
Note.
Twist tidak muncul setelah sepuluh part kedepan. Twist sudah direncanakan dan sedang dibuat. Tapi saya gak akan memberitahu kalau plot twist nya sedang terjadi. Saya gatel mau up, habisnya bikin draft tanpa di up itu rasanya gak tahan. Soalnya kalau up, bisa di komen. 😆
______________________________________________
Beberapa menit lamanya berlalu semenjak Minerva menemani rasa pilu wanita muda itu. Keluarlah mereka bertiga, pertama-tama Theodore disusul Minerva yang melepas jubahnya. Minerva yang atletis sungguh elok dengan gaun berwarna kuning. Gaunnya tanpa lengan, memamerkan tangan atas yang atletis. Pada dunia modern, petenis wanita memiliki keseksian pada lengannya yang atletis dan bahunya yang berotot tapi masih tertutup sedikit lemak. sangat atletis.
Posturnya sangat tegak saat berdiri, seolah punggung Minerva ketarik sedikit kebelakang hingga terlihat cekung dari belakang. Postur tegak yang menarik punggung kebelakang membuat dadanya seolah-olah membusung keatas penuh dengan pesona seksi cewe atletis. Jikalau berada di era modern, maka Minerva dapat disejajarkan dengan petenis terseksi dunia yang paling atletis.
Ketika Minerva menoleh kearah samping, salah satu tangan menempel dipinggang. Minerva menampakkan bahu yang sangat tegap sekaligus memamerkan pinggulnya yang terlihat meliuk indahnya. Violetta terkekeh saat melihat keseksian atletis Minerva.
"APA LIRIK-LIRIK.
"Suka sesama cewe ya!" Omel Minerva.
"Cuma ingin memuji aja. Gak jadi gara-gara udah disemprot duluan!" Wajah Violetta datar tapi bahasa tubuhnya keki.
"Hehehe ... maaf deh maaf." Hanya dibalas dengan senyam-senyum.
"Mau kuantar pulang tidak?" Tanya Minerva pada sosok orang dibalik pintu. Sosok tersebut masih malu menampakan dirinya.
"Antar dia Theodore!" Minerva memerintah dengan nada tegas layaknya calon ibu kepala sekolah sihir masa depan yang tergalak.
Orang itu keluar pintu. Satella pun melihat jelas seorang wanita yang memakai jubah miliknya Minerva. Wanita tersebut amat berantakan rambutnya. Ujung mata memerah karena banyak nangis.
"Korban penculikan." Minerva secepatnya menjelaskan agar sisi polos Satella tak berkembang jadi daya nalar ala gadis pasca puber.
Theodore menghalangi Satella dari menyaksikan seorang wanita yang disekap yang tadinya polos hanya berbalut selimut dan diikat. semua upaya Theodore menghalangi agar Satella tak melihat adalah inisiatif dari Minerva.
"Terimakasih telah menjaga agar mindset polos masterku terjaga." Theodore tersenyum penuh arti kearah Minerva.
Theodore menaiki tangga kearah lantai satu untuk mengantarkan korban penculikan pulang.
Point of view.
Violetta menginterogasi kembali seseorang. Akhirnya terungkap identitas pemimpin mereka yang sebenarnya adalah Starla. Ketika Violetta pergi menuju pasar gelap untuk membeli serum kejujuran, Violetta dan Satella mendengar adanya nama itu. Pemilik tokonya adalah kenalan Starla.
Violetta pun bertanya 'Apa Starla datang hari ini' maka bandit yang ditekan veritaserum menjawab dengan, 'Pukul sebelas' Violetta menyusun rencana untuk ciduk seseorang yang bernama Starla.
Supaya Starla tidak curiga maka seluruh anak buahnya segera disembunyikan Sebelum Starla datang. Tentu Violetta penasaran tentang biang keladi pengedaran ramuan ilegal yaitu love potion sehingga beredar disekolah nya.
Terutama Satella amat penasaran tentang, apakah Starla yang sedang berurusan dengan mereka adalah Starla twin susternya yang dahulu dinyatakan tewas ataupun hilang.
POV end...
Beberapa saat kemudian....
Seorang gadis dengan jubah yang berwarna hitam terlihat masuk kedalam rumah. Sembunyi di satu tempat, Satella pun menerawang dengan clairvoyance. Sementara Violetta harus terus konsentrasi dengan third eyes miliknya yang krusial. Satella terus menerawang dengan mata batin, meniadakan penglihatan realnya sementara ini.
Tapi indera pendengaran masih setengah disini setengah disana. Sehingga terdengar saat Minerva dengan bawel menginterupsi.
"Bagaimana Satella." Seru Minerva dengan bawelnya.
"Seseorang yang perawakannya setinggi aku juga mungil masuk keruang tamu." Jawab Satella.
"Bagaimana ciri-cirinya?" Minerva terus menerus penasaran.
