Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
kedatangan pangeran kecil


__ADS_3

Pelayan rumah membawa mereka berjalan-jalan di desa. Lewati jalur setapak pinggir kebun kentang dan melewati gubuk yang fungsinya itu seperti kios, itu warung sayur. Melewati banyaknya rumah, kini berada dipusat desa. Area lapang dimana ada air mancur sebagai dekorasi khas ditengah desa itu. Disekitar air mancur ada banyak rumah dan kios-kios. Ada tempat makan khusus orang pedesaan sampai kios perlengkapan yang menjual alat berburu tersedia.


"Wah ... lihat itu, airnya bisa naik keatas." Seru Starla.


"Itu namanya air mancur, dibuku dongeng banyak." Ucap Satella yang bernada jutek.


"Pernah liat secara langsung?" Tanya mbak maid.


"Belum." Jawab Satella.


"Ayo lihat kak." Ajak Starla, menarik tangan kakak kembarnya.


Mereka mendekat ke air mancur dekorasi itu. Dengan usilnya Starla memegang airnya. Spontan airnya terciprat kemana-mana. Satella pun dibuat kesal karenanya.


"Basah oy...." Omel Satella.


"Maaf kak." Starla cengar-cengir.


"Yuk lanjut!" Ajak maid.


Mereka berdua mengikuti mbak pelayan rumah, pergi ketempat lainnya. Yang dilewati mereka itu adalah rumah kayu tingkat dua. Rumah kayu itu lumayan besar, seperti sebuah asrama. Didekatnya ada lapangan rumput yang sedang dipakai latihan pedang kayu oleh pemuda di desa ini.


"Mbaknya ... mereka lagi apa sih?" Tanya Starla, Starla yang awalnya dituntun menjadi menarik-narik tangan mbak maid.


"Mereka pemuda desa, mereka itu mengikuti pelatihan pedang untuk menjadi milisi desa." Jawab maid.


"Oh ... aku gak ngerti." Seru Starla, sambil cengar-cengir.


Melanjutkan langkahnya.


"Banyak anak-anak." Seru Starla memandang kearah taman rumput pendek yang dipagari kayu.


"Itu anak-anak desa." Ucap maid.


"Hai ... hai, oy ... putri salju." Seru seorang bocah.


"Eh, itu yang kemarin kak." Ucap Starla, menoleh.


"Hiraukan saja." Balas Satella.


Bocah ingusan berambut pirang mendekat.


"Putri salju...." Seru bocah ingusan, sudah berposisi dekat.


"Ini aku, Artha." Bocah ingusan menagih jabat tangan.


Satella dan Starla memandang satu sama lain.


"Kak Stella ... kak Stella, sepertinya anak ini aneh." Seru Starla.


"Dik Stalla ... dik Stalla, sepertinya anak ini memang beneran aneh deh." Sahut Satella.


"Hehehe ... aku memang anak aneh." Artha cengar-cengir seolah merasa sedang dipuji.


"Kak Stella ... kak Stella, anak ini senang karena dikatain aneh. Anak ini beneran aneh kak." Seru Starla.


"Dik Stalla ... dik Stalla, makanya jangan deket-deket nanti kamu bisa ketularan aneh." Balas Satella.


Mbak pelayan rumah pun terkekeh karena tingkah putri majikannya.


"Permisi adek, kita mau pulang ya." Kata pelayan rumah.


Mbak maid putar badan kemudian berjalan terus kedepan, menuntun putri majikannya. Satella dan Starla dituntun pulang, Satella menoleh kebelakang sambil menjulurkan lidahnya mengolok-olok Artha.


Skip....


Waktu pun maju satu hari, hari ini adalah min satu sebelum winter. Datanglah seorang tamu, bukanlah sembarang tamu. Yang datang itu adalah seorang permaisuri dan putranya. Saat ini putri kembar sedang berada dikamarnya lalu datanglah seorang pelayan rumah.


"Permisi tuan kecil." Seru pelayan rumah berseragam maid.


"Kenapa mbak?" Tanya Satella.


Kala itu Satella dan Starla sedang mengacak-acak kamarnya karena mereka bermain boneka dan juga miniatur rumahnya. Ada kepingan puzzle berserakan, mungkin saja Satella kecil kesal karena kesulitan menyelesaikan puzzle nya.


"Dipanggil nyonya." Jawab mbak maid.


"Ibu manggil kita?" Satella berdiri.


Satella melangkah keluar kamar. Starla menyusul kakak kembarnya sambil berkata.


"Beresin kamar kita ya mbak." Seru Starla dengan wajah usilnya.


Skip....


Ruang tamu.


