Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Mendaftar turnamen sihir


__ADS_3

Setelah mengganti gaun yang sedikit robek didalam kereta naga keluarga Charlotte. Akhirnya Starla ikut mengantri dibelakang Satella. Mereka putri kembar yang lucu.


Mengantri di loket yang disediakan oleh kementerian sihir. Satella membawa map berisikan formulir pendaftaran. Starla yang berada dibelakangnya sesekali menarik rambut kakak kembarnya satu helai lalu sehelai lagi dan seterusnya. Hingga Satella menoleh kearah belakang, melotot. Starla hanya cengengesan.


"Udah ya! sakit tau," ucap Satella.


Yang ada didepannya selesai, Satella pun menyerahkan form pendaftaran.


"Adik kecil...." Petugas loket berseragam penyihir kementerian sihir tersenyum lucu melihat betapa belia gadis didepannya. Memiliki rambut pirang dikepang, sedikit bintik-bintik dibagian pipi, lumayan manis.


"Apa sudah berusia diatas tujuh belas?" Petugas loket bertanya.


Satella mengerutkan kening, imutnya membuat petugas loket semakin yakin sedang berhadapan dengan anak kecil.


"Aku delapan belas," kata Satella.


"Sudah mendapat persetujuan dari orang tuamu?"


"Sudah."


"Baiklah, Kemari kan form nya adik sayang." Petugasnya tersenyum riang meminta formulir pendaftaran. Satella memberikan formulir miliknya. Petugas mengeceknya.


"Oke sudah," kata petugas.


Satella menyingkir dari barisan antrian pendaftaran.


"Aku bilang sudah!" Petugasnya memberi sedikit teguran, sedikit marah.


"Aku belum daftar loh," kata Starla.


Starla menyodorkan map formulir pada petugas pendaftaran.


Kala Starla maju, petugas loket terkejut sekaligus terkekeh.


Terlihat nama yang berbeda walau hampir mirip. Itu jelas membuat petugas merasa bersalah sekaligus merasa lucu akibat menatap ekspresi lucu Starla. Petugasnya sampai mengukir senyum paling lebar.


"Eh?" Petugas menaruh formulir diantara tumpukan formulir lainnya.


"...." Starla malah bengong.


"Kalian kembar?" Petugas loket nya malah cengengesan.


"Iya, dia kakakku." Ucap Starla, nada imut Starla mengalahkan keimutan gadis kecil.


Di ruang tunggu yang masih satu tempat dengan loket pendaftaran, ada banyak meja dan kursinya. Terutama kursi sofa panjang yang bisa diduduki beberapa orang, ada banyak kursi khusus satu orang. Dekorasi ruangan ini cukup artistik walau kalah jauh dengan rumah bangsawan tingkat satu.


"Eh!" Satella merasa kesal karena telah bertemu orang yang paling ia sebal tapi masih tergolong baik.


"Ara .... awas ngompol."


Yang dilihat Satella adalah sosok gadis lumayan cantik. Terutama poninya yang terbelah dua sangat lucu, cukup imut.


"Kenapa kamu kesini!" Satella beranda lumayan galak.


Satella berdiri, menolak pinggang, melotot kearah Isyana.


"Walah, santai dulu, santai dulu. Jangan marah, jangan marah." Isyana menahan Satella dengan tangannya.


"Kikikik."


Tau-tau suara cekikikan yang membuat Isyana trauma pun datang. Adalah suara cekikikan yang sama dengan Satella.


"Eh...." Isyana mengerutkan keningnya. Ia merasa depresi hanya karena mengenali identitas pemilik suaranya.


"Monster dalam kedok wujud anak-anak." Isyana bersuara dengan nada ketakutan.


Rasa takut tidak mengurangi kebiasaannya yang bermulut toxic.


"Walah, aku dikatain monster loh kak. Apa kakak mengenal anak nyebelin dengan poni cute ini? Kenal gak kak," kata Starla.


"Aku bukan anak-anak tau!" Starla langsung cemberut.


"Hora ... Satella cantik, tolong atur adikmu supaya tidak bandel, hehehe," ucap Isyana.


Satella menoleh kearah Starla, menatap dengan wajah bengong yang imut. Starla membalas dengan wajah bengong juga, bagaikan pinang dibelah dua. Saling tatap dengan kakak kembarnya, ia mengangkat bahunya dengan wajah anak bandelnya.


"Nyebelin, mukanya," Ucap Isyana.


