Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
kelas tambahan


__ADS_3

Satella duduk diruang kebutuhan, yaitu ruang paling rahasia dimana kepala sekolah ataupun guru-guru tidak ada yang tahu eksistensinya. Disana Satella menyender seolah tidak punya tulang belakang seraya terpejam. Satella terpejam sambil memijat kepalanya sendiri. Satella memijat memutar pada pelipis kepalanya dengan jari telunjuk.


"Sudah." Ucap dewi Eris, menaruh secangkir teh dimeja.


"Masih sakit?" Tanya dewi Eris.


"Banget." Jawab Satella.


"Kubuatkan teh manis, semoga membaik." Kata dewi Eris.


"Makasih." Satella bernada lesu sedikit meringis.


"Minum sedikit terus tiduran saja disofa." Tau-tau dewi Eris berjalan menuju belakang Satella terhalang sofa. Berposisi berdiri dewi Eris memijat pelipis kepala Satella agar bisa meredakan sakitnya Satella.


"Makasih goddess." Satella hanya terpejam menikmati pijatan pada pelipis kepalanya.


Setiap empat detik merasa nikmat pijatan, Satella akan meringis sakit selama sepuluh detik. Setelah dua menit memberi pijatan di pelipis kepala, dewi Eris melangkah untuk duduk di sofa. Setelah terduduk disamping Satella, dewi Eris pun menyuapi cangkir teh manis yang sudah hangat itu. Satella minum tehnya dengan perlahan-lahan.


Melepaskan bibirnya dari cangkir tehnya, Satella men-jeda minum tehnya. Beberapa detik duduk dan terpejam, Satella disuapi teh lagi. Suara lenguh napas Satella telah menandakan dahaga yang nikmat. Satella menikmati teh manisnya.


"Sudah baikan?" Tanya dewi Eris.


"Sakit." Rintihan Satella.


Memandang tuannya, Theodore memberi tanggapan.


"Apa master sakit? Biar ku heal dengan kekuatan infra merah ku master." Usul Theodore, sedikit menawarkan bantuan.


"Jadi Phoenix itu kemampuan penyembuhannya berasal dari inframerah." Gumam Satella.


"Phoenix kan element natural nya adalah api, afinitas api kami tinggi loh. Element api itu bisa untuk menyembuhkan juga loh master." Theodore menjelaskan.


"Hanya Phoenix yang bisa lakukan heal dengan element api." Satella berkomentar saat sakitnya mereda.


"Mau ku heal master?" Theodore bertanya lagi. Sementara sakitnya Satella kambuh, Satella memberi tanggapan ketus dan sangat emosi.


"MANA BISA!" Balas Satella, amat nge-gas.


"Dasar ayam jago!" Umpat Satella.


Memandang Theodore dengan raut wajah suramnya itu bikin dewi Eris terkekeh sendiri. Memijat Satella penuh kelembutan pada bahunya. Berbisik lah dewi Eris pada Satella.


"Jangan nge-gas!" Bisik dewi Eris.


"Maaf master, kalau sakit harus dipulihkan dengan heal benar bukan?" Theodore masih heran dengan tingkah tuanya.


Sementara dewi Eris terkekeh lagi kemudian menjelaskan.


"Begini."


"Ahem."


"Sakit Satella tidak bisa di heal loh. Sakitnya itu adalah gejala alamiah seorang cewe." Ujar dewi Eris.


Eris langsung menyimpulkan kalau Theodore sudah paham.


"Mau kompres uap panas?" Tanya dewi Eris.


Tanpa menjawab Satella sedikit menyingkap sedikit baju seragam hingga memperlihatkan perutnya yang mulus. Lalu Eris memberikan Satella nasihat atas tindakannya.


"Jangan main singkap begitu dong, ada Theodore!" Kata dewi Eris.


"Memang kenapa, Theodore itu hanyalah peliharaan ku saja ya." Jawab Satella.


Mendengar kata itu dari tuannya bikin Theodore menjadi suram ekspresinya. Menunduk dengan suasana hati yang menggelap juga.


"Dimata master aku tak lebih dari sekedar peliharaan, padahal aku berharap lebih." Batin Theodore dengan nada dan gestur berbisik.


"Padahal aku kepengen melihat master berekspresi malu-malu. Theodore jangan lihat, aku merasa malu uuh, begitu katanya. Lalu wajahnya yang malu-malu pasti terlihat sangat imut." Theodore berbisik sendiri.


