
Karena hari kedua Satella sibuk mempelajari cara membuat satu ramuan terlarang, maka satu hari terlewat begitu saja. Hari kedua dihabiskan Satella untuk pelajari lebih dalam materi buku panduan meramu polyjus. Satella mencatat semua bahan-bahan komposisinya didalam secarik kertas.
Hari ketiga...
Rumah kaca.
Rumah kaca adalah fasilitas dari akademi sihir Griffin quen. Rumah kaca adalah tempat tuk menanam semua bahan-bahan ramuan sihir. Satella mengunjungi pagi sekali tuk memanen bahan ramuan. Tentunya sebagai siswa alasan Satella adalah untuk latihan membuat ramuan.
Rumah kaca letaknya dihalaman belakang sekolah. Luas dari rumah kaca adalah 700 meter, cukup luas untuk memasok tumbuhan mistis kepada murid, untuk latihan bikin ramuan. Karena kalau hanya untuk bahan mata pelajaran dikelas saja, lebih dari cukup. Akan banyak yang tersisa kalau tidak ada murid yang memakainya tuk latihan meramu.
Ada tanaman yang bentuknya biasa layaknya tanaman, tapi tetap saja termasuk tanaman sihir. Kemudian ada tanaman yang melompat-lompat kalau akarnya terlepas. Beberapa tanaman sihir memiliki ciri-ciri diluar nalar untuk disebut tanaman yang normal. Contohnya mandrake punya bentuk mirip wajah, punya mulut yang bisa mengigit beserta teriakan yang bising. Mandrake itu sebagai bahan cure potion. Fungsi cure potion untuk penyembuh kutukan pembatuan, pembekuan, petrification. Sekian tentang basic tanaman sihir ala dunia sihir ini.
"Permisi." Satella membuka pintu rumah kaca.
"Tidak ada orang kah?" Gumam Satella melihat kesegala arah.
"Mungkin seseorang menyiram tanaman, tapi aku tidak melihat." Pikir Satella.
Satella menuju rak kayu untuk mengambil peralatan. Tentu saja butuh peralatan memetik seperti sekop, gunting rumput sampai seragam berkebun supaya tidak mengotori pakaian atau seragam sekolah. Tak lama setelah Satella memakai seragam berkebun nya, seorang petugas rumah kaca pun datang dari pintu masuknya.
"Permisi." Sapa petugas rumah kaca saat ia memasuki ruangan.
"Bolehkah saya memetik beberapa tanaman untuk meramu ramuan sihir." Satella basa-basi.
"Tentu saja.. ambillah, rumah kaca memang difasilitasi untuk murid belajar meramu." Balas petugas.
"Selamat bertugas." Sapa Satella, kemudian pergi menuju rak pot tanaman sihir.
Satella menguasai mata pelajaran ramuan sihir tentu hapal bentuk setiap tanaman sihir. Kalau tidak hapal atau lupa, kan bisa bertanya kepada petugas rumah kaca.
Satella mulai mencari bahan..
"Ketemu." Satella menuju rak tanaman sihir.
Tak butuh waktu lama bagi Satella untuk menemukan bahan ramuan yang pertama. Kebanyakan tanaman sihir memiliki pot besar yang sangat tidak masuk akal besarnya. Memang sih tanaman sihir itu cenderung lebih besar dari tanaman biasa. Seperti bahan pertama yang sedang Satella panen dengan gunting rumput ini. Ukuran pot nya gak masuk akal dan ditaruh diatas rak kayu. Kebetulan tanaman yang Satella petik ukuran pot nya sebesar ember sementara beberapa ada yang sebesar gentong air atau bahkan bak mandi.
"Dapat! Bahan pertamaku." Seru Satella, bersemangat.
Memasukan bahan pertamanya kedalam keranjang panen. Terus melangkah untuk mulai mencari bahan-bahan yang kedua. Satella mengerutkan alisnya dan secara bersamaan memanyunkan bibir.
"Susah ketemu! Coba aja ditemani asisten, huf!" Keluh Satella.
Bernapas berat dengan wajah yang kecut, matanya terpejam terasa pusing mungkin itu jenuh. Satella jongkok barang sebentar sambil menyender didinding kaca. Duduk beberapa saat meredakan jenuh.
"Pusing!" Satella memegangi atas kepalanya, mata terpejam bosan.
Hingga...
"Bisa ku bantu?"
