
Kafetaria.
Sekarang Minerva sedang berada diruang inap sekolah menemani Satella dan menguatkan mentalnya Satella. Sementara itu Violetta lagi bersama Theodore di kafetaria tuk bahas permasalahan. Kopi telah sampai dimeja mereka, Violetta mengemil red Velvet cake lezat.
"Ini kusuka." Violetta merasa puas dengan cake rasa favoritnya.
"Aku merasa puas setelah memberi pelajaran pada orang yang berani macam-macam dengan masterku." Seru Theodore.
"Hei.. Theo!" Seru Violetta.
"Iya, kenapa temannya master?" Sahut Theodore.
"Aku merasa janggal, apa kamu tak merasa ada yang aneh?" Violetta bertanya.
"Aku justru bingung dengan yang anda tanyakan ini, sedikitpun aku tidak sampai pada pemikiran yang rumit itu." Balas Theodore.
"Kamu sama sekali gak kepikiran?" Ucap Violetta, bernada kaget.
"Sudah kuduga." Gumam Violetta.
Theodore mengedutkan alisnya disertai garis wajah menegang sangat-sangat stres atas tingkah Violetta. Pada akhirnya Theodore menghela nafas beratnya.
"Baiklah akan aku katakan yang kupikirkan!" Ujar Violetta.
Violetta menghela napas. Seperti biasanya ia selalu menampakkan ekspresi wajah yang lesu, walau suasana hatinya tak seperti raut wajahnya yang selalu lesu itu.
"Para murid sihir memakai love potion secara sembarangan, itu terlihat aneh bagiku. Menurutku seseorang telah mencuci otak generasi kita agar otaknya rusak ataupun jahat." Pikir Violetta.
"Cuci otak?" Theodore bernada bingung.
"Sekarang tugas kita mencari dalangnya!" Ujar Violetta.
Theodore diam sejenak.
"Ada benarnya juga sih. Menurut hemat saja, segala yang terjadi ini pasti ada biang keroknya." Pikir Theodore.
"Kamu tau, love potion bukanlah ramuan sihir yang mudah untuk diciptakan. Proses nya agak rumit juga bahanya banyak, menakar bahannya juga sulit." Kat Violetta.
"Aku juga yakin kalau kalau orang gendut itu mustahil bisa meracik potion itu sendiri." Kata Theodore.
"Itu hanya potongan kecil dari petunjuknya." Seru Violetta.
"Intinya!" Violetta mengangkat tangan.
"Setiap potongan demi potongan petunjuk apabila disambungkan hasilnya mengarah ke motifnya. Motifnya akan mengarahkan kita kepada pelakunya." Ujar Violetta.
Theodore mengusap dahinya, bernapas berat.
"Mohon maaf saya tidak sanggup berfikir lebih jauh, mohon bilang intinya saja." Theodore terpejam seolah tak mau dipaksa berfikir, Theodore memilih untuk berusaha membuat rileks kepalanya.
"Aku mau kamu mikir sedikit ya Theodore, jangan disuapi terus!" Violetta mengkritik.
Theodore bernapas berat.
"Saya aja merasa beb4l tentang apa saja yang bisa dijadikan petunjuk, apalagi lanjutnya." Keluh Theodore.
"Sedikit lagi!" Violetta menuntut Theodore agar lebih berkembang.
"Baiklah!" Theodore terlihat kesal.
Theodore menghela napasnya lalu menyeruput kopinya.
Setelah kepala terasa lebih rileks, Theodore melanjutkan.
"Menurut hemat saya." Theodore mengangkat tangan.
Theodore menghela napas, proses berpikirnya terkena jeda.
"Yang saya tangkap adalah satu potongan petunjuk, yaitu orang gendut itu membeli potion bukan meraciknya karena itu sangatlah susah." Ujar Theodore.
"Lalu?" Violetta terus menguji Theodore.
"Motifnya adalah rasa cinta orang gendut itu yang tak terwujudlah alasannya membeli love potion." Theodore menjawab.
"Hampir." Seru Violetta.
"Huh?" Theodore bingung.
"Potongan petunjuk adalah orang gendut itu membeli love potion bukanya meracik, itu sudah benar. Tetapi motifnya masih keliru tau." Ujar Violetta.
"Aku pusing, aku tidak bisa lagi dipaksa berfikir." Keluh Theodore.
"Kalau gitu dengar!" Pinta Violetta.
"....." Theodore nyimak.
"Motifnya adalah uang." Violetta mencicil isi pikirannya.
"Uang?" Tanya Theodore.
"Begini Theodore." Violetta mulai menjelaskan secara perlahan.
Menyeruput dulu kopinya agar obrolan tetap santai dan tidak mengantuk.
Violetta menjelaskan satu per satu sambil men-jeda setiap pointnya.
__ADS_1
"Love potion itu sulit diraciknya, karena sulit diraciknya makanya dihargai sangat mahal."