Satella masih bergelut dengan rasa sakitnya. Sementara dewi Eris lah yang menyadari kalau Theodore berbicara sendiri pakai nada yang berbisik dengan pelannya.


"Aku dengar Theodore!" Ujar dewi Eris, bernada pelan.

__ADS_1


Theodore menampakkan ekspresi dipermalukan setelah tahu kalau dewi Eris mendengarnya berbisik.


"Lakukan sekarang dewi!" Satella meminta kompres panas diperut.


"Baiklah." Seru dewi Eris.


Tangan dewi Eris mengalirkan uap panas. Tangannya ditempel pada perut Satella untuk memberikan perawatan hawa panas diperutnya Satella. Beberapa menit berlalu, membuat Satella jadi lebih baik.


"Kurasa sudah cukup dewi, aku semakin baik." Kata Satella sambil meminum lagi teh manisnya, dan kalau dilihat dari dahaganya ini berarti rasa nyeri sudah mereda.


"Syukurlah." Seru dewi Eris.


"Bisa kamu gantikan aku untuk kali ini saja dewi?" Satella minta bantu.


"Jangan manja!" Tolak dewi Eris.


"Apa boleh buat." Ucap Satella yang bernada suram dan wajah muram.


Satella meminum sisa teh manis dengan penuh dahaga. Menaruh dimeja bersuara hentakan cangkir pada meja yang lumayan berisik.


"Aku pergi dulu." Seru Satella.


"Mau aku bantu master?" Tawaran dari Theodore.


"JANGAN!" Tolak Satella berwajah galak.


"Ditolak mentah-mentah." Gumam Theodore, tertunduk dengan raut wajah suram.


Satella berjalan meninggalkan ruangan.


Berjalan dilorong dengan sensasi nyeri telah reda.


"Kelas dan ruang kebutuhan itu jaraknya lumayan loh. Cape juga bolak-balik dalam keadaan gak fit begini." Gumam Satella.


Skip..


Dalam kelas.


Tak mau ikut berkerumun diluar kelas, Satella langsung masuk saja kedalam kelas. Melewati pintu ia menuju kursi yang biasa ditempati olehnya, yaitu kursi paling depan. Sesampainya disini Satella seperti orang linglung, bengong sebentar.


"Dibelakang saja." Satella berjalan kearah belakangnya, mengambil tempat duduk dibarisan tengah.


Tempat duduk paling belakang itu biasanya para siswa bandel, tidak ingin terlibat itu Satella memilih barisan tengah. Mundur tiga kursi dari posisi terdepan. Ia menghela napas berat pertanda mood sedang kurang bagus. Ditambah kejadian pagi sekali, Satella mendapatkan olok-olokan dari beberapa teman.


Jangan lupakan siklus cewe.


Satella menghela napas berat..


Satella terpejam dalam waktu agak lama. Satella terpejam lama dengan niat membuat kepala jadi rileks.


Suara tawa seorang cewe..


"Kayanya aku kenal." Bisik Satella sambil matanya masih terpejam.


Satella membuka matanya.


"Emili?" Gumam Satella.


"Iya ini aku." Sahutnya.


"Hehe.. kamu terlihat kurang baik hari ini." Kata Emili.


"...." Satella memasang wajah yang masam, terlihat kurang semangat.


"Boleh duduk satu meja?" Emili menebar keramahan.


"Serterah kamu aja ya!" Satella membalas dengan juteknya.


Emili gak langsung ambil pusing kemudian mengambil duduk satu meja dengan Satella. Mendaratkan pantatnya dikursi sebelah kanan Satella, Emili memandang kearah temannya sambil memperhatikan.


"Kamu ok?" Tanya Emili.


Satella mendesis saja.

__ADS_1


"Kita kan teman, ingat." Kata Emili, cengengesan melihat kondisi yang kurang baik dari temannya. Tanpa ditanya Emili agak merasa kurang sopan dan menjelaskan.


"Aku cengengesan buka ketawain kamu, wajah jutek mu waktu lagi ngambek gini imut banget." Kata Emili, terkekeh.


"Oh." Satella masih jutek.


Satella yang kurang bersemangat menidurkan kepalanya diatas meja sambil mengarahkan pandangan kearah yang berlawanan dengan Emili. Sorot matanya mengandung rasa tidak bergairah atau malas.


"Kamu bukan marah sama aku?" Emili bertanya, karena tak sengaja bertanya demikian maka Emili menjadi sasaran uring-uringan.


Satella sedikit mengangkat kepala kemudian menoleh. Menatap Emili kemudian Satella meluapkan rasa uring-uringan itu.


