Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
ular balisik dan siluet


__ADS_3

Note : karena ini bagian penting, makanya bakal dibikin spesial chapter. Ini spesial chapter makanya lebih panjang daripada bagian part biasa.


______________________________________________


Bersikeras melawan kerasnya sesi interogasi, pada akhirnya Satella dijebloskan di sel tahanan berjeruji besi. Alih-alih dibebaskan karena bukti kurang kuat, Satella harus bermalam di sel tahanan sementara.


Ditambah suara-suara berisik tahanan yang melecehkan Satella berdasarkan gendernya.


"Berisik!" Umpat Satella menutup kupingnya. Detik demi detik harus dilalui Satella dengan melewati neraka kebisingan di sel tahanan.


Dalam sel jeruji dengan WC yang berada didalam sel. Tempat tidur hanya papan kayu yang ujungnya ditahan rantai besi yang ujungnya dipaku ke papan kayu sementara ujung satunya dipaku ditembok.


Karena pantatnya memar merah akibat ditampar dalam interogasi terakhir, akhirnya Satella memilih tidur tengkurap sebagai solusinya. Memakai bantal untuk ditaruhnya diperut karena posisinya tengkurap agar tak melukai sepasang buah kembar kewanitaannya.


"Kalau ini hukum yang cacad juga bertele-tele! Akan ku putuskan tuk keluar dari sini. Aku bisa keluar kapanpun aku mau, mereka bukan tandingan ku." Ujar Satella, dengan nada berbisik, berusaha membuat tahanan lain berfikir bahwa dirinya telah tertidur, tak bersuara.


Waktu sudah lama berlalu sejak interogasi. Waktu Satella dibawa keruang sel tahanan, bisa jadi itu waktu sore. Lalu beberapa jam berlalu semenjak Satella masuk ruangan tahanan ini. Mulai biasa dengan tempat tidur tidak nyaman karena faktor kelelahan.


Terbaring tengkurap dengan perut diganjal bantal sambil menutupi telinganya dengan tangan. Perlahan Satella terlelap tidur. Untuk saat ini bisa melepas penat dan kelelahan.


Tidur. Meredakan lelah, mengisi energi dan stamina tubuh..


Beberapa saat kemudian..


Satella terlelap dengan suara deru napas yang bersiul imut. Tangannya kini longgar dari menutupi sepasang kupingnya. Meredakan keletihan Satella terganggu oleh suara bising sekumpulan orang. Diawali dengan tertawaan dan suara benturan besi. Seseorang memukul jeruji dengan tongkat huru-hara yang biasanya dipakai oleh sipir. Ini adalah ruang tahanan sementara jadi penjagaan tidak terlalu ketat, tapi beberapa penjaga ruang tahanan tau-tau ada.


Truang...


Penjaga memukul-mukul jeruji dengan tongkat pemukul. Dengan suara bising itu Satella menjadi terbangun dari tidur lelapnya.


"Aw.. masih sakit." Keluh Satella saat tidak sengaja berposisi duduk.


Kemudian Satella segera berdiri sambil mengucek mata. Membuka mata perlahan pandangan rabun masih remang-remang mulai jelas perlahan. Mendapat setengah dari kesadarannya ada suara kumpulan orang berisik didepannya. Mereka kumpulan penjaga menyeringai menatap sel jeruji yang ditempati oleh Satella, mengusik penghuni.


"Kalian mau apa rame-rame! Kalau ada pemindahan datangnya satu ataupun dua orang saja kan bisa." Sentak Satella merasa risih akan penjaga yang terlalu banyak, lalu tatapan liar mereka.


"Kalian terlihat tidak bersahabat, kurasa." Satella menurunkan nada.


"Apa nyonya butuh penghiburan!" Salah satu penjaga bersuara, dia menyeringai sambil cengar-cengir meluapkan aura tidak bersahabat.


"Tidak.. tidak! Aku tidak butuh itu, silahkan pergi saja! Kalau tidak ada urusan." Kata Satella.


Penjaga tak mengindahkan ucapan Satella. Mereka tetap berada disana menyeringai, menatap liar. Dan kini seorang penjaga membuka kunci jeruji dan sepertinya ingin masuk secara bersamaan. Satella merasa shock akan tindak-tanduk itu.


"Kalian membuatku resah!" Protes Satella, berdiri siaga.


