Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Nightingale


__ADS_3

Sekuat apapun Starla memukul sihir hitam pengekang, tak pernah berhasil. Satella kian resah kala tombak bayangan hitam akan mengeksekusi adik kembarnya. Meski ada konsekuensi hukum kalau seenaknya membunuh bangsawan, Satella tidak akan pernah rela adik kembarnya mati.


Maka sihir terkuat pun akan dipakai oleh Satella.


Bola cahaya warna biru muda mengelilingi tubuh Satella. Bola yang sebesar kelereng adalah roh minor yang Satella pelihara tuk memberi efek buff pada sihir es miliknya.


Maka Satella bersiap dengan sihir es andalannya.


Coldnest destroy !!


Bola es kecil membesar dalam hitungan beberapa detik menuju bola es raksasa. Waktu untuk membentuk bongkahan es raksasa sangat singkat. Cast time yang sangat impresif sampai-sampai tak ada penyihir veteran manapun yang mampu menandinginya.


Bola es raksasa melesat dengan cepat. Menerjang Vexana dengan liar. Bongkah raksasa berotasi seperti peluru tajam yang melesat kearah target. Karena berputar seperti peluru, lesatannya menjadi diatas normal. Sangat cepat hingga mustahil tuk dihindari penyihir manapun.


Walau Vexana adalah pengguna sihir akselerasi, ia tak yakin akselerasi mampu menghindari bola es raksasa itu. Vexana memakai sihirnya untuk mengikis bola raksasa sampai sekecil mungkin. Dalam bongkah raksasa ada cairan nitrogen yang dapat Satella aktifkan dengan aktivator.


Aktivator sihir dapat merubah nitrogen cair kebentuk gas nitrogen. Maka bola raksasa tersebut akan menjadi bom nitrogen yang berdaya ledak mahadahsyat. Makanya itu digolongkan kedalam sihir tingkat delapan.


Atau mungkin sembilan.


Vexana melesatkan ratusan varetyr spear kearah bola es raksasa. Bagian luarnya terkikis seiring banyaknya tombak angin dilesatkan oleh Vexana. Banyaknya tombak angin, tak cukup berpengaruh. Itu hanya mampu mengikis seperempat ukurannya.


Bola es raksasa hampir dekat dengan tubuhnya Vexana. Sihir es yang Satella berpotensi instan kill apabila itu meledak diwajah Vexana secara langsung. Sihir defensif seperti apa yang akan digunakan untuk menahan sihir tingkat tinggi. Siapa orang yang tidak takut dengan bola es berukuran raksasa, setara meteor langit.


Vexana memakai black magic andalan.


Membentuk medan gaya berwujud tangan raksasa. Satella dan semua orang dengan tingkat sihir apapun dapat melihat tangan besar itu. Tak ada yang mengingkari kalau tangan itu sangat besar.


Ada tujuh tangan bayangan hitam, shadow control Vexana sangat mengagumkan.


Diameter pergelangan tangannya seukuran tubuh sapi dewasa. Masing-masing tangan bayangan hitam memegang pedang hitam yang dibuat dari sihir gelap. Panjang dari tangan semu sihir gelap adalah sepuluh meter kurang lebihnya. Mungkin saja bisa memanjang lagi saat menangkis bola es raksasa yang Satella kirimkan.


Tangan bayangan hitam memegang bilah hitam. Vexana menggerakkan semuanya menerjang bola es raksasa. Ketujuh tangan hitam raksasa menusuk bola es raksasa.


Vexana mengukir senyumnya, seolah ia merasa terangsang akibat bertemu mage yang kekuatannya sebanding.


"Kalau laki-laki, akan aku culik mage yang kekuatannya seperti ini." Batin Vexana, ia berbisik dalam hati.


Tujuh bilah siluet hitam yang dipegang tangan-tangan raksasa pun menusuk es raksasa. Bongkah es raksasa pecah jadi kepingan-kepingan balok es yang kecil. Maksud kata kecil adalah balok es yang ukurannya seperti tubuh manusia.


Balok es berjatuhan disekitar Vexana. Ia mengukir senyum dibibirnya seolah telah mencium aroma kemenangan. Bahkan es yang jatuh keatas kepalanya ia sapu saja dengan tombak angin. Sementara Starla berupaya menghancurkan sihir pengekang tetapi sihirnya sulit dihancurkan.


