Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
pelakunya ketemu


__ADS_3

Note : karena ini bagian penting, makanya bakal dibikin spesial chapter. Ini spesial chapter makanya lebih panjang daripada bagian part biasa.


______________________________________


Satella ketemuan dengan Minerva dimalam hari ketiga. Mengobrol barang sebentar secara tak terduga menjadi akrab. Satella tak pernah menyangka bisa akrab dengan cewe segalak Minerva. Satella mencapai relationship yang bagus dengan Minerva pada loop waktu ketiga.


Setelah puas merumpi dikursi panjang lorong dekat kafetaria sekolah, Minerva meraih tangan Satella. Satella ditarik pelan lalu dituntun masuk kedalam ruang kafetaria sekolah.


"Yang ulang tahun adalah teman sekelas aku loh." Kata Minerva.


Mereka berdua memasuki ruang kafetaria sekolah. Sesampainya didalam, ruang itu nampak penuh padahal ini sudah larut malam. Uniknya adalah, Satella bersama Minerva menjadi sorotan banyak anak laki-laki disana. Seolah-olah mereka itu sepasang primadona sekolah yang cantiknya diidolakan kebanyakan siswa sekolah. Kalau kecantikan jelaslah Minerva lebih unggul, Minerva itu sangat cantik dengan rambut ekor kudanya yang menampakkan kening jenong tapi tidak terlalu lebar. Bentuk kening Minerva serasi dengan model poni dirambut nya.


Berjalan bersama Minerva yang cantik tidak membuatnya seperti cahaya redup disamping cahaya terang nan silau. Akan tetapi justru Satella lah yang daya pikatnya lebih unggul dari Minerva. Satella juga cantik tetapi saya tariknya adalah keimutan wajahnya. Satella punya garis wajah yang sama imutnya dengan sosok gadis belia berumur sepuluh tahun, saking imutnya.


Mata bulat besar Satella nan imut menatap dengan ekspresi bengong kearah banyak mata yang terkagum melihatnya.


"Anu.. Minerva." Gumam Satella.


"Iya.. kenapa?" Sahut Minerva.


"Kenapa cowok-cowok melihatku terus? Apa aku bertingkah konyol atau semacamnya itu? Penampilan aku malam ini apa memalukan atau semacamnya. Aku agak risih juga malu." Keluh Satella.


Minerva membalas dengan gestur berbisik. Menaruh tangan disisi bibirnya, Minerva berbisik pelan.


"Bukan.. bukan itu, mereka kagum padamu." Bisik Minerva.


"Kagum? Loh.. begitu, memang aku ini ratu apa?" Satella dengan nada lugunya, mimik diam yang polos.


"Soalnya kamu cantik." Minerva menjawab pelan sambil berjalan menuntun Satella, mencari kursi kosong untuk dua orang.


"Cantik? Aku, biasa aja, kurasa." Satella dengan ekspresi diam yang kelihatan imutnya.


Mereka melewati tempat yang diduduki beberapa laki-laki yang tidak henti menatap. Melewatinya terdengar omongan-omongan.


"Wajah diamnya imut, seimut adik perempuan berusia sepuluh tahun." Gumam seseorang, menampakkan wajah kagum.


Satella tambah bengong setelah mendengar ucapan tanpa sadar keluar dari mulut orang itu.


Tiba-tiba Minerva berhenti jalan kemudian menoleh kemeja yang berada didekatnya. Dia menatap kelompok anak laki-laki dengan ekspresi galaknya.


"Kenapa lihat-lihat aja!" Minerva dengan nada meninggi. Melototin sekumpulan anak laki-laki itu.


"Maaf.. kami hanya kagum karena imutnya siswi disebelah kamu itu Minerva." Jawab salah satu dari kelompok itu. Kemudian seorang disebelahnya komentar.


"Apa ini teman sekelas kamu bro? Wajah galaknya itu mempesona cantiknya." Komentar siswa cowok.