Penjaga membuka kunci, mereka berbondong-bondong masuk.


Satella mundur sampai punggung menabrak tembok.


"Mari kita cicipi kemolekan dari tubuh putri bangsawan ini kapten." Ucap salah satu penjaga.


"Kya.. kalian mau apa!" Satella mulai resah, seorang penjaga memegangi tangan mungilnya. Kedua tangannya kini dicengkeram dari kanan kiri sehingga dibatasi pergerakannya.


Sati penjaga memasukan jarinya kedalam mulut Satella, menekan lidahnya. Memberi sensasi gelisah kepada sang putri bangsawan.


"Hahahaha." Suara tawa jahat dan tatapan liar merajalela.


Skip..


Udara dingin berhembus.


Tik.. tik...


Tetesan air yang mencair menetes dari atas atap ruang tahanan.


Wush...


Lagi-lagi tiupan angin berhembus.


Tap.. tap.. tap...


Suara langkah kaki kedengarannya sedang berlarian di lorong, seperti langkah kaki yang amat kecil. Sudah jelas kalau perempuan itu langkah kakinya pendek-pendek saat hendak berlari. Apa yang terjadi? Karena semua nampak gelap.


Lorong tahanan.


Ruang sel jeruji yang tadi ditempati Satella kini telah membeku. Ruang tersebut dipenuhi kilau es, tambok mengkristal yang awalnya warna abu-abu kini biru es, begitupun atap dan lantai. Didalamnya terdapat delapan penjaga membeku seperti patung. Dalam sekejap telah di sihir menjadi daging beku, batang kali kalau tidak cepat dicairkan oleh dokter sihir mereka semuanya akan mati beku.


Umumnya tubuh dapat mengatur suhu pada zona Thermo netral yaitu 36 - 37 derajat Celcius, selebihnya tubuh akan melepas panas didalam tubuh. Terlalu lama membeku maka awalnya terkena hypothermia berat hingga pada akhirnya mati karena tubuh tidak bisa menahan suhunya.


Bukan hanya itu..


Lorong diluar sel yang ditempati Satella juga mengkristal karena dibekukan. Lantainya, temboknya, atapnya semua beku. Bahkan sel tahanan lain juga beku bersama penghuninya.


Total..


Puluhan penjaga diruang tahanan bawah tanah beku, dua ratus orang tahanan juga ikut membeku. Kalau tidak ada yang tahu akan hal ini hingga setengah jam kedepan maka semua penghuni ruang bawah tanah bisa meninggal dunia. Satu penjaga berdiri membelakangi pintu kayu dengan lubang jeruji dibagian atas pintu itu. Sementara satu penjaga lainnya berdiri jauh dari pintu itu.


Pintu keluar.


Dua orang kesatria zirah dengan memegang tombak, hendak berdiri didepan pintu keluar. Mereka itu tugasnya menjaga pintu keluar dan masuk ruang tahanan bawah tanah.


"Hei.. seperti ada udara dingin yang meniup leherku." Kata penjaga.


"Itu perasaan mu saja!" Penjaga satunya dengan tidak peka nya.


"Serius! Tengkukku seperti ditiup dengan udara dingin." Kata penjaga.


"Iya ini kan malam hari jadi wajar kalau udaranya dingin, mungkin ada hembusan kecil angin meniup mu sobat." Kata penjaga satunya.


"Tapi ini bukan seperti hembusan angin malam atau semacamnya itu, kurasa? Ini seperti aku tengkukku disembur oleh hembusan uap es disaat winter." Ujar penjaga yang berdiri membelakangi pintunya.


"Kalau begitu, mari kita cek saja barang kali ada sesuatu yang tidak beres terjadi." Usul penjaga satunya.


Mereka berdua membuka pintunya dan menyusuri lorong ruang bawah tanah yang gelap. Setiap beberapa dinding ada lilin menggantung tuk menerangi. Biasanya ada teknologi berupa bebatuan bercahaya, itulah item sihir. Karena anggaran kecil untuk ruang tahanan yang kurang guna ini maka dinding hanya ada penerangan lilin saja. Ketika kedua penjaga berjalan terasa gelapnya.


"Kau benar sobat, kenapa ruangan bawah tanah ini banyak uap es nya. Seperti musim dingin saja." Ujar penjaga.


"Ini mencurigakan." Kata penjaga.


