
Satella kecil tertawa karena habis meninggalkan saudari kembarnya dihutan sakura. Hutan sakura tak terlalu besar, jadi kemungkinan tersesatnya cukup kecil. Apabila seorang anak berusia enam tahun yang keluyuran maka lain cerita.
Tunggu, Satella kecil terlihat agak mirip dengan anak berusia empat tahun daripada enam tahun. Itu semua wajar mengingat ras elves cendrung awet muda, itu berarti pendewasaan juga telat matang.
Walaupun kembar tapi, anak yang pertama keluar biasanya dianggap sebagai kakak. Satella adalah yang pertama keluar daripada Starla.
"Kasian adik kembar mu!" Ibunya terlihat marah kepada Satella kecil.
"Kenapa ibu, nanti juga pulang sendiri." Jawab Satella kecil.
"Nanti kalau dimakan bintang buas bagaimana!" Omel Ibunya.
"Paling-paling juga cuma kelinci. Mana ada serigala atau harimau." Jawab Satella kecil.
"Cepetan cari! Kamu bikin ibu jadi merasa was-was tau!" Omel Ibunya.
"Iya deh." Balas Satella kecil sambil memanyunkan bibirnya.
Skip....
Melangkah lah Satella keluar tuk mencari Starla. Setelah tiba diluar rumah, ibunya bisa memakai sihir terbangnya. Sihir yang berbasis element asap, api yang dicampur dengan angin. Sementara Satella berjalan di darat.
Kini Satella kecil berjalan dijalan setapak. Kanan dan kirinya adalah area hutan kecil dipenuhi pohon. Dibelakang Satella masih terlihat pagar rumahnya. Sementara kalau lurus maka akan tiba di desanya.
"Stalla ... dimana kamu...." Seruan Satella kecil, mencari adiknya.
Satella kecil terus berjalan sambil berseru, menoleh kearah kanan dan kirinya. Tetapi tak ada tanda-tanda kemunculan Starla.
"Stalla, Stalla...." Satella kecil terus memanggil adik kembarnya.
Satella kecil terus berjalan hingga tiba-tiba ia kaget sendiri.
"Eh...." Satella kecil bengong saat melihat kedepan. Mulutnya pun melongo, sangat imut.
"kak Stella...." Seru adik kembarnya melambai-lambaikan tangannya.
Yang dilihatnya adalah Starla kecil dituntun oleh wanita berseragam maid yang membawa belanjaannya. Pelayan mansion itu membawakan bahan makanan didalam kantung kertasnya. Maid tersenyum ramah kepada Satella kecil.
Alih-alih merasa lega karena adik kembarnya ketemu, Satella kecil justru memanyunkan bibirnya. Berniat membuat adik kembarnya tersesat sampai adiknya menangis tersedu-sedu, lalu Satella akan mengantarnya pulang sambil terus menatap tangisan adik kembarnya. Tetapi niatnya gagal saat pelayan rumahnya menemukan sang adik kembar. Satella dibuat cemberut.
Mengetahui ekspresi Satella yang cemberut, Starla tertawa riang. Melihat Satella kecil mengangkat tinjunya, Starla kecil membalas dengan menjulurkan lidahnya.
Skip....
Sejak lahir hingga berusia enam tahun, Satella dan Starla selalu bersama-sama. Tidak jarang pula mereka berebut makanan ataupun mainan. Ibunya selalu memberi kedua putri kembarnya segalanya yang sama persis agar tidak ada tindakan protes kedua putrinya.
Makan malam.
Sekarang tibalah waktunya makan malam. Meja makannya panjang sehingga bisa dihadiri dua puluh orang peserta makan. Tapi hanya empat orang yang ada disana tuk makan bersama. Sang ibu bersama kedua putri kembarnya, lalu putri keduanya. Diana, kakak perempuan dari si kembar. Diana itu lebih tua empat tahun dari adiknya.
Sementara lima wanita berseragam maid berdiri dipojok ruang makan untuk menanti perintah. Mereka bersiap membereskan meja makan setelah majikannya selesai makan bersama anak-anaknya.
"Hei ... kakak." Satella memanggil kakak perempuannya.
"Apa adik bandel?" Diana kecil memasang wajah judesnya.
"Tuangkan minumnya, aku takut tumpah." Pinta Satella kecil.
"Kan bisa suruh mbaknya untuk bantu kamu!" Diana kecil memberi omelan kepada Satella kecil.
"Aku malu." Satella memelankan nadanya.
"Mbak, tolong kemari...." Seru Diana kecil. Seorang berseragam maid pun segera datang kearah Diana.