"....." Sorot mata galak dipadukan dengan bibir dengan lekuk senyum tipis diwajah Minerva.


Kemudian Minerva yang dari awal menuntun Satella, menarik tangan lentik itu untuk lanjut jalan.


"Tuh kan kamu dengar! Mereka memuji imutnya wajahmu itu tau, Satella." Ujar Minerva, meluapkan senyum merekah yang tadi dia tahan-tahan. Setelah menjauh dari sekumpulan siswa cowo barulah dilepaskan senyumnya.


"Oke deh.. kita duduk disana saja." Minerva telah memilih tempat tuk duduk. Adalah meja dan kursi yang berkapasitas enam orang, tapinya mereka duduki berdua saja.


Kemudian..


Akhirnya mereka berdua duduk dimeja dan kursi yang sama.


"Lihat meja itu! Itu siswi yang berulang tahun. Dia teman satu kelasku." Ujar Minerva.


Minerva menunjukkan meja yang ditempati oleh sang pembuat pesta pada Satella. Mereka berdua duduk ditempat yang tak terlalu jauh dari meja si pembuat pesta ini jadinya dapat memperhatikannya.


Meski ini acara santai, tapi para murid disini masihlah memakai kemeja putih dengan almamater sekolah sihir. Almamater sekolah bentuknya seperti jubah penyihir pada umumnya. Tapi jubah yang disebut almamater sekolah sihir disini punya model lebih fashion.


Awalnya siswi pembuat pesta itu duduk bersama dua teman lainnya yang sesama siswi cewe. Dimeja itu sudah ada kue tart cokelat dengan banyak hiasan krim. Sebuah kue besar yang rupanya sangat indah tertata sedemikian rupa. Ada lilin berbentuk angka 18 diatas kue itu.


"Mereka bertiga akrabnya persis seperti kita kalau lagi diruangan kebutuhan kan." Bisik Minerva.


[Note : yang Minerva maksud kita adalah kelompok Eris order.]


Tidak lama kemudian datanglah seorang laki-laki mendekati siswi pembuat pesta. Saat laki-laki itu mendekati siswi pembuat pesta, kedua teman siswinya pergi. Itu membuat hanya sepasang cowok cewek saja di meja sorotan. Tapi sesuatu membuat Satella merasa sedikit ganjil adalah.


"Hei.. Minerva, bukankah pria itu seorang guru?" Tanya Satella seraya berbisik kecil.


"Iya itu memang guru." Minerva menjawab.


"...." Wajah Satella bengong.


"Kelihatan sangat muda, makanya temanku itu kelihatan naksir sama guru itu." Ujar Minerva, berbisik.


"Temanmu itu, siapa namanya?" Tanya Satella.


"Rika."


"Aku kira kamu akan menanyakan guru muda itu?" Tanya Minerva.


"Kurang tertarik buat tahu tentang orang itu." Balas Satella, datar.


Beberapa saat suara-suara dari sekumpulan orang yang ngerumpi menjadi hening. Penyebabnya itu karena siswi pembuat pesta telah berdiri. Mungkin saja siswi itu berniat menyampaikan sesuatu.


"Terimakasih.. temanku sekalian karena mau datang ke perayaan ku yang sederhana ini. Silahkan saja memesan apapun yang kalian suka karena aku akan mentraktir kalian yang datang." Ujar Rika.


"Selamat ulang tahun Rika." Seru beberapa siswi yang berada dimeja paling depan dekat pembuat pesta.


"Terimakasih temanku sekalian." Sahut Rika, dengan senyum yang merekah dengan rasa sukacita.


"Itu adalah teman dekatnya Rika, mereka teman kelasku juga." Bisik Minerva pada Satella.


Seorang guru yang duduknya satu tempat dengan Rika segera ambil sesuatu dari saku. Kemudian itulah korek api gas. Dinyalakan korek itu untuk menyalakan lilin angka 18.