Membuka mata, menengadah lalu menatap ke sosok yang datang itu. Pertama Satella menghela napas untuk meredakan jenuh. Kemudian mulai berdiri. Yang dilihatnya itu seorang petugas rumah kaca yang membawa alat penyiram air, dan karena gendernya cewe maka itu membuat Satella tidak sungkan. Satella tak malu menanggapinya.
"Eng.. anu, aku mencari bahan pembuat ramuan." Satella lalu memberikan list diatas kertas.
"Oh ini ya.. bahannya, sebagiannya mungkin ada, tapi sebagian kami tidak punya." Jawab petugas rumah kaca yang bergender cewe ini.
"Tidak apa-apa ya! Aku bisa cari diluar untuk yang tidak ada disini." Satella membalas.
"Oke.. baiklah.. tunggu disini, akan segera ku ambilkan." Petugas rumah kaca itu bilang, lalu beranjak pergi.
Satella yang sudah jenuh dalam mencari bahan tanaman diruang seluas ini segera rehat. Duduk punggungnya menyender di kaca rumah kaca. Menghela napas.
"Leganya.."
Satella rehat.
Skip...
Hanya memakan waktu lima belas menit saja bagi petugas rumah kaca memanen bahan. Bahan untuk buat ramuan ada sembilan kurang lebih, mungkin beberapa diantaranya agak sedikit langka. Tentu ramuan yang efeknya tak terkira harus dibayar dengan bahan rare ataupun mahal.
__ADS_1
Petugas rumah kaca datang lagi membawa keranjang yang setengah penuh. Satella mengangkat lekuk senyum dibibirnya karena melihat bahan ramuannya sudah datang.
"Akhirnya.. dapat." Batin Satella.
"Hai.. hai.. ini dia." Petugas rumah kaca, dengan ramahnya.
"Sudah dapat?" Satella menebar senyum ceria.
"Anu.. apa kamu tidak apa-apa?" Tanya petugas.
"Apa-apa gimana?" Satella balas bertanya.
"Kamu senderan di kaca, apa kamu tidak merasa panas?" Tanya petugas.
Satella semula berjongkok sambil punggungnya senderan didinding rumah kaca segera berdiri. Satella memakai telapak tangan untuk menyentuh dinding rumah kaca.
"Ouch panas." Satella tersentak.
"Tapi punggungmu?" Tanya petugas.
"Gak apa-apa." Balas Satella.
"Oh iya ini, aku menemukan enam bahan saja. Tiga bahan lainnya tak ada disini." Kata petugas.
"Aku akan melakukan brewing." Satella menenteng keranjangnya.
"Mau aku bantu?" Kata petugas.
"Tentu.. makasih ya." Balas Satella.
Skip...
Diatas meja kayu tanaman sihir diekstrak.
Mengulek tanaman sihir menjadi bentuk bubuk. Dengan timbangan tingkat gram, bubuk dimasukkan kedalam kertas sesuai takarannya. Tentu ramuan polyjus memiliki formula takar. Selesai diekstrak Satella bergegas
"Sama-sama." Balasnya.
Satella bergegas lagi menuju luar kastel akademi. Karena sekarang adalah hari ketiga, Satella tidak memiliki banyak waktu lagi untuk terbuang percuma. Ia taruh bubuk bahan ramuan sihir dikamarnya. Menyelinap keluar jendela dalam bentuk merpati hitam, dengan cara begitu Satella bisa mengakali pergi keluar tanpa harus dispensasi.
Kemudian...
Plaza.
Tiba disebuah menara tinggi yang didalamnya ada banyak toko-toko modern. Iya modern untuk ukuran era victoria, atau abad 19 kalau ukuran real word, bumi. Satella menuju toko khusus ramuan, toko yang berbeda dari yang ia tuju sebelumnya. Bunyi lonceng kecil masih menjadi ciri khas umum dibeberapa toko pada umumnya.
Suara lonceng bunyi..
"Selamat datang." Sambut penjaga toko saat Satella baru masuk.
Satella berjalan menuju kasir toko kemudian memberikan list berupa secarik kertas.
"Aku ingin ini." Kata Satella.
Penjaga toko melihat list bahan di secarik kertas itu. Mengingat stok yang ia punya digudang tokonya.
"Ada sih." Penjaga toko bilang.
"Yasudah bawa sini." Pinta Satella.
"Eng.. anu, satu dari item tersebut harganya mahal, habisnya ini item rare sih." Penjaga toko bilang.
"Bodo amat dengan harga, aku ini orang kaya." Balas Satella.
"Mohon tunggu nyonya kecil." Ucap penjaga toko. Penjaga toko pergi tuk mengambil item tersebut.
"Kenapa sih orang-orang selalu aja memanggil aku dengan, putri kecil, nyonya kecil, aku kan udah remaja tau.. kesel!" Keluh Satella seraya memanyunkan bibirnya.
Kemudian..
__ADS_1
Satella membawa sekantung item yang dibawanya didalam kantung kertas ramah lingkungan. Tentunya jaman ini plastik belum umum.
Satella pun melangkah menuju elevator menara plaza.
"Dengan uang aku bisa mendapat apapun yang ku mau. Coba pikir, betapa sulitnya mencari item rare yang aku perlukan." Seru Satella.
Sedikit keapesan terjadi..
Plak...
Satella jadi korban dengan begal pantat, seseorang menamparnya dipantat. Satella memprotesnya sayangnya tidak didengarkan.
"Hei.. apa yang kamu lakukan itu!" Protes Satella, menyentak seraya menoleh kearah samping.
Tak diindahkan orang itu malah meremas pantatnya, Satella jadi semakin mendidih dibuatnya.
Saat menoleh, orang itu adalah seorang pria paruh baya dengan tuxedo. Rambut hitamnya sudah berubah jadi abu-abu, yaitu fase sebelum jadi uban. Berdasarkan penampilannya orang itu adalah pedagang milyader. Beserta tiga pengawalnya yang gagah terlihat sangat kuat dengan postur besar.
"Hahaha.. gadis setengah matang belum puber memang mantap. Andaikan saja ia lima tahun lebih muda." Tawa jahat dari milyader.
"Anda pedofil bos." Sahut pengawal ikutan ketawa.
"Hai nyonya kecil, dimana tempat kamu tinggal?" Mereka membuat Satella merasa terganggu.
"Cih.. pedagang serakah." Satella meludah ke orang tersebut.
"Eksekusi dia bos!" Seru pengawal.
"Bawa dia ke sel perbudakan dan lakukan sampai dia sulit berjalan karena sendi kakinya kita kerjain hingga lemas." Sahut bos-nya.
[Note : dunia abad pertengahan memang banyak praktik slave dan perdagangan manusia sebagai element distopia yang berlaku.]
Satella pun berlari menuju elevator selagi baru saja ada yang keluar dari sana. Orang-orang Cabul menguntit Satella hingga ke pintu elevator.
"Tangkap dia! Buat pingsan!" Seru milyader tersebut.
Karena berlari empat detik lebih cepat, Satella sampai di lift. Satella memencet tombol lift untuk turun. Ketiga pengawal itu hampir bisa masuk kedalam lift, tapi Satella memiliki power yang amat besar.
Telekinesis !!
Ketiga pengawal milyader dibuat jatuh setelah terhempas kearah belakang. Lift tertutup dan Satella menjulurkan lidah mengolok-olok.
"Suatu saat akan ku perintahkan kepala kesatria charlotte untuk memenggal kepala orang seperti barusan! DASAR CECUNGUK SIAL!" Umpat Satella, menghentak-hentak kakinya kelantai lift. Tangannya dilipat, gesturnya uring-uringan.
Bertemu dengan begal pantat bikin Satella menurun moodnya dihari yang cerah ini. Bahkan sepanjang jalan Satella kian uring-uringan.
"Untung saja bukan begal payudara! Kalau iya, bener-bener jadi ingatan memalukan. Kenapa sih banyak pria yang model begitu!" Satella terus saja mengumpat kesal, tidak berujung.
Skip...
Kamar asrama putri.
Satella terbaring memegangi satu matanya. Merintih kesakitan entah kenapa tapi itu berusaha ditahan sehingga mereda sakitnya.
"Apes! Apes deh, gara-gara hari ini uring-uringan jadi nabrak." Keluh Satella sambil membentuk batu es ditangannya untuk mengompres wajahnya yang biru.
Flashback...
Satella dalam wujud merpati hitam terbangnya menukik tajam tidak karuan. Penyebabnya adalah mood yang buruk dan emosi meluap-luap. Terbang secepat mungkin menuju jendela kamar asrama. Mood buruk dan terbang dengan barbar tetapi Satella lupa mengerem karena dia sedang emosi sepanjang perjalanan.
Bruk...
Menabrak pintu.
"Kya... Sakit!" Jerit Satella.
Flashback end...
~bersambung~
__ADS_1