"Iya nyonya kecil." Sahut pelayan.
"Adikku gak bisa menuangkan air minumnya, tolong bantu ya mbak!" Perintah Diana kecil.
"Kakak, kak Stella nambah minum terus deh dari tadi. Nanti kepengen pipis loh." Komentar Starla kecil.
"Gak apa-apa kok, minum aja yang banyak ya adik kecil." Kata Diana.
"Yeay." Satella tersenyum riang.
"Habis itu kita kelitik-kelitik deh sampai ia mengompol." Seru Diana kecil, seketika Satella mengerutkan keningnya.
"Wah, ide bagus tuh." Starla pun berseru riang seraya mengulurkan lidahnya kearah Stella dengan gesturnya yang mengolok-olok.
Satella kecil dibuat mendesis kesal.
__ADS_1
Berbeda dengan si kembar, Diana kecil memiliki kuping yang persis manusia. Ras Diana adalah human half blood. Gen manusianya sekitar delapan puluh persen sementara darah elves nya hanya dua puluh persen saja. Sementara si kembar memiliki gen manusia dan elves sebanding, yaitu 50 banding 50 makannya disebut ras half-elves.
"Dibully lagi." Satella merengek.
Tiga bersaudari sangat bahagia walaupun tinggal ditempat yang populasinya sepi. Dibandingkan desa-desa lain, desa yang berada didalam hutan sakura jaraknya sangatlah berjauhan dengan desa lainnya. Apakah si kecil sudah mampu bergaul dengan anak-anak dilingkungan sekitar.
"Sudah...." Seru Starla yang selesai dengan makan malamnya.
"Cepat makannya Satella!" Tegur ibunya.
Satella memang duduk disebelah kembarannya. Starla cengar-cengir sejenak, mengulurkan tangannya kemudian mengambil jatah makan Satella. Yang diambil adalah satu potongan ayam mentega nikmat. Sementara Satella makannya lama sekali. Setelah selesai mengunyah Satella mengambil ayam miliknya.
"Eh ... tinggal kentangnya?" Satella menampakkan ekspresi bengong paling imut.
Satella mendengar suara tertawa disebelahnya. Suara tawa seperti ditahan-tahan. Satella menoleh kearahnya Starla dan melihatnya ketawa-ketiwi. Seketika Satella mengendus keanehan dari sosok saudari kembarnya.
"Kamu ambil ayam mentega ku?" Satella melotot kearah Starla.
"Mana, tidak ada kan?" Kata Starla yang nadanya kurang jelas. Starla menunjukkan kedua telapak tangan miliknya pada Satella. Tapi Satella melihat keanehan pada pipinya, ternyata Starla menyembunyikan kunyahan di mulutnya.
"Rasa apa?" Tanya Satella.
"Rasa ayam mentega dong." Jawab Starla sambil mengunyah. Starla terpejam saat menikmati gurihnya makanan yang ia santap.
"Perasaan yang kamu makan itu adalah ayam rica-rica!" Satella pun melotot kearah Starla.
"Eh, keceplosan." Ucap Starla yang cuma bisa cengar-cengir.
"Huhu ... makananku diambil Starla tuh ibu...." Satella merengek.
"Sudah ... sudah, nanti ibu minta buatkan lagi." Ibunya tersenyum karena tingkah anak kembarnya.
Sementara kakaknya menanggapi dengan.
"Mereka kan masih enam tahun kan buk, kurang baik dikasih masakan yang ber MSG. Besok kasih mereka berdua kentang rebus saja." Diana mengusili kedua adik kembarnya.
Seketika Satella dan Starla kecil merengek lucu.
"Uhuhu ... huhu ... jangan, jangan kentang rebus." Satella kecil dan Starla merengek bersamaan.
"Walah ... memangnya kenapa nak?" Tanya ibunya sambil menatap tawa.
"Rasanya gak enak." Jawab Satella merengek, lidahnya pun menjulur seolah memakan makanan yang rasanya tidak enak.
"Hehe ... lucunya." Seru Diana.
.
.
Meanwhile.
Sementara itu di istana kerajaan pamvire, raja duduk dikursi tahta. Penasihat melangkah kearah raja pamvire untuk melapor. Awalnya duduk sambil dagu bertumpu pada telapak tangan, raja pamvire pun menatap penasihat yang datang. Dilihat dari tindak-tanduknya raja pamvire paham apa yang terjadi.
"Aku menunggu laporan darimu!" Seru raja pamvire.
"Hamba berhasil menghimpun informasi tentang magic twin itu paduka raja." Ucap Penasihat.
"Apa yang kau tahu?" Tanya raja pamvire.