"Tolong buat pengharapan Rika." Sosok guru muda itu bicara pada siswi pembuat pesta ini.


Rika sambil berdiri menaruh dua tangannya rapat dengan telapak saling menyatu. Rika dengan gestur berdoa, memejamkan mata seolah membayangkan keinginan dalam hatinya. Setelahnya Rika membuka matanya dan meniup lilin. Setelah lilin tertiup padam, ramai-ramai suara tepuk tangan terdengar jelas.


Rika menampakkan rona gembira karena gemuruh tepuk tangan itu didengarnya. Tak lama beberapa pegawai kafetaria mendatangi satu demi satu meja untuk menanyakan pesanan orang-orang yang datang.


Beberapa saat kemudian..


"Mau pesan apa?" Pegawai kafetaria ini, pada umumnya berpenampilan kemeja putih dan celana hitam.


"Jarang makan sebelum tidur sih. Snack aja deh." Sahut Satella.


[Note : Snack disini itu semacam kencang goreng dan sosis goreng.]


Kemudian..


Sesi makan-makan baru berjalan sekitar sepuluh menit. Tau-tau ada yang tidak terduga terjadi. Minerva menepuk-nepuk bahu Satella saat memberitahu momen penting dari ruang kafetaria tersebut.


"Apa?" Tengok Satella.


"Lihat itu! Momen ketika guru muda itu memberi hadiah kepada siswi tersebut." Minerva jadi heboh.


"Lalu?" Satella sambil melihatnya.


Guru tersebut memberikan cincin kepada siswi yang bernama Rika itu kemudian sebagian orang pun jadi seheboh Minerva.


"Itu cincin yang nyentrik." Satella memberi komentar dengan wajah bosan seperti habis nonton acara sinetron di televisi 62+ saja.


Dan beberapa setelah Rika pakai cincin tersebut, hal tak terduga terjadi dalam sekejap saja


Kemudian sang guru yang telah memasang horcrux sang pangeran kegelapan itu segera melakukan sesuatu. Tanpa disadari, ketika Minerva dan Satella sedang sibuk berduaan, guru itu menyiapkan semacam ritual. Sebuah gulungan, magic scroll sekali pakai disiapkan beserta batu biru yang biasanya digunakan untuk simpanan MP.

__ADS_1


[Note : MP itu mana point, blue gemstone itu sarana untuk mana cadangan para mage.]


[Note : magic scroll adalah mantra yang disimpan penyihir di kulit binatang atau monster. Biasanya mage punya spesialisasi sihirnya tersendiri, kadang magic scroll menjadi sarana bagi mage untuk memakai sihir yang tidak dikuasai olehnya, semacam sihir instan.]


Magic scroll sekali pakai semula dipegang guru muda itu, kemudian terbakar oleh api biru. Pertanda bahwa magic scroll dikonsumsi kemudian mantra sihir pun keluar secara instan, magic circle muncul.]


"Aku menumbalkan tubuh siswi perempuan ini untuk jadi wadah pangeran kegelapan! Transkripsi jiwa." Guru memakai magic scroll.


Transkripsi jiwa !!


Jreng.. jreng.. jreng..


Sosok Rika berubah wujud menjadi sosok gadis yang mirip Satella tapi dengan kuping manusia. Sebagian orang terkejut sebagian masa bodo. Tapi khusus Satella efek shock nya sangat tidak terkira.


"Ja.. ja.. ja.. jadi itu dia! Itu siluet hitamnya." Satella terkejut.


Pertama, bagaimana sosok siswi baik-baik bisa berubah jadi sosok doppelganger berwujud Satella. Kedua, kenapa seorang guru sihir merubah siswi jadi doppelganger bermodalkan cincin misterius itu. Ketiga, apa motif seorang guru menyerang sekolah dihari ketiga sampai dengan hari keempat.


"Hei.. Minerva aku takut." Satella menarik lengan baju Minerva yang tangan bagian atasnya kekar lebih mengarah ke atletis itu.


