
Lorong lantai 9, sekolah sihir
Minerva membelaku..
Raut wajah Satella cerah, bibirnya mengukir senyum tipis.
"Ayo kita pergi." Minerva dengan kekuatan ngatur ala bos.
Semuanya mengikuti termasuk Violetta.
"Aman deh." Pikir Satella setelah mereka semua pergi.
Satella ditinggal seorang diri saja dilantai sembilan. Satella lanjut dengan bertemu dewi Eris. Satella melangkah menuju pintu rahasia ruang kebutuhan, yang eksistensi pintunya itu sangatlah ajaib.
Ruang kebutuhan.
Satella sudah memasuki ruang kebutuhan..
"Selamat siang semuanya." Satella menyapa penghuni ruangan yang sangat rahasia itu. Didalamnya ada Iota dan dewi Eris.
"Eh?" Iota sangat bingung tentang kenapa Satella bisa tahu tentang keberadaan ruangan ini.
"Ada tamu." Gumam dewi Eris.
"Apa itu temanmu? Iota."
"Bukan.. aku tidak pernah ajak dia kemari, ya." Bantah Iota.
Satella dengan santainya jalan mendekati bagian paling tengah ruangan.
"Perkenalkan namaku Satella shiela charlotte."
"Jadilah temanku, dewi Eris yang tercantik." Kata Satella.
"Oh itu manis." Tersenyum amat sumringah, dewi Eris memegangi pipinya dengan kedua tangannya seraya menggoyangkan badannya sebagai gestur tersipu malu.
"Menurutku, anak itu baik kok." Itulah penerimaan yang dewi Eris nyatakan dengan tulus.
"Bolehkah aku memohon sebuah bantuan." Pinta Satella.
"Bantuan? Iya bantuan apa yang dimaksud." Balas dewi Eris.
"Lakukan gacha telur pet untukku dewi Eris cantik, habisnya dewi Eris itu punya level keberuntungan kelas dewa." Kata Satella.
"Iya itu benar, aku punya stat luck sangat tinggi karena akulah dewa Fortune. Sepertinya aku akan bantu kamu, tapi beri imbalan." Jawaban dewi Eris atas permintaan Satella.
"Apa imbalannya?" Tanya Satella.
"Jadilah anggota pengikut ku." Pinta dewi Eris.
"Maksudnya Eris order? Tentu saja dengan senang hati. Iya aku mau." Jawab Satella.
"Oke deal." Kata dewi Eris.
Satella dan dewi Eris saling jabat tangan.
Skip...
Plaza.
Mereka keluar dari lift, lantai atas tempat yang sama dengan putaran kedua. Toko sihir yang menjual pet egg gacha. Satella memilih ke toko yang penjaga tokonya pernah bilang bahwa ada yang pernah mendapat Phoenix dua hari yang lalu.
Mereka bertiga jalan..
"Aku membutuhkan Phoenix, jadi menangkan Phoenix untukku dewi Eris ku yang cantik." Pinta Satella.
"Serahkan padaku." Jawab dewi Eris.
Memasuki toko.
Klenteng.. klenteng...
Suara lonceng bunyi ketika ada pelanggan toko masuk. Ciri khas toko-toko didunia paralel pada umumnya. Lonceng kecil memang dipasang dibelakang pintu toko.
Suara sambutan yang datangnya menyusul setelah bunyi lonceng.
"Selamat datang ditoko kami." Sambut penjaga tokonya.
__ADS_1
Satella dan dewi Eris mendekati kasirnya. Diikuti gadis badan bocil little Iota.
"Mau cari apa?" Tanya penjaga toko peralatan sihir ini.
"Telur gacha yang mengeluarkan mahluk myth." Jawab Satella.
"Telur gacha isi mahluk myth itu harganya mahal tapi, kalian bawa uangnya kan?" Tanya penjaga toko.
"Jangan khawatir ya, aku dilarang pulang sebelum uang jajanku itu habis." Balas Satella.
Penjaga toko tertawa...
"Menarik." Penjaga toko berjalan menuju lemari etalase tuk ambil beberapa kotak telur gacha.
Ada beberapa kotak disana lalu telurnya dipilih langsung oleh dewi Eris dengan skill pasive Fortune of goddess. Telur telah dipilih, Satella membayar telur gacha untuk jadi miliknya. Telur gacha dibuka.
Waktunya gacha...
Ternyata pet yang tersimpan dalam telur ini adalah Phoenix. Tuah dari tingkat keberuntungannya level goddess berbuah hasil. Kini Satella memiliki Phoenix sebagai pet nya.