"Hu ... hu ... hu, tolong aku kakak! Starla berjanji gak akan nakal lagi." Starla hampir menangis ketakutan akibat efek sihir gelap pengekang.


"Dari dulu, masih aja jadi dik Starla yang cengeng." Bisik Satella, mengukir senyum tanpa mengingkari resah dalam hatinya.


Satella resah bahwa tombak bisa melukai Starla kapan saja.


Seluruh bongkah es berserakan disekitar Vexana.


Ia tertawa menang. Vexana tak tahu kalau Satella dapat mengaktifkan peledak kapan saja ia mau.


"Freeze!" Satella berteriak lantang maka peledaknya bekerja.


Serpihan balok es yang semula dikira tak berarti apa-apa seketika meledak. Terjadi ledakan berbasis sihir es berdaya ledak menengah. Kalau saja bola es raksasanya masih utuh satu atau beberapa bagian, itu akan menjadi ledakan yang besar.


Setelah Satella mengucapkan kata freeze maka rentetan ledakan terjadi.


Satella melepaskan sebuah kalung yang memiliki batu berlian ditengahnya. Adalah code Magica miliknya. Kode mistik yang wujudnya baru berlian, secara harfiah itu adalah batu bertuah yang bisa berperan sebagai tongkat sihir merah ruby. Sebagai tongkat sihir, adalah perangkat sihir yang berkekuatan maha dahsyat.


"Iya ampun, kekacauan macam apa lagi. Apakah adikmu berbuat nakal lagi huh?" Fragmen jiwa dari kode mistik Satella pun bersuara.


"Selamatkan Starla, kumohon," kata Satella.


Satella tahu bahwa dark magic harusnya dilawan dengan white magic. Satella hanya penyihir es terkuat, bukan penyihir segala sihir. Ia menyadari bahwa ia tak memiliki potensi white magic, maka mengandalkan perangkat kode mistik miliknya untuk itu.

__ADS_1


"Cukup bola cahaya, jangan laser nya ok." Rubby membalas, saran Rubby biasanya akurat.


"Aku mengerti," kata Satella.


Bola-bola cahaya yang wujudnya bulat cembung ditembakkan olehnya untuk melenyapkan sihir pengekang yang telah mengurung adik kembarnya. Vexana yang memiliki defensif barrier kuat pun kaget karena dirinya bisa mengalami luka.


Vexana tertawa jahat.


"Walah, kamu anak kecil pertama yang sanggup melukaiku. Kamu mage dengan kekuatan MVP killer kah." Vexana merasa sangat terhibur oleh lawannya.


Bukan hanya itu, sihir pengekang Vexana dapat dipatahkan begitu saja.


Bukannya kapok, Starla malah tak henti menantang Vexana.


"Kali ini sihirmu akan aku hindari dasar perempuan tidak waras!" Umpat Starla, bagaikan seorang pengamuk.


Vexana mendapat luka ringan setelah defensif barrier miliknya ditembus oleh ledakan es Satella. Pelipis kiri mengalir sedikit darah. Vexana memegang lengan bagian atas kirinya.


Vexana mengunakan shadow control, membentuk dopelldangger wujud Starla.


Pada akhirnya Starla bertarung dengan tiruannya sendiri.


Starla dengan bilah semu beradu pukul dengan doppelganger dirinya. Sama-sama adu pukul, melancarkan mele atack.


"Kecil-kecil tukang ngamuk." Vexana pun tertawa atas betapa membabi-buta nya serangan Starla.


Tau-tau ada peluru tajam menghantam Vexana dibagian lengan atasnya. Vexana memegang lengan atas bagian kirinya.


"Sakit," ucap Vexana.


Satella terkejut, ia memakai clairvoyance untuk mengungkap kedok penembak.


"Nightingale!" Satella kaget kala melihat tangan kanan kakaknya ada disana.


Seorang kesatria wanita bertubuh atletis sedikit sintal sedang tiarap sambil pegang senapan bolt action rifle. Satella merasa sedikit kesal karena duel sucinya telah diganggu. Bagaikan dijaga pengasuh yang cerewet baginya, Satella kesal. Satella mengirimkan pesan telepati kepada nya.


"Eh?" Nightingale terkejut ada suara yang masuk kedalam kepalanya tanpa melalui telinga.


"Ini aku, Stella."


"Tuan kecil, aku hanya disuruh kakak anda untuk mengawal kalian. Aku sedang fokus membidik kepalanya." Balas Nightingale melalui jalur telepati.


