Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Penyihir dalam ramalan


__ADS_3

Jendral kesatria yang usianya telah mencapai enam puluh tahunan pun menghadap sang raja. Adalah satu dari kesembilan dewan jendral dikerajaan manusia. Jendral pun berlutut dihadapan raja Abraham.


"Saya datang, yang mulia raja ku." Jendral berlutut dihadapan raja.


"Silahkan berdiri jenderal ku yang pemberani, Sebastian charlotte." Sambut sang raja.


"Saya melapor untuk kembali lagi bertugas, yang mulia." Sebastian.


"Santai sejenak, bagaimana kabar persalinan menantu mu itu?" Tanya raja Abraham.


"Sehat, sekarang aku punya cucu kembar yang sangat cantik yang mulia. Cucuku yang kembar itu memiliki kulit putih porselen dan kuping lancip yang lucu. Berbeda daripada kedua kakaknya yang keturunan dominan gen manusia sementara gen elves nya seperti pengenceran, cucuku yang kembar memiliki gen half-elves." Sebastian bercerita dengan perasaan senang.


"Tunggu dulu!" Raja termenung.


"Apa ada yang salah yang mulia raja?" Sebastian sedikit resah.


"Apakah bayi cucumu kembar dan lahirnya di bulan purnama?" Selain itu apa ada cahaya di sekujur tubuh cucumu itu?" Tanya raja.


"Iya, ada cahaya, tapi bagaimana caranya yang mulia bisa tahu kalau cucuku mengeluarkan cahaya saat hari kelahirannya?" Tanya jendral.


"Berarti cucumu terlahir dengan takdir yang istimewa." Kata raja.


"Persis, itu persis seperti yang dikatakan tabib." Sahut jendral.


"Siapa nama cucumu yang kembar itu?" Tanya raja.


"Stella dan Starla, mereka dinamai berdasarkan nama bintang. Tetapi ibunya bersikeras menamai Stella sebagai Satella, menurutnya cara menyebut bintang Stella didalam logat elves adalah Satella bukannya Stella." Ujar jendral.


"Nama bintang dalam astronomi? B*dohnya aku, sebagai seorang raja aku bahkan tidak bisa hapal akan nama-nama bintang dalam ilmu astronomi." Raja menertawakan dirinya sendiri. Jendral tertawa bersama raja, bukan menertawai rajanya.


"Aku yakin cucumu yang kembar terlahir spesial. Peramal sudah mencuri pesan dari langit lewat bintang jatuh. Cucu kembar mu adalah apa yang disebut dengan, magic twin." Kata sang raja.


"Magic twin?" Tanya jendral.


"Satu melambangkan api, lainnya melambangkan es." Kata sang raja.


"Kenapa bisa kebetulan begitu ya. Tanpa disengaja aku menamakan mereka berdasarkan nama bintang. Stella itu bintang berwarna biru, warna biru itu persis dengan es. Starla itu bintang berwarna merah crimson, sangat melambangkan warnanya api." Tukas jendral.


Skip....


Mansion Frankenstein.


Dikerajaan Vilenchia, Frankenstein adalah keluarga bangsawan yang identik dengan alchemist. Alih-alih memiliki kastel didekat tambang emasnya, keluarga ini memiliki laboratorium. Mereka menjalani proyek penelitian sejak beberapa abad yang lalu. Landasan teori didalam ilmu alkimia pun selalu berkembang karena keluarga ini.


Sebastian charlotte yang sekarang masih menjabat sebagai jendral, sedang berkunjung kerumah utama keluarga Frankenstein. Entah ada urusan apa, akan tetapi Sebastian sedang duduk bersama orang dari keluarga ini. Mereka duduk-duduk sambil minum teh bersama.


"Selamat atas kelahiran cucumu, Sebastian charlotte." Ucap seorang berambut klimis dengan rambut depannya nampak belah dua. Ia bertubuh lebih besar daripada Sebastian. Ia agak sedikit gendut.


"Terimakasih Seva." Sahut Sebastian.


"Diminum tehnya." Ucap Seva yang terlihat ramah.


Sebastian meneguk tehnya sebelum melanjutkan.


"Perihal penelitian mu tentang sel kloning manusia, aku tertarik akan itu." Ucap Sebastian.


"Maksudmu homonculus?" Seva memastikan.


"Apa kamu bisa membuat satu yang sangat mirip dengan istriku yang pertama?" Tanya Sebastian.


"Bisa saja, tapi homonculus masih dalam tahap penyempurnaan, jadi harap sabar." Jawab Seva.


"Tolong buatkan aku satu yang rupanya sangat mirip." Sebastian menarik napas berat.


