
Tempat yang disebut pasar gelap memang hal yang baru bagi Satella. Terlebih creature yang termasuk didalamnya memang tidak biasa. Sebuah mayat kepala yang sudah disusutkan hingga jauh lebih kecil daripada ukuran yang asli. Kepala menyusut itu dapat melihat, dapat mendengar, dapat berbicara, bisa berpikir sepertinya. Sepertinya jiwanya dipaksa hidup lagi didalam tubuh yang tidak utuh.
Manusia manapun tidak mungkin hidup ditubuh yang hanya tersisa kepalanya saja. Jangankan hanya kepalanya, tubuh yang ditikam berkali-kali akan mati kalau tidak diberikan penanganan medis. Tapi hanya kepala tanpa organ, tanpa cairan otak didalam tempurung.
Bagaimana itu bisa hidup ?
Jawabannya adalah karena sihir hitam necromancy. Ada banyak creature yang hadir karena sihir gelap necromancy.
Satella terus melangkah melewati lorong. Ada palet kayu yang telah didesain layaknya papan tuk nama jalan. Violetta berhenti sedikit tuk membaca nama jalannya.
Dark peek alley.
Itulah nama jalannya.
"GangĀ dark peek alley." Satella mengejanya.
"Disini banyak hal yang dilarang. Seperti ramuan ilegal, ada binatang sihir eksperimental, pengetahuan sihir gelap necromancy. Segala hal yang dilarang semua ada disini." Violetta menjelaskan.
"Semua." Gumam Satella.
"Ayo cepat!" Seru Violetta.
Mereka memasuki lorong gelap tertutup atap batu. Ada bebatuan bercahaya memancarkan cahaya berwarna hijau. Bebatuan cahaya hijau digantung didalam wadah berbentuk lentera minyak tanah.
"Perasaan waktu kita masih ada diluar ... cahaya hijaunya gak ada deh." Komentar Satella.
"Ini otomatis ... fitur sihir juga loh." Jawab Violetta.
Terus berjalan didalam lorong yang diterangi cahaya hijau. Akhirnya mereka menemukan sebuah pintu kayu ala rumah sederhana pada umumnya. Dipintu kayu tersebut terpasang pelat besi yang bertulis nama tokonya. Pelat besinya telah terpatri oleh paku. Tulisan bertinta warna hitam yang tebal dan rapih.
Toko Anna.
Itulah nama toko yang menjual bermacam item gelap dan juga segalanya yang ilegal.
Violetta balik badan tuk bicara menghadap Satella.
"Ketika kita pergi dari sekolah, waktunya mau menuju sore loh. Kurasa pulangnya akan malam. Apakah itu masalah buat kamu?" Tanya Violetta.
"Karena ini lagi jeda libur aku gak apa-apa pulang malam. Selama Vio bisa jagain aku tetap aman ... aku tidak keberatan." Jawab Satella.
Violetta pun kembali menghadap kearah pintu masuk toko.
"Permisi." Violetta mengetuk.
"Masuklah." Sambut wanita paruh baya jika ditafsir dari suaranya.
Akhirnya Violetta dan Satella pun memasuki toko black market itu.
Anna shop.
Memasuki toko, luasnya hanya sebanding dengan ruang tamu dirumah standar. Dua kali lipat luasnya kamar asrama Satella.
"Selamat datang ditoko ku."
Seorang wanita usia setengah tua menyambut. Penjaga tokonya itu seumuran dengan guru-guru yang mengajar disekolah mereka. Lalu Violetta langsung pada niatnya.
"Kami mencari veritaserum."
"Kalian boleh duduk dulu." Sosok wanita stw itu memberikan sifat keramahtamahan terlebih dulu sebelum berlanjut ke transaksi.
Violetta pun duduk. Penjaga toko menatap Satella dengan ekspresi sedikit pangling.
"Penjaga tokonya ramah sekali." Komentar Violetta.
Wanita stw itu membantah.
"Mohon maaf ... saya pemilik toko. Penjaga tokonya adalah sesosok goblin yang sekarang sedang ada didalam, ia sedang bersih-bersih."
"Perkenalkan nama saya Anna." Pemilik toko menghadap kearah Violetta.
"Hehe ... salam kenal buk Anna." Violetta cengengesan.
"Sama sama nyonya...." Buk Anna dengan gestur seperti ia menagih sebuah nama.
"Violetta."
"Kamu datang bersama temanmu yang baru ya ... Starla?" Penjaga tokonya bicara kearah Satella.
"Permisi?" Satella dengan nada bingung.
"Ada apa ... kamu ini Starla bukan?" Tanya pemilik tokonya.
"Namaku bukan Starla tapi Satella." Ujar Satella.
"Loh ... aneh." Kata buk Anna.