"Pastilah.. itukan sosok pangeran kegelapan!" Sahut Minerva.


"Maksudmu Bellatrix?" Satella.


"Alasan selama ini aku kurang suka sama kamu adalah karena kamu dan pangeran kegelapan itu mirip sekali rupanya. Yang beda dari kalian itu hanya bentuk kupingnya saja dan warna iris matanya." Ujar Minerva.


"Tapi? Pangeran kegelapan sudah disegel dalam sebuah bola kristal, disimpan dikementerian sihir kan." Sahut Satella.


"Itu empat abad yang lalu. Bahkan sebelum penyihir white mage yang bernama Gandalf menyegelnya, dia terlebih dahulu membagi jiwanya kedalam benda mati! Horcrux itu adalah sarana menyimpan fragmen jiwa, sebagai cadangan nyawa dan sihir keabadian." Ujar Minerva.


"Ini gawat! Orang-orang pastinya akan mengira pangeran kegelapan sebagai diriku." Satella jadi shock.


"Aku akan memberikan kesaksian." Bela Minerva.


"Sungguh." Satella.


"Sekarang kita harus segera pergi." Ujar Minerva.


"Tapi bagaimana dengan orang lain?" Tanya Satella.


"Jangan naif! Menyelamatkan diri sendiri aja udah untung ya." Tegas Minerva dengan wajah galaknya kambuh kembali.


"Kalau kita bisa selamatkan murid lainnya kenapa tidak?" Ucap Satella yang masih bersikeras.


"Jangan serakah! Kalau kamu mau menyelamatkan semua orang yang ada disini, bisa-bisa malah nyawa kamu sendiri yang melayang tau!" Sentak Minerva, memarahi Satella.


"Kamu salah.. apa salahnya kalau tidak dicoba." Satella pun terjebak perdebatan alot dengan Minerva.


"Satella.. stop! Jangan seperti itu! Nanti kamu celaka." Tegas Minerva memberi warning.


"Biarkan saja.. yang penting aku memberi arti kepada orang-orang, karena aku mau baik kepada siapa saja, aku mau semuanya juga ikut selamat bukan cuma aku sendiri." Satella tak berhenti menentang Minerva dan teguh pada pendirian.


Baik Minerva dan Satella tak ada satupun yang mengalah. Dengan masing-masing pada keputusan sendiri, hingga Minerva dengan kesalnya mengangkat tangannya.


Plak..


Tangan kanan Minerva menampar wajah Satella dengan kuat. Satella terdiam shock setelahnya, sorot matanya melambangkan rasa takut. Baru sebentar meresapnya tetapi datang satu tamparan lagi sekarang tangan kiri Minerva menampar pipi kanan Satella dengan lebih kuat.


Terdiam memegang pipinya. Sorot matanya bergetar lirih, perasaan menjadi shock dan ciut. Tanpa ada ucapan apa-apa Minerva menarik tangan Satella dan memaksanya berjalan mengikutinya. Baru saja bergegas keluar, seseorang didekat pintu keluar malah berlari masuk kedalam. Orang itu nampak sangat ketakutan, berlari dan berteriak.


"Ada ular.. ada ular.. ular besar! Ada ular disana." Orang itu teriak dan berlari ketakutan.


"Ah.. ular?" Minerva bengong yang bercampur heran.


"Itu dia, ular balisik." Gumam Satella.


"H~~huh balisik?" Minerva sedikit kaget.


"Ya.. ampun maaf, gara-gara aku marah kamu jadi ciut begitu mimik wajahnya." Minerva memeluk dan mengelus punggung Satella barang sebentar sebelum ambil tindakan.


"Pipiku sakit nih, untung saja gigiku tidak lepas." Keluh Satella.


Kedua pipi Satella nampak merah akibat ditampar keras oleh tangan kekar Minerva yang atletis itu.