Jeda...
"Karena harganya mahal, ini jadi bisnis yang menjanjikan. Misalnya kamu orang miskin yang punya kesempatan sekolah disini, terus selama tiga tahun kamu berhasil mempelajari teknik pembuatan ramuan. Karena spesialisasi kamu adalah pembuat ramuan sihir lalu kamu berhasil menjadi pembuat ramuan love potion. Kamu yang awalnya miskin bisa kaya dalam waktu yang singkat dengan bisnis menjual potion ini."
Violetta men-jeda lagi...
"Supaya bisnis love potion kamu berhasil, tentunya kamu harus membujuk calon konsumen kan."
Mengatur napas..
"Asumsi ku adalah!" Seru Violetta, mengangkat tangan.
"Pebisnis ini mempengaruhi niat orang-orang agar mereka tergiur hasutannya. Setelah mereka kena pengaruh hasutan, maka mereka berhasrat untuk membeli ramuan love potion."
"Itu saja teori dariku." Violetta mengakhiri penjelasannya.
Sejenak Theodore mencoba untuk mencerna ucapan Violetta. Butuh waktu lama bagi Theodore untuk nyambung dengan pikiran tajam Violetta itu.
Sambil nunggu Theodore paham, Violetta dengan santai menikmati Velvet cake dan kopinya.
Enam menit kemudian...
"Ah.. sekarang aku paham betul dengan ucapan temennya master." Theodore kaget sendiri.
"Bagus deh." Violetta dengan santai sambil menikmati Velvet cake nya yang kedua yang ia pesan.
"Temannya master memang orang yang tangkas. Aku gak bakalan bisa berpikiran sampai kesana." Ujar Theodore, penuh akan kekaguman.
"Sekarang misi kita adalah untuk mencari sindikat pengedar love potion itu. Habisnya mereka telah menyalahgunakan potion secara sembarangan." Ujar Violetta.
"Aku dapat petunjuk baru!" Ucap Violetta.
"Apa itu?" Theodore penasaran.
"Uang saku murid tidaklah cukup untuk membeli ramuan semahal ramuan love potion. Aku curiga, mereka pasti melakukan sesuatu untuk mendapatkan love potion." Violetta berasumsi.
"Ayo kita cari tahu wahai teman masterku, aku sangat penasaran." Tanggapan Theodore.
"Apa kamu siap?" Tanya Violetta.
"Tinggu apa lagi ayo kita cari tahu, wahai teman master." Theodore.
"Bentar dulu, cake ku belum habis tau!" Keluh Violetta.
Beberapa saat.
Skip...
Setelah ia bertanya-tanya kepada beberapa murid, akhirnya sukses menemukan Bili. Violetta meminta Theodore diam di suatu tempat, sementara Violetta yang bertugas mengorek informasi dari Bili.
Lorong lantai tujuh.
Violetta pun menyapa Bili.
"Apakah kamu Bili dari kelas 3F?" Sapa Violetta.
Bili tampak heran, karena ia tidak dengan orang yang menyapanya.
"Kamu siapa ya?" Tanya Bili.
"Perkenalkan namaku Violetta dari kelas 3C." Violetta memperkenalkan dirinya.
Bili cengar-cengir sambil memberi kesan.
"Kamu begitu datar, tapi begitu cantik." Ucap Bili.
Violetta hanya menanggapi cuek.
"Em, ya.. ya." Violetta datar.
"Begitu cool Violetta." Gumam Bili.
[Note : Violetta karakternya itu memang Kuudere.]
"To de poin saja ya Bili!" Violetta bilang.
Violetta bernada serius dan datar dengan pembawaan yang tenang. Wajahnya yang begitu datar dan begitu tenang sangat mempesona Dimata Bili. Sementara Bili yang parasnya biasa saja tak sedikitpun membuat Violetta tertarik.
Indera paranoid Violetta bereaksi.
[Violetta : hmm.. orang ini kecil kemungkinan menyalahgunakan ramuan love potion. Aku harus berhati-hati terhadapnya.]
Beda dengan Satella yang tidak menyadari setiap gejala yang ada, Violetta selalu menduga-duga.
"Ekspresi tentangmu sangatlah mempesona." Bili memujinya.
"Aku bilang, langsung to the point!" Violetta menyanggah.
"Baiklah." Bili tersengat malu.
"Dimana aku bisa mendapatkan ramuan love potion?" Violetta bertanya.
"Kalau tidak salah ada buku yang membahas cara meraciknya, ayo mencari diperpustakaan." Ujar Bili, berdalih.
__ADS_1
"Jangan pura-pura bod*oh ya! Maksudku adalah membelinya." Violetta melipat tangannya walau merasa kesal, mimik wajahnya cenderung tenang dan datar.
"Oh iya, aku menjual ramuan itu. Belilah padaku kalau kamu butuh yang seperti itu." Ujar Bili.