"Apakah Starla memiliki saudari kembar." Gumam buk Anna.
"Aneh banget deh ... tapi saudari kembarku juga namanya Starla. Tapinya Starla itu meninggal saat kami masih anak-anak. Setahuku Starla itu meninggal bersama ibu sewaktu tiga belas tahun yang lalu kan." Ujar Satella.
__ADS_1
Fakta baru.
Ternyata Satella punya saudari kembar yang lama meninggal.
Tapi sekarang terkuak bahwa ada seorang yang wajahnya itu mirip dengannya. Secara bersamaan dia bernama Starla. Satella merenung tentang apa saudari kembarnya masih hidup. Satella penasaran.
"Kamu yakin?" Tanya buk Anna.
Satella diam.
"Cepatlah kemari Gon!" Seru buk Anna.
Beberapa saat kemudian sesosok goblin berkulit cokelat muncul dihadapan mereka. Tingginya itu sekitar 110cm, kupingnya lancip. Postur badannya seperti anak laki-laki berusia enam tahunan.
"Iya master." Sahut Gon.
"Buatkan teh untuk tamu kita." Perintah buk Anna kepada sosok goblin pesuruhnya itu.
"Iya masterku." Sahut goblin.
"Disekolah kami ada juga loh peri rumah seperti itu. Mereka bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah loh." Kata Satella.
"Gon itu ras nya goblin." Buk Anna memberi koreksi.
"Bukan ... mereka itu peri rumah." Satella bersikeras.
Violetta berdeham. Violetta segera menoleh kearah Satella dan berniat untuk menjelaskan padannya.
"Masyarakat kita terbiasa manggil mereka sebagai peri rumah. Tetapi nama ras mereka adalah goblin." Violetta memberi koreksi.
"Mereka bukan goblin?" Satella bersikeras.
"Peri rumah cuma sebutan kita berdasarkan Budaya yang telah berlalu lama." Kata Violetta.
"Nama ras nya adalah goblin ya, sayang." Buk Anna bicara kearah Satella.
"Iya deh ... aku salah." Ucap Satella.
Suasana hening sejenak.
"Kalian mencari veritaserum ya?" Tanya buk Anna.
"Kami butuh untuk menyelidiki sebuah sindikat." Kata Violetta.
Buk Anna bergumam.
"Aku mencium aroma niat baik didalam diri kalian." buk Anna berkomentar.
"Tenang saja ... kami punya banyak kok." Kata buk Anna.
"Untuk kalian akan aku jual itu seharga lima belas koin emas." Penawaran dibuka oleh buk Anna.
"Harga yang bagus." Violetta pun tersenyum kecil.
"Tapi kalau kita beli lebih banyak, apakah dapat discount?" Tanya Violetta.
"Santai lah ... santai dulu, akan kuberikan." Ujar buk Anna.
Beberapa saat kemudian si peri rumah pun datang. Goblin yang tugasnya sebagai pelayan juga penjaga toko pun datang dengan membawa nampan. Gon segera meletakkan poci dan beberapa cangkir yang ia bawa diatas satu nampan. Ada toples yang ia bawa diatas nampan agar setiap orang dapat menakar seleranya.
"Teh nya tawar ya ... tuan tamu." Begitulah kata pelayan ras goblin tersebut.
Satella menuangkan dua sampai dengan tiga sendok gula kedalam cangkir teh yang awalnya tawar.
"Silahkan dinikmati." Buk Anna dengan keramahtamahan.
Beberapa saat setelah Satella dan Violetta menikmati suguhan.
"Butuh berapa veritaserum nya?" Tanya buk Anna.
"Antara tiga atau empat." Jawab Violetta.
"Nanggung deh ... gimana kalau setengah lusin. Kalau membelinya setengah lusin maka akan saya berikan harga spesial." Bujuk buk Anna dengan raut riang.
"Tergantung seberapa sepesial harganya." Ucap Violetta bernada sarkastik.
"Tujuh puluh koin emas harganya tanpa tawar!" Seru buk Anna.
"Astaga ... harganya miring sekali." Violetta yang biasa bernada datar sekarang menyuarakan kehebohan dari nadanya.
"Gil4 bener dah." Seru Satella.
Satella dengan gestur berbisik kearahnya Violetta.
"Hei ... Vio." Bisik Satella.
"....." Vio menoleh.
"Kayanya bener kata kepala busuk yang tadi deh. Si ibu ini merusak harga pasar." Bisik Satella.
__ADS_1
"Sstt ... diam ya." Protes Violetta.
"Jadi bagaimana ... nyonya muda berambut violet?" Tanya buk Anna.
"Apa kamu sanggup mendanai ku?" Tanya Violetta kearah Satella.
