
Ruang kebutuhan.
Saat Violetta kembali keruang kebutuhan, disana Satella telah kembali seperti biasa. Theodore berada disisinya untuk sekedar menguatkan, memberi support.
"Selamat datang." Sambut dewi Eris.
"Ya.. aku kembali." Sahut Violetta, berjalan menuju meja kumpul.
Violetta menuju kehadapan Satella untuk bertanya kabar.
"Kamu udah mendingan?" Tanya Violetta, meski ekspresinya datar tetapi hatinya peduli.
"Aku udah oke, makasih banyak sudah tolong aku ya Vio." Satella tersenyum tulus walau mimiknya yang muram sulit ditutupi.
Violetta menoleh kesemua yang berada diruangan, ingin sekedar memastikan bahwa semua sudah berkumpul disini.
"Semua sudah ada, syukurlah." Violetta menghela napas lega.
"Boleh minta tolong." Violetta menatap Satella.
"Boleh dong." Balas Satella.
"Aku butuh uang untuk meracik ramuan, sebagian bahan berada di rumah kaca sebagian harus dibeli ditoko sihir." Kata Violetta.
"Sekalian jalan-jalan ke plaza Vio?" Satella kini kekurangannya telah semakin mereda.
"Item yang kucari sepertinya agak langka, aku akan pergi ke lavender alley." Jawab Violetta.
"Kamu hapal betul ya tempat buat mencari item rare." Sahut Satella.
"Aku butuh ratusan koin silver, Satella." Kata Violetta.
"Lima gold coin cukup?" Tanya Satella.
"Mungkin tujuh." Kata Violetta.
"Ini uangnya." Satella memberikan uangnya kepada Violetta.
Satella memberikan sepuluh gold koin kepada Violetta. Violetta pun menghitung uangnya, terkejut saat mengetahui jumlah uangnya itu.
"Sepuluh gold coin?" Ucap Violetta dengan nada bertanya.
"Sisanya adalah tanda pertemanan kita Vio, anggap saja sebagai tanda terimakasih ku karena telah kamu tolong dari pengguna potion yang jahat." Ujar Satella.
"Tapi aku tidak butuh, karena aku bukan cewe matre." Canda Violetta.
Violetta berniat bercanda lalu teman-teman menertawakan candaannya itu.
"*****, kamu sindir aku ya mata sayu!" Omel Isyana.
Minerva terbahak melihat raut wajahnya Isyana. Isyana menatap sebal kearah Minerva.
"Kamu juga kan sama matrenya denganku ya mamah tiri!" Omel Isyana, sebal pada Minerva.
"Iya deh iya, jangan marah-marah terus nanti cepet tua dasar jenong." Minerva tertawa lepas.
Kebisingan mereda.
"Tolong terimalah." Kata Satella.
"Iya aku terima, tapi aku bingung buat beli apa." Kata Violetta.
"Sekalian belanja mata sayu, atau berikan saja padaku." Kata Isyana.
"Ngarep ya jenong." Sindir Minerva.
"Jangan dong, itu kan buat tanda terimakasih ku pada Vio." Satella memprotes candaan Isyana.
"Yasudah aku terima saja ini agar kamu senang." Kata Violetta.
"Nah sekarang aku jadi lega deh." Satella bilang.
Theodore berdeham sambil ia menoleh kearah Satella.
"Permisi master." Seru Theodore.
Satella menatap Theodore dengan seragam butler dipadukan rambut silver tertata rapih dioles Pomade. Saat Theodore berdiri ia kelihatan lebih tinggi dari Violetta si gadis jangkung yang paling tinggi dari semua cewe di kelompok pengikut dewi Eris ini. Kali ini Satella mulai memandang Theodore dengan raut wajah murah senyum bukannya ekspresi cuek yang nyebelin lagi.
"Ada apa Theodore?" Sahut Satella.
"Bolehkah aku mengawal teman master?" Tanya Theodore.
__ADS_1
"Boleh saja sih." Jawab Satella.
"Hei.. Vio, apa kamu mau dikawal ataukah tidak?" Tanya Satella.
"Iya boleh juga sih supaya ngerasa lebih aman." Jawab Violetta.
Lalu Isyana datang dengan mulut yang mengompori.
"Aduh gawat, pelayan tampan mu direbut Violetta." Isyana memberi olok-olokan kepada Satella.
Candaan Isyana ditanggapi serius oleh Theodore, walau Satella hanya menanggapi cuek.
"Kesetiaan ku mutlak hanya untuk master." Ucap Theodore.
