tau-tau pintunya didobrak dan tujuh orang bandit memfokuskan pandangan kearah tamu tak diundang. Tamu yang tak diundang itu Violetta. Violetta pun melangkah dengan santainya dan mimik wajah meremehkan.


"Mau apa kamu!" Mereka was-was menghadapi orang asing.


Mereka berdiri melingkari posisi Violetta. Masing-masing mereka mengepal tinjunya. Meski belati berada di pinggang, mereka hanya menodong tinjunya. Toh mereka hanya menghadapi seorang gadis dengan paras jangkung dan lunglai yang kelihatannya tidak berbahaya.


Pysche swing !


Memakai tenaga pysche untuk membuat gelombang serangan kesegala arah. Elemennya netral.


Tanpa daya, tanpa perlawanan semuannya kalah. Terbaring saja dengan sensasi sakit tiada tara. Dibenturkan dengan momentum tinggi, tidakkah itu menyakitkan.


Hanya ada satu bandit dengan kekuatan fisik yang sangat keras. Bandit itu menjadi satu-satunya bandit yang mampu berdiri lagi setelah dilumpuhkan. Dengan cepatnya ia menarik belati dari sarungnya. Lari secepat mungkin kearah gadis penyerang berambut ungu violet. Hanya satu hentakan telunjuk, pysche wave yang kedua menghempaskan tubuhnya lagi.


Belatinya tergeletak dilantai tak mampu dipungut.


Violetta melangkah kearah bandit yang entah kenapa kekuatan fisik miliknya diatas yang lain. Padahal posturnya relatif sama besarnya dengan bandit yang lainnya. Ia pun hanya mengerang sambil menatap Violetta penuh aura permusuhan.


"Keras kepala juga ya." Violetta bernada datar nan lunglai.


Bandit itu sekuat tenaga mengepal tangannya. Bahkan dengan sisa-sisa tenaga dimana rasa sakit membuat tubuhnya lemas, ia berusaha untuk berdiri. Dengan satu teriakan ia berusaha berlari dan meninjunya.


Sisa-sisa tenaganya bahkan tidak cukup untuk melukai seorang anak kecil sekaligus. Bandit mengincar dagu Violetta untuk ditinju tetapi ayunan tangganya terlalu lemah. Violetta menangkap pergelangan tangannya. Bahkan kekuatan fisik wanita jangkung itu masih menang terhadap bandit itu dalam kondisi sama-sama full health. Violetta membantingnya hingga tubuhnya membentur tembok. Bandit telah dikumpulkan dengan otot.


Point of view.


Singkat cerita semua ruangan ini selesai disisir. Walau banditnya lumayan banyak, Violetta hampir pasti mengalahkan mereka hanya seorang diri. Mage dengan build seperti Violetta cukup efektif juga dalam melawan unit mele seperti kesatria pedang, assassin, sampai Rogue dengan belati.


Iya ada juga sih bandit yang apes karena dianiaya Minerva yang otot tangan nya hampir setara Mikasa dalam serial Titan penyerang.


Dengan veritaserum yang masih banyak persediaannya, Violetta berhasil menginterogasi. Akhirnya terungkap akses tersembunyi ke ruang bawah tanah. Rumah ini merupakan rumah penyimpanan dimana banyak berang ilegal ia dapatkan. Ditemukanlah banyak ramuan ilegal seperti love potion.


Sesuatu yang mengejutkan adalah praktik penculikan.


POV end..


Ruang bawah tanah.


"Astaga ini!" Entah bagaimana tapi Minerva terlihat murka.


"Ada apa?" Satella penasaran.


"Entahlah master." Seru Theodore.


"Kemarilah Theodore." Minerva memanggil.


Theodore melewati pintunya lalu Satella ikutan masuk, tapi.


"Stella ... jangan masuk!" Minerva dengan nada galak.


"Ada apa sih?" Satella cemberut.


Theodore berbalik dan menatap Satella dari balik pintu.


"Maafkan aku master, saya tak mau anda melihatnya master." Ucapan Theodore memohon dengan penuh niat baik pada tuannya.


Pintu ditutup oleh Theodore.


Tak lama ada suara sesenggukan seorang wanita muda.


"Aku merasakan karma buruk dirumah ini." Violetta melipat tangannya. Walau wajahnya itu terlihat datar tetapi iris matanya bergetar seolah membenci.


Satella tidak tahu pasti hal apa yang terjadi. Tetapi Minerva terdengar seperti menenangkan wanita muda yang menangis tersedu-sedu. Disini Minerva yang galak dan emosian mendadak terlihat sifat penyayang juga keibuannya. Cewe galak yang emosian seperti Minerva memiliki hati yang lembut. Ada satu lagi yang tidak kalah pentingnya.


Adalah Theodore..

__ADS_1


Theodore sangat berusaha keras menjaga kepolosan dan keluguan luhur tuannya. Berusaha supaya tuannya tidak melihat hal jahat biadab dengan mata kepalanya sendiri. Upaya Theodore untuk menjaga kepolosan dari tuanya bukankah itu terasa sangat manis.


~bersambung~


__ADS_2