"Dia berambut perak sama dengan aku. Aku gak tahu lagi, habisnya tertutup jubah hitam yang ditutup atasnya hingga menutupi mata." Jawab Satella.
"Apa kamu yakin kalau itu Starla kembaran mu?" Tanya Violetta.
"Entahlah, samar-samar." Jawab Satella.
Sementara itu.
Sosok berpostur sama tingginya dengan Satella memasuki ruang tengah. Menoleh kesegala sudut sampai ke lorong. Merasa janggal karena biasanya banyak orang.
"Sepi sekali, mencurigakan." Batin orang itu.
Menghela nafas berat.
"Adakah seseorang disini?" Seruan orang itu.
__ADS_1
Dari sini dapat dipastikan kalau suaranya persis dengan Satella.
"Siapapun jawab aku!" Gadis yang pita suaranya nyaris persis dengan Satella terus memanggil-manggil.
Ia memutuskan untuk berjalan kelorong rumah sambil mencoba memanggil seluruh anak buahnya.
Lantai dua.
Berada dilantai dua, semuanya menciduk Starla. Starla sedikitnya terkejut bahwa beberapa orang mencoba untuk mengepungnya disudut lorong sempit. Kini Starla berhadapan dengan empat orang yang sama sekali asing baginya.
"Siapa kalian!" Starla dengan nada gertakan.
Yang dilihat Starla adalah seorang laki-laki rambut silver berseragam butler. Satu orang wanita atletis bergaun kuning dan dua wanita ditutupi jubah hitam ala penyihir.
"Bukalah topeng mu!" Violetta meminta Starla menampakan wajahnya secara penuh.
"Kamu dulu!" Starla pun menunjuk kearah Violetta.
Dengan entengnya Violetta telah membuka tudung kepalanya yang bagian dari jubah. Kini wajahnya yang datar dengan poni ungu yang menutupi salah satu matanya telah nampak jelas.
"Ayo buka topeng mu!" Violetta mendesaknya lagi.
Dengan sebagian besar wajahnya ditutup tudung kepala jubahnya Starla menyeringai.
"Kenapa menyeringai seperti itu!" Minerva dengan galaknya, merasa was-was juga.
Starla mulai mengarahkan jari telunjuknya.
Fire bolt !!
Baut api ditembak beruntun dan membabi-buta. Baut api seukuran bola kelereng, lesatannya secepat proyektil senjata api. Tapi apinya lenyap menjadi uap diudara.
Frost Shield !!
Satella menepis baut api Starla dengan perisai es segi enam yang terlihat hampir transparan.
"Magic caster type ice adalah bakat yang sedikit loh." Ucap Starla.
"Sekarang giliran ku!" Seru Satella.
Energi sihirnya telah ditakar sejak beberapa detik yang lalu. Energi sihirnya yang dikumpul didalam genggaman tangan, akan segera dilepaskan kearah lawannya.
Frost driver !!
Satella melesatkan bola pusaran saljunya. Seperti lingkaran sebesar genggaman tangan yang berisi pusaran angin dan butiran salju. Warnanya putih agak sedikit biru.
Secara bersamaan Starla memberi perlawanan dengan sihir api lagi. Bagaikan yin dan yang. Api dan es saling berlawanan dan bertolak.
"Menarik!" Seru Starla, seolah ia mendapat kesenangan.
Liquid fire !!
Starla melempar bola berwujud seperti slime warna merah. Slime tersebut warnanya merah diluar, kuning didalam. Slime tersebut rupanya seperti magma cair yang dirubah bentuk menjadi jelly.
Starla menembak baut api kearah Liquid fire. Liquid fire nya segera terbakar mengeluarkan api dalam volume yang sangat banyak. Liquid fire ternyata punya fungsi seperti bensin, hanya saja versi zat padat.
Bola jelly magma dan bola pusaran salju saling bertubrukan. Yang satu mengeluarkan pusaran salju dalam volume banyak, sementara satunya mengeluarkan kobaran api dalam volume banyak. Salju dan apinya saling memadamkan satu sama lain.
Tentu uap tebal tercipta.
Uap putihnya amat tebal hingga semua sulit melihat. Akan tetapi Violetta merasakan sesuatu.
"Dia berusaha kabur! Seru Violetta.
Bersamaan dengan itu terdengar suara langkah kaki seperti hendak berlari. Dengan sigap Satella pun bereaksi atas prediksi Violetta itu.
"Kena ya ... kamu!" Seru Satella.
Telekinesis !!
Tubuh Starla terangkat ke udara dengan telekinesis. Upaya Starla untuk melarikan diri pun dicegah.
"Cih...." Starla terlihat keki.
__ADS_1
Upaya Satella gagal setelah Starla memakai sihir transfigurasi. Starla berubah kewujud asap api panas. Telekinesis hanya bisa mengekang wujud padat, sementara asap itu wujudnya gas. Asap pekat abu-abu kehitaman melaju cepat ke sudut ruangan yang ada jendelanya.
