Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
kasih sang kakak


__ADS_3

Satu hari kemudian....


Akhirnya Margareth sukses dalam membujuk Diana agar mau datang menemui adiknya.


Berbeda dari Satella yang punya perawakan cenderung mungil tapi tidak terlampau kecil. Diana punya perawakan tinggi dan berisi mirip seorang model. Rambut silver nya terurai sepunggung. Perawakannya Diana diatas 180cm layaknya orang Eropa pada umumnya. Meski dunia dalam cerita ini bukan benua Eropa.


Satella terbaring lunglai tak punya semangat. Tubuhnya kini semakin kurus saja. Menatap atap kamarnya dengan suasana hati yang paling muram. Setiap napasnya terdengar berat suaranya.


"Aku tak pernah merasa sesakit ini." Gumam Satella.


"Setelah aku gembira karena dapat teman baru yang cocok, keadaan berubah. Seakan aku tidak boleh merasa senang, keadaan menjadi berputar balik kearah yang buruk." Satella mengeluh, bicara sendiri dengan nada lunglai.


Perasaan suram terus menyiksa Satella. Semua membaik setelah kunjungan seseorang.


"Ini aku, dik Stella." Seru Diana.


"Ah, eh, ada kakak?" Ucap Satella, merasa bingung.


Diana memasuki kamar Satella.


"Kudengar adikku lagi sakit jadi aku mampir deh kesini." Kata Diana.


"Kak, Diana...." Seru Satella, senyum kecil mulai nampak dibibirnya.


"Aku dengar dari Margareth." Kata Diana, kini duduk dikursi yang ia letakkan disisi ranjang Satella.


"Starla, kak...." Seru Satella, lirih.


"Iya aku tahu." Sahut Diana.


"Em." Satella kembali muram.


"Semenjak si kembar kehilangan kembarannya, semua gak kaya dulu lagi." Kata Diana, membelai rambut perak adiknya.


"Iya, kak." Satella kian sendu.


"Putri ketiga dari pemimpin klan bangsawan charlotte, adalah anak yang paling dimanja. Mereka itu spesial loh." Kata Diana.


"Iyakah?" Sahut Satella.


Topik yang dibawa Diana membuat Satella gak melamun lagi. Sekarang pikirannya udah gak kosong seperti sebelumnya. Wajah Satella terlihat bersedia menyimak kakaknya.


"Dulu ada sebuah ramalan, disebut magic twin. Bayi kembar yang lahir dimusim winter pada malam bulan purnama dengan rambut peraknya, akan lahir dengan kekuatan magis tiada tandingannya." Kata Diana.


"Oh, begitu, pantesan aja afinitas element es ku 13/10 kak." Satella mengukir senyum tipisnya.


"Serius?" Diana seolah terkejut.


"Iya kak." Jawab Satella.


"Kamu tau frost wyvern, mereka afinitas element es nya 11/20 loh." Diana menjelaskan.


"Kok aku disamain sama naga sih kak?" Balas Satella.


"Kalau frost wyvern ketemu kamu, pasti mereka kabur." Canda Diana.


"Kok bisa?" Tanya Satella.


"Soalnya kamu lebih mengerikan daripada wyvern. Kamu memiliki gejala semacam lebih liar dikala winter kan, kakak sih enggak ya. Intinya kamu bisa aja jadi winter slayer, saat winter kamu itu sangat overpower banget. Soalnya kakak tahu dari ibu kalau snow elves itu begitu." Diana terus berbicara agar pikiran adiknya tidak kosong.


"Emangnya kakak gak?" Satella kini mulai selera buat bicara lagi.


"Kakak kan manusia, gen dominan kakak adalah manusia 80 persennya loh. Kalau kamu 50 dan 50, kamu tergolong snow elves." Jawab Diana.


"Pantesan kuping aku aneh ya, kak." Canda Satella.


"Kamu ngelawak ya? Dasar kacang garing." Sindir Diana.


"Pura-pura ketawa kek biar adik senang, SEBEL." Satella cemberut.


Diana tertawa.


"Baru deh ketawa, dasar ya asem." Protes Satella yang memanyunkan bibirnya.


"Waktu Starla kecil diduga tewas sewaktu tiga belas tahun lalu, aku tidak percaya." Kata Diana.


"Kenapa kak?" Tanya Satella.