"Hei.. di koridor sana lantainya kok membeku? Seperti lantai es yang terdapat di arena ice skate saja bung." Penjaga menaruh rasa curiga.


"Iya tidak biasanya."


"Ayo kita cek."


Kedua penjaga itu berjalan menuju lorong beku. Menenteng tombaknya dengan posisi siaga dan siap serang. Penjaga sudah menginjak kakinya di lorong beku, setiap langkahnya ada suara berisik, gemeretak kristal es.


"Ku.. ku.. ku.. ayo sini." Suara dari seorang gadis terkikik-kikik dari lorong dalam terdengar.


"Siapa itu!" Penjaga ketakutan dan menodong tombak kearah lorong bagian dalam yang gelap.


"Kikikik kikikik." Suara tawa gadis terkikik-kikik ditengah ruang gelap menakuti penjaga.


Penjaga mulai berjalan menyusuri ruang gelap nan beku. Semua aman sampai suara lantang terdengar dari mulut seorang gadis childish.


"Freze!" Seru sang gadis yang sembunyi dibalik ruang gelap.


Tiba-tiba proyektil pusaran salju melesak, menubruk zirah besi sang penjaga. Seketika membekukannya dalam sekejap, penjaga satunya kena efek semburan udara dingin ekstrem hingga tombaknya jatuh karena jari penjaga berkedut tanpa terkendali karena setengah beku. Penjaga lari keluar ruang bawah tanah tetapi upayanya dihentikan begitu saja.


Penjaga terkena gelombang sembur salju dari belakangnya hingga tubuh penjaga ikut membeku. Kini semua pengganggu telah ditiadakan.


Skip..


Satella melangkah melewati pintu keluar ruang tahanan bawah tanah. Berdiri didepan pintu Satella diam sambil memejamkan mata. Yang dilakukannya adalah memakai skill Esper. Memakai clairvoyance tuk menerawang akses keluar markas polisi militer tingkat distrik ini.


Ada cukup banyak penjaga yang berjaga diluar. Umumnya regu inti dari polisi militer itu satu kompi jumlahnya yaitu 140 orang. Tetapi untuk kru penjaga adalah knight reguler yang kelasnya dibawah personil polisi militer kerajaan.


"Huh.. aku tidak mau ambil pusing, ya. Tinggal lewati saja." Gumam Satella, berjongkok ditanah untuk bersiap merubah wujudnya.


Sihir perubahan yang dikuasainya hanya berubah menjadi burung merpati hitam. Meski begitu sihir tersebut termasuk langka dan juga sulit dipelajari, tapi bagi Satella mudah saja karena dia berbakat.


Berubah jadi burung merpati warna hitam..


Merpati hitam terbang mengudara meninggalkan markas polisi militer tingkat distrik. Kemana burung itu terbang adalah lantai tujuh kastel akademi sihir Griffin quen. Cukup jauh jaraknya, tapi dalam wujud merpati hitamnya Satella sanggup melesat lebih cepat dari naga kelas wyvern yang terkenal sangat cepat.


Hari sudah malam dengan sinar rembulan terang menghiasi langit. Sinar terang benderang barisan terlihat dari bintang, barisan rasi bintang memancarkan keterangan ditengah langit gelap. Beberapa saat sampailah wujud merpati hitam Satella dititik destinasi, tapi.

__ADS_1


Tapi...


Yang Satella lihat sungguh tidak terduga. Kastel akademi nampak gelap gulita, jalan menuju kastel diblokir oleh regu polisi militer kerajaan. Setiap aksesnya telah diblokir, terlihat beberapa murid ditandu menuju kereta angkut.


Suasana macam apa ini..


Dengan nekatnya wujud merpati hitam Satella masuk melalui celah jendela kastel. Langsung masuk ke lantai tujuh kastel akademi, yang dituju Satella adalah ruang rahasia yang biasa ditempati kelompoknya.


Masuk melalui ventilasi sosok merpati hitam Satella mendarat dilantai lorong. Ini adalah lantai tujuh, butuh bergerak lurus dan melewati beberapa belokan agar sampai di lorong dengan karpet gambar Shrek nari balet, itulah gerbang masuk ruang kebutuhan.


Tap.. tap..


Satella melangkah pelan, sangat bersiaga atas ruangan yang gelap gulita. Sambil sesekali menoleh kebelakang, semua sudut dilihat dengan siaga agar selamat. Satella melihat benda tergeletak di kaki.