Akhirnya Satella tiba diruang tamu rumahnya. Yang dilihatnya saat itu adalah ibunya sedang duduk-duduk dengan seorang tamu. Tamunya itu adalah seorang wanita Borjuis yang seperti berusia tiga puluh tahunan keatas. Tamunya adalah wanita berumur lebih tua dari ibunya, itu yang Satella pikir. Padahal kalau dilihat dari segi usia maka ibunya yang sebenarnya lebih tua daripada tamunya itu, Satella lupa hal itu.


Satella lupa bahwa ibunya adalah seorang elves. Secara real ibunya berusia 400 tahun. Akan tetapi sang ibu, dari segi fisik terlihat seperti wanita berusia pertengahan dua puluhan. Dan sesampainya Satella.


"Pagi ibu...." Seru Satella.


Ibunya menoleh, begitupun tamu ibunya.


"Kemari nak ... dan mana adikmu?" Tanya ibunya.


"Dik Stalla lelet buk." Sahut Satella.


Tamu tersenyum karena tingkah lucunya Satella kecil.

__ADS_1


"Lucunya ... imutnya." Seru tamu.


"Makasih." Sahut Satella kecil yang tersenyum sambil memiringkan wajahnya, ia terpejam.


Tamu ibunya adalah wanita yang Borjuis. Wanita ningrat dengan pakaian sangat mewah. Memakai gaun permaisuri warna merah. Wanita ningrat itu memiliki warna rambut pirang, rambutnya tidak terurai tetapi disanggul rapih.


"Siapa namamu." Seru tamu.


"Namaku Stella." Jawab Satella.


"Imutnya." Sahut tamu.


Sementara ibunya memotong.


"Satella kalau dalam logat bangsa elves, namamu Satella bukan Stella. Nama sebuah bintang dengan rona biru pada cahayanya." Kata Ibunya.


"Kenapa sih, masalah banget. Kata ayah boleh kok dibilang Stella." Komentar Satella, ia cemberut.


"Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang." Canda tamu.


Tau-tau Starla baru sampai dan bersembunyi dibalik tubuh kakak kembarnya.


"Itu siapa?" Seru tamu dengan nada menahan tawa.


"Dia adikku, namanya Stalla. Stalla orangnya pemalu dan juga penakut." Kata Satella.


"Yang benar Starla." Potong ibunya.


"Gess ... iya buk iya, Stalla." Berniat mengucapkan yang benar tetapi ia kesulitan. Alhasil sang tamu pun dibuat terkekeh lagi.


"Kemarilah nak...." Seru tamu.


Satella menoleh kearah pintu dan menyadari ada sosok anak laki-laki sedang bersembunyi dibalik pintu.


"Takut apa sih...." Seru Satella yang bernada judes.


"Jangan judes ya." Tegur ibunya.


"Aku kan gak serem!" Ucap Satella wajahnya kesal, nadanya judes.


"Masuklah Philips!" Seru tamu.


"Apakah itu pangeran kedua, ratu Johana?" Seru ibu Satella.


"Iya benar, nyonya Shiela." Balas tamunya.


Ternyata tamu mereka bukanlah orang ningrat, tetapi ada di kasta lebih tinggi lagi. Mereka keluarga kerajaan yang starta nya sosialnya lebih tinggi lagi dari kaum ningrat.


"Tadinya aku mau mengajak putra keduaku untuk aku perkenalkan dengan Diana." Ratu bilang.


"Diana sudah pergi ke ibu kota." Jawab nyonya Shiela.


"Begitu." Ucap ratu.


"Ayo...." Seru Satella, sambil terus menarik Philips kecil.


"Mau pergi kemana, dik Stalla!" Satella mengomeli adiknya.


"Aku malu kak." Jawab Starla.


Secara bersamaan Satella segera menarik lengan adiknya juga.


"Namamu, siapa namamu!" Tagih Satella.


"Aku, Philips." Jawabnya, bernada malu-malu.


"Kalau begitu, aku Stella." Balas Satella.


"Yang benar itu Satella!" Ibunya memprotes.


"Sebel...." Gumam Satella.


"Apa kita seumuran?" Tanya Satella.


"Usiaku delapan tahun." Jawabnya.


Satella terdiam sejenak dengan suara-suara napas yang lucu saat sedang merenung, bergumam.


"Aku enam tahun loh. Berarti aku memanggilnya kakak atau panggil pangeran saja, bagusnya apa ya?" Satella bergumam.


"Panggil kak Philips saja kak." Usul Starla.


"Ah baiklah, aku akan memanggil Philips saja." Seru Satella.


"Eh...." Starla kaget.


"Gak sopan!" Ibunya menjitak kepalanya Satella.


