
Itu danau yang dangkal, tidak besar juga tidak terlalu kecil. Dari dalam, munculah manusia hijau bersisik keluar danau. Mahluk hijau punya tangan berselaput seperti katak. Kulitnya berlendir, kepalanya ada mangkuk daun berisikan air. Saat menatap, mahluk hijau itu dengan jelas menampakkan mata kayak.
Ialah si Kappa.
"Tolong ... tolong aku, tolong...." Dengan heboh Artha berlari dari terkaman mahluk mitos tersebut.
Sementara itu di semak-semak.
"Mentimun, keluarkan mentimun cepat!" Seru gendut Giant.
Masing-masing telah memegang mentimun.
Kappa larinya cepat, padahal Artha belum jauh dari danau tetapi sudah terkejar. Kappa melompat untuk menerkam Artha, Artha akhirnya tertangkap. Artha berteriak secara histeris seolah esok kiamat. Konon katanya, Kappa itu suka memakan daging manusia mentah-mentah. Ketika menangkap tubuh mangsa, Kappa menjaga posisi tubuhnya sedemikian mungkin agar mangkuk daun berisi airnya tidak tumpah kebawah.
Kapa mengangkat tubuh bocah itu seperti mengangkut karung berisi gandum. Dibawa Artha menuju ke danau, ia pun menjerit histeris. Anak-anak desa tak ada satupun berani menghadapi Kappa, tidak kecuali Rain. Rain berlari kearah Kappa sambil membawa mentimun.
"Lepaskan temanku, dasar kau monster buruk rupa!" Umpat Rain.
Kappa mengabaikan Rain karena sudah mendapat mangsa, tapi Rain berlari kearah Kappa. Rain terus berlari, hingga saat ia telah dekat Rain menabrakkan dirinya kepada tubuh Kappa yang setara dengan tubuh orang dewasa.
Brukk....
"Aduh sakit...." Rain merintih.
"Em, ada dua mangsa." Sekarang Kappa berniat mengangkat Rain untuk dibawa ke dasar danau.
Sekarang Satella berlari kearah monster itu. Sementara itu Starla masih bersembunyi ketakutan di semak-semak. Melihat itu Giant menyusulnya, sementara yang lain masih belum punya keberanian.
"Jangan tinggalin aku kakak ... aku takut kak." Starla hampir menangis, bersembunyi di semak-semak.
"Lepaskan mereka mahluk buruk." Satella menatap kearah mereka.
"Tiga lebih baik, hahaha...." Kappa tertawa menang.
Artha dan Rain dibanting ketanah hingga pingsan. Digeletakan disana agar nanti bisa diambil lagi untuk persediaan pakan. Yang pasti danau adalah sarang dari mahluk itu.
Satella memegang sekop ditangan kirinya, mentimun ditangan kanan. Satella menaruh sekop, memungut batu. Satella pun melempar sebuah batu kepada Kappa, batunya sukses mengenai Kappa.
"Gak sakit, gak ada rasanya." Kappa mengolok-olok.
Satella mendesis kesal, mengambil batu dan dilempar lagi. Entah itu berapa kali melempar, tidak ada rasanya bagi Kappa. Hingga Kappa sudah berada sangat dekat sekali.
"Waktunya menggendong." Kappa mengangkat kedua tangannya tuk memberi gerakan menangkap.
Tau-tau Satella berjongkok, Kappa gagal menangkap.
"Akulah bocah petualang...." Seru gendut Giant, berlari dengan gestur penuh keberanian.
Gendut Giant melempar satu buah mentimun kearah Kappa, sayurnya langsung dicaplok Kappa. Gendut Giant melempar lagi mentimunnya lalu dicaplok lagi. Sel-sel kelabu di otaknya Satella bereaksi, Satella melempar mentimun miliknya.
Lemparan Satella sangat gemulai tidak bertenaga. Alhasil mentimun menukik kebawah karena terkena gaya gravitasi, energi lemparannya juga sangat lemah. Kappa terlanjur melihat fokus kearah mentimun seolah ia berselera untuk segera mencaploknya. Ketika mentimun menukik karena gaya gravitasi, ia tanpa sadar ikut menatap kebawah.
Tanpa sadar Kappa menumpahkan semua air yang ada di kepalanya. Karena kehilangan semua airnya, spontan Kappa kehilangan seluruh tenaganya. Satella sukses membuka kelemahan sang Kappa.