"Tapi gimana cara untuk tidak melihat matanya? Mana bisa kan." Minerva kebingungan.


Situasi ini bagaikan diujung tanduk apapun keputusan yang diambil tak ada jaminan selamat.


Bagaimana tidak..


Pertama, terjebak didalam ruangan dengan ular balisik masuk melalui satu-satunya pintu keluar dimana tidak ada jalan lain untuk kabur. Kedua, bagaimana caranya untuk menghadapi ular balisik apabila dilarang menatap mata ular balisik.


Ketiga, satu kali kena taring ular balisik bisa mati kalau tak segera ditangani, taring balisik hanyalah sekeras belati, apabila tangan kena tikam belati pasti tak akan mati karena itu bukan titik vital bukan.


"Ya.. ampun." Minerva resah lalu Satella terdiam pasrah.


Suara teriakan mulai terdengar riuh sekali. Khususnya jeritan siswi cewe yang hadir di pesta ulang tahun Rika yang telah ditumbalkan sebagai wadah dari jiwa pangeran kegelapan. Jeritan itu menandakan ular balisik sudah memasuki ruang kafetaria.


"Duh.. aku sangat useles." Ucap lirih Satella, tertunduk lesu tak mampu bergerak dengan lutut gemetaran membayangkan sosok ular balisik dengan panjang tubuh sekitar lima belas meter lebih, diameter tubuh ular balisik cukup besar untuk menelan gajah ataupun badak.


"Kamu nih ngomong apa!" Minerva mencengkeram bahu Satella lalu digoyang-goyang untuk membuat sadar dari rasa tak berdaya.


"Habisnya aku bilang kepengen selamatkan banyak orang tapinya malah gak bisa berbuat apa-apa." Satella lirih, masih tertunduk sedih dengan rasa sendunya.


"Ga.. kamu gak salah!" Minerva memberi pembelaan.


"Tapi aku." Satella belum selesai dengan kata-kata, Minerva sudah menyumpal dengan jari telunjuk. Sehingga kata-katanya tak bisa dilanjutkan.


"Aku." Satella akan menyalahkan dirinya lagi. Tapi dihentikan oleh Minerva yang memakai telapak tangannya untuk menyumpal lagi bibirnya.


"Diam jangan bicara! Diam atau ku sumpal mulutmu dengan mulutku paham." Minerva membujuk agar Satella tidak menyalahkan diri lagi.


Satella mengangguk.


Belum sempat mengatakan apa-apa lagi tau-tau Minerva menarik paksa tangan lentik Satella. Ditarik hingga keujung tembok yang jauh dengan pintu masuk. Upaya Minerva untuk melarikan diri dari ular balisik.


Disisi lain beberapa murid terkena kutukan stone curse akibat tidak sengaja menatap mata ular balisik yang datang. Pintu masuk kafetaria adalah pojok kiri atas, sementara Minerva menarik tangan Satella untuk berlari kepojok kanan atas.


"Jangan rewel ya! Karena aku akan menyelamatkan kita berdua." Ujar Minerva, mengepalkan tangannya, mengumpulkan kepadatan energi sihir ditangannya.


Minerva menggunakan sihir yang berelement tanah. Memukul lantai dan mengakibatkan satu gelombang kejut, gelombang kejut berupa circle angin. Secara bersamaan gelombang kejut berbentuk circle meretakkan lantainya hingga pecah dan ambruk kelantai bawah. Kafetaria ada pada lantai empat, kemudian ambruk kelantai tiga, yaitu ruangan praktik alkimia ramuan sihir.


"Kamu gak apa-apa?" Minerva yang terlihat seolah gak sakit sama sekali dengan tubuhnya atletis yang kuat.


"Pantatku sakit." Keluh Satella yang baru saja jatuh satu lantai.


"Masih mending, daripada kepala atau punggung yang membentur lantai." Dengan teganya Minerva langsung memaksa Satella untuk langsung bangun tanpa recovery.