"Apa kamu bandel lagi? Ampun deh adik, belum boleh bandel kalau belum dua jam kemudian yah." Satella menegur adiknya.


Starla malah cengengesan.

__ADS_1


"Tenang kak, aku bandelnya gak lebih dari empat kali sehari kok," kata Starla.


Satella balas cengar-cengir dengan mimik konyolnya yang kocak.


"Good job." Satella mengangkat jempolnya sambil memamerkan giginya kala melepas senyum lucunya.


"Walah, bandel empat kali sehari kok malah bangga." Isyana mengerutkan keningnya.


"Dasar kalian aneh," kata Isyana.


"Ahem!" Satella merasa kesal.


Satella berdeham, menatap kembarannya dengan mimik nakal.


"Dik Stalla." Satella dengan nada cadel yang sengaja dibuat imut.


"Apa akak?" Balas Starla dengan senyum penuh makna.


"Kamu diperbolehkan membully orang ini sampai kamu puas." Satella tertawa jahat.


"Walah, dasar kalian monster kembaran!" Umpat Isyana penuh ketakutan.


"Dik Starla, dik Starla." Satella memanggil dengan gestur berbisik.


"Iya kak," seru Starla.


"Aku bosan dikatain terus selama satu semester. Ayo kita balas perbuatan cewek toxic ini." Satella mengepal tangannya. Ia memejamkan matanya dengan kerutan dikeningnya.


"Dengan senang hati kak," kata Starla.


"Adik yang berbakti." Satella membalas dengan tersenyum penuh arti.


"Kita apakan kak?" Tanya Starla sambil memiringkan wajahnya, tertawa jahat.


"Aku terbangkan, gimana?" Tanya Satella, diakhiri senyum usil.


"Ide bagus kak," kata Starla.


"Eh...." Isyana mulai resah.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku." Isyana dengan nada ketakutan seolah melihat hantu pada tengah malam, di kuburan.


"Kya...." Isyana menjerit kaget, tersentak tubuhnya kedepan sambil melompat.


"Hehehe, seru dik," kata Satella.


Melindungi pantatnya dengan sepasang tangan menutupi agar kain roknya tidak ditembak api kecil oleh Starla. Kembali bertatapan, Starla kembali mengangkat telunjuknya. Kali ini telunjuknya sengaja mengeluarkan api sebesar korek api agar menggertak Isyana.


Wajah ketakutan Isyana sukses membuat Starla tertawa ngakak sejadi-jadinya. Tawa terkikik tiada henti, Satella pun tertawa walaupun tawa Satella lebih kecil daripada adiknya. Tawa Starla sungguh mengganggu bagi orang-orang diruangan ini. Beberapa berdeham sebagai gestur protes. Perlahan Starla menghentikan tawanya.


"Berisik!"


"Anak kecil itu berisik banget!"


Satella malah puas melihat adik kembar tercinta dimarahi.


Starla menarik napas yang panjang.


"Buat gaduh!" Tiba-tiba seseorang datang menjewer kuping lancip Starla.


"Hei, jangan berani-beraninya kamu jewer kuping lancip ku. Hentikan itu, atau akan kuberi pelajaran!" Starla murka atas orang yang menjewer nya tanpa ampun.


"Ayo sini, kalau mau beri pelajaran!" Orang yang menjewer Starla segera menggeser kepalanya hingga menghadap dirinya.


"Eh?" Starla terkejut dengan wajah bengong yang imut.


"Eh...."


"Kakak?"


Starla sangat shock.


"Walah, kak Diana kenapa datang kesini?" Satella juga ikut kaget, tapi masih dalam ekspresi bengong.


Diana menatap Satella dengan ekspresi galaknya.


Diana Charlotte.



Diana begitu mirip dengan Satella maupun Starla. Rambutnya juga perak, Diana punya iris mata ungu amethyst seperti sang ibu. Berbeda dari Satella dan Starla dengan karakter wajah imut dan cenderung terlihat seperti anak-anak. Diana memiliki karakter wajah seperti wanita dewasa yang matang.

__ADS_1


Secara genetis, Diana adalah manusia seutuhnya. Gen elves dari ibunya tidak diwarisi oleh Diana. Secara penampilan seolah-olah ia manusia seutuhnya.


Diana memiliki sedikit gen snow elves. Genetika manusia yang dominan dan gen snow elves yang sifatnya pengenceran.


