
Alih-alih diinterogasi oleh seorang penyidik, Satella selaku tersangka malah membuly penyidiknya. Itu tindakan greget memang. Aslinya merek duduk berhadapan, tak ada tindak kekerasan atau pelecehan disini. Walau kelihatan penyidik diikat dikursi, tetapi itu hanyalah sihir ilusi dari Satella.
[Author : bagus nak.. buktikanlah kepada dunia! Bahwa genjutsu mu setara dengan uciha Hitachi pada serial anime Narutong sipudin.] 😁
[Kishimoto : Nani! Eh? apa katamu? enak saja menyamakan kehebatan Hitachi dengan karakter gadis yang imutnya lebih cocok untuk berada dicerita masak memasak daripada cerita aksi mendebarkan, fuh...] 😑
Lanjut...
"Hentikan! Hentikan ini wicth! Trik jahat mu ini sangatlah kejam dan tidak beretika." Kata penyidik yang meronta-ronta terikat dikursi, dia terlihat seperti gila sendiri dalam perspektif Satella.
"Apa katamu?" Satella.
Satella menutup bibir manisnya dengan tangan lentik. Menahan dirinya untuk tidak ketawa, dalam penglihatan Satella penyidik itu duduk dikursi dengan normal tapi meronta-ronta tanpa sebab. Iya memang benar, tali yang mengikat penyidik adalah sihir ilusi.
"Hihihi." Gelak tawa Satella keluar pelan, matanya terpejam.
"Trik jahat? Kamu bilang! Bukanya Kamu pakai cara yang serupa kan." Balas Satella.
Meanwhile.
Salah seorang penjaga mendekati penjaga lainnya. Sekedar memberi laporan atas tindak tanduk yang mencurigakan juga aneh. Menepuk bahunya, penjaga menoleh pada penjaga satunya, mengangkat bahu.
"Tadi aku ngintip ruang interogasi." Dia bilang.
"Lalu?"
"Yang meronta-ronta itu penyidik bukan tersangkanya." Penjaga pun melaporkan yang dia lihat.
"Masa sih? Jadi terbalik rupanya. Memangnya.. orang greget mana? yang udah berani membuly balik penyidiknya." Penjaga pun kaget mendengar laporan itu.
"Iya nyonya kecil yang tadi." Jawab penjaga pelapor.
"Eh? Gak salah kamu." Penjaga yang menerima laporan agak bingung dan sulit untuk percaya.
Ruang interogasi.
"Lihat.. lihat, sekarang aku akan membalas mu! Rasakan balasan dariku ini Nick mesum!" Satella menyeringai, dipenuhi rasa ingin balas dendam.
"Aku? Mesum! Tidak.. tidak, kamu asal tuduh saja." Penyidik menjadi heboh meluapkan emosi stresnya.
"...." Satella menikmati setiap detik penderitaan korbannya.
"Hei bagaimana kau? Kita kan baru bertemu sekarang.. memangnya aku melakukannya hal buruk macam apa padamu? Kita kan baru ketemu hari ini, ya. Dan kenapa kamu langsung tahu namaku?" Kini penyidik mulai terlihat gelisah, bicaranya cepat dan histeris. Bukan senang atas yang terjadi kepada korbannya, Satella justru malah menguap.
"Lihat.. belum apa-apa sudah stres begitu. Jangan nyerah dulu, aku kan belum puas." Kata Satella.
"Gila.. aku stres banget! Lama-lama berada disini, besoknya aku bisa masuk RSJ tau!" Teriak histeris. Penyidik mendapatkan stres yang cukup berat.
Yang dilakukan Satella hanyalah keusilan biasa. Tapi kenapa sampai memberi rasa stres yang sedemikian rupa? Apalagi kalau bukan karena efek buff negatif dari skill sugesti hipnosis. Ya.. namanya juga sihir.
Kemudian muncullah suara yang hanya bisa didengar oleh Satella selaku target telepati. Pesan dari temannya yang memantau.
"Hihihi Satella memakai sugesti hipnosis untuk menyiksa penyidik. Kamu great!" Violetta bilang.
"Pakai hipnosis untuk melakukan penyiksaan? Kamu nakal banget Tella.. dasar bandel." Iota ikutan memberikan komentar.
"Kalau sudah selesai! Cepat pulang Satella. Mamah tiri iya udah rindu banget nih." Itu suaranya Isyana.
"Hey.. Isyana.. stop! Jangan ngatain aku, ya." Protes Minerva, suaranya yang galak membuat Satella nutup kuping. Sampai dia lupa itu bukan suara yang ditangkap kuping tapi pikiran via telepati long distance.
"Duh kuping elves ku! Sudah dulu, aku belum selesai." Keluh Satella.
"Hei semua diam! Kalian ganggu Satella tau gak." Nada pemalas nya Violetta menegur teman-teman.
Hihihi..