Minerva menarik tangan Satella untuk memaksanya berlari menuju pintu keluar. Tapi pintunya dikunci dari luar sehingga mereka terjebak didalamnya. Minerva tak habis akal.


Alih-alih mendobrak pintunya yang dilakukan Minerva adalah membuat bolong temboknya dengan kekuatan sihir element tanah. Merapal sihir tanah, tanpa disentuh dindingnya retak sendiri menyebabkan sebuah lubang sebesar pintu keluar. Dengan cekatan Minerva memaksa Satella untuk bergegas cepat. Tetapi tangan Minerva ditangkis oleh Satella.


"Mau kemana?" Tanya Satella.


"Sudah jelaskan! Kita pergi keruang kebutuhan, bertemu dewi Eris." Ujar Minerva.


"Berarti kita akan melewati lorong lantai empat kan? Dari pada begitu dan bertemu balisik serta pangeran kegelapan, lebih baik tuk menuruni tangga, segera kabur keluar kastel akademi. Bertemu dewi Eris bisa besoknya kan saat keadaan sudah sedikit lebih aman." Ujar Satella.


"Ya.. ampun, kamu benar, pintarnya kamu." Balas Minerva.


Akhirnya Minerva bersama Satella memilih kabur keluar kastel sekolah dan jauh-jauh dari balisik.

__ADS_1


[Note : kalau merek milih menaiki tangga untuk sampai kelantai tujuh bisa saja kena tatapan ular balisik yang mengandung kutukan.]


Tentang kenapa Minerva bisa kena stone curse di loop waktu pertama bisa jadi karena Minerva memilih untuk menerobos keluar saat ular balisik berada didepan pintu masuk kafetaria. Kelihatan bahwa Minerva berusaha menyelamatkan Satella. Sebenarnya Satella lah yang telah menyelamatkan Minerva. Dengan kata lain, Keputusan Satella sangat krusial dalam keselamatan mereka.


Skip..


Protokol utama.


Minerva dan Satella kini berada dijalanan dekat kastel akademi. Sepertinya waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Cepat jalannya! Ini larut malam, gimana kalau ada orang jahat yang mengganggu kita." Tegas Minerva, menarik tangan Satella memaksa terus melangkah dengan cepatnya.


"Kita cari penginapan dekat sini." Minerva menuntun Satella untuk menyebrang ke Elevenia street.


"Kalau tidak salah di persimpangan jalan ini, ada banyak penginapan." Ujar Minerva, menengok ke setiap bangunan bertingkat.


Beberapa saat kemudian..


Mencari dan mencari.


"Itu disana." Minerva menunjuk kearah sebuah penginapan dengan papan bertuliskan motel. Adalah tempat sewa kamar per malam.


Tanpa banyak bicara mereka pun bergegas disana. Baru saja masuk kedalam motel, ruang pertma yang nampak adalah sebuah resepsionis penerima tamu pada pandangan kedepan dari pintu masuk. Disisi kirinya adalah tempat yang mirip seperti bar, dengan lantai kayu dan banyak meja kursi. Banyak orang dewasa terutama pria nongkrong ditempat tersebut, ada juga gadis dewasa sampai perempuan usia kepala tiga yang menjadi partner beberapa pria echi. Lingkungan kurang begitu baik sebenarnya.


Baru saja melangsungkan kakinya beberapa langkah saja dan Minerva dibuat kesal. Bagaimana tidak, ada suara siulan yang agak melecehkan Minerva dan Satella gesturnya sebagai lawan gender. Tapi kurang begitu dilayani oleh Minerva yang fokus menuju staf resepsionis.


"Ada kamar kosong?" Minerva.


Petugas resepsionis motel seperti masih muda. Kalau boleh ditafsir usianya 24 tahun. Awalnya pria resepsionis itu memberi gestur menggoda Minerva. Tapi setelah mendapat ekspresi tergalak nya Minerva dengan gestur kepalan tangan atletisnya, akhirnya staf resepsionis ciut juga.