"Setelah kamu puas menggelitik ku sampai hampir gak kuat menahan pipis! Tentu aku marah, sekarang pikir sendiri." Kata Satella dengan akting marah yang dibuat-buat nya bermodal kekuatan siklus bulan.


"Maaf." Dengan polosnya Emili berfikir kalau Satella marah pada dirinya secara sungguhan.


"Sekarang jangan ganggu aku ya!" Satella kembali menyenderkan itu diatas meja, menjadikan tangan sebagai banyak pengganjal kepala.


"Aku dimarahi." Batin Emili yang berbisik sendiri.


Mendengar nada bisik Emili yang terdengar bernada bersalah bikin Satella mengukir senyum senang selama dua detik. Hingga kembali kepada mode muram durja. Ketika sedang menyenderkan kepalanya dimeja, tanpa sengaja kuping elves miliknya mendengar percakapan.


"Katanya third semester ini kita diajarkan oleh staf dari menteri sihir." Kata Satu siswi berbincang diantara tiga orang siswi cewe.


"Orang dari kementerian sihir ya?" Ucap siswi satunya.


Dua dari tiga berbicara sementara suara ketiga menyusul.


"Aku bercita-cita menjadi seorang mage yang bekerja dikementerian sihir. Mereka memakai almamater kelembagaan berupa jas berwarna biru dominan dengan sedikit corak warna putih." Menjelaskan dengan perasaan yang kagum.


Kemudian kedua orang lainnya menanggapi dengan.


"Kerennya."


Awalnya suasana kelas yang rame tidak terlalu gaduh walau sudah termasuk berisik. Menjadi hening seketika, karena itu aneh Satella mengangkat kepala untuk melihat situasi. Ternyata seluruh murid berbondong-bondong memasuki ruangan kelas. Kapasitas kelas pun menjadi sangat penuh seketika.


"Sudah datang?" Gumam Satella.


"Eh iya, mana tenaga pengajar dari kementerian sihir nya? Ucap Emili.


Beberapa saat setelah kerumunan murid masuk dan kursi pun terisi semua pengajar datang. Pengajar mengenakan seragam militer ala batalion penyihir. Pengajar dengan almamater militer itu sama persis dengan yang dibicarakan murid.


Pengajar berjalan santai menuju kemeja guru. Tak langsung duduk melainkan berdiri menatap para murid dikelas. Almamater milter berwarna biru ala Prancis sangat berkilau elegan dengan berbagai hiasan ala designer yang tersohor.


"Selamat siang para talenta masa depan." Sapa pengajar.


Pengajar dengan rambut cokelat bergelombang diujung yang agak cepak. Dari garis wajahnya bisa ditafsir sebagai pria berusia 30 tahunan. Tubuhnya tidak terlalu kekar dan agak ramping tapi juga tidak terlalu kerempeng. Pengajar terdiam barang sebentar untuk menunggu sambutan para murid.


Merapatkan kedua telapak tangan sambil mengukir senyum tipis saat memandang para murid. Tak lama kemudian sambutan para murid mulai terdengar bergema dikelas.


"Siang pak." Sambut para murid.


Entah kenapa tekanan suara itu didominasi siswi cewe sementara siswa cowo apatis. Bisa dibilang tidaklah terlalu ideal, andai saja umurnya lima tahun lebih muda mungkin ia lebih pantas disoraki meriah oleh para siswi cewe.


"Jangan panggil pak, namaku itu instruktur Aurelio." Ucapnya.


"Saya ingin memulai kelas dengan pengenalan." Kata instruktur.


Skip...


"Oke saya sedikitnya mulai hapal nama-nama kalian. Sekarang saya ingin menguji pengetahuan dasar kalian tentang ilmu sihir." Begitu instruktur bilang.


Sebagian murid menjadi antusias untuk menjawab pertanyaan sang penguji. Sebagian besar berambisi untuk dipantau oleh kementerian sihir kerajaan.


Skip..


"Baiklah aku sudah mengantongi kecakapan kalian tentang teori. Sekarang aku akan menjalankan tugasku sebagai pemateri." Ujar instruktur Aurelio.


Instruktur mulai memberi materi pengetahuan sihir. Satella duduk manis mendengarkan. Bagi Satella yang dijelaskan itu sudah pernah dipelajari olehnya secara komplit. Walau ada hal baru yang didapat pada materi pengetahuan sihir ini.


Satella berusaha melewati kelas sampai selesai.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2