"Berapa kamu menjualnya?" Tanya Violetta, dengan tensi yang telah sedikit mereda.
"150 gold coin." Kata Bili.
"Mahal sekali." Violetta komentar.
"Ini bisa dibeli secara kredit kok." Penawaran dari Bili.
"H~~huh, mencicil?" Seru Violetta, merasa heran.
[Note : dalam dunia RPG, satu gold koin itu setara 1jt rupiah. Itu hanya untuk mempermudah imajinasi, berarti 150 gold coin setara dengan seratus lima puluh juta rupiah.]
"Setelah kamu mendapatkan uang maka kamu boleh membayarnya." Jawab Bili.
"Biar bagaimanapun uang segitu sangatlah mahal." Kata Violetta.
"Iya memang." Kata Bili.
"Bagaimanapun juga, uang saku milikku takan cukup untuk harga ramuannya meski menabungnya dalam waktu lama." Kata Violetta.
"Mau saran?" Ujar Bili.
"Saran apa?" Violetta balik tanya.
"Apa kamu tahu kalau ramuan ini bisa digunakan untuk mendapat kekayaan?" Kata Bili.
"Serius?" Violetta mengangkat bahunya, walau wajahnya datar sangat minim ekspresi tapi garis bibirnya mengukir raut yang mempertegas rasa penasarannya.
"Kamu akan keluar uang yang lumayan banyak, tetapi nantinya bakalan dapat uang yang lebih banyak lagi." Ujar Bili.
"Seriusan?" Tanya Violetta, dengan nada lesu yang lebih seperti sedang bergumam panjang.
"Kamu bisa memakai love potion untuk membuat laki-laki sekelas bangsawan bahkan pangeran agar mereka cinta padamu. Setelah itu kamu bisa memeras kekayaan dari mereka, kamu bisa mendapatkan lebih banyak dari biaya awalmu."
Bili menjelaskan, Violetta sedikit mengangkat senyum dibibir walau sangat minim gairah ekspresi.
"Begitu." Gumam Violetta dengan mimik datar tanpa ekspresi.
Lekuk senyum tipis dibibirnya tak didukung oleh mata sayu nya yang memberi kesan sosok pemalas dan sosok tanpa semangat. Garis lekuk pada alisnya terlalu kaku memberi kesan pemurung. Walau ekspresi Violetta demikian suasana hatinya cenderung baik. Walau karakter wajahnya sedemikian pemurung serta minim ekspresi, tapi disana pesona kecantikan Violetta tampak.
"Ekspresi mu wow." Bili tanpa sadar telah bergumam takjub.
"Ahem!" Violetta berdeham, kali ini nadanya terdengar kesal.
"Maaf." Ucap Bili.
Hening sejenak.
"Kamu dapat dari mana ramuan tersebut?" Tanya Violetta.
"Rekan bisnis." Jawab Bili dengan gestur yang sok asik, matanya pun bergerak dengan ganjen.
Seolah kesal dengan tindak-tanduk Bili yang sok ganjen, Violetta hanya menanggapi dengan berdeham dan menatap dengan wajah masam.
"Boleh aku bertemu dengan rekan bisnismu?" Tanya Violetta.
"Memang mau apa?" Tanya Bili.
"Aku mulai tertarik dengan bisnis ramuan ini." Jawab Violetta.
"Mohon maaf, kalau itu niatmu aku tidak bisa menurutinya." Kata Bili.
"Sudah kuduga." Gumam Violetta, membuang muka.
"Kalau mau berbisnis, kamu harus melalui ku. Sejujurnya aku ingin mendapat bagian tau." Ujar Bili.
Violetta menatap Bili.
Violetta menyingkap poni yang biasanya menutupi sebelah mata, dengan begitu ia memamerkan kecantikannya secara penuh. Niat Violetta adalah untuk mempesona lawan bicaranya itu.
Dengan pose menawan ini Violetta berkata.
"Yakin gak mau bantu aku?" Tanya Violetta, sedikit merayu.
"Mohon maaf, bisnis is't bisnis!" Dengan tegas Bili menjawab.
Cara pertama gagal, Violetta pun mencoba cara lain.
"Kalau tidak mau, nanti akan aku laporkan kepada kepala sekolah!" Violetta mengancam.
"Oh saya tidak takut!" Kata Bili.
"Yakin?" Tanya Violetta sambil menyeringai.
"Rekan bisnis saya adalah sindikat yang berbahaya, saya bisa minta bantuan bila berkonflik dengan siapapun." Ujar Bili.
"Ternyata begitu." Ujar Violetta, mengangguk.
"Ok dadah." Violetta berpamitan dengan gestur mengecup udara kearah Bili, berniat membuatnya melunak dan bisa bekerjasama.
Violetta bergegas pergi.
__ADS_1
~bersambung~