Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
hari kedua loop kedua


__ADS_3

Pagi hari..


Loop waktu kedua. Hari kedua yang penuh kedamaian, sebelum ancaman dihari ketiga datang. Dipagi hari ini trio Minerva, Violetta dan Isyana sedang mengikuti ujian praktik sihir. Makannya di ruang kebutuhan ini hanya ada mereka bertiga. Adalah kedua siswi yang kelasnya sedang diliburkan dan satu orang dewi.


Satella duduk disofa singgel jadi jikalau ketiduran dia gak akan terjatuh kesamping, walau bikin lehernya jadi pegel. Suara alunan musik terdengar dari musik box. Semua itu benar, pada zaman ini lagu-lagu diputar lewat kotak musik. alih-alih memutar piringan hitam, ini lebih kuno lagi yaitu logam disk kotak persegi lembaran, warna hitam.


Dunia yang ditempati Satella itu peradaban yang agak kuno tetapi berbeda dengan bumi. Alih-alih memakai alat musik dengan piring besi hitam sebagai pemutar, di era saat ini masih pake kotak musik kayu dengan rupa seperti mainan anak.


Melodi~ melodi santai berputar dipagi hari nan cerah.. santainya genre melodi membuat minum teh menjadi sesuai. Disertai biskuit rasa-rasa, ada yang kotak dengan krim jeruk, vanila dan cokelat.


Waktu dijam lemari kayu yang ada diruang itu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Jam menyebabkan bunyi detik yang berisik, apalagi kalau alarmnya sudah berbunyi kerasnya, tanda jam makan siang telah tiba. Di dunia modern jam tersebut sangat antik, tapi di zaman ini adalah jam teknologi terbaru.


"Ya.. ampun, melodi nya sangatlah klise ya.. oy dewi Ilis." Kata Iota.


"Komentar aja ya." Balas dewi Eris seraya memegang cangkir dengan pose tangan yang cantik. Meneguk harum teh dengan santainya.


"Hei.. Tella hei.. Tella, belikan disk logam yang baru dong." Pinta Iota.


"Masa aku sih? Nanti pas aku beli terusnya yang aku beli ternyata melodi yang udah kalian punya bagaimana?" Balas Satella.


"Kita cuma punya satu diks logam, catat tuh judul keping logamnya supaya hapal mana yang sudah kita punya, jadi kamu gampang belinya." Ujar Iota.


"Iya.. iya.. nanti aku beli." Jawab Satella.


"Janji?" Iota menatap Satella.


"Em.. aku janji." Jawab Satella.


"Janji." Mengulurkan kelingking kepada Satella.


"Em.. janji." Satella menyambut kemudian mereka bersalaman dengan jari kelingking.


"Cie.. akur banget kalian berdua." Senyuman nampak dibibir cantik merah merona dewi Eris.


"Sebentar ya.. aku mau konsentrasi dulu, jangan ganggu loh." Satella bilang, sambil memegang sebuah benda milik orang jaman dulu dan bersiap menerawang.


"Eh? Eh.. memangnya mau apa Tella?" Tanya Iota, menatap dengan mimik bengong yang imut.


"Psikometri, sudah pernah dengar waktu dikelas kan? Iota." Satella memiringkan wajah, tersenyum lembut pada Iota, sebelum lanjut memejamkan matanya.


"Memang nilai afinitas Esper Tella berapa?" Tanya Iota.


"Sembilan." Satella.


"Eh? Beneran." Sahut Iota.


"Hei Iota.. stop!" Satella sambil memejamkan matanya.


"Oy.. jangan ganggu dia litle Iota." Ucap dewi Eris.


Satella berkonsentrasi dengan skill psikometri, perlahan panca indera dimatikan. Indera didunia nyata dimatikan, berganti dengan indera penerawangan. Sementara itu Iota hanya memperhatikan dengan tatapan bengong yang sangat lucu.


Psikometri digagalkan..


"Hei Tella.. hei Tella." Iota memberi sedikit gangguan, membatalkan proses penerawangan Satella, Iota menarik-narik lengan baju Satella.