"Apa dong?" Satella cemberut.


Sementara adiknya bilang.


"Panggil aja, tuan pangeran." Usul adiknya.


"Eh, iya, kamu belajar dari mana?" Tanya Satella pada adiknya.


"Aku baca buku cerita berwarna." Balas Starla.


"Buk, aku boleh main tidak?" Tanya Satella.

__ADS_1


"Boleh." Balas ibunya.


"Maksudnya pergi ke desa, bareng pangeran Philips buk." Ujar Satella.


"Gak boleh!" Balas ibunya.


"Sebel...." Satella merajuk.


"Yaudah aku main didalam saja!" Satella memalingkan wajahnya dengan wajah jutek yang imut.


"Ajak pangeran Philips ya nak...." Ibunya bilang.


"Dik Stalla...." Seru Satella sambil berjalan tanpa menatap adiknya.


"Iya kak?" Sahut Starla, sangat imut.


"Ajak pangeran!" Perintah kakak kembarnya.


"Ayo ikut." Ajak Starla.


Starla menuntun Philips kecil memasuki ruangan.


Skip....


Dapur.


Lagi-lagi yang Satella kecil lakukan menarik-narik rok pelayan rumah. Yang diinginkan Satella sudah pasti ditemani pergi ke desa. Yang Satella pikir, ia sangat jenuh karena harus berada dirumah terus. Sesekali ia ingin bisa pergi kemanapun.


"Iya-iya, putri kecil." Ucap maid.


Skip....


Meanwhile.


Sementara itu di desa, anak-anak asiknya bermain. Disana ada dua sekawan sedang bermain di taman yang disebut garden.


"Hei Rain...." Seru Artha.


"Kenapa Artha?" Sahut Rain.


"Ayo kita pergi ke mansion." Ajak Artha.


"Untuk apa kita pergi ke mansion? Nanti nyasar loh, aku belum pernah pergi kesana." Tolak Rain.


"Aku ingin bertemu dengan putri salju." Rengek Artha.


Lalu mereka melihat sekumpulan teman-teman sedang berkumpul.


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres, disana." Artha menunjuk ke arah teman-teman yang lagi asik berkumpul.


Artha mendekat menuju kearah kerumunan bocah.


"Hei tunggu, Artha!" Seru Rain.


Rain pun menyusul Artha.


"Ada apa ini man teman?" Artha bertanya.


"Ada lagi seorang anak yang hilang kemarin, anak itu sepertinya telah dimakan oleh Kappa." Jawabnya.


"Kappa?" Rain bernada bingung.


"Dimana?" Tanya Artha.


"Terakhir, ada anak yang melihat Kappa di danau belakang mansion." Ujar temannya.


"Kalau begitu ayo lihat!" Artha memberikan usulan.


"Kamu aneh ya, Kappa itu mahluk berbahaya tau!" Tegur temannya.


"Kelak aku akan menjadi jendral kesatria, aku gak takut dengan binatang sihir apapun!" Seru Artha dengan penuh keyakinan.


"Kamu mimpi ya!" Omel temannya.


Kemudian ada bocah gendut yang mendatangi Artha. Dibandingkan dengan anak-anak seusianya bocah tersebut amat besar, malahan dia lebih mirip seperti orang dewasa.


"Kalau mau berburu Kappa, kalian harus membawa mentimun sebagai umpan." Kata bocah gendut.


"Iyakah." Sahut Artha.


"Ngomong-ngomong dimana letak mansion itu?" Tanya Artha.


Bocah gendut memberitahu.


"Ikuti jalan itu, lalu, lalu lurus terus maka kamu akan bertemu dengan mansion. Nanti ada jalan memutar melewati semak-semak dan hutan kecil, itulah jalan memutar menuju danaunya." Kata bocah gendut.


"Antar saya!" Pinta Artha.


"Oke...." Sahut bocah gendut.


Mereka pun pergi menuju jalan setapak yang berakhir kesebuah mansion keluarga ningrat.


Kemudian....


Sementara itu Satella dan pelayan rumah baru saja keluar pagar rumahnya. Diikuti juga adiknya beserta Philips kecil. Sebenarnya Satella pergi main ke desa tanpa diberi izin dari ibunya, Satella kecil sungguh nakal anaknya. Ketika perginya tidak lewat ruang tamu, tetapi lewat pintu belakang alias memutar terlebih dahulu.


Mereka berjalan dijalan setapak kemudian ada teriakan bocah memanggilnya.


"Oy, putri salju...." Seru bocah itu.

__ADS_1


"Eh, dia lagi!" Satella kesel.


~bersambung~


__ADS_2