Starla membuka jendela yang ada didepannya.
"Mau apa kamu!" Sentak Minerva.
Starla melompat keluar jendela kemudian semua berlari kearah jendela dan melihatnya.
"Tidak perlu dilihat!
"Sudah jelas bahwa dia memakai flying magic." Ujar Violetta.
"Ikuti aku Stella!" Seru Violetta.
Transfigurasi memiliki kelemahan. Misalnya asap lemah terhadap uap salju. Dengan kata lain perwujudan transfigurasi nya akan digagalkan kalau terkena sihir es. Makannya Starla memilih flying magic untuk cara melarikan diri dari lawannya.
Skip..
Sense Violetta sangat tajam hingga radar magisnya bisa tahu kemana Starla pergi. Violetta pun memakai sihir transfigurasi andalannya itu.
Kabut hitam berujung runcing melesat cepat mengejar seorang magician. Magician terus kabur menghindari kejaran kabut hitam dari sihir transfigurasi.
Starla memakai flying magic yang berbasis energi asap. Umumnya penyihir yang dapat terbang sudah pasti penyihir api terhebat yang tak mudah untuk dicapai levelnya.
Sebab untuk mempelajari flying magic berbasis element asap maka harus menguasai element api dan angin. Setelah itu melakukan fusi terhadap sihir api dan angin tuk membuat tenaga asap. Sihir yang seperti ini hanya penyihir api yang sangat kuat yang bisa. Hanya bisa dicapai penyihir dalam jumlah yang sangat langka. Dari satu kerajaan tidak sampai diatas tiga puluh penyihir api yang menguasai ini.
Starla memakai kedua tangannya untuk bertumpu pada manuver diudara. Tangan mengarah kearah bawah belakang. Telapak tangan mengeluarkan tenaga asap yang menghasilkan daya dorong yang sangat kuat. Dalam kasus ini level kecepatan terbang Starla mencapai tujuh kali lipat dari sapu terbang.
Starla menoleh kebelakang dan terkejut dengan apa yang dilihat olehnya.
"Sihir transfigurasi." Starla dengan nada resah.
Hanya penyihir kurang berbakat sajalah yang masih menggunakan sapu terbang, disaat banyak yang menguasai flying magic dan sihir transfigurasi. Keduanya adalah kecepatan yang takkan bisa dikejar oleh sapu terbang manapun.
Setidaknya sapu terbang hanya secepat kuda lokal. Sementara transfigurasi atau flying magic mencapai level melebihi lajunya wyvern dragon.
Starla mencoba terbang rendah dengan harapan bisa mengecoh pergerakan kabut hitam. Starla berharap bisa semakin jauh dari kabut transfigurasi.
Starla terbang rendah sehingga kakinya hanya satu meter diatas tanah. Violetta meladeni Starla dengan ikutan terbang rendah.
Starla yang terbang rendah cukup meresahkan warga. Tekanan uap apinya menghempaskan siapapun yang berdiri di darat dan berposisi terlalu dekat dengan gelombang.
Starla mencoba berbelok tajam beberapa kali. Itu tak berpengaruh terhadap transfigurasi sihir hitam milik Violetta. Keduanya saling berjarak dekat, Violetta menempel ketat Starla, terus mengekornya.
Tiba di jalur lurus yang terpanjang lurusan nya. Starlamenoleh kearah belakang dan melihat kabut hitam masih terus mengekornya. Starla mendaratkan diri di jalur seluas empat jalur kereta naga. Setelah ia lelah melarikan diri pada akhirnya Starla menoleh kerah Violetta.
Akhirnya Starla menghadapi duel lawan satu dengan Violetta. Starla berhadap-hadapan dengan Violetta.
Tapi apakah....
Apa mage dengan build seperti Violetta akan efektif saat melawan magic caster type api seperti Starla.
Fire bolt !!
Starla melesatkan baut api dalam jumlah banyak. Lesatannya sama cepatnya dengan baut senjata api.
Tapi Violetta mementahkannya.
Pysche wave !!
Baut apinya lenyap tersapu oleh gelombang udara dari sihir yang berbasis tenaga pysche. Kemudian gelombang serangannya Violetta masih melesat kearah Starla dan menghempaskan tubuhnya Starla.
Kedebug, ia terjatuh.
Merpati hitam menyusul. Wujud transfigurasi Satella berakhir pada wujud aslinya. Satella pun melihat penyihir itu terhempas jatuh.
Penutup kepalanya tersingkap sehingga menampakkan wajah aslinya. Satella terkejut ketika pesannya yang asli nampak.
"Tidak mungkin?" Seru Satella, wajahnya bingung.
Memang ada apa?
~bersambung~
__ADS_1