
Sepasang remaja sedang berjalan menyusuri Elevenia street. Remaja beda gender berpasangan memiliki postur yang timpang. Bisa dilihat remaja laki-laki jangkung rambut cokelat itu bersama gadis remaja mungil yang tingginya seleher anak remaja laki-laki itu.
"Mana tempatnya, kok jauh sih?." Protes Satella.
"Sabar sedikit." Jack.
"Sabar terus dari tadi!" Satella kesal dan cemberut.
"Iya didepan nanti belok kiri deh, tunggu sebentar lagi." Jack lelah karena harus meyakinkan Satella yang kian bawel.
"Huh ... jauh juga yah." Ucap Satella nampak sedikit kecewa, mimiknya tampak lesu.
"Jangan ditekuk mukanya." Protes Jack yang sesekali mencuri pandang pada gadis remaja mungil yang ada disampingnya.
"Serterah aku dong!" Satella dengan kesalnya, menyentak emosi dan memelototi.
"Kecil-kecil nge gas." Sindir Jack.
"Kecil? Huh!" Satella menatap Jack dengan masamnya.
"Badanmu kecil seperti anak-anak." Jack memperjelas.
"Apa?" Satella menatap sinis.
"Anak umur sebelas tahun." Jack bilang.
"Ngajak berantem." Gumam Satella sambil mengepal tinjunya.
"Siapa yang ngajak berantem? Aku kan cuma bilang." Ucap Jack.
"Bilang apa!" Satella meninju perut Jack dengan tangan mungilnya.
"Bilang kenyataan kalau kamu itu mungil kaya anak umur sebelas tahun." Jack bilang.
"Aku bukan anak kecil!" Satella pun meninju Jack lagi.
"Aku dimarahin anak kecil." Seru Jack dengan nada meledek.
"...." Satella meninju lagi, kena bahu.
"Seperti ditepuk pelan waktu sedang dibangunkan tidur." Ejek Jack.
"Awas ya Jack!" Satella kesel.
Satella berjalan sepanjang simpang jalan Elevenia street. Dengan penuh rasa jengkel, membuang muka dan jijik dengan teman jalannya sambil sesekali menengok ke arah Jack dengan wajah sebalnya. Alih-alih memberi wajah manis bersahabat kini Satella memberi wajah masam yang selalu cemberut.
"Dicemberutin deh." Gumam Jack.
"...." Satella menoleh dengan raut masam yang kesal. Cemberut sesaat sebelum buang muka lagi.
"Dicuekin." Seru Jack, cengar-cengir.
"Em, bodo amat lah!" Satella jutek membuang muka.
"Oke damai, gak ngatain lagi." Jack bilang.
"...." Satella buang muka.
"Itu dia tokonya." Kata Jack.
"Em, ayo." Satella mengangguk saja.
"Wajah cemberutnya manis banget." Bujuk Jack.
"Hah ... bodo amat!" Satella jutek.
"Nah sampai." Jack.
Akhirnya mereka melewati pintu masuk toko peralatan sulap dan kejahilan. Semacam bunyi lonceng yang klasik berbunyi saat mereka berdua masuk kedalam.
Toko jahil.
Lonceng berbunyi.
"Selamat datang ditoko sulap." Seorang penjaga toko dengan rupa laki-laki paruh baya dengan satu matanya berpenutup mata.
"Kamu lagi Jack." Sambut penjaga toko sulap.
"Hai pak jenkinson." Sahut Jack.
"Aku bawa calon pelanggan." Kata Jack.
"Ya iyalah Jack. Kalau kamu bilang pacarmu baru aku tidak percaya." Sindir pak tua toko sulap.
"Ku ... Ku ... Ku ngakak. Kikikik hu ... hahaha. Rasakan itu Jack, ****** kamu Jack." Satella ngakak berat setelah mendengar hinaan krpada Jack. Sampai-sampai Satella ketawanya mirip kuntilanak.
__ADS_1
"Ampas banget." Batin Jack.
"Hei apa kau menjual tinta pena berkualitas tinggi pak tua Jenkins?" Jack mengambil botol kecil yang biasanya berisi tinta pena.
"Iya benar. Itu kualitas terbaik dan saking bagusnya itu tak akan cepat kering jadi awet disimpan. Tapi itu tidak bisa dibersihkan kalau kena pakaian." Pak Jenkins ngejelasin.
"Boleh coba?" Tanya Jack.
"Ini penanya." Pak Jenkins memberi pena bulu kepada Jack.
"Simpan disitu pak tua!" Jack.
"Hehehe." Pak Jenkins tersenyum tipis, seolah tau sesuatu.
"Kau memang pelanggan lamaku Jack." Ucap pak Jenkins, seolah itu bahasa kode.