Hanya suara tawa goddess yang terakhir terdengar. Semua suara mulai mereda jadi hening, hanya suara ruang interogasi.
Telepati menjadi tenang...
__ADS_1
"Hai.. lepas hai.. lepas! Kamu tidak boleh membuly penyidik saat kamu menjadi tersangka. Itu melanggar aturan." Penyidik meronta-ronta dikursi yang realnya tak mengikat tubuhnya. Penyidik hampir gila.
"Aturan? Persetan dengan aturan.. karena aku adalah." Mengangkat dagunya dengan gestur bangga.
"Karena aku pemain utama." Bisik Satella, menaruh telapak tangan disamping mulutnya sebagai gestur membisiki pelan.
"Bicara apa sih kamu? Dasar bocah kencur bau bawang." Penyidik pun mengumpat keras karena efek dari dibuat nyaris gila.
"Lihat.. karakter sampingan seperti kamu gak boleh memberi derita kepada main caracter seperti aku." Satella bicara pelan sambil tangan lentiknya diayunkan.
"Kamu pikir kamu main caracter dicerita fiksi kah?" Penyidik makin kehilangan akal, keningnya makin mengkerut karena stress.
"Iya benar," Satella mengangguk dengan ekspresi diam polos yang imutnya kebangetan, setelah itu menjawab, "aku arc mage yang biasanya mengalahkan.. raja iblis yang datang dari dunia lain, yang kuatnya diluar nalar, keren kan."
"KEREN APANYA?" Sentak penyidik dengan penuh rasa jengkel.
"Eh?" Satella diam.
"Gak ada keren.. kerenya! Pemain utama wanita itu tidak keren! Tau tidak. Hahaha, female protagonis pantasnya ada dicerita rutinitas sehari-hari bukanya dicerita genre aksi menantang. Wanita tidak akan keren dengan sesuatu seperti itu." Penyidik Nick memberi perang urat syaraf yang bikin Satella jengkel.
"Female protagonis itu gak keren." Sindir penyidik Nick.
Menanggapi itu Satella melipat tangannya, membuang mukanya kesamping. Dengan wajah yang cemberut dia berkata.
"Kita lihat saja nanti!"
Satella menggeser pandangannya kearah depan. Menunjuk dengan tegas kearah penyidik dan berkata.
"SEKARANG GILIRAN KU!"
"Aku akan bertanya kepada kamu! Siapa pemantra nya?" Satella bilang.
"Eh? Apa katamu beg*o, itu sudah jelaskan.. hei bocah kecil. Kamulah tersangka yang ditetapkan." Jawab penyidik Nick.
"Lalu!" Satella melipat tangannya sambil membuang muka. Saat dia membuang muka rambutnya yang panjang jadi berkibar tinggi.
"Orang bod*h mana yang sudah menjadikan aku tersangkanya?" Tanya Satella dengan raut jengkel.
"Apakah orang tol*l yang bernama Jason yang menjadi saksinya? Ayo jawab!" Satella bernada keras dan emosi, menekan balik penyidik.
"Iya penyidik pertama yang telah menetapkan tersangka." Jawab penyidik kedua.
"Wah aku lupa bertanya padanya." Ucap Satella.
"Tapi memang benar sih. Gimana kamu bisa tahu nama saksi yang menjadi pelapor?" Tanya penyidik.
"Astaga.. guru yang bernama Jason Benar-benar! sebenarnya dia itu? Misterius sih." Satella kesal sendiri bahwa sudah dibuat jadi tersangka selama ini oleh pelakunya.
Satella yang semula berdiri terus duduk. Kemudian duduk sambil berfikir sejenak menaruh telunjuk didagu, berfikir dalam-dalam.
[Satella : kalau sekiranya nanti aku gagal lagi, orang pertama yang akan aku terawang adalah guru Jason.] 🤔
>Satella tambah penasaran dengan guru sihir yang bernama Jason, itu berkaitan tentang identitasnya.
Dalam posisi duduk Satella natap penyidik dengan sorot tajam yang masih menyimpan dendam. Sekali lagi menunjuk-nunjuk tegas kearah penyidik, bersiap meluapkan.
"Ku ingin memberi mu sebuah nasehat! Tolong dengar, ya."
"Berhentilah merendahkan wanita! Baik dengan kata-kata mu itu dan alat-alat penyiksa seperti tali simpul penjerat dan kalung pet yang bikin napas jadi berat. Tindakan mu yang waktu itu membuat ku sebagai lawan gender merasa direndahkan tau gak!"
Atas umpatan Satella, penyidik itu hanya memberi respon.
"Memangnya aku pernah melakukan itu padamu? Kapan?" Pada akhirnya Penyidik dibikin bingung lagi.
Satella membalas dengan berbisik disertai ekspresi malu.
"Kamu mana tahu, cuma aku yang tahu akan kejadian memalukan itu." Bisik Satella. Kemudian mengangkat tangan lentiknya sebelum meluap.