Satella mencoba menggagalkan upaya Nightingale.


Sniper telah melesatkan tembakan yang mengincar kepala.


Bukan Vexana yang menggagalkan upaya Nightingtale, tapi Satella sendiri.


Empat barisan perisai es di stack untuk melindungi Vexana. Ambang batas daya defensif perisai es Satella telah meningkat sejak terakhir kali ia bertarung melawan veteran dead Eater bersama ular balisik.


Satu perisai es sekuat dua lapisan perisai besi.


Tiga stack perisai es hancur, peluru hanya membuat retakan kecil pada stack perisai keempat. Vexana terkejut bahwa senapan hampir mengenai kepalanya. Vexana pun memandang kearah Satella.


"Kenapa kamu melindungi ku?" Vexana bertanya, mimiknya sedikit bingung.


Mengabaikan Starla yang menghadapi doppelganger nya sendiri. Vexana berlari kearah Nightingale dengan berakselerasi.


Satella melakukan sihir transfigurasi tuk berubah kewujud merpati. Satella terbang menuju Nightingale untuk mencegahnya diserag dan terluka. Iya benar, Satella melindungi Nightingtale, begitu adanya.


Alih-alih dilindungi bodyguard kiriman kakaknya, Satella malah yang melindungi bodyguard kiriman kakaknya.


Merpati hitam terbang mendahului sosok mage yang berakselerasi. sihir transfigurasi Satella sangat cepat movement nya hingga wyvern atau griffin tak mampu mengejar.


Akhirnya Satella tiba disamping sosok Nightingtale. Satella berdiri, ia menolak pinggang dihadapan Nightingale.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" Protes Satella.


"Sudah jelas kan, aku melindungi kalian." Balas Nightingale dengan nada galaknya.


Nightingale.



Akhirnya mereka saling tatap, melotot.


"Dia datang," kata Satella.


"Biar ku hadapi!" Nightingale memegang pistol mauser dengan erat, yakin bahwa senjata api dapat mengalahkannya.


"Tunggu!" Seru Satella, menahan Vexana.


"Tidak, kamu telah melukai ku. sakit tau, pelurunya meleleh dengan daging ku tau. Dasar prajurit bertubuh mother." Vexana menghina Nightingale.


"Kita lanjutkan duel ini di turnamen saja, bagaimana?" Satella meminta damai.


Vexana menguap bosan.


"Ara ... ara, aku bisa mati kebosanan nih." Vexana membalas, niat berduel nya sudah hilang saat ini juga.


"Menarik, kekuatanmu sungguh menarik. Sampai ketemu di turnamen, dasar bocah kecil." Vexana pun melangkah pergi.


Satella menarik napas lega.


"Fuh ... akhirnya." Satella bernapas lega.


"Ini semua gara-gara Starla, dasar anak pembuat onar!" Satella melipat tangannya dengan wajah cemberut.


"Mau kuantar, nyonya kecil?" Nightingale membersihkan rumput di seragamnya.


"Ayo...."


Satella berjalan menuju tempat adiknya berada.


Skip....


Didepan pintu masuk kastel menteri sihir. Satella sedang menjewer kuping lancip kembarannya. Jari lentiknya menjepit erat juga gemas. Adik kembarnya merintih geli.


"Aduh kak, kupingku sensitif. Jangan jewer dong kak! Hukum apa aja asal jangan jewer kuping kak. Huhuhu, kuping elves sangat sensitif loh kak." Starla terus merengek.


"Habisnya kamu bandel! Ngapain sih kamu bikin ribut sama orang. emangnya penyihir terkuat cuma kamu aja? Jangan arogan dik Starla!" Satella tak hentinya menegur dan mengomeli adik kembarnya.


"Ini karena aku sayang loh," kata Satella.


"Iya kak, aku juga." Starla memeluk erat kakaknya.


Seolah Starla kapok dengan kenakalannya.


"Jangan diulangi!" Satella menatap Starla dengan wajah galak.


"Iya akak sayang," ucap Starla.


Starla malah cengengesan karena merasa gembira alih-alih cemberut dan menyesali kebandelan yang ia perbuat.


Mereka bergegas menuju kastel untuk menuju ruang pendaftaran.


"Orang yang tadi kuat banget ya kak," kata Starla.


"Waspada, mungkin lawan yang berat saat final turnamen nanti," balas Satella.


Loket yang digunakan sebagai bagian pendaftaran pun sangat mengantri.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2