Satella mengayunkan sekop untuk menyerang Kappa. Karena tenaga Satella terlalu gemulai, sekopnya memantul dan terlepas. Satella pun tanpa memegang alat pertahanan apapun sekarang. Satella tak mau kehilangan buruannya, ia segera memeluk kaki Kappa supaya Kappa tidak bisa kabur.
Sementara Starla melihat kakak kembarnya. Starla berpikir bahwa kakak kembarnya akan ikut-ikutan terbawa sampai kedalam danau. Pemikiran Starla yang keliru telah membuatnya hampir menangis. Pemikiran Starla juga membuat keberanian Starla keluar, Starla menjadi berani dan mengejarnya.
"Jangan bawa kakak kembarku!" Starla berlari, setengah menangis setengah emosi.
Starla memukuli punggung Kappa, tetapi pukulan anak berusia enam tahun tak ada apa-apanya untuk mahluk seperti Kappa. Pergelangan tangan Starla terkilir, membuat sekopnya terlepas dari tangannya.
Tak rela kakak kembarnya dibawa hingga ke dasar danau, Starla pun memeluk kaki Kappa yang satunya supaya keberatannya untuk kabur. Begitupun dengan si gendut Giant yang menarik tangan kiri Kappa sekuatnya. Tetapi itu hanya dapat memperlambatnya, cepat ataupun lambat Kappa dapat menyelam lagi kedalam air. Kalau itu terjadi maka kekuatannya akan pulih kembali.
Sementara itu.
Satu orang penjaga sedang berdiri tepat di gerbang pagar belakang mansion. Datanglah satu penjaga lainnya untuk pergantian pos jaga.
"Sudah cukup, sekarang giliran ku yang jaga." Kata temannya.
"Tapi anak majikan sedang keluar memetik bunga." Jawab penjaga.
"Gawat...." Seru penjaga berikutnya.
"Gawat kenapa?" Tanya penjaga.
__ADS_1
"Diluar sana, disebuah danau ada Kappa." Jawab penjaga pengganti.
"Kappa?" Tanya penjaga.
"Kappa adalah monster manusia setengah katak, sudah ada korban yaitu anak dari desa dimakannya." Kata penjaga pengganti.
"Oh tidak, kacau." Batinnya.
Skip....
Semak-semak.
Sementara anak-anak yang lagi bersembunyi terus lah menonton dengan rasa takut. Philips kecil merasakan hal yang sama dengan anak-anak desa lainnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Philips.
"Kalau Kappa berhasil menyelam kedalam danau, bahaya. Kalau itu terjadi, mereka semua akan segera dimakan!" Kata anak desa.
"Maka dia akan mati...." Philips terdiam.
"Tidak boleh!" Seru Philips yang berlari kearah Kappa.
Philips kecil berfikir masa bodo dengan anak-anak desa. Philips tak rela kalau putri kecil yang cantik seperti boneka porselen sampai terbunuh oleh mahluk buruk rupa. Yang Philips pedulikan hanyalah Satella. Dimatanya gadis itu bukan cuma boneka porselen indah tapi sosok putri dari buku dongeng.
Sekarang sudah empat anak yang menahan Kappa agar ia tak bisa menyelam ke danau. Setelah sang pangeran kecil maju.
"Hei, tunggu dulu...." Kata salah satu dari beberapa anak desa.
"Ya?" Tanya yang lain.
"Kalau sampai seorang pangeran tewas disini, bukankah raja akan marah? Kalau raja marah pastinya orang tua kita, seluruh warga desa akan kena masalah bukan." Kata seorang anak desa.
Kini mereka semua berlari kearah Kappa. Tubuh mahluk buruk rupa ditahan banyak anak-anak. Inilah kekuatan kolektif, jika gagal maka menjadi kegagalan semua pihak.
Semakin berat Kappa melangkah.
Slash....
Tau-tau sebilah pedang menusuk tubuh Kappa.
Satella memeluk kaki Kappa sambil terpejam, setelah menyadari Satella pun membuka matanya.
"Om penjaga?" Ucap Satella yang melongo menatap kesatria zirah.
Skip....
Alun-alun desa.
Ditengah desa, tubuh Kappa yang selama ini memangsa anak-anak di desa telah diikat erat di tiang kayu. Tubuhnya dipamerkan sebagaiĀ keberhasilan pihak penajga dari mansion dalam menangkap sosok monster setengah manusia ini.
Terutama orang yang kesal atas perbuatan Kappa yang memangsa anak-anak mereka. Penduduk pun membakar Kappa hidup-hidup.