"Kedua anak itu tinggal bersama ibunya disebuah desa terpencil. Anak-anak itu kini berusia enam tahun. Ibu yang menjaga mereka adalah seorang snow elves. Terus mereka itu dari klan bangsawan." Penasihat menjabarkan.
"Bangsawan apa?" Sahut raja.
"Klan charlotte, paduka." Jawab penasihat.
"Kalau begitu kita tunggu sampai winter berakhir. Berbahaya kalau berurusan dengan snow elves saat winter tiba." Ujar raja pamvire.
Untuk saat ini penasihat hanya berlutut tanpa berkata-kata.
"Satu lagi!" Potong raja pamvire mengangkat telunjuk.
"...." Penasihat menyimak.
"Begini rencananya, cari tahu siapa kerabat yang bisa diajak tuk kerja sama. Tugas kita adalah tangkap anak-anak itu. Pisahkan dari ibu mereka, nanti kita buat anak ajaib tersebut berpihak pada kita. Anak kembar itu kita jadikan kartu truf untuk mengalahkan pedang suci." Perintah raja pamvire.
"Dimengerti, saya akan mencari kerabat mereka yang kemungkinan bisa berpihak." Tukas penasihat.
Skip....
Hutan sakura.
__ADS_1
"Ah, dapat." Seru Satella.
Satella kecil sedang berjongkok sambil kedua tangan menangkap kelinci kecil. Kanan dan kirinya adalah pohon-pohon tinggi besar. Satella sedang bersama saudari kembarnya, Starla. Disekelilingnya adalah semak belukar.
"Kelinci lagi kak?" Tanya Starla.
"Iya kelinci, lucu kan...." Satella mengangkat kelincinya sambil tersenyum riang.
"Iya lucu, aku suka kelinci kak." Jawab Starla.
"Aku juga, dik Stalla." Seru Satella kecil.
Satella menyodorkan kelinci putih kepada Starla.
"Mau pegang?" Satella tersenyum riang pada adik kembarnya.
"Iya mau." Starla menggendong kelinci putih gendut itu. Kelinci tersebut sungguh besar berada di pelukan Starla yang mungil.
"Kelinci gendut yang lucu, bulu putihnya cantik." Starla terus saja menggendong kesana kemari kelincinya sampai terlihat mabuk.
"Heh ... turunkan, nanti kelincinya mati." Bisik Satella.
"Huff ... kakak." Starla cemberut.
"Cari kelinci lagi yuk?" Ajak Satella.
"Hei ... kakak." Seru Starla.
"Apa, dik Stalla?" Sahut Satella.
"Jangan tinggalin aku dihutan lagi, loh...." Seru Starla kecil, wajahnya cemberut.
"Hehehe." Satella cengar-cengir.
"Tuh kan." Starla merajuk.
"Pergi ke desa yuk, dik Stalla." Ajak Satella kecil.
"Kata ibu jangan jauh-jauh, nanti diculik." Jawab Starla.
"Aku tinggal!" Satella pun berbalik, berjalan melewati semak-semak tinggi
"Kak tunggu." Dengan cemas Starla menyusul kakaknya.
Skip....
Putri kembar yang mungil dan lucu berjalan disepanjang jalan setapak. Berjalan beriringan sangat lucu dan sangat identik. Hingga terlihatlah sebuah papan nama yang bertulis.
Desa Alechia.
"Sebuah huruf, kak ... tulisan itu dibacanya apa kak?" Tanya Starla.
"Mana lihat." Satella pun mendekati papan nama desa. Terdiam sejenak sambil membacanya.
"Desa kelinci." Ujar Satella, seolah lagi membacanya.
"Beneran kak, ini namanya desa kelinci?" Tanya Starla, yang kini menampakkan mimik polosnya.
Satella mendesau.
"Kamu gak percaya aku!" Satella menolak pinangan dan melotot kearah Starla.
"...." Starla mengerutkan kening.
Satella semakin tajam melototin adiknya.
"Iya kak...." Seru Starla, bernada cemas.
"Nah bagus." Satella tersenyum.
"Aku kan rajin belajar membaca loh." Ucap Satella, yang menunjukkan ekspresi wajah sombongnya yang terlihat menggemaskan.
"Kakak hebat...." Dengan polosnya Starla percaya kalau Satella mampu membaca.
"Kenapa dinamakan desa kelinci, apakah penduduknya kelinci kak?" Tanya Starla, bingung.
"Itukan cuma nama, penduduknya manusia." Jawab Satella.
"Ayo kak." Seru Starla.
Mereka berdua pergi ke desa tuk pertama kalinya.
__ADS_1
~bersambung~