"Maaf nyonya muda, kami masih punya banyak." Pegawai motel mengambil kunci kamar.


"Semalam lima keping koin silver, nyonya muda." Kata resepsionis.


"Baiklah." Minerva langsung saja memberi keping koin perak pada petugas resepsionis motel tanpa banyak basa-basi. Resepsionis langsung memberi kunci dengan gantungan nomor kamarnya.


"Maaf tapi." Resepsionis terlihat mengangkat tangan seperti gestur hendak bertanya, tapi Minerva menatap ketusnya.


"Apa?" Minerva menyentak sambil menggebrak meja resepsionis.


"Apakah kalian pasangan Yuri?" Tanya petugas resepsionis.


"Bukan kok dasar jones! Asal tuduh aja ya.. gak sopan banget." Minerva mengomel barang sebentar hingga ciut lah wajah resepsionis itu.


"Maaf." Resepsionis menelan ludah.


Resepsionis mengangkat tangan seperti ingin memberi nasihat.


"Hati-hati nyonya karena disini lingkungan yang gak baik, banyak orang jahat." Kata resepsionis.


Tapi dengan juteknya Minerva menanggapi dengan..


"Sok PEDULI banget! Dasar orang kesepian yang pansos." Minerva menebar cacian, mengambil kunci kemudian meninggalkan petugas resepsionis yang menekuk muka.


"Sabar." Batin resepsionis sambil terpejam dan mengusap dadanya.


Skip..


Awalnya seperti ada kelompok pemuda mengikuti. Berjalan agak cepat di lorong penginapan sambil mengerutkan keningnya yang tak tertutup poni. Minerva mengendus aroma tidak beres yang membuat dirinya akan murka lagi. Pura-pura salah belok dan terjebak di lorong yang buntu. Minerva berminat tuk memberikan perhitungan.


"Ya.. ampun, jalan buntu." Minerva bilang.


"Cepetan! Aku ngantuk." Satella mengeluh.


Benar saja saat Minerva berbalik badan, benar saja ada sekumpulan pemuda yang berdiri dihadapan Minerva. Menghadapi itu Minerva menghela napas panjang seraya terpejam, mengepalkan tangannya dengan kening yang mengkerut.


"Nyonya muda kening jenong nya mengkerut karena lihat kamu tuh." Gurau salah satu diantara mereka.


Minerva mendesis karena merasa risih, berniat menerobos mereka untuk segera istirahat. Tapi malah dihalangi dengan tangan kotor mereka menarik bahu Minerva.


"Ya.. ampun bahunya kekar sekali nyonya blonde berbuah besar ini." Seseorang yang menghalangi itu segera berkomentar.


"Kalian mau apa! Ya." Minerva bernada jutek.


"Jangan jutek gitu nyonya cantik bahenol, barang kali anda butuh pelayanan dari kami." Kata orang berkelompok itu.


"Maaf aku tidak butuh." Minerva membuang muka.


"Tadi aku lihat dia pegangan tangan bos, mereka ini yuri sepertinya." Kata seorang dari mereka. Minerva pun mendesis kesal dibuatnya.


"Kita buat mereka pelukan, saling ciuman sambil bug*l terus kita lihat sambil pemanasan. Habis itu buat mereka yang polos ini ketagihan pelayanan kita." Menyeringai jahat kemudian mereka tertawa puas.


"Ucapan kalian membuatku merasa dilecehkan sebagai gender wanita dasar laki-laki b*adab, b*jingan ya kalian, b*ngsat!" Sentak Minerva mengumpat keras tanpa hentinya.


"Minggir kalian! Atau aku berikan pukulan perkenalan, kuhajar nanti." Minerva menggertak, tapi seperti tidak berpengaruh pada mereka.