"Soalnya ramalannya adalah sosok magic twin yang menjadi pahlawan nantinya. Magic twin ditakdirkan menjadi satu pasang pahlawan kan. Berarti sejak awal mereka sudah ditakdirkan sepasang. Gimanapun caranya, mereka pasti ditakdirkan sepasang. Atas dasar itulah sampai sekarang kakak percaya Starla mu masih hidup." Diana memberikan argumentasi yang menguatkan.


"Aku jadi ingat." Gumam Satella.


"Ingat apa, dasar adik yang pikun." Canda Diana.


Satella berfikir....


[Satella : kalau sudah ditakdirkan seperti itu, pada akhirnya memang dapat selamat.] 😲

__ADS_1


"Aku tahu, ayah menyuruh mage untuk menyegel ingatanku waktu kecil." Ucap Satella.


"Oh, itu, habisnya setelah kejadian waktu itu kamu selalu bersedih." Balas Diana.


"Ada cara buat menyalin ingatan?" Tanya Satella.


"Gak ada mantra yang efeknya kaya gitu. Kalau item sihir yang mampu menyimpan ingatan dan menyalin kepada pemaia selanjutnya, kakak punya loh." Jawab Diana.


"Berikan padaku!" Pinta Satella.


"Tunggu." Diana merogoh kantung sihirnya.


Satella sudah naik lagi mentalnya. Satella berusaha untuk bangun dari ranjangnya, tapi sulit. Terjengkang tubuhnya kebelakang.


"Kamu masih lunglai!" Diana pun mengomel pada Satella.


"Tabibnya bilang aku anemia, kak." Kata Satella.


"Kamu sih, MAKANYA JANGAN MOGOK MAKAN SEGALA!" Diana mengomeli adiknya.


"Maaf kak...." Satella nyesel.


"Kamu berbaring saja ya." Bujuk kakaknya.


"Kak aku mau cepet sembuh kak. Bantuin aku kakak, aku beneran kepengen sembuh." Rengek Satella.


"Apa?" Diana dengan mimik agak meledek.


"Aku pengen sembuh kak...." Ujar Satella.


"Gak kepengen mati aja? Serius deh, lanjutin mogok makan aja supaya almarhum sekalian." Canda Diana, dengan nada galak.


"Yah kok gitu, kakak...." Satella pun merengek.


"Ya udah, aku bantuin biar cepet sembuh." Diana terkekeh.


"Kalau gitu suapin aku kak cepet!" Pinta Satella.


"Gak mau!" Canda Diana.


Satella merengek.


"Huhuhu ... yah kakak, lihat nih aku udah mirip siluman tengkorak gini. Tega banget sih kakak...." Satella pun terus merengek.


"Gak, kok, kakak cuma bercanda." Diana terkekeh melihat ekspresi menderita adiknya.


Diana terkekeh.


Skip....


Point of view.


Beberapa hari telah berlalu sejak Satella berhenti mogok makannya. Kondisi fisik Satella yang hampir mendekati siluman tengkorak kini sudah fit kembali. Satu level diatas slim, dalam arti kalau dicubit ia masih ada dagingnya. Kemudian ia mengembalikan kebugaran lewat bantuan Margareth.


Margareth mengajari Satella sesi latihan dengan pedang kayu hingga Satella naik ke tingkat pengguna pedang pemula. Yang Margareth ajarkan sangat penting saat Satella memakai Griffin sword miliknya. Dikala kebugarannya telah pulih, yang terlintas dalam pikiran Satella adalah.


Jam pasirnya....


Dengan ini perjuangannya dalam merebut hak sebagai magic twin segera dimulai kembali.


POV end....


Kamar Satella.


Margareth terlihat sedang disana menemani Satella.


"Kamu yakin mau bantu?" Tanya Satella.


"Tentu." Jawab Margareth.


"Pedang?" Tanya Satella.


"Oh iya, tunggu aku ya sepupuku." Margareth meninggalkan kamar Satella barang sebentar.


Skip....


Kini Margareth dan Satella sangat berdekatan. Satella lagi memegang sebuah jam pasir ajaib.


"Merapat lah denganku!" Satella mengaktifkan lingkaran sihir dari efek sihir jam pasir.


"Ihh ... sepupuku naksir aku, dasar penyuka sesama cewe." Margareth melempar canda yang bikin Satella tambah sebel.


Lingkaran sihirnya selesai.


Kembali ke 13 tahun yang lalu....


Desa Alechia.

__ADS_1


Margareth dan Satella sudah berada di desa.


"Untung aku memiliki portal scroll, kalau tidak bisa makan waktu deh." Kata Satella.


"Beneran deh, ini tiga belas tahun yang lalu?" Tanya Margareth.