Ritual untuk menyegel Phoenix sebagai peliharaan sihir pun telah berlangsung. Phoenix sepenuhnya mematuhi perintah Satella.
"Yeay.. aku punya Phoenix." Seru Satella, merasa riang.
Pada awalnya Phoenix seukuran burung peliharaan biasa. Penjaga tokonya berbaik hati memberikan kandang burung sebagai hadiah. Penjaga toko juga memberikan beberapa pengetahuan penting.
"Phoenix bisa berevolusi dalam waktu singkat. Kamu tahu lifrasil adalah sihir instan agar Phoenix mencapai ukuran giant. Phoenix maksimal bisa mencapai ukuran setara monster kelas mega ultra." Penjelasan penjaga toko.
[Note : kelas mega ultra, kira-kira seperempat dari monster kolosal.]
"Dan yah.. aku lupa kalau Phoenix adalah karnivora, mereka takkan mau makan sayuran." Penjaga toko menambahkan.
Skip...
Ruang kebutuhan.
Salah satu meja kayu dengan tinggi sepinggang, disanalah Satella taruh sangkar Phoenix. Ada juga kandang marmut bukan tikus, fungsi hewan pengerat itu adalah untuk pakan burung Phoenix yang karnivora itu. Semua itu letaknya dipojokkan kanan atas dari ruangan tersembunyi ini.
"Aku boleh titip Phoenix disini kan?" Satella minta ijin.
"Iya tentu, lagipula Phoenix itu sangatlah cantik rupanya, mereka akan menyukainya deh" kata dewi Eris.
Alih-alih memasukan marmut nya kedalam sangkar dengan kedua tangannya, Satella menerbangkan marmut dengan telekinesis untuk mengumpankan pada Phoenix. Terjadilah pemandangan yang gore.
Sekalinya Phoenix mematok perut marmut, itu membuat usus keluar dari perut pengerat itu. Phoenix menyedotnya masuk paruh bagai menyedot spaghetti saus gurih.
"Lahapnya." Seru Satella, sambil membekap mulutnya sendiri agar tidak mual dan muntah ditempat.
Ada sedikit udara panas meluap berasal dari bulu Phoenix, hal itu membuat bakteri langsung mati terpapar suhu oven. Satella segera balik badan kemudian kembali berkumpul dengan dewi Eris.
"Phoenix itu cantik." Kata dewi Eris.
"Aku permisi dulu, semua." Satella mohon pamit dari ruangan itu.
"Sudah mau pulang?" Tanya dewi Eris, dengan raut sedikit cemberut.
"Aku ada urusan." Jawab Satella.
Skip...
Lorong sekolah.
Terlihat Satella sedang berjalan di lorong, terlihat tergesa-gesa. Konon katanya cara jalan seseorang yang menjadi cepat adalah tanda bahwa orang itu sedang memuncak dalam segi produktivitas dan semangat.
Pertama, Phoenix sudah dimiliki. Kedua, Satella punya fakta bahwa dirinya mampu memanggil bilah Griffin sword dari topi sihir punya kepala sekolah. Terakhir adalah mendapatkan kartu as lainnya tuk mengalahkan vilainya, yaitu lewat ramuan polyjus.
"Aku harap ini putaran waktu yang terakhir, dengan begini segalanya tidak akan terulang. Kalau waktu berhenti terulang maka hubungan dengan teman-teman bisa di pukuk dengan baik tanpa takut semuanya terulang. Membayangkannya saja membuatku bersemangat." Satella melewati lorong dengan riangnya.
Skip...
Green Apple village.
Segala urusan di kastel akademi sudah selesai. Satella bergerak lagi menuju desa kampung halaman Bellatrix. Untuk mengambil buku panduan ramuan milik Bellatrix. Ramuan yang buku panduannya dilarang beredar karena ramuan tersebut memang dilarang beredar.
Sesampainya disana memang sih belum sebersih yang diharapkan Satella. Tetapi sudah lebih baik sehingga Satella lebih mudah tuk mencari diruang bawah tanahnya.
Merpati hitam mendarat ditanah kemudian berubah menjadi sosok Satella. Memasuki rumah tau itu untuk memeriksa, bagi Satella itu lumayan bersih. Lagipula hanya sebentar saja, cuma sedikit saja keperluan Satella di desa tersebut.
__ADS_1
"Gak kotor-kotor banget sih." Kata Satella sambil menutupi mulut dan hidung dengan sapu tangan yang ia bawa dari kamar asrama.