Isyana tak melihat raut wajah yang jealous sedikitpun. Isyana merasa kesal karena gagal memprovokasi Satella. Karena gagal mengompori Satella, Isyana beralih memberikan olok-olokan kearah Violetta.
"Tuh dengar Violetta, kesetiaan Theodore mutlak untuk Stella. Usahamu untuk memiliki butler tampan sia-sia ya." Ujar Isyana.
Isyana mendesau sebal saat gagal melihat kegalauan dihati Violetta.
"Mulut kompor mu tidak mempan terhadapku, dengar itu ya jenong." Balas Violetta, dengan raut datar.
"Dasar minim ekspresi." Isyana mendesis kesal.
"Aduh.. aduh.. gagal lagi, sehari aja gak toxic rasanya berat." Minerva menertawakan Isyana.
"Dasar melon." Isyana mengejek Minerva.
"Jenong selalu aja komentarin fisik orang." Ujar Minerva.
"Tuh kamu juga ngatain jenong, itu juga sama saja ngatain fisik orang. Mamah tiri melon nya besar banget tuh, bisa menghasilkan satu ember milk perharinya." Isyana pun mulai ngatain Minerva.
"Enak aja emangnya aku ini sapi, toxic banget si jenong!" Minerva segera naik darah.
"Melon mu sama besarnya sama seorang ibu yang udah punya dua anak." Menjulurkan lidahnya pada Minerva, Isyana mengolok-olok.
"Kurang ajar banget mulut toxic orang jenong ini." Minerva melipat tangan dan membuang wajahnya, Minerva semakin naik darah.
Isyana dan Minerva sibuk bertukar olok-olokan, Violetta dan Theodore sudah pergi dari ruangan ini.
"Sebaiknya melon mu diperas lalu dibagikan untuk si kecil Iota tuh mamah tiri, habisnya si kecil Iota pertumbuhannya terhambat tuh makannya jadi cebol." Ucap Isyana yang terus mengolok-olok.
"Sedikit-sedikit melon, itu terusĀ sasaran kekerasan verbal mu ya Isyana jenong." Minerva geram.
"Walah.. kok kacau." Satella pun geleng-geleng kepala.
"Hehehe udah biasa kok mereka." Kata dewi Eris, terkekeh.
"Hei.. Iota kamu minta milk dari melon nya Minerva, alasan kamu terlambat bertumbuh kan karena kekurangan gizi." Isyana ngakak.
"Eh!" Iota mengerutkan kening.
Iota menatap Isyana dengan kesal sambil menolak pinggang.
"Aku udah gak bisa nambah tinggi karena masa bertumbuhan aku tuh udah lewat, jangan ngatain terus dasar jenong!" Iota pun mengomel.
Sementara toxic nya Isyana tak kunjung berhenti.
"Kamu bohong ya boncel, kamu masih ada dimasa pertumbuhan soalnya kamu masih anak-anak." Isyana ngakak dan guling-guling disofa, memegangi perutnya.
"Gess.. jenong emang toxic banget." Little Iota mendesis sebal.
"Slalan banget si jenong ini. Segala ngatain melon ku ngehasilin milk, emangnya aku udah beranak apa ya bisa ngehasilin milk." Minerva pun mengepal tangannya karena geram, mata terpejam, alisnya berkedut.
"Melon segede itu bohong banget kalau gak menghasilkan milk ya." Isyana ngakak setelah puas ngatain Minerva.
"Aku rapopo deh, dari pada kamu Isyana. Punyamu itu datar Isyana. Sudah datar tulang rusuknya juga kelihatan didada." Balas Minerva.
Itulah yang dinamakan serangan kritikal.
"Walah.. itu kena nya telak banget." Komen Satella, menahan tawa.
"Rasakan itu jenong." Iota puas.
"***** sakitnya tuh disini." Isyana memasang wajah suram.
Minerva kini sudah bisa menghela napas lega.
Isyana melangkah meninggalkan ruangan.
"Liat aja, aku bakal cari cara buat membesarkan punyaku." Isyana berbisik kecil pada dirinya, seraya melangkah keluar ruang rahasia.
__ADS_1
Skip...
Lavender alley.