"Pastinya, KAMU MERENDAHKAN BANYAK WANITA KAN, SELAMA INI! ayo ngaku." Satella mengumpat amat murka dan ingin menyakiti.
__ADS_1
"Iya selain tugasku seorang penyidik. Alasan lainnya." Kata-kata penyidik Nick berhenti disini
Nick menunda kata-kata membuat sorot mata bulat besar lucu Satella menjadi kian tajam. Keningnya pun semakin mengkerut mempertegas ekspresi yang nanar. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya.
"Alasan lain karena kedudukan wanita itu tak sebanding dengan laki-laki. Memperlakukan mereka sebagai slave adalah kenikmatan tersendiri." Penyidik Nick ketawa jahat. Satella jadi murka.
"Cih." Satella mendesau.
"Kedudukan wanita tak sebanding dengan wanita, aku tak membantah itu, tapi. Laki-laki sejati seharusnya memperlakukan wanita dengan istimewa, itulah dunia yang indah. Sementara kalau wanita itu hanya dipandang sebagai slave! Berarti ini dunia yang rusak, era dark." Satella memberi argumentasi sebelum ia memulai pembalasannya.
"Pola pikir mu itu sakit!" Satella mengangkat tinju kecilnya.
"Aku ini mage! Tinjuku berkekuatan sihir loh. Tamparan ku menyakitkan walau tidak mengenai kamu secara langsung! Gigimu akan copot saking kuatnya ini." Satella memberikan sugesti hipnosis, sihir ilusinya akan memberi rasa sakit palsu seperti kesakitan yang asli.
Ilusi rasa sakit diberikan !!
Mengangkat tangannya keatas lalu ditarik kebelakang. Kemudian dia mengayunkan tangannya kearah penyidik. Satella mengayunkannya seperti gerakan tamparan. Tetapi tamparannya tidak kena penyidik.
Setidaknya meja yang memisahkan mereka, panjangnya satu setengah meter. Akan tetapi karena ini sihir ilusi dan sugesti telah dimasukan kedalam benak Nick. Maka dalam perspektif penyidik Nick, ia telah menerima tamparan keras hingga wajahnya tersentak kesamping.
Plak...
Tamparan jarak jauh !!
Tamparan bohongan Satella yang diberi kekuatan sihir ilusi, berbuah tamparan jarak jauh untuk Nick.
"Ini sakit." Keluh penyidik, masih terpejam sambil memegangi pipi.
Bagi Nick itu terasa sangat sakit sekali. Walau fisiknya tak terluka sama sekali, sensor syaraf di otak telah memberi sensor rasa sakit.
Dalam penglihatan Nick..
"Oh tidak! Kamu telah melepaskan gigiku. Kamu telah memperburuk penampilanku! Dasar bocah kecil si*alan! Celakalah kamu." Umpat penyidik Nick setelah ia menerima tamparan jarak jauh yang pedih sampai membuat giginya terlepas.
Giginya terlepas hanya bagian dari sihir ilusi yang telah disugestikan oleh Satella sebelumnya..
Suara dari telepati jarak jauh pun datang memotong.
"Wah tamparan jarak jauh.. Tella.. keren." Seru little Iota.
Tapi ide kejam Minerva datang tuk memberi penghukuman yang amat sadistik. Seolah memberikan hukum karma pada penyidik sebagai satu pembalasan diwaktu yang tepat.
"Injak alat pipis laki-lakinya dengan ujung sepatu hak yang keras!" Ujar Minerva memberi ide yang sadis.
Satella naik keatas meja, kini ia berdiri diatas meja.
"Tendangan ku berkekuatan sihir! Kamu bisa jatuh kelantai." Satella memberi sugesti, penyidik Nick percaya kalau ditendang Satella ia akan segera jatuh.
"Tidak!" Jerit penyidik.
Satella yang berdiri diatas meja menendang angin..
Penyidik terpental kebelakang dan terjatuh dilantai.
Satella melangkah kesamping penyidik yang tergeletak dilantai kemudian mengangkat kakinya.
Pertama mengangkat rok panjang yang panjangnya hingga semata kaki itu. Diangkat rok panjang itu hingga memperlihatkan magician boot yang ia pakai itu. Tapi itu bertentangan dengan sugesti yang akan diberikan.
Minerva memberi kata-kata pada Satella untuk diikuti.
"Satella.. ikuti kata-kata dariku ini." Pinta Minerva.
"Lihat sepatu hak tinggi yang aku kenakan ini. Lihat.. bagian haknya sangat keras loh, tetapi aku akan bermain sedikit lembut loh. Ku akan pelan-pelan menyiksa kamu loh." Ancam Satella.
Sugesti diberikan..
Nick memandang sepatu boot yang Satella pakai sebagai sepatu hak tinggi..
Penyiksaan apakah yang akan diberikan Satella sebagai sebuah pembalasan? Kita lihat...
__ADS_1
~bersambung~