"Ini kan!" Gumam Satella


Item sihir, bebatuan bercahaya tergeletak dilantai. Lentera yang membungkus bebatuan bercahaya juga rantai yang mengikat lentera tetap tergantung didinding bisa dilihat hancur. Seperti terkena hantaman gada sampai hancur.


"Pantas saja gelap.. bebatuan ini seperti dihantam gada, siapakah orang yang telah menyabotase semuanya?" Gumam Satella seraya memegang batu bercahaya sambil terus melangkah.


"Tinggal alirkan mana point ku kemudian, jreng.. jreng." Satella memakai bebatuan bercahaya tuk menerangi lorong gelap.


Bebatuan bercahaya tidak terasa panas disentuh.


Tap.. tap..


Mendesis...


Satella mendengar suara mendesis seperti dekat. Kuping elves milik Satella bisa memboster kemampuan listening hingga jauh. Kuping elves Satella bahkan berhasil mengungkap dimana suara mendesis berada.


"Wah gawat!" Seru Satella. Spontan berlari secepat yang dia bisa.


Menurut kuping elves yang peka itu lokasi suara mendesis ada didekat lorong yang dia tuju. Yaitu akses masuk menuju ruang kebutuhan. Bukan hanya itu, kuping pekanya mendapatkan suara langkah kaki berlari keujung jalan yang buntu.


Berlari...


"Hah.. itu dia." Satella dengan batu bercahaya.


Awalnya lampu bersinar kesegala arah merata, Satella merubahnya menjadi terkonsentrasi ke satu titik hingga persis senter.


"Oh tidak! Itu ular balisik." Satella tampak shock.


"Merlin." Teriak Satella.


Siswi yang dikejar Satella tau-tau membatu. Terkena stone curse, tubuhnya menjadi patung dengan corak warna abu-abu.


"Oh tidak." Batin Satella.


Teman Satella yang satu asrama beda kelas telah dikutuk. Saat ini Satella tahu bahwa biang keladi kutukan stone curse adalah ular itu, Satella terdiam diri dengan hati bergidik.


"Oh tidak.. aku gagal selamatkan seorang pun." Menaruh kedua tangannya dibelakang kepalanya.


"Payahnya aku." Satella dengan sorot mata frustasi, iris matanya menjadi membesar saat ini. Kemudian Satella melangkah ke permadani Shrek dan melakukan ritual memunculkan pintu ghaib untuk akses masuk ke dalam ruang kumpul kelompoknya.


Melewati lubang rift..


Tiba diruang kebutuhan, inilah satu-satunya ruangan rahasia di dalam kastel yang aman dari teror ular balisik. Sesampainya disana Satella melihat ruangan terang benderang. Satella berdiri dekat sepasang pintu masuk nan besar. Berdiri disana Satella memandang kedepan, melihat permadani super besar bergambar peta dunia ini.


Melangkah di karpet biru panjang mencapai titik paling tengah ruang ini yang mirip VIP room. Di titik paling tengah ada beberapa gadis remaja super imut, saking imutnya membuat gadis lain yang seumuran kelihatan seolah tante-tante, hanya mereka yang cocok disebut remaja.


Melangkah dikarpet biru panjang menuju titik paling tengah. Para gadis-gadis remaja imut adalah, Violetta, suyana dan dewi Eris.


Tapi...


"Dimana Iota?" Tanya Satella.


Semua diam...


Diantara mereka bertiga, Isyana satu-satunya yang terbaring disofa panjang. Tangannya yang kecil nampak diperban, dia tidur lelap.


"Satella.. syukurlah." Seru dewi Eris dengan raut senang, mimik penuh rasa syukur ditampakkan dewi Eris.


"Apa yang terjadi pada sekolah?" Tanya Satella, wajahnya dipenuhi ekpresi muka tak percaya.


Dewi Eris menghela napas dengan mimik frustasi, kemudian perlahan rileks dan menjelaskan.


"Semacam kultus penyihir?" Satella menerka.


"Mungkin." Gumam dewi Eris.


"Sakit.. sakit." Gumam Isyana yang tidur lelap, keringat bercucuran diwajah dan dilehernya. Violetta menyeka keringat dingin di kulit Isyana dengan kain basah. Sambil mengompres keningnya.