Saat Satella memasuki ruangan bawah tanah. Setiap sisi tembok sudah dipasang lilin sekarang. Cahayanya lumayan memudahkan Satella menyelesaikan tujuannya.
"Coba aja aku punya asisten." Keluh Satella.
Ruang bawah tanah desainnya itu seperti ruang perpustakaan. Ruang bawah tanah sepertinya juga untuk bersembunyi sebab ada kasurnya didalam sini, sangat kotor berdebu.
"Aku mana mau tinggal dirumah seperti ini. Cuma satu lantai, terus terbuat dari kayu, kumuh sekali banyak debunya lagi." Komentar Satella, sambil melihat-lihat.
Melangkah..
Satella menghadap ke rak buku. Bukunya sangat berdebu hingga harus dilap covernya supaya bisa melihat judul bukunya.
"Ya ampun, kotor." Keluh Satella.
Satella mengambil beberapa buku kemudian ditaruh disebuah meja untuk dilap. Satella pun memegang bulu ayam, digosok bulu ayamnya untuk membersihkan cover buku. Dengan begitu judul buku dapat dilihat oleh Satella. Setelah sekian banyak buku diperiksa Satella tak menemukan semudah itu. Butuh beberapa jam bagi Satella untuk mencari buku ramuan yang ia cari.
Dua jam kemudian..
"Ah ketemu." Seru Satella merasa sangat senang.
Melangkah keluar.
"Mungkin ada banyak peninggalan yang bisa aku loot nantinya. Rumah tua ini harus dibersihkan." Satella berada diteras berbalik masuk lagi kedalam rumahnya.
"Permisi paman." Satella manggil tukang bersihnya.
"Kenapa putri kecil." Sahut tukang bersih.
"Berapa lama rumah ini bisa bersih, paman?" Tanya Satella.
"Dua sampai tiga hari." Jawabnya.
Satella memberikan upah kerja kepada tukang bersih. Kemudian kembali pulang karena buku yang dicari-cari sudah ketemu. Berkat kemampuan berubah wujud jadi merpati, bepergian keluar kota menjadi lebih mudah bagi Satella.
Skip...
Kamar asrama putri.
Satella berdiri didepan jendela kamarnya. Menikmati indahnya kelap-kelip malam kota beserta udaranya. Geffenia itu diapit oleh banyak perbukitan yang tingginya menengah, itulah kenapa udara Geffenia sangatlah segar. Satella berdiri dengan bergaun tidur.
Rambutnya sedikit basah karena Satella baru saja mandi. Terkena kotor debu sedikit saja Satella menjadi kangen akan air hangat.
"Segarnya." Gumam Satella.
"Oke lanjut!"
Satella kini melangkah menuju ke kursinya. Duduk menaruh kedua tangannya dimeja rias, memandang diri sendiri barang sejenak.
"Cantiknya." Seru Satella dengan elemen narsisme yang berbangga memuji diri sendiri.
Kini Satella fokus membaca buku panduan membuat ramuan yang ilegal yaitu polyjus. Lembar demi lembar dibuka Satella, tak lama membaca keningnya mengkerut.
"Bella gak ninggalin catatan disini. Tanpa coretan tambahan maka gak ada rahasia mempermudah proses meramu. Bakalan susah deh, huf.. dasar Bella!" Satella merasa kesal.
Satella menekuni apa yang dibaca olehnya. Banyak sekali halaman dibacanya, apa mungkin ramuan dipelajari dengan cepat? Ataukah meleset waktu pengerjaannya.
Banyak bagian yang Satella skip dibuku ini. Walau begitu Satella paham garis besarnya, tentang bahan-bahan dan cara meramu.
Satella menguap..
"Ngantuk nya." Keluh Satella.
Akhirnya Satella menyerah lalu menutup bukunya. Ia berjalan menuju kasurnya yang terlihat menggiurkan daya tariknya.
Satella menjatuhkan tubuh diatas kasur bagaikan menjatuhkan diri diatas tumpukan awan lembut.
"Nyaman.. enaknya." Satella pun terpejam, tengkurap dikasurnya.
Jendela kamar menutup hanya dengan telekinesis. Bahkan hanya melangkah untuk sekedar nutup jendela secara biasa pun malas rasanya bagi Satella. Tengkurap dikasurnya, merubah posisinya menjadi terlentang pun rasanya sangat malas. Menarik selimut memakai telekinesis saking besar kemalasan yang Satella derita dimalam yang melelahkan ini.
"Selamat tid~~dur."
ZzzZZzzz
Tidur terlalu cepat, Satella terlihat kelelahan hari ini.
__ADS_1
~bersambung~