"Iya, ayo cepetan ikut denganku!" Tanpa banyak basa-basi, Satella menarik lengan Margareth untuk berjalan ke mansion.


Skip....


Kini mereka berada dimansion. Satella meminum ramuan polyjus yang mengubah dirinya menjadi Starla kecil.


"Astaga, imutnya...." Margareth jadi usil mencubit pipi Satella yang lagi menyamar menjadi kembarannya.


[Note : ceritanya Satella memakai sihir jam pasir dua kali. Pemakaian pertama untuk mencuri rambut Starla buat dicampur ke polyjus.]


"Kamu bawa Starla yang asli ke mansion keluarga kita. Aku bakal nyamar jadi Starla palsu, terus ketemu lagi dimansion keluarga charlotte." Satella ngasih arahan.


"Siap." Balas Margareth.


Skip....


Ditengah desa, dekat air mancur sudah ada paman Satella bersama beberapa pamvire. Ada belasan pamvire disana. Raja pamvire dan pamannya Satella sedang bicara.


"Putri keluarga charlotte yang tuan maksud sebagai magic twin sedang berada dimansion. Tapi salah satu sedang bermain keluar, aku juga kurang tahu ia kemana. Sekarang waktunya membawa salah satunya kemudian anda tunggu putri yang satunya pulang." Ujar pamannya Satella, raja pamvire menyeringai.


"Setelah sekian lama, akhirnya." Ekspresi raja pamvire sungguh antusias sekali.


Skip....


Paman Hesper berjalan menuju kamarnya keponakannya.


"Hei, Starla...." Seru pamannya.


Seketika Starla yang asik bermain puzzle berlari menyambut paman yang dulu ia kira baik.


"Apa paman?" Sahut Starla.


"Mau jalan-jalan ke desa bersama paman?" Tanya pamannya.


"Seru...." Starla antusias.


"Ayo ikut!" Pinta pamannya.


"Em, iya, ayo...." Seru Starla kecil.


Starla yang bersama paman Hesper ini bukanlah Starla yang asli.


Skip....


Pamannya mengajak Starla menuju desa. Sesampainya di desa Starla dipaksa naik kedalam kereta naga. Mereka tidak menyadari kalau itu bukan Starla yang sesungguhnya.


Kemudian pamannya pulang ke mansion. Sesampainya di mansion, paman melancarkan aksinya yang berikutnya.


Ruang makan.


"Aku memasakkan sesuatu untuk kakakku tercinta." Ucap Hesper, meletakan masakannya dimeja kakaknya.


"Seberapa cintakah kamu kepada kakakmu?" Nyonya Shiela pun tersenyum kecil pada adiknya.


"Saking cintanya, aku pun sampai cemburu saat kakak dinikahi oleh bangsawan manusia itu." Jawab Hesper, penuh basa-basi.


"Kamu bukanlah adik dengan yang menderita penyakit cinta sedarah kan?" Nyonya Shiela terkekeh.


"Tentu bukan, aku hanya bergurau." Hesper tertawa jaim.


Nyonya Shiela pun mulai memakan sajian yang dimasak adiknya.


Beberapa saat kemudian.


Tau-tau nyonya Shiela pun mulai batuk darah. Badannya terasa agak sakit, paru-paru seolah kena tusuk tulang rusuk sendiri. Dadanya pun terasa panas. Bukan panas dalam artian libido, tapi panas karena ia mengkonsumsi sebuah racun.


"Apa yang kamu tambahkan pada makananku, adik?" Nyonya Shiela sungguh merasa pilu karena telah dikhianati adiknya sendiri.


"Hanya racun yang tak berasa juga tidak berbau." Jawab Hesper.


Tidak lama dari lorong munculah seorang dengan jubah yang sangat lebar kerahnya. Yang dihadapinya adalah sosok raja pamvire.


"Kenapa pamvire jauh-jauh datang kemari!" Nyonya Shiela pasrah.


Raja pamvire menikam belati pada perut nyonya Shiela.


"Ini adalah belati yang meniadakan sihir regenerasi. Belati inilah yang menewaskan banyak pamvire pada perang sipil perebutan tahta raja pamvire." Ucap raja pamvire yang mengelap belatinya dengan kain.


Ini adalah saat paman Hesper dan raja pamvire bersembunyi untuk menculik Satella. Tentunya mereka akan gagal menculik Satella karena sihir misterius yang tiba-tiba ada.


Lantas dimanakah Starla asli kini berada. Apakah rencana Satella berhasil tanpa restart.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2