"Isyana kenapa?" Tanya Satella.


"Dia kena gores taring ular balisik." Kata Violetta.


"Apa! Ular balisik? Bukankah itu memberikan stone curse?" Tanya Satella dengan wajah shock.


"Isyana berlari tanpa melihat mata balisik, tapi tangannya kena gores taring balisik yang berbisa." Ujar Violetta.


"Iota mengumpankan dirinya agar Isyana bisa kita bawa kabur dari lorong. Isyana dikejar balisik, entah selamat atau tidak." Ucap dewi Eris, terlihat resah.


"Menurut penerawangan ku, Iota berada diruang asrama putri dan bersembunyi, tapi." Kata-katanya Violeta terhenti dan yang terlihat hanya ekspresi minim ala Kuudere dengan mata sayu tertutup rambut pada salah satunya.


"Disekitar daerah itu aku merasa hawa kehadiran yang gelap dan mengerikan, aura kematian pekat kucium disana." Kata Violetta, raut wajah kalemnya amat dramatis.


"Lakukan sesuatu.. kumohon, kita harus selamatkan Iota." Satella dengan raut gelisah.


"Eng.. iya benar, kita memang harusnya bergegas. Isyana harus dapat obatnya." Kata dewi Eris.


"Memangnya ada obat yang bisa menetralkan racunnya? Balisik itu bisanya tak terobati bukan." Ujar Satella.


"Bukan tak terobati, tapi sangat mematikan saja. Ada obat untuk menunda racunnya lebih lama. Barusan racunnya telah aku kuras dengan sihir air." Kata dewi Eris.


"Kalau gitu kuras saja racunnya dengan sihir air! Bisa sembuh kan?" Kata Satella.


"Tidak bisa! Itu bisa membuatnya kehilangan banyak cairan tubuh. Alih-alih racunnya hilang tetapi malah mati kering." Kata dewi Eris.


"Ya.. ampun, bagaimana." Satella kelihatan ikut panik.


"Yang bisa memulihkannya adalah seniorku." Kata dewi Eris.


"Siapa senior mu itu, dewi Eris?" Tanya Satella.


"Dewi Aqua, dengan berkat air dia bisa menyembuhkan apapun dan memberi aura kehidupan." Jawab dewi Eris.


"Kalau gitu kita bawa dia ke dewi Aqua." Kata Satella.


"Iya tapi kita harus memberikan penanganan sementara, takutnya Isyana mati saat dibawa. Saat ini Isyana bertahan karena hibernasi terlelap. Sementara kalau digotong kesana kemari bisa saja menurun kondisinya." Ujar dewi Eris.


"Kenapa kita gak teleport?" Tanya Satella.


"Tempat dewi Aqua tinggal adalah tempat dimana teleport diblokir. Tetapi sihir teleport bisa dilakukan didaerah dekat kediaman dewi kemudian dari sana kita bergegas. Dengan obat penawar sementara, Isyana bisa bertahan sampai kita membawanya dari titik teleport menuju kediaman Aqua." Usulan diberi dewi Eris.


Semua menghela napas, dewi Eris melanjutkan ucapannya..


"Satella datang, adalah lima menit setelah Isyana digigit dan belasan menit setelah kultus penyihir itu datang menyerang." Kata dewi Eris.


"Iya aku lihat.. aku lihat diluar ada banyak kru polisi militer sedang memblokir akses jalan. Kemudian memblokade kastel ini, ada siswi ditandu keluar kastel oleh petugas polisi militer kerajaan." Kata Satella.


"Kalau mereka bergegas kemari, merekalah yang akan diburu oleh ular balisik, kurasa." Ucap Violetta.


"Apa kalian siap bergegas sekarang? Kasian Isyana.. butuh penanganan sesegera mungkin." Desak dewi Eris.


"Aku siap kok, gerak sekarang juga siap aku." Ujar Satella.


"Aku juga ikut." Ucap Violetta.


"Tapi siapa yang akan menjaga Isyana?" Tanya dewi Eris.


"Aku bantu dengan penerawangan." Violetta bilang.


"Nanti ku telepati kalian." Violetta menambahkan.


"Oke, ide bagus." Balas Satella.


"Nanti kita berpencar. Ada yang menyelamatkan Iota dan ada yang kerumah sakit sekolah mengambil penawar racun." Ujar dewi Eris.