"Hehe.. galak bos, kita buat gadis jal*ng ini meronta-ronta, kemudian dia akan menyerah dan pasrah, itu adalah momen pasrah yang bikin bersemangat ya.. gak." Pemuda dari kelompok menyeringai semeua pun tertawa jahat, Satella yang polos mengira ini pembulian biasa tetapi Minerva tahu kalau ini merupakan seksual abuse yang mengarah pada upaya pemerkosaan.


Plak..


Tanpa basa-basi Minerva menampar pria bermulut mesum itu. Kemudian mendapat respon marah, pemuda itu mencengkeram tangan kanan yang menamparnya itu. Tapi Minerva tak berhenti, dia memakai tangan yang kiri untuk menampar keras. Kedua tangannya dicengkeram keras oleh pemuda kekar dihadapannya.


Minerva yang atletis boleh jadi tingginya 176cm, akan tetapi yang didepannya adalah pemuda kekar setinggi 185cm. Kedua tangannya dikekang pemuda kuat berotot. Minerva yang murka tak berhenti disini. Kakinya menendang kuat.


Bukan hanya itu..


Lantai kayu yang diinjak Minerva menghasilkan retakan parah dalam bentuk circle. Sepertinya membuat retak kaki yang dia injak. Masalah tidak selesai sampai disini.


"Kaki gua dibikin retak tulang sama wanita blonde j*lang ini, sepertinya kita harus beri pelajaran buat cewek l*nte ini bos." Pemuda yang diinjak kakinya, meringis dilantai dengan retak tulang kaki yang ada dalam sepatutnya.


Plak..


Minerva ditampar layaknya cewe yang berhadapan dengan laki-laki kelainan parafilia dominan. Lalu sebuah pukulan bertenaga segera mendarat diperut atletisnya yang mungkin kotak-kotak apabila dia memakai baju renang.


"Cukup sudah!" Sentak Minerva dalam mode sangat murka.


Seseorang akan memukul wajah cantik Minerva, tapi ditangkisnya oleh tangan atletisnya dan gerak menangkisnya ilmu bela diri.


Minerva mencengkeram kepalan tangannya, meremasnya hingga pemuda itu merintih. Ada suara retakan tulang saat Minerva agak bernafsu meremas keras dengan niatan menciderai.


Sekalipun ahli ilmu beladiri pasti kalah kalau dikeroyok.


Tapi..


Saat enam pemuda tangguh datang sekaligus dengan gerak-gerik akan memukul. Minerva menghentakkan kakinya kelantai. Saat kakinya dia hentak kelantai, dunia seakan jadi bergoyang dipenglihatan Satella.


Satu yang dipikirkan Satella..


Manusia terbesar pun tak mungkin bisa membuat bumi menjadi gempa hanya karena menghentakkan kaki ketanah bukan. Disaat Minerva menghentakkan kaki kelantai maka sebuah gelombang angin melingkar segera menyebar ke sekitar secara merata. Bersama dengan itu lantai menjadi tambah retak. Para pemuda maupun Satella dibuat terpeleset jatuh karena efek bumi goyang itu.


Semua kecuali Minerva terpeleset jatuh kelantai. Semua dibuat jatuh karena hentakan kaki yang disertai kekuatan sihir element tanah.


Skip..


Minerva yang murka membuat linu tangan atletisnya karena memukuli kelompok pemuda kuat. Minerva meninggalkan delapan pemuda itu dengan wajah biru. Bahkan tubuh kekar pemuda bertelanjang dada itu dibuat memar di sekujur tubuhnya oleh tinju kuat Minerva versi murka.


Minerva menuntun Satella berjalan menuju kamar sewa satu malam. Beristirahat sampai kepada aman besoknya. Satella dibuat tenang dengan kuatnya Minerva dalam membela dirinya. Satella juga agak siap untuk menaklukkan rintangan dalam loop waktu kali ini.


"Selamat tidur."


Bintang bersinar terang..

__ADS_1


~beesambung~


__ADS_2