Awalnya Jack membuka tutup botol tinta hitam itu, sampai terlihat Jack kesulitan. Lama sekali Jack berusaha tapi tutup susah dibuka.
"Susahnya." Keluh Jack.
"Hahaha." Alih-alih membantu membuka, pak Jenkins menertawai Jack.
"Biar ku bantu Jack." Satella datang membantu.
Satella melangkah mendekati Jack dengan niat membantu, kini Satella sangat dekat dengan Jack. Tau-tau tutup botol terbuka sendiri dan Jack menumpahkan tinta hitam tepat di badan Satella kena pakaian. Setelah itu Satella terlihat marah-marah.
"Astaga, ya ampun ... Jack!" Satella kelihatan marah dan memelototi pelakunya dengan mimik murka.
"Maaf aku sengaja." Jack bilang.
"Eh ... Eh? Sengaja!" Satella berasap kepalanya.
"Kita lihat, seberapa murkanya nyonya kecil ini." Kata Jenkins.
Mengepal kedua tangan mungilnya seolah meremas batu. Satella pun memukuli dada Jack sebagaimana gadis tak bertenaga memukuli seorang lelaki yang sekuat lelaki umumnya. Itu hampir tak terasa sakit bagi Jack.
"Sejak awal kamu ini memang niat cari gara-gara dengan ku ya ... Jack!" Sentak Satella memukul-mukul tak bertenaga. Sementara Jack masih diam menerima mentah-mentah kemarahan Satella.
"Ya ampun nyonya kecil sangat imut." Komentar pak tua Jenkins.
"Jack ****, Jack gak ada otak! Baju aku jadi kotor kan. Sialnya sampai merembes ke daleman, dicuci pun gak akan hilang tau! Bisa-bisanya pake bilang aku sengaja lagi. Sekarang musuhan, kita berdua musuhan. Awalnya aku sangka kamu teman yang baik, gak taunya nyebelin juga mengecewakan." Umpat Satella.
Satella terus ngomel hingga tujuh menit lamanya hingga mood Satella mulai membaik, karena amarahnya tersalurkan tanpa dilawan apalagi dibantah oleh Jack. Ketika Satella mereda, kata-kata mutiara yang diucapkan Jack adalah.
"Sudah selesai?" Jack.
Tanpa diambil hati Jack mengusap punggung Satella, membantunya mengatur napas.
"Makasih Jack." Ucap Satella.
"Loh ... udah marahnya?" Jack.
"Dah lah capek aku." Satella.
"Nih minum." Pak Jenkins memberi minum air mineral kepada Satella.
"Ini mineral asli?" Satella ragu.
"Ini bukan alat jail kok, tenang saja. Mineral asli." Ujar pak tua Jenkins.
"Kalau kamu tidak percaya biarkan aku mengetesnya. Apabila ini alat keusilan maka aku bersedia menjadi sasaran, ku lindungi kamu Stella." Jack memberi bantuan.
"Nah gitu dong dari tadi, jadi laki harus kaya begitu." Satella masih mengatur napasnya.
Jack meminum airnya. Alih-alih membuat Satella senang, Jack malah Melaku keusilan lagi. Alhasil Satella naik kembali tekanan darahnya hingga membuat Satella jadi darah tinggi.
Bagaimana tidak....
"Mana minumnya Jack?" Satella kehausan, menagih air mineral.
"Eh lupa." Jack nunjukin botol air mineral telah kosong.
"Jack, Kamu habiskan Jack ... kamu cari gara-gara lagi sama aku ya Jack!" Satella kembali emosi.
"Hahaha kena kau, gimana rasanya jadi korban usil." Jack malah ketawa.
"Nih masih ada." Pak Jenkins ngasih air mineral baru yang masih penuh kepada Satella.
"Sini, sebelum dihabiskan lagi sama orang sakit saraf ini." Satella kesal, mengambil dan meminum dengan penuh dahaga.
"Segarnya...." Seru Satella.
"Sudah mendingan?" Tanya Jack.
"Em." Satella mengangguk, disusul mimik wajah yang kembali riang.
__ADS_1
"Aku mau tanya." Jack bilang.
"Langsung bilang saja! Tolong janganlah terlalu berbelit-belit lah dasar jelangkung!" Balas Satella.
"Iya itu, sebenarnya yang tadi itu kamu marah-marah gak karuan gara-gara apa? Kalau boleh tahu?" Kata Jack.
"Huh ... ngomong apa kamu nyet!" Satella kesal.
"Aku tanya sekali lagi. Kamu marah gara-gara apa?" Jack bilang.
"Gara-gara kamu tumpahkan noda tinta ke baju akulah Jack!" Satella menampakkan wajah murka.
