
Satella memberikan tiga gold coin kepada Isyana. Isyana sangat riang setelahnya. Bagaimana tidak! Uang sebanyak itu bisa untuk berwisata kuliner di restoran ataupun bisa belanja pakaian. Kalau boleh untuk dibayangkan, tiga gold coin setara dengan tiga juta rupiah. Itu hanya untuk memudahkan imajinasi saja.
"Dengan uang ini aku bisa belanja gaun yang cantik." Isyana sangat kegirangan karenanya.
"Sekarang waktunya kamu jadi kelinci percobaan aku!" Violetta menyeringai.
"Yasudah mana ramuan sihirnya?" Isyana menagih.
Violetta menaruh veritaserum nya diatas meja. Tampak putih sejernih air mineral biasa. Bahkan Isyana sempat mengira itu botol kosong. Isyana salah kira karena ia sedikit meleng matanya. Cukup lama bagi Isyana untuk menyadari itu berisi.
"Hah ... kosong?" Seru Isyana yang bernada bingung.
"Mata dipake oy!" Omel Violetta bernada datar.
"Mana isinya?" Mata bulat besar Isyana bersikeras. Mata Isyana itu sama besarnya dengan jidatnya. Sayangnya di universe ini tak ada kata belo, untuk mata bulat besar.
"Ramuan sihirnya berwarna air mineral." Seru Violetta.
"Eh ... masa sih?" Isyana bernada heran.
Isyana mendekatkan lagi matanya kearah botol potion. Butuh waktu lama bagi Isyana untuk menyadari bahwa Violetta benar.
"Ya ... ampun, kamu benar si mata sayu." Isyana sedikit heboh.
"Nah sekarang cepat kamu minum potion itu!" Pinta Violetta.
"Baiklah ... baiklah aku pasti akan meminumnya!" Isyana nge-gas.
Isyana mengambil botol potion dengan tangannya. Entah karena penasaran atau apa, Isyana iseng mengendus bau ramuan sihirnya.
"Kenapa sih, pake dicium-cium segala?" Tanya Satella, mimiknya sangat heran campur sebal.
"Cepetan dong!" Omel Violetta, dengan nada datarnya.
"Eh ... aneh deh. Ramuan sihirnya tanpa bau apa-apa. Kaya air putih biasa deh baunya." Komen Isyana.
"Memang seperti ini karakteristik dari veritaserum." Satella keceplosan.
Untungnya Isyana cukup tumpul dalam pelajaran. Isyana tak cukup berwawasan untuk paham apa itu ramuan veritaserum.
"Sstt!" Violetta meminta Satella supaya bungkam.
"Veritaserum tuh apa sih, aku gak terlalu hapal nama-nama ramuan sihir." Kata Isyana.
"Serius deh kamu tidak tahu apa itu veritaserum?" Tanya Satella.
Dengan santainya Isyana jawab.
"Enggak."
"Untung saja." Batin Violetta yang berbisik sendiri.
"Cepetan minum oy!" Omel Violetta.
Akhirnya Isyana meminum potion tersebut satu teguk saja.
"Walah ... aku lupa." Gumam Satella.
Kemudian Satella pun membisiki Violetta.
"Hei Vio ... bukankah veritaserum dosisnya cukup tiga tetes saja. Cukup baginya untuk menumpahkan rahasia terdalam?" Bisik Satella.
"Aku mau mengajukan banyak pertanyaan." Bisik Violetta yang tertawa jahat.
"Jangan bongkar ranah pribadinya Isyana! Aku ngelarang kamu untuk melakukan itu pada Isyana ya Vio." Bisik Satella, memberi protes.
"Sudah cukup!" Seru Satella.
"Apa katamu ... aku belum minum sampai habis loh." Kata Isyana.
"Satu teguk saja cukup." Satella memberitahu.
Violetta menepuk tangan sekali.
"Oke ... saatnya memulai percobaan!" Ujar Violetta.
Isyana nyimak.
"Jawab pertanyaan dariku!" Pinta Violetta, menyeringai.
"APA?" Isyana dengan felling yang kurang enak.
"Apa kejadian paling memalukan didalam hidupmu!" Tanya Violetta, tertawa jahat.
"Gak ada lah!" Bantah Isyana.
"Ayo jawab!" Paksa Violetta.
"Aku gak mau!" Isyana ngelawan.
Violetta menghela napas berat yang agak panjang.
"Sudah kuduga." Ucap Violetta, raut wajahnya suram.
"Veritaserum nya gagal ... Aku jadi paham sekarang. Kita gak mungkin bikin ramuan sekelas veritaserum semudah itu. Hanya orang yang disebut dengan master ramuan yang mampu membuat ramuan semacam itu." Violetta mengeluh.