__ADS_1


"Aku menyelamatkan Iota." Satella mengangkat tangannya.


"Kebetulan ular balisik masih ada disebelah kiri pintu keluar, kurasa." Violetta dengan skill sense nya.


"Jadi apa rencananya?" Satella.


"Berarti harus ada yang menjadi umpan deh." Pikir dewi Eris.


"Ah.. aku ada ide." mengangkat jari telunjuk, Satella bersiap.


"Aku punya skill barier penghalang kan, nanti kita kurung ular balisik di lorong pakai ice wall." Seru Satella, mengutarakan idenya.


"Ide bagus." Dewi Eris senang.


Kemudian..


Satella dan dewi Eris berada dekat pintu keluar. Rencananya Satella memancing ular balisik dan setelah ular balisik mengejar Satella, baru dewi Eris bergegas menuju ruang penyimpanan obat. Dengan bakat Esper, Violetta menjadi pemandu dengan clairvoyance dan telepati.


"Oke aku siap." Satella berjalan ke pintu keluar.


Lorong lantai tujuh..


Ular balisik terlihat berada di kiri lorong, dengan status tidak aktif ataupun pasive. Tidak gerak tetapi juga bukan tidur.


"Waspada! Ular balisik bukannya sedang tidur." Ujar Violetta lewat telepati.


Satella membentuk baut es runcing dalam jumlah banyak. Adalah sihir tingkat satu, meski begitu sihir es yang Satella gunakan pasti sakit dan sakti karena afinitas overpower nya terhadap afinitas es. Proyektil es runcing dilesatkan menubruk ular balisik, dampaknya tak kalah kuat dengan berondongan senjata api.


Ice bolt !!


Sihir es membentur ular balisik dengan telak. Suara pecahan es terdengar cukup kuat.


"Dia mulai menoleh, waspada! Hati-hati, menatap matanya bisa membuatmu kena stone curse." Violetta dengan tanda peringatan.


Satella bergidik ngeri, lututnya gemetaran.


"Lari sekarang!" Seru Violetta.


Tap.. tap.. tap...


Langkah kaki yang kecil terdengar keras ketika Satella mulai berlari memancing posisi ular balisik, agar menjauhi rute ke penyimpanan obat-obatan. Berlari tergesa-gesa seperti dikejar bencana.


"Bagus.. ular balisik mengejar mu." Ucap Violetta.


Satella terus berlari..


Berniat cari tahu posisi ular balisik dan hampir buat kesalahan. Satella hampir lupa untuk tidak menatap mata ular balisik, untung Violetta memperingati Satella yang lengah.


"Jangan menoleh kebelakang! Kamu bisa kena kutukan kalau menatap matanya." Violetta memberi tanda peringatan via telepati. Sementara Satella menanggapinya dengan.


"Oh iya aku lupa." Seru Satella.


Akhirnya selamat dari menatap matanya. Satella selamat dari kena kutukan, stone curse.


Belokan pertama dilalui Satella menyisakan dua belokan sebelum sampai di tangga. Setengah jalan dilalui menuju belokan kedua.


"Ular balisik sangat dekat hati-hati!" Violetta memberikan tanda bahaya.


Ice wall !!


Tiba-tiba Satella merapal sihir es, memunculkan tembok penghalang yang defensif.


"Kenapa temboknya kamu pasang disitu?" Tanya Violetta yang sedang memandu lewat penerawangan.


"Sebentar aku capek." Kata Satella, seraya mengatur napas. Napasnya terasa sangat cepat sekali.


Bunyi gemeretak terdengar, ular balisik menyundul dinding es nya beberapa kali. Retakan dinding es semakin lama semakin besar dan rapuh. Dinding es bisa saja hancur kapanpun itu.


Retak bunyi es terdengar semakin intens saat Satella mengatur napas. Duduk dan merasa sangat letih.


"Aku kan wanita!" Keluh Satella sambil menghembus napas cepat.


"Hei Violetta.. apa ada cara lainnya untuk memancing ular balisik itu?" Tanya Satella, napasnya perlahan mulai stabil.


"Entahlah.. yang pasti, ular mulai bergerak ketika indera pada lidah mendeteksi suhu panas yang persis seperti mamalia atau burung yang biasa jadi mangsa alami." Violetta memberi jawabannya.