"Serius, noda apa? Aku gak lihat bajumu ternoda." Balas Jack.
"Eh?" Satella gak habis pikir.
"Dia benar, hey nyonya kecil." Kata Jenkins sambil mengarahkan cermin kearah Satella agar gadis mungil itu bisa bercermin.
Melihat ada cermin pada radius terdekat. Insting kewanitaan dari Satella pun reflek menoleh untuk memandangi diri sendiri dikaca.
"Eh ... kok bisa? Loh ... ajaib." Satella tidak habis pikir.
Bagaimana tidak....
Satella dibuat malu sendiri karena ternyata kemeja putih dan setelan atasnya tidak lagi terkena tinta hitam. Itu masihlah bersih seperti sediakala, anehnya.
"Perasaan aku lihat sendiri tadi terkena noda tinta hitam. Aku melihatnya kok, dengan mataku sendiri." Satella bingung.
"Jawab aku! Apa alasanmu marah padaku?" Tanya Jack.
"Loh ... Jack, nanti dulu deh. aku tuh masih bingung, ya?" Satella terlihat linglung sendiri.
Atas kebingungan Satella, pak tua Jenkins segera memberikan jawaban atas segala kebingungannya Satella.
"Kenapa mesti bingung? Matamu benar kok. Kamu tidak benar tapi juga tidak salah." Kata Jenkins.
"H-huh ngomong apa sih?" Satella.
"Tinta ini." Pak tua Jenkins megang botol isi tinta pena sambil bersiap menjelaskan.
"....." Satella nyimak.
"Ini adalah alat jahil. Tinta ini akan hilang dalam durasi singkat kok jadi bukan perkara yang perlu dibuat heboh, kurasa." Ujar pak Jenkins.
"Eh, loh ... jadi begitu." Satella kaget dan merasa bersalah.
"Ya ... ampun Jack. Maafin aku, habisnya aku gak tau loh." Satella minta maaf pada Jack dan merasa malu sendiri.
"Gak, Karena aku yang salah. Aku yang harusnya minta maaf karena telah menjahili mu dengan tinta untuk jahil tersebut." Ujar Jack.
"Syukur deh, aku lega Jack." Ucap Satella sambil menghela napasnya.
"Sebagai tanda pertemanan gimana kalau pak tua ini memberikan satu kaleng keripik kentang gratis." Ujar pak Jenkins, sambil nunjukin satu kaleng keripik kentang.
"Aku suka...." Seru Satella.
Satella pun mengambil kaleng itu kemudian membuka tutup kaleng keripiknya. Lalu ia dikagetkan oleh sesuatu yang keluar.
"Gah ... apa itu! Ular." Satella agak menjerit kaget.
Kaleng keripik kentang itu ternyata peralatan jahil lainya. Didalam kalengnya terdapat ular bohongan yang mirip dengan yang asli dari segi bentuk. Akhirnya Satella dibuat kesal lagi.
"Jantung ku kejang!" Ujar Satella, mengelus dadanya.
"Makasih semua, aku mau pulang dulu. Bukanya aku kesel atau apa, tapi aku mau istirahat dikamar asrama dulu. Ini hari yang hebat, terimakasih keusilannya." Satella segera berpamitan, sementara Jack tetap mau diluar asrama. Satella pulang duluan.
Satella pun berjalan kaki pulang kedalam kastil akademi sihir Griffin quen. Berbaring dikasur sambil meresapi kesalnya dia saat dijahili hari ini. Mood untuk melakukan penerawangan seperti biasa, telah hilang karena dijahili barusan.
Skip....
Setelah mengurung dirinya didalam kamar, beberapa saat mood Satella membaik. Ia keluar kamar, duduk disofa ruang tengah asrama putri. Satella dikejutkan oleh sosok teman kelas lainnya yang ternyata tidak masuk saat praktik sihir sehingga tidak ikut dibekukan tanpa sengaja.
Ruang tengah asrama putri.
"Iota?" Satella terkejut.
"Hai ... hai ... Stella." Sapa sisw tersebut. Ia melambaikan kearah Satella dengan mimik yang ramah dan bersahabat.
"Kenapa kamu bisa disini?" Tanya Satella.
"Maksudnya?" Tanya Iota.
"Jangan bilang, kamu gak ikutan praktik sihirnya?" Ucap Satella.
"Hehehe, aku emang gak ikutan praktik sihir. Habisnya terkunci dikamar mandi aku tuh." Kata Iota seraya tertawa cengengesan.
__ADS_1
"Syukur deh." Batin Satella merasa lega, karena ada teman lainnya lagi yang selamat dari pembekuan.
~bersambung~