Fakta bahwa veritaserum yang diraciknya gagal, sukses membuat Violetta semakin muram. Wajah Violetta yang biasa sudah terlihat tanpa cahaya, Apalagi sekarang.
"Sabar ya Violetta." Bujuk Satella.
"Tapi aku membutuhkan ramuan veritaserum segera. Aku butuh segera untuk mencari tahu siapa yang menjadi dalangnya." Kata Violetta.
__ADS_1
"Kita minta kepala sekolah agar memberikan kita veritaserum. Kupikir kepala sekolah bakalan memberikan kita veritaserum nya apabila ia tahu niat kita itu baik." Satella memberi usulan.
"Baiklah mari kita coba!" Violetta menerima usulan Satella.
Skip...
Lorong sekolah.
Berjalan kaki dilorong lantai tujuh. Tujuannya adalah pergi keruang kepala sekolah. Melalui pandangan Satella, pintu ruangan pak kepala sekolah berada diujung yang jauh. Violetta yang ahli memprediksi, mengukur bahwa pintu itu masih berjarak seratus tiga puluh meter sebelum sampai.
"Capek kalau jalan kaki terus ya." Keluh Satella.
"Mau pake sihir transfigurasi Stella?" Tanya Violetta.
"Biar gak cape." Gumam Satella.
"Aku harus mengirit mana point milikku, supaya nanti bisa dipakai tuk meringkus sindikatnya." Violetta bernada datar dan lesu.
"Maksudmu sindikat yang penyalahguna ramuan love potion?" Tanya Satella.
"Sudah jelas kan." Sahut Violetta, dengan nada yang jengkel.
"Maaf ... jangan nge-gas dong." Ucap Satella.
Tak lama mereka sampai didepan pintu masuk ruang kepala sekolah. Violetta hanya berdiri didepan pintunya. Satella menatap kearah Violetta dan mengangkat bahu.
"Ayo." Seru Satella.
"Kamu itu anak emasnya kepala sekolah. Kamu saja yang masuk!" Pinta Violetta.
Mendengar argumen itu, Satella teringat satu demi satu momen terdahulu. Satella teringat momen ketika dimarahi kepala sekolah.
"Ngomong apa sih kamu, aku itu sering dimarahi." Ucap Satella wajahnya terlihat cukup suram.
"Jangan sampai kamu sebutkan si terduga nya. Kamu ulangi semua kata-kata yang udah ku contohkan waktu diruang kebutuhan." Kata Violetta, memberi arahan.
"Oke." Satella mengiyakan.
Satella memasuki ruangan.
Ruang kepala sekolah.
Satella melangkah masuk. Kepala sekolah mempersilahkan duduk.
"Ada keperluan apa nyoya kecil charlotte?" Tanya kepala sekolah.
"Aku butuh veritaserum pak." Ujar Satella.
"Apa?" Kepala sekolah tak percaya.
"Ini penting pak." Kata Satella.
"Ada seorang murid yang terbukti menyalahgunakan love potion pak." Satella melaporkan.
"Siapa orangnya?" Tanya kepala sekolah.
"Tidak boleh, itu bukti milik kami satu-satunya." Kata Satella.
"Sebelum menggunakan ramuan kejujuran, harus ada bukti kuat." Kepala sekolah bilang.
"Kelamaan loh pak." Keluh Satella.
"Tadi kamu bilang, itu bukti milik kami satu-satunya." Kepala sekolah terdiam sebentar.
"Minerva dan Violetta adalah geng kamu disekolah?" kepala sekolah mengangkat bahu saat bertanya.
"Bilang saja boleh atau tidak pak. Sekarang ini kami ingin mencari sindikatnya." Satella menekan.
"Mencari otak kejahatan adalah otoritas dari polisi militer. Nanti bisa-bisa ditahan karena terkena pasal persekusi loh. Ujar Kepala sekolah, memperingatkan.
"Katakan saja, boleh atau tidak?" Tanya Satella.
"Mohon maaf tidak bisa. Bapak ini tidak mau berurusan dengan satu pelanggan hukum." Tolak kepala sekolah.
"Baiklah." Satella sedikit kesal dan langsung pamit.
Skip...
Satella keluar ruangan, menemui Violetta. Violetta pun langsung saja menanyakan hasilnya.
"Bagaimana?" Tanya Violetta.
"Ditolak." Jawab Satella.
Perspektif pindah kepada sosok Violetta.
Skill pasive milik Violetta pun aktif dengan sendirinya.
Perspektif waktu dimundurkan.
"Ayo." seru Satella.
Violetta tertawa geli.
"Ayo kemana?" Tanya Violetta.
"Kamu anya kepada pak kepala sekolah! Mudah-mudahan ia mau memberi potion veritaserum nya." Kata Satella.