"Silahkan saja beli itu, lagipula uangku juga masih banyak." Kata Satella.
"Kami ambil." Seru Violetta yang menampakkan wajah gembira.
"Baiklah." Sahut buk Anna.
"Tapi ramuan ini asli kan?" Tanya Violetta.
"Tentu asli." Jawab buk Anna.
"Soalnya kami pernah meracik sendiri, akan tetapi efeknya tidak manjur." Violetta bilang.
"Jaminan uang kembali, kalau ini tidak manjur." Kata buk Anna.
"Baiklah." Seru Violetta.
"Silahkan dinikmati." Seru buk Anna.
Sosok peri rumah itu datang dan membawa beberapa toples yang berisi kudapan. Karena manusia terlanjur jijik dengan yang disebut goblin, mereka lebih senang untuk menyebut goblin sebagai liar.
"Master ... saya membawakan kudapan untuk tuan tamu."
Peri rumah itu menaruh kudapan didalam toples. Ditaruhnya diatas meja, mata Satella berkelap-kelip melihat kue manis kesukaannya.
"Wah ... itu kue salju yang manis." Satella tergiur.
Buk Anna tertawa kecil.
"Silahkan dinikmati." Seru buk Anna.
"Silahkan kembali." Seru buk Anna memberi gestur tangan mengusir kepada peri rumahnya.
Kebanyakan orang jijik ketika memandang ras goblin. Terlebih memahami betapa menjijikkan sifatnya yang alamiah mereka.
Ada perbedaan dalam penyebutan goblin dan peri rumah. Kalau peri rumah adalah goblin yang telah dijinakkan dan diberikan mantra perbudakan. Biasanya goblin yang telah dijinakkan itu telah dikebiri. Biasanya itu dilakukan apabila pemilik peri rumah adalah wanita. Secara alamiah goblin liar punya karakteristik yang negatif. Goblin cenderung mencelakai wanita dari ras lain dengan tindakan seksual abuse. Goblin sebagai slave juga lumayan berbahaya. Mereka itu cenderung mencelakai tetangga tuannya dengan tindakan seksual abuse. Atas sifat alamiah itulah peraturan mengebiri goblin telah diberlakukan pihak pemerintah khusus seorang yang mempunyai goblin sebagai slave miliknya.
"Terimakasih telah mendengar ceritaku." Kata buk Anna.
Violetta menyelesaikan transaksi secepatnya.
"Kami bawa barangnya." Violetta mengambil koper kecil yang berisi enam botol veritaserum.
Setiap botol berisikan veritaserum sebanyak 500ml. Didalam kopernya ada semacam penyanggah yang didesain agar botol yang disimpan didalamnya tidak berbenturan satu sama lainnya.
"Kalau perlu item gelap lainnya, datanglah kapan saja." Seru buk Anna.
"Terimakasih ... kami pergi dulu." Violetta pamit.
"Terimakasih kue nya buk." Ucap Satella.
Mereka bergegas meninggalkan tempat tersebut. Berjalan dilorong yang diterangi lentera bercahaya hijau yang tak biasa. Hijaunya melambangkan sihir gelap yang berhubungan dengan skeletal maupun ular mistis. Jalur lorong cukup jauh bagi mereka berdua.
"Repot juga membawa-bawa koper ini. Andaikan punya asisten atau semacamnya." Keluh Violetta yang berjalan sambil menenteng koper kecil didepannya.
"Tau gitu ... ajak Theodore." Ucap Satella.
"Kita harus punya keledai courier loh." Kata Violetta.
"Apa itu keledai courier?" Satella bertanya.
"Magic creature yang tidak begitu umum sih. Kalangan perserikatan mage antar ras memandang fitur seperti ini sebagai umum." Jawab Violetta.
"Biasanya orang kerajaan dengan keras memagari mage berbakatnya agar memilih kementerian sihir daripada perserikatan penyihir." Violetta bercerita.
"Kenapa?" Tanya Satella.
"Politik." Seru Violetta.
Sedang asiknya mengobrol, tau-tau sampai didinding dimana creature gelap seperti kepala menyusut yang hidup ada untuk mengagetkan lagi Satella. Pada dasarnya Satella itu cukup mudah terkaget.
"Sudah mau pulang nyonya kecil, nyonya muda." Seru kepala yang menyusut.
"Kya ... aku terkejut." Seru Satella, menjerit.
"Sudah kubilang jangan menjerit seperti itu!" Kepala menyusut itu memarahi Satella.
"Habisnya bikin kaget sih." Keluh Satella.
"Abaikan saja." Kata Violetta yang terus melangkah.
"Anak jaman sekarang tak ada tatak krama." Sosok kepala menyusut itu mengumpat kesal.
Mereka keluar dari lorong.
__ADS_1
~bersambung~