"Iya tapi, kamu harus punya sel manusianya dulu." Balas Seva.


"Itu yang mustahil, karena tubuh mendiang istriku sudah dikubur. Walaupun digali, kemungkinan itu sudah menjadi kerangka." Balas Sebastian, dengan raut pilunya.


Skip....

__ADS_1


Sementara ditempat lain.


Istana raja pamvire.


Raja pamvire sedang makan malam pribadi. Makanan telah disantapnya habis, kini tinggal sesi minumnya. Cangkir dengan minuman warna merah baru seteguk, kemudian ia berhenti. Raja pamvire berdiri lalu berjalan menuju ruang lainnya.


Skip....


Ruang VIP.


Memasuki satu lorong lalu keluar dilorong lainnya. Akhirnya raja pamvire sampai diruang paling pribadinya. Boleh dikatakan ruang tempat bersenang-senang. Itu benar saja, setelah raja pamvire selesai memasuki ruang VIP, dua pamvire wanita tercantik dan terseksi dikerajaan pamvir langsung saja menyambut raja pamvire dengan tindak-tanduk yang agak nakal.


"Sudah mau santai paduka raja?" Tanya pamvir wanita, dengan gaun cantik berwarna biru tua dengan corak-corak putih.


"Huhu ... waktunya ena-ena raja." Sahut pamvir wanita dengan gaun berwarna hijau.


"Kalian ini siapa?" Tanya sang raja pamvire.


"Aku Mariana, istrimu yang ke-107 paduka pamvir." Sahut wanita yang bergaun merah, baru saja sampai. Sekarang ada tiga wanita yang telah menyambut raja pamvire.


"Bohong, kalian pasti cuma selir." Sahut raja pamvire, menyeringai dengan raut yang jahat.


Kedua wanitanya raja pamvire pun duduk mengapit tuannya. Sang raja merangkul pundak mulus kedua wanitanya. Sementara wanitanya yang ketiga, yaitu gaun merah lagi menduduki raja seperti ia berposisi sedang dipangku.


"Tidak, kalau aku bisa memiliki anak-anak dari pamvir." Wanita bergaun merah tertawa genit.


"Kalian semua dasar pabrik kesatria pamvire, buatkan aku banyak kelas pejuang pamvire. Berikanlah aku banyak pejuang tuk membantuku menang perang melawan kerajaan manusia." Kata raja pamvire.


Raut wajah selirnya menjadi agak sedikit masam.


"Memangnya berapa banyak lagi anak-anak pamvire mu yang akan kamu korbankan? Anak dari hasil cintamu bersama istrimu yang sebelumnya, semua telah tewas ditangan generasi pedang suci tau!" Selir raja pamvir menampakkan senyum masam dihadapan raja.


Bahkan raja manusia pun punya banyak selir. Akan tetapi pamvire adalah ras abadi. Umur mereka itu sebanding dengan elves, ditambah mereka sangat kuat saat malam.


Suara pintu terbuka....


"Mohon ampun paduka raja, saya ingin melaporkan." Kata penasihat.


"Aku harap kau membawa sesuatu yang penting, jika tidak. PERGILAH KAMU KE NERAKA! Umpat raja pamvire, menjadi emosi karena ia diganggu ditengah masa santai.


Setelah raja pamvire mengumpat kearah ketiga selirnya, tiga selirnya segera menjauh seolah takut oleh murkanya raja pamvire. Penasihat menghadap rajanya sambil sekali menelan ludah karena ketakutan.


"CEPAT KATAKAN ADA BERITA APA!" Umpat raja pamvire.


"Jadi begini, ini semua tentang ramalan dua tahun lalu." Penasihat menyampaikan dengan takutnya.


Tensi raja pamvire mereda.


"Aku lupa lagi, katakanlah ramalan yang mana?" Tanya raja pamvire.


"Magic twin, yang mulia raja." Kata penasihat.


"Oh, iya ... aku sekarang ingat lagi. Cepat katakan kabar beritanya?" Tanya raja pamvire, kini sangat tenang.


"Mereka telah lahir dikerajaan Vilenchia. Mereka adalah cucu seorang jendral." Ujar penasihat.


Raja pamvire tersenyum senang.


"Hamba mohon ijin meninggalkan ruangan, maaf telah mengganggu waktu pribadi anda." Penasihat berniat meninggalkan ruangan.


"Tunggu dulu!" Raja pamvire menahan.


"Ya, paduka raja?" Ucap Penasihat.


"Tolong selidiki tentang keluarga kedua anak tersebut." Sang raja memberi perintah.