Diana menatap adik-adiknya, terutama si bandel Starla.


"Tapi kak, kenapa aku dijewer?" nada protes diberikan Starla kepada kakaknya.


"Habisnya kamu nakal!" Diana terlihat menatap kesal terhadap adiknya, Starla.


Starla cemberut.


"Nightingale melapor padaku, kamu ribut dengan orang lain? Dasar anak bandel, menyebalkan!" Diana mengomeli Starla.


"Eh?" Starla terlihat bermasalah.


Sementara Satella menutupi bibir dengan ujung jarinya. Satella cekikikan, amat puas menertawakan adik kembarnya.


"Ara.... Kakak Diana, kakak Diana, Starla bertindak bandel. Tadi Starla dan Satella membully aku tuh." Isyana berupaya tuk membalas tindakan si kembar barusan.


"Gess, akan aku beri perhitungan dengan gadis berponi belah dua ini. Udah toxic, menyebalkan pula." Starla mendesis dan melotot kearah Isyana yang mengadu macam-macam kepada kakak Diana.


Diana menjewer kuping Satella dan juga kupingnya Starla.


Mereka berdua merintih.


"Aduh...."


"Sakit, kak."


Mereka dihukum kakaknya. Anak kedua di keluarga inti house of Charlotte.


Melihat si kembar mendapat kesialannya membuat Isyana tertawa terbahak-bahak. Tidak lama datanglah seseorang dengan karakter nada pemalas tapi mirip seperti suara lembut yang keibuan.


"Walah, ada ribut-ribut apa ini? Oh ternyata, aku lihat, ternyata si kembar. Ada Isyana, kemudian, aku belum pernah lihat. Apakah kamu kakaknya si kembar, anak kedua di keluarga Charlotte?" Seorang yang baru datang, menyapa dan memberi kesannya.


Wanita dengan rambut ungu violet yang terurai panjang. Poninya juga panjang, itu menutup salah satu matanya saking tebal juga panjang poni ungunya. Sesekali ia menguap kantuk. Rambutnya terurai amat panjang, panjang sampai ke pinggang.


Gaun indah. Gaun dengan perpaduan hitam juga ungu. Gaun kalangan menengah atas. Menegaskan ia bukan seorang bangsawan namun tergolong ekonomi menengah atas.


"Hei, Vio...." Seru Satella, senyuman yang gembira. Wajah Satella menegaskan kalau dirinya menyimpan rasa rindu.


"Eh, ada Violetta si cewe lesu gak punya gairah dan semangat," kata Isyana.


Saat ini Violetta masih menatap kearah nyonya muda, Diana.


"Namaku Diana, aku kakak dari dua anak bandel ini," kata Diana.


"Oh lady, salam kenal lady. saat pertama melihat, kupikir anda adalah Satella. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, anda lebih tinggi dengan garis wajah yang dewasa dengan wibawa. Saya adalah teman Satella yang sangat akrab," kata Violetta.


"Jadi, kamu teman akrabnya Stella, aku senang adik bandel ku punya teman," kata diana.


"Oiya.... Aku sudah seperti baby sister bagi Satella. Habisnya Satella itu seperti anak kecil, jadi harus diawasi. Sedikit aja lengah, Satella sudah kambuh bandelnya." Violetta tertawa politis, seolah ingin berusaha akrab dengan Diana hanya karena statusnya.


"Ahem."


Diana berdeham.


"Kalian sudah selesai mendaftar?" Diana bertanya pada dua adiknya, setelah tadi menarik napas yang agak berat.


"Sudah kak."


Satella dan Starla satu suara.


"Ayo pulang," kata Diana.


Wajah Satella dan Starla langsung bete.


"Tapi kak, kita baru saja sebentar berada disini," kata Starla.


"Kenapa, harus langsung pulang?" Tanya Satella, dilihat dari wajahnya ia masih mau bersama teman-temannya.


"Kalian harus pulang! Sebelum kalian bikin keributan lagi. Kalian tidak ingat berapa banyak kekacauan yang telah kalian buat!" Diana mengomeli dua adik kembarnya lalu memegangi tangan mereka agar tidak bisa kabur atau melawan.


"Tapi, yang bikin masalah kan Starla kak! Kenapa aku juga ikut-ikutan disalahkan ya kak?" Satella memberikan nada protes.


Tapi tangan Diana menyeret si kembar menuju keluar ruangan.


Mereka segera menuju kereta naga.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2