Dijalan setapak yang kanan dan kirinya adalah pepohonan, telah melintas kereta naga yang mewah. Jendela kereta terlihat Philips melihat-lihat pemandangan luar.
Ruang tengah.
Satella sedang tiduran tengkurap diatas ibunya yang duduk. Dalam posisi tersebut, sudah pasti ibunya akan mengusap bawang merah beserta minyak telon kepada sang anak karena masuk angin.
Tunggu sebentar....
Snow elves kan kebal sama es atau salju. Kalau ras snow elves sengaja telanjang ditengah badai salju saja bakalan kebal, berarti masuk angin sangat mustahil dong.
Plak....
Suara ditampar.
"Kya ... sakit buk...." Keris Satella.
"Kamu kalau main itu jangan cari mati dong. Kalau kejadian nanti ayahmu kena serangan jantung terusnya mati deh. Sini kamu, ibu hukum!" Nyonya Shiela mengomel kepada anaknya, juga memberikan hukuman kepada anaknya.
Hukuman pukul pantat.
Plak....
"Iya ampun buk...." Jerit Satella.
__ADS_1
"Kalau sudah begini aja baru kamu nyesel, nyesel gak!" Omel sang ibu sambil mengambil ancang-ancang untuk menampar pantat putrinya sekali lagi.
Plak....
"Tapi Starla juga ikutan buk...." Jawabnya.
"Sebagai kakak, kamu harusnya mengajari adikmu. Adikmu pasti selalu nurut sama apa yang kamu suruh kan!" Omel Ibunya.
Plak....
Sudah tujuh kali ibunya memberi tampar pantat kepada putrinya itu. Setidaknya kebandelan sang putri bontotnya sudah menyelamatkan anak-anak desa daripada teror monster Kappa.
Skip....
Kamar.
Satella digendong oleh mbak maid sambil tersedu-sedu. Mbak maid meletakkan Satella terbaring tidur dikasurnya.
Beberapa saat kemudian.
Satella berdiri didekat jendela yang menghembuskan angin yang segar sambil ia mengusap matanya.
"Kamu baik-baik saja kak?" Tanya Starla, penuh perhatian.
"Pedes tau!" Satella nge-gas.
"Ibu marah ya kak?" Tanya Starla.
"Iya, sangat marah, ini semua kan gara-gara kamu!" Satella melototin adik kembarnya.
"Kok aku?" Starla menampakan ekspresi sedihnya.
"Kamu bilang-bilang ke ibu kalau barusan kita memburu monster Kappa!" Satella jutek pada Starla.
"Iya habisnya ibu tanya ke aku sih kak." Jawab Starla dengan polos.
"Kamu kan bisa bilang kalau kita bermain kebun, jangan bilang juga kalau kita memburu Kappa. Kalau begitu kan beres jadinya, aku gak bakalan ngerasa kepedesan gini. Dasar Stalla ... b*go!" Omel Satella.
"Tapi kan itu bohong kak." Jawab Starla dengan polosnya.
"Iya tapi aku bakalan selamat tau!" Omel Satella.
"Maaf kak...." Starla bernada sendu.
"Aku benci!" Satella membuang mukanya kesamping.
"Kak...." Ucap Starla, lirih.
"Aku kesel, sana main aja sendiri." Satella terus mengomel.
Disini Starla nampak bersedih.
Skip....
Hari pun berlalu, winter pun tiba. Diluar salju mulai turun. Saljunya turun sejak jam dua tadi malam. Paginya salju tebalnya menumpuk dimana-mana.
Winter membuat anak-anak dari ras snow elves semakin kuat.
Satella melompat pagar dengan mudahnya.
Bagaimana bisa anak sekecil itu dengan fisik gemulai memanjat tembok yang tinggi? Mungkinkah karena dampak musim winter.
Winter membuat Satella menjadi sosok overpower.
Tapi kan Satella usianya itu masih enam tahun. Mungkin itulah sifat alamiah ras snow elves, mereka mendapatkan buff saat winter tiba. Ras snow elves telah mendapatkan mendapatkan kekuatan dari alam. Kekuatan musim salju.
Satella berjalan dijalan setapak dengan gaun yang tipis. Gaun itu cocoknya dipakai dimusim panas.
Tetapi Satella tidak merasa hawa dingin yang menusuk, sedikitpun tidak kedinginan.
Satella tidak memakai alas kaki, telapak kakinya tidak mati rasa karena suhu dingin ekstrem.
Lantas bagaimanakah petualang Satella saat winter?
~bersambung~
__ADS_1