"Ah.. itu dia. Violetta kamu pintar." Ucap Satella, berjongkok ditanah bersiap dengan sihir perubahan wujud. Disisi lain retakan dinding pelindung es mulai hancur.


Kretak.. kretek..


Bongkah es yang sebesar bebatuan karang besar berjatuhan. Dinding akan mulai pecah.


Satella dalam wujud merpati hitam..


"Violetta, beritahu aku kalau ular balisik mengejar ku atau tidak." Satella pun terbang berputar-putar diatas lorong lantai tujuh, sambil menunggu barikade hancur.


"Serahkan padaku." Seru Violetta.


Berputar-putar diatas, dinding es telah hancur dan ular balisik pun mengejar merpati hitam. Satella bergerak tanpa henti dalam wujud merpati hitam yang movement nya sangat cepat dan tanpa kenal lelah.


Jauh turun kebawah merpati terus dikejar ular balisik hingga ada di lantai tiga. Lantai tiga adalah lantai dimana asrama putri yang Satella juga Iota tempati. Tapi Satella lupa kalau disana ada entitas berbahaya yang Violetta terawang sebelumnya.


"Hati-hati! Koridor depan ada sosok berbahaya itu." Kata Violetta yang memberi tanda bahaya.


Tapi Satella terus saja menerobos..


Tiba-tiba muncul kilatan baut petir menyambar wujud merpati hitam Satella, hingga terperosok kelantai. Terjatuh, Satella kembali kewujud manusianya secara otomatis.


"Arghh.. sakit. Apa itu?" Satella dengan susah payah berupay untuk bangkit.


"Ular balisik dan sosok shadow itu menuju kearah mu!" Ujar Violetta memberi tahu.


Menatap kearah dimana dia kena serangan caster, sosok yang dilihat oleh Satella adalah siluet hitam.


Siluet warna hitam dengan sesosok uap hitam mengepul dari tubuhnya keatas. Siluet hitam berwujud gadis remaja. Bayangan hitam itu punya perawakan mirip Satella, tingginya juga besar tubuhnya sampai rambut siluet sangat mirip Satella.


Lutut Satella lemas saat menatap siluet hitam itu. Lututnya bergetar dengan tubuhnya tak mau menurut otaknya yang memerintah untuk melarikan diri. Ketika siluet hitam mulai dekat, Satella bisa melihat sosok asli dari siluet hitam itu.


"Eh... Eh? Loh bisa gitu ya." Satella tercengang saat menatap wujudnya.


Bagaimana tidak...


Siluet hitam itu punya wajah yang seratus persen mirip dengan Satella. Dikurang satu persen karena kuping bayangan hitam adalah berwujud telinga manusia, sementara Satella kuping elves. Siluet hitam adalah doppelganger dari Satella.


"Apa yang kamu lakukan cepatlah lari!" Seru Violetta.


Tapi Satella masih terdiam tanpa keberanian.


"Aku merasakan aura negatif sangat pekat pada siluet hitam itu, cepat larilah Satella!" Teriak Violetta.


Akhirnya Satella balik badan dan berlari secepatnya. Terus berlari tiba-tiba Satella diberondong oleh tombak api, melesat bertubi-tubi.


Saking banyaknya tombak api sehingga tak terelakkan. Satella terbunuh oleh tombak api yang membakar tubuhnya.


Rasa panasnya sangat sakit..


Tubuh Satella berlarian dengan kondisinya yang terbakar.


Lima detik setelah terbakar tubuh Satella mengalami mati syaraf sehingga tak bisa digerakkan lagi. Tubuh Satella terjatuh, terbakar merasakan sensasi rasa panas.


Satella mati...


"Oh tidak! Satella mati." Itulah kata-kata dari Violetta.


"Oh tidak." Ucap dewi Eris, dengan nada shock.


RESTART !!


Satella mungkin saja telah mati, tapi Satella memiliki item sihir berupa Sage diary. Item sihir yang dimiliki Satella berkekuatan restart, dengan kematian sebagai pemicu restart.


Asrama putri..


Satella kini berada diruang tengah asrama putri. Sage diary berada diatas meja. Ini adalah hari dimana Satella menulis namanya dikertas sage diary. Segalanya terulang lagi.


Ke save point.


kembali ke hari pertama di loop waktu kedua berdasarkan titik simpan...

__ADS_1


__ADS_2