"Akan saya kerjakan, paduka raja pamvire." Jawab penasihat yang memberi gestur menunduk lalu penasihat meninggalkan ruangan.


Skip....

__ADS_1


Waktu berjalan setelah kerajaan pamvire mengirim mata-mata tuk menyelidiki identitas magic twin. Beberapa tahun telah berlalu saat desas-desus tentang anak ajaib itu beredar. Awalnya informasi ini hanyalah beredar dilingkungan terdekat keluarga kerajaan. Tetapi didalam kerajaan terdapat agen ganda. Mereka adalah mata-mata kerajaan manusia, tetapi secara bersamaan memberi informasi penting kepada kerajaan pamvire.


Enam tahun kemudian....


Enam tahun telah berlalu, kini si kembar dalam ramalan semakin bertumbuh. Ibunya mengajari anak-anak bungsunya banyak hal berguna. Mereka tinggal disebuah mansion ditempat yang jauh dari perkotaan. Disebelah barat dari Midgard city ada sebuah desa yang terletak didalam hutan kecil. Hutan kecil itu bernama hutan Sakura.


Hutan sakura ada banyak pohon Sakura. Tetapi banyak juga pohon hijaunya. Meski disebutnya hutan sakura, tetapi lebih banyak pohon hijaunya. Di dataran Aluscia, pohon sakura hanya bisa ditemui di sana.


Dikedalaman hutan sakura ada sebuah desa. Dulunya pemukiman para penebang kayu yang telah dipekerjakan keluarga charlotte. Penebangan kayu legal keluarga bangsawan pun telah berkembang menjadi desa setelah ada banyak lahan terbuka disana. Dimulai pembentukan area pertanian dan pembangunan rumah-rumah, lalu menjadi sebuah desa yang cukup besar. Disitu keluarga charlotte membangun mansion megahnya.


Mansion yang sangat megah ini memakan waktu lima belas tahun untuk pembangunan nya.


Mansion charlotte.


Seorang wanita muda lagi duduk dikursi goyang. Wanita itu sedang merajut seuntai benang untuk membuat suatu kerajinan tangan. Seorang putri imut masih belia tiba-tiba berlari menabraknya lalu memeluk lingkar pinggangnya.


"Ibu...." Seru anak itu.


"Sayang ... awas loh nanti terkena jarum." Tegur sang ibu.


"Lagi apa ibu?" Tanya anak imut berambut perak yang kupingnya sedikit lancip. Ia berbeda dengan ibunya, kuping ibunya jelas lebih panjang empat centimeter dari kuping putrinya. Dari situ jelaslah bahwa sang ibu seorang elves berdarah murni, sementara sang putri berdarah half-elves.


"Aku sedang merajut." Jawab ibu seraya tersenyum ramah.


"Merajut apa?" Tanya putrinya.


Saat bertanya, sang anak mengukir ekspresi wajah bengong yang amat imut bengong nya itu. Raut imutnya bahkan membuat ibunya menjadi gemas ingin mencubit pipinya.


"Sakit ibu...." Ucap sang putri yang nadanya imut dan lucu.


"Membuat sarung tangan untuk musim winter." Jawab ibunya.


"Aku kan gak peka terhadap rasa dingin, aku itu kebal terhadap dinginnya salju tau." Kata Putrinya sambil memanyunkan bibirnya.


Anaknya berdiri sambil melipat tangannya. Membuat raut wajah cemberut, bibirnya manyun.


"Huh ... lucunya ... gemasnya." Seru sang ibu.


"Sarung tangan tebal ini untuk Margareth." Jawab ibunya.


"Eh, apa ... bu, sepupu Margareth berkunjung kesini?" Seru putri dengan ekspresi riang gembira.


Ibunya tersenyum riang sambil mengangguk.


"Yeay...." Putrinya melompat riang.


"Mana Starla?" Tanya ibu kepada putrinya.


Putri kecil itu adalah Satella.


Satella kecil pun menjadi bengong sejenak. Beberapa saat kemudian wajahnya menjadi seperti sedang menahan tawanya.


Satella mulai menutup bibirnya dengan ujung jarinya.


"Ku ... ku ... ku, uwahahaha." Tawa terlepas dari bibir Satella kecil, ia terkikik tidak karuan.


Sang ibu melotot kearah putrinya.


"Dimana?" Tanya ibu dengan raut wajah yang marah.


"Starla aku tinggal dihutan." Jawab Satella kecil, sambil menahan tawa untuk kedua kalinya.


"Nakal!" Ibu menyentil kupingnya yang lancip itu.


"Aduh, sakit buk." Keluh Satella dengan spontan.


Ibunya terlihat akan marah.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2