Akhirnya Violetta dan Theodore sampai disebuah gang yang cukup identik dengan toko-tokonya yang menjual item sihir. Beda halnya dengan persimpangan jalan atau protokol utama, apa yang disebut Alley adalah gang yang jalannya sangat sempit. Protokol utama itu memiliki ruas jalur yang luasnya setara delapan kereta naga. Kalau persimpangan jalan itu ruas jalur setara dua jalur kereta naga dan biasanya dipakai sebagai pusatnya pedagang emperan atau kaki lima. Kalau yang disebut Alley adalah jajaran toko dan pemukiman yang kumuh. Alley ruas jalurnya hanya seluas satu jalur kereta naga, Alley tidak bisa dilalui kereta naga. Jika kereta naga melewati sebuah Alley bisa-bisa kalau ada kereta naga lain yang melintas dengan arah yang berlawanan, bisa-bisa salah satu harus mundur. Cukup repot kalau kereta naga nekat masuk jalur Alley.
Violetta berjalan terus sambil ia melihat-lihat plang nama tokonya seolah ia hapal toko yang menjual item rare. Setelah mendapat nama toko yang tepat pada plang nama tokonya, Violetta segera memasuki toko item sihir itu. Biasanya toko khusus menjual peralatan ataupun benda sihir akan disebut sebagai witchcraft shop.
Witchcraft shop.
Memasuki toko sihir, hanya enam orang yang berada disana untuk melihat-lihat item sihir. Violetta langsung saja menuju meja kasir untuk mencari item yang dicari. Sebelum Violetta berkata apa-apa, penjaga tokonya sudah menyapa terlebih dahulu.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjaga tokonya.
Violetta mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Benda yang ditunjukkan Violetta adalah secarik kertas yang mirip kertas resep obat. Disitu ada daftar item yang dicari Violetta.
"Aku mencari bahan-bahan untuk membuat ramuan sihir, list yang tidak di ceklis adalah bahan yang kucari." Violetta pun memberikan secarik kertas itu.
Penjaga toko menerimanya seraya membaca list itemnya.
"Sebentar, akan kucari." Penjaga tokonya masih diam ditempat dan mengingat item di daftar.
"Kurasa semua item yang dicari olehmu kami memiliki semuanya." Kata penjaga toko, sambil masih membaca list nya.
"Tolong ya pak." Kata Violetta.
Sementara Theodore hanya diam ditempat dan melihat-lihat benda yang dipajang ditoko ini.
"Sepertinya keempat item yang tertulis di list adalah item rare." Penjaga tokonya bilang.
"Iya pak." Sahut Violetta.
Penjaga tokonya pun malah iseng membaca list yang tidak di ceklis yang telah didapatkan dari rumah kaca, sehingga penjaga toko tahu ramuan sihir apa yang mau diracik.
"Apakah kamu berniat membuat veritaserum?" Tanya penjaga toko.
"Begitulah." Ucap Violetta.
"Kelihatannya kamu ini hanyalah seorang siswi sihir ya." Penjaga tokonya sedikit curiga.
"Iya benar." Jawab Violetta.
"Veritaserum itu ilegal loh, hanya boleh digunakan oleh otoritas yang berwenang." Kata penjaga toko.
"....." Violetta menghela napas berat.
"Kamu tetap akan menjual item tersebut padamu, tetapi kami tak bertanggung jawab atas apa yang mungkin terjadi." Kata penjaga tokonya.
"Santai saja." Jawab Violetta.
"Oke akan aku carikan item yang kamu cari." Penjaga toko menuju keruang penyimpanan item.
Beberapa saat kemudian.
Belasan menit kemudian penjaga tokonya kembali dengan item yang dibutuhkan Violetta.
"Ini semua item yang kamu mau, semuanya enam koin emas. Tapi karena kamu masih murid sihir, biaya tutup mulutnya satu keping emas." Kata penjaga toko.
"Apa?" Violetta mengerutkan keningnya.
"Semuanya tujuh keping koin emas kubilang, itu termasuk biaya tutup mulut." Kata penjaga toko.
"Aku telah memprediksi ini sejak diruang kebutuhan, makanya aku bilang pada Satella aku butuhnya tujuh koin emas." Bisik Violetta.
"Ini uangnya." Violetta membayar transaksinya.
"Terimakasih banyak." Penjaga tokonya memberi itemnya.
"Boleh aku tanya?" Seru Violetta.
"Silahkan." Kata penjaga toko.
"Apakah akhir-akhir ini ada orang membeli bahan love potion?" Tanya Violetta.
"Wow itu sangat ilegal, hukuman penyalahgunaan ramuan itu berat sekali." Komentar penjual toko.
"Kami tidak punya, kalaupun ada palingan cuma jual dua diantara kelima bahan rare nya." Penjaga tokonya bilang.
"Terimakasih infonya." Violetta pun pergi dari toko itu.
"Ternyata bahannya tidak mereka pasok dari sini." Pikir Violetta.
__ADS_1
Violetta dan Theodore segera pergi meninggalkan lavender alley.
~bersambung~