Satella tersadar didunia nyata panca inderanya..


"Hei.. Iota! Aku kan sudah bilang." Satella bernada protes kepada Iota yang membatalkan penerawangnya.


"Hei.. Tella, duduklah disofa yang panjang itu! Supaya lehermu tidak pegal nantinya." Kata Iota.


"Maaf menyela, tetapi litle Iota itu baik kok niatnya." Kata dewi Eris.


"Eng.. i~~iya, maaf deh.. iya aku segera pindah." Merasa tidak enak, Satella membentuk mimik wajah konyol sambil berpindah sofa.


"Gak akan terjatuh kesamping kok Tella, agak ke samping." Pinta Iota.

__ADS_1


Akhirnya Satella duduk di sofa yang panjang. Melanjutkan psikometri sambil berharap tidak diganggu oleh siapapun lagi. memejamkan mata, Satella nampak seperti ia terlelap tidur. Penerawangan pun berjalan.


Beberapa menit kemudian..


"Hei.. Tella hei.. Tella." Panggil Iota sambil melambaikan tangannya kearah wajah Satella, panca indera Satella yang mati membuat mata tertidur, pendengaran tuli. Hanya goncangan terhadap tubuhnya lah yang bisa menyandarkannya.


"Satella sedang menerawang, jadi tolong jangan diganggu! Little Iota." Larangan datang dari dewi Eris.


"Bukan begitu maksudku, cuma pengen tahu aja." Iota berkelit.


"Apa dia tertidur?" Gumam Iota.


"Dia tidak tidur.. tapi menerawang." Koreksi dewi Eris.


"Maksudku, apa saat menerawang, dia sama saja dengan tidur?" Iota mengoreksi pertanyaannya.


"Kalau pertanyaan mu begitu, maka jawabannya iya." Kata dewi Eris.


"Sesuai deh." Memiringkan kepala, litle Iota tersenyum semringah dan sedikit tertawa.


"Hoam... Ngantuk." Gumam Iota, seraya menguap.


"Hola.. hola.. Iota pinjam bantal mu, maksudku ku pinjam paha mu tuk sandaran bantal." Kata Iota sambil menepuk-nepuk lembut paha Satella.


"Hihihi." Diselingi tawa kecil Iota, bernada usil.


Iota menyenderkan kepalanya pada paha Satella yang lagi konsen dengan aktifitas menerawang, ketika Satella melakukan psikometri itu seperti seakan dia sedang tertidur. Kadang matanya terbuka saat psikometri, membuat jadi terlihat melamun.


"Kamu tidur?" Tanya dewi Eris yang asik membaca buku cerita bergambar yang ada warnanya, tangan kanan memegang cangkir teh yang selama tidak habis-habis juga.


Beberapa saat setelah dewi Eris menoleh. Suara dengkuran yang lebih mirip seperti suara siulan dari mulut anak kecil keluar dari mulut Iota. Terlelap seperti anak kecil sedang tidur siang. Itu membuat dewi Eris menutup bibirnya, menahan tawa.


"Kaya anak kecil lagi bobo siang." Komentar dewi Eris.


"Siul~ siul gimana gitu itu suara napasnya." Komentar dewi Eris, menahan tawanya.


Muncul suara semburan api yang menandakan seseorang memasuki ruangan rahasia ini. Sosok yang terlihat adalah Violetta. Tapi mana yang lainnya, karena trio ini hanya datang seorang saja. Violetta pun melangkahkan kakinya melewati karpet biru panjang. Sementara sambutan datang dari sang dewi.


"Selamat datang." Sambut dewi Eris.


"Ya.. aku datang." Sahut Violetta, tatapan nya sangat satu dengan sebelah mata tertutup poni yang panjang.


Wajah Violetta melambangkan rasa malas, walaupun sifatnya itu rajin. Begitulah wujud bawaan lahirnya Violetta. Iris mata purple bergeser sesaat, ketika menyimak lantunan melodi dari kotak musik kayu yang artistik itu.


"Minum teh?" Ajak dewi Eris yang mengangkat cangkirnya, memberi senyum ramah nan sejuk.


"Boleh juga." Setelah terdiam sesaat karena merasakan alunan melodi dikotak musik, akhirnya Violetta melangkah lagi kearah dewi Eris.


Kini mereka berdua duduk sesaat sambil minum teh. Violetta sedikit tertarik dengan buku yang sedang dibaca dewi Eris itu.


"Buku yang bagus." Seru Violetta.


"Oh.. ini buku cerita bergambar." Jawab dewi Eris.


"Seperti anak kecil saja." Violetta, sambil batuk jaim, malah terkesan pura-pura batuk.


"Iya.. habisnya aku suka yang ada gambarnya juga berwarna." Balas dewi Eris.


"Bercerita tentang apa?" Violetta mulai duduk disofa yang singgel.


"Ini," dewi Eris semula asik melihat buku cerita, kemudian memandang Violetta dan menyahut, "yang aku baca, werewolf dan penerawang."


[Author : buku cerita yang dibaca dewi Eris berbau spoiler, tentang cerita di arc berikutnya.] 😁


"Werewolf dan penerawang? Tapi apakah, mereka menikah?" Tanya Violetta, dengan mimik diamnya.


Violetta menampakkan wajah diam yang mempesona, iyalah pesona Kuudere. Sementara dewi Eris jadi menahan tawa atas klise yang ada pada ucapan Violetta, iya benar itu unsur klise. Sebab hanya karena ada dua tokoh pada judul cerita bukan berarti mereka saling berjodoh kan. Itulah yang dewi Eris anggap lucu.

__ADS_1


Dewi Eris gak kuat, diapun tertawa tanpa bisa ditahan-tahan.


"Kenapa ketawa?" Violetta membuat bibirnya nampak ditekuk cemberut ketika dewi Eris menertawakannya.


"Habisnya.. kamu." Kata dewi Eris, menahan sisa-sisa tawanya supaya bisa terhenti.


"...." Violetta semakin mengkerutkan keningnya, dewi Eris menanggapi dengan.


"Hola.. tunggu.. iya aku jelasin, iya jangan kesel dulu oke." Bujuk dewi Eris, sambil cengar-cengir.


"Klise banget sih." Gumam dewi Eris.


"...." Violetta mengangkat bahu dan menghela napasnya.


"Mereka dijadikan judul, itu bukan berarti mereka itu sepasang kekasih bukan. Sebenarnya adalah, mereka saling berlawanan." Ujar dewi Eris.


"Berlawanan?" Violetta.


"Werewolf itu memakan manusia yang di desa kan. Penerawangan satu-satunya orang yang bisa cari tahu siapa werewolf nya. Sebab selama hari masih belum gelap itu, werewolf masih jadi manusia dan kalau penerawang gagal endingnya bisa ditebak." Ujar dewi Eris, tapi cerita berhenti disini karena ingin menunggu respon.


"Endingnya semua manusia mati sementara werewolf menang kan." Itulah respon Violetta.


"Tepat."


Betapa senangnya dewi Eris akan komentar Violetta yang sejalan dengan penjelasannya. Kemudian dewi Eris kembali melihat halaman buku cerita. Violetta menuangkan teko teh, mendapat air teh tidak berasap Violetta bertanya-tanya.


"Tidak ada uapnya, apa ini masih hangat?" Tanya Violetta.


"Sudah dingin kok, kenapa? Mau kubuatkan teh yang baru?" Balas dewi Eris.


"Boleh juga." Violetta.


"....." Sang dewi menatap dengan ekspresi cengar-cengir.


"Habisnya dewi Eris paling ahli membuat teh." Violetta bilang.


"Tau saja aku nagih pujian, cewe berwajah malas ini peka juga ya.. orangnya." Bisik dewi Eris, pada dirinya sendiri.


Skip...


Violetta menyenderkan dagu pada tangannya, siku tangan menyender pada sisi sofa. Violetta ada dalam kebosanan, tak lama dewi Eris pun datang dengan nampan, membawa poci teh. Mendarat dimeja.


"Ini dia nyonya." Canda dