Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
ramuan kejujuran


__ADS_3

Author note.


Saat ini marak penyalahgunaan love potion. Untuk melawan komplotan yang sudah menyalahgunakan love potion, digunakan ramuan kejujuran. Ramuan kejujuran akan digunakan supaya orang-orang yang terlibat dapat terungkap. Apakah ramuan kejujuran akan berhasil digunakan.


______________________________________________


Pagi harinya Satella terbangun dengan keceriaan. Awalnya Satella melakukan rutinitas yang biasa seperti mandi saat pagi sampai sarapan pagi di kafetaria sekolah. Satella hanya ingin menunggu Violetta dan mengabaikan segala gangguan. Satella hapal bahwa sekarang sedang berbahaya kalau menerima minuman dari orang mencurigakan.


Kafetaria.


Duduk manis di meja kafetaria berbentuk bundar dengan lima tempat duduk. Beberapa orang laki-laki sok kenal datang untuk bertindak sok akrab. Belajar dari pengalaman, Satella tahu saat ini sedang marak tindak kejahatan.Kejahatan berupa seksual abuse dengan love potion yang disalahgunakan. Saat laki-laki mendekat, Satella lantas mengusirnya karena Satella merasa tak kenal.


"Pelayan!" Seru Satella.


Pelayan pun datang.


"Mau pesan apa?" Tanya pelayan kafetaria.


"Moca." Satella bilang.


"Apa lagi?" Kata pelayan.


"Kue molen pisang cokelat keju." Satella bilang.


Pelayan pun pergi untuk sediakan pesanan.


Beberapa saat kemudian.


Kini Satella duduk dengan cangkir mochaccino dan sekotak kue molen isi cokelat pisang keju. Suasana pagi cukup bersahaja, mood Satella pun sungguh baik kala ini. Seruput saja mochaccino dinikmati, datanglah pengganggunya dengan kedok sok akrab mendatanginya.


"Selamat pagi gadis berkulit putih porselen." Goda siswa laki-laki yang datang menemuinya. Laki-laki itu duduk satu meja tanpa diundang.


Satella hapal betul modus tindak kejahatan yang sedang maraknya terjadi saat ini.


"Maaf ya ... aku sedang menunggu seseorang." Balas Satella bernada mengusir.


Awalnya Satella buang muka.


Satella pun menoleh dan memergoki orang itu menuangkan tetesan kepada cangkir. dengan terampil orang itu menyembunyikan botol kecilnya dibalik telapak tangan.


"Apa yang kau lakukan terhadap cangkirnya!" Omel Satella.


"Cangkir apa?" Ia berdalih.


Satella memasang wajah galak seolah-olah mencurigai. Orang tersebut kian panik karena ia mendapat tatapan segalak itu.


"Aku hanya ingin kenalan." Kata orang itu dengan raut wajah yang mencurigakan.


Orang itu tidak jelek dan bertubuh ramping. Tapi juga tidak terlalu tampan. Satella tidak kenal, ia pun tidak menarik dimatanya Satella. Setelah kecurigaan Satella tidak dibantah dengan masuk akal dan jelas, Satella menendangnya.


Satella tidak akan meminum dari cangkirnya lagi.


Satella mengusirnya dengan paksa karena sudah geram dengan tindak kejahatan yang terjadi. Karena ulah segelintir orang, membuat Satella menjadi sulit memandang murid lainnya dengan baik. Padahal yang jahat hanya beberapa orang yang dipengaruhi. Tidak semuanya ikut terlibat dalam modus kejahatan.


"Kurasa aku harus memberikan mantra perintah." Pikir Satella.


Telepati !!


Satella melakukan telepati kearah Theodore.


"Lindungi aku dari orang yang menggangu waktu santai ku. Ayo jagain aku Theodore." Satella pun mengirim telepati.


"Maaf aku sedang bersama Violetta, master. Apabila master tidak dalam bahaya, bisa tolong tunggu sebentar oke." Balas Theodore.


Merasa kesal, Satella pun memutus jalur telapati nya.


"Tolong pergi!" Pinta Satella.


"Um ... kamu tidak meminumnya?" Orang itu berdalih, ia berharap Satella meminum cangkir yang berhasil ia campur dengan love potion.


"Aku sudah memperingatkan!"


Satella memakai tenaga pysche miliknya untuk mengusirnya.


Telekinesis !!


Siswa laki-laki itu diterbangkan Satella lalu didaratkan dimeja yang ada kue Pai nya. Wajahnya penuh dengan krim kue Pai. Satella pun tertawa puas telah memberikan pelajaran pada salah satu orang dalam kelompok penyalahgunaan potion sihir. Tidak berani marah, orang tersebut segera keluar kafe.


"Pelayan!" Seru Satella.


Tak lama pelayan pun datang.

__ADS_1


"Cangkirku tadi dihinggapi seekor lalat. Aku mau pesan mochaccino yang baru. Nanti catat saja semua harganya." Kata Satella.


Meanwhile.


Theodore dan Violetta melakukan interogasi kepada Bili. Cara yang dipakai adalah cara halus dengan memakai veritaserum. Lokasinya adalah ruang praktik ramuan sihir. Theodore telah mengunci ruangan praktik ini agar tidak ada orang memasuki ruangan. Tak ada yang boleh menggagalkan upaya mereka yang langkah awalnya sudah sulit.


Theodore memegangi kedua tangan Bili dengan kuat. Violetta memaksa Bili meminum veritaserum seraya mencekiknya supaya potion masuk kedalam tenggorokannya. Potion masuk tanpa dimuntahkan keluar.


"Jawab aku Bili!" Seru Violetta.


Bili meronta-ronta tetapi kedua tangannya dikunci Theodore.


"Lepas!" Protes Bili.


"Apa kamu tahu siapa saja siswa penyalahguna love potion?" Tanya Violetta.


Veritaserum nya bereaksi dengan manjur. Ramuan kejujuran sudah bereaksi, Bili ditekan efek sihir supaya mengakui pertanyaan yang diajukan kepadanya.


"Aku tahu sebagian, tapi gak semua. Soalnya yang mengedarkan love potion bukan hanya aku." Ujar Bili, mengakui tanpa kehendaknya.


"Berapa orang pengedar didalam sekolah ini?" Tanya Violetta.


"Empat orang." Jawab Bili.


"Siapa saja mereka?" Tanya Violetta.


Skip...


Point of view.


Akhirnya Violetta sukses dalam mengorek informasi. Ini semua berkat keaslian veritaserum yang didapatnya kemarin. Ada tiga nama pengedar ramuan sihir ilegal yang Violetta dapat. Kemudian daftar orang-orang yang membeli potion ilegal dari Bili ada tujuh orang.


Informasi siapa saja yang telah membeli potion kepada Bili itu termasuk kapan waktu mereka membelinya. Violetta memakai ramuan yang membuat Bili jadi kehilangan ingatannya satu hari kebelakang. Kemudian Violetta bersama Theodore melanjutkan menginterogasi yang terlibat.


Akhirnya semua informasi sukses didapatkan saat sore hari.


POV end..


Malam telah tiba. Violetta berniat membahas ini setelah jam makan malam telah tiba.


Ruang perjamuan.


"Selamat malam para siswa-siswi berbakat."


Yang berbicara adalah orang dari kementerian sihir. Selama program third semester berlangsung mereka biasanya tinggal di asrama yang disediakan. Staf kementerian sihir yang biasa menjadi pemateri pada program third semester adalah sebanyak tiga puluh tujuh orang.


"Kami dari kementerian sihir mau berinisiatif untuk mendukung jeda liburan ini. Selain kita mentraktir dengan banyak minuman dan juga snack, kita hadirkan teater drama untuk meredakan kejenuhan kita."


Itulah kira-kira pesannya. Suasana menjadi lebih bising setelahnya. Itu adalah bising kemeriahan dan rasa gembira dari murid yang jenuh.


Sekarang kelompok Satella mulai mengabaikan pidato yang makin formal. Violetta memulai obrolan dengan Satella mengenai sindikat.


"Hei ... Stella." Seru Violetta.


"Iya Vio?" Sahut Satella.


"Kami tahu siapa orangnya." Kata Violetta.


"Maksudmu orang yang menyuplai potion ilegal disekolah ini?" Satella mempertegas.


"Tepat ... besok kita tangkap!" Tegas Violetta sambil melakukan gerakan mininju telapak tangannya.


Beberapa orang yang bukan dari kementrian berinisiatif untuk mempersiapkan panggung diatas lantai mimbar. Ada juga beberapa orang dari kru tim drama yang mempersiapkan panggung. Malam yang tenang penuh kebahagiaan.


Lantai mimbar ruang perjamuan sedang dipersiapkan sebagai latar panggung dadakan. Teater drama adalah unsur budaya di kerajaan Vilenchia ini, dikota Geffenia adat budaya ini masih cukup digemari.


Staf kebersihan sekolah datang membereskan meja makan ruang perjamuan. Nantinya meja-meja dihidangkan minuman dan snack. Pekerja kebersihan sekolah ada beberapa yaitu manusia dan ras goblin yang disegel darah sebagai tindak perbudakan. Meski begitu beberapa goblin atau biasa disebut peri rumah telah diperlakukan dengan baik disini. Yang disebut sebagai peri rumah diberikan upah yang layak meskipun lebih sedikit dari pekerja dari ras manusia.


Bisa dibayangkan betapa liarnya goblin yang tidak dijinakkan paksa dengan sihir segel perbudakan.


Perlahan-lahan ruang bertambah bersih lagi. Pentas teater drama ini biasanya diiringi dengan instrumen musik. Beberapa orang membawa peralatan musik menuju ke sudut pojok ruangan. Tim pemusik akan memainkan alat musiknya yang merupakan unsur budaya teater drama. Suara clarinet pun mulai terdengar, disusul suara terompet.


Itu baru sesi persiapan dimana kru pemusik memainkan alat musiknya secara terpisah.


"Permisi piringnya." Kata petugas kebersihan sekolah yang hendak membersihkan meja makannya.


"Silahkan ... kami sudah selesai." Sahut Minerva.


Piring-piring diambil dan diangkut troli. Petugas kebersihan mengelap meja makan kayu panjang dengan semacam semprotan barulah dilap dengan kain. Bau makanan yang tumpah pun hilang plus mengkilap.


Tak lama kemudian datang troli pengangkut makanan. Trolinya mengangkut aneka snack beserta minuman. Ada minuman seperti sampanye yang sedikit keras tapi minuman non alkohol juga ada.

__ADS_1


Pelayan menaruh piring besar yang tertutup tudung saji silver. Ditaruh ditengah meja, ada beberapa piring lagi. Beberapa cangkir juga ditaruh. Satella juga punya cangkir kosong dimeja nya. Datang petugas lainya dengan membawa troli makanan. Tetapi troli makanannya membawa botol-botol minuman. Petugas itu mendatangi Satella dengan trolinya.


"Mau sampanye?" Petugas sekolah menawarkan kepada Satella.


Minerva memotong.


"Maaf ya ... kami tidak meminum yang mengandung alkohol." Kata Minerva.


"Tapi aku mau coba." Kata Satella.


"Gak boleh." Omel Minerva yang menatap galak kearah Satella.


"Iya deh." Satella pasrah.


"Aku juga tidak minum ... aku jadi ingat betapa sedihnya ibu waktu melihat ayah minum itu." Curhat Isyana, yang terlihat prihatin.


"Itu minuman apa sih?" Sekarang little Iota bertanya.


"Aku juga gak tau ... akunya belum pernah cicip. Aku sih pernah lihat ayahku minum itu, kakak pertama juga pernah." Satella bercerita.


"Jangan minum ya Iota kecil!" Omel Minerva.


"Emang itu apa sih Neruva?" Tanya Iota dengan lidah serba cadelnya.


"Minuman mengandung alkohol ngerti gak! Minuman ini membuat kita jadi teler." Ujar Minerva.


Little Iota membayangkan dirinya teler seperti orang kurang waras.


"Aku gak akan minum!" Ujar Iota, terlihat seperti anak kecil habis ditakut-takuti.


"Tuangkan aku!" Pinta Violetta.


Violetta menyodorkan cangkirnya kepada petugas sekolah yang lagi menyiapkan hidangan. Sampanye dituangkan di gelasnya Violetta.


"Kamu minum?" Tanya Minerva.


"Ini membuat tidurku jadi lebih nyenyak. Aku cuma meminumnya sedikit saja kok." Jawab Violetta.


"Sedikit ya ... awas kalau banyak!" Omel Minerva.


"Iya aku berjanji." Jawab Violetta dengan mimik dan nada datarnya.


Violetta menaruh cangkir berisi sampanye dimeja nya. Tapi tidak diminumnya sekarang. Ada piring pipih berisi aneka snack seperti kentang goreng dan sosis. Aneka makanan ringan sangat lengkap.


"Hei ... mamah tiri." Seru Violetta memanggil Minerva.


[Note : Minerva dikenal dengan kegalakan nya, makanya diberikan julukan mamah tiri di kelompok.]


"Apa sih lunglai?" Balas Minerva, menatap kesal teramat galak.


"Kamu sudah pernah meminum minuman keras?" Tanya Violetta.


"Pernah sih kalau boleh jujur ya. Tapinya aku ini orangnya menjaga kesehatan. Selama ini aku minum baru empat kali seumur hidupku." Jawab Minerva.


"Walah ... ternyata mamah tiri ku pernah minum." Violetta terkekeh.


"Apa sih kamu ... aku dipanggil mamah tiri terus. Emangnya aku nikah sama bapakmu apa, cewek lesu ... dasar mata sayu!" Minerva mengomel kearah Violetta.


"Sabar ya ... jangan marah-marah terus, nanti tambah muda." Canda Violetta terkekeh.


Candaan Violetta terasa nyebelin dimata Minerva. Minerva memberi omelan kearah Violetta.


"JANGAN MARAH-MARAH TERUS, NANTI CEPET TUA!" Minerva bilang begitu dengan kondisi marah yang terlihat lucu bagi orang-orang.


"Itu baru bener BEG0!" Minerva meluapkan amarah jiwa kepada Violetta.


"Bikin kesal sekali lagi, aku siram dengan sampanye ya kamu sayu!" Minerva mengomel.


"Sabar dong sabar." Ucap Isyana.


Satella terkekeh dengan sensasi menggelitik perut. Tapi Satella menahan itu, Satella mengusapi punggung Minerva agar darah tingginya mereda. Usapan-usapan manja yang penuh kelembutan.


Alih-alih meminta maaf, Violetta menjulurkan lidah sebagai gestur mengolok-olok.


Minerva jengkel.


"Makin kesini, mata sayu semakin banyak gaya ... huf sebel!" Minerva melipat tangan sambil membuang mukanya yang cemberut.


Pentas drama hampir siap untuk dimulai.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2