"Tidak perlu." Kata Violetta.
"Kenapa?" Satella bingung.
__ADS_1
"Karena kamu pasti ditolak deh." Jawab Violetta.
"Coba aja dulu." Kata Satella.
"Tidak perlu, karena aku sudah meramalkan kalau kami nantinya ditolak." Kata Violetta.
"Terserah!" Satella pun memasuki ruangan.
Skip...
Beberapa menit kemudian Satella kembali. Satella keluar ruangan dengan wajah ditekuk dan senyum yang masam. Violetta tertawa dibuatnya sambil ia menjulurkan lidahnya sebagai olok-olokan.
"Ditolak kan?" Violetta terkekeh.
"Iya huf!" Satella sebal.
"Kan sudah aku ramalkan." Ujar Violetta.
"Sekarang apa selanjutnya?" Tanya Satella.
Violetta mendekatkan mulutnya dikuping Satella. Violetta dengan gestur berbisik memberitahukan Satella tindakan selanjutnya.
"Beli veritaserum yang sudah jadi. Kita bisa membelinya seharga dua puluh gold koin per 500ml di toko gelap diagon alley." Kata Violetta.
"Aku masih punya seribu gold coin kok." Satella dengan gestur yang menyombongkan dirinya.
"Ayo cepat, anak orang kaya." Ucap Violetta.
Skip...
Berjalan keluar pintu dinding yang mengelilingi kastel sekolah. Mereka belok kiri untuk menyusuri jalan protokol utama. Berjalan terus dan tiba di persimpangan jalan. Kalau belok ke kanan akan tiba di Elevenia street, kalau belok kiri akan tiba di lavender alley. Mereka menempuh jalan lurus kedepan dengan terus berada di protokol utama dengan delapan ruas jalur kereta naga.
"Hei.. Stella." Seru Violetta.
"Ya Vio?" Sahut Satella.
"Kamu ini paling jauh jalan-jalan kemana?" Tanya Violetta.
"Elevenia street." Jawab Satella.
"Serius?" Violetta dengan ekspresi tidak percaya.
"Iya Vio." Satella bernada sebal.
"Kita akan pergi ke distrik lainnya sekarang. Letaknya cukup jauh loh dari sini." Kata Violetta.
"Terus gimana dong, apa gak pake sihir transfigurasi?" Tanya Satella.
"Eng.. itu sebenarnya." Violetta pun tau-tau berhenti ditempat.
Violetta pun berdiri dengan gestur seolah ingin berbisik. Satella segera berjalan mendekatinya.
"Kenapa?" Tanya Satella, kini telah berada dekat dengan Violetta.
"Kemaren pas kita beradu sihir transfigurasi." Violetta membuat ekspresi wajah sedikit takut.
"Iya kenapa?" Satella gak sabaran.
"Kita kan sudah balapan secara ugal-ugalan kemarin itu. Terus beberapa orang yang celaka tuh ngelaporin pastinya. Aku tuh yakin polisi militer memantau ketat jalanannya. Kalau seandainya kita ketahuan sebagai pelaku yang ugal-ugalan waktu itu, bisa gawat." Violetta takut berlebihan.
"Polisi militer mana mungkin bisa ngejar kita. Lagian mereka mana mungkin tahu, kita kan berubah wujud." Ujar Satella.
"Bisa aja mereka punya unit ward pengawas." Kata Violetta.
"Semacam totem itu ya." Gumam Satella.
Satella menampakkan gestur yang heboh.
"Masa kita jalan kaki?" Satella menampakkan raut kaget yang bercampur stress.
"Kalau mau gak capek berarti naik kereta naga." Kata Violetta.
"Oh kalau itu sih gampang." Kata Satella.
Mereka berdiri dipinggir protokol utama untuk menunggu datangnya taxi kereta naga. Kurang lebih telah menunggu selama tujuh menitan sebelum taxi kereta naga nya tiba.
Satella melambaikan tangan.
"Pak ... naik!" Seru Satella.
Taxi kereta naga pun berhenti. Pengemudi pun bertanya kepada seorang calon penumpang.
"Mau pergi kemana?" Tanya kusir.
"Diagon alley!" Jawab Satella.
"Saya hanya bisa mengantarkan sampai jalan dua jalur. Tidak bisa mengantar sampai jalur gang yang sempit itu ya." Kata kusir nya.
"Tidak apa-apa." Jawab Satella.
"Biayanya 25 silver coin." Kusir nya bilang.
[Note : 25 silver coin sama dengan dua setengah koin emas.]
"Iya." Satella mengangguk.
"Silahkan naik." Kusir kereta naga mempersilahkan mereka naik.
Satella dan Violetta menuju diagon alley untuk mencari ramuan sihir ilegal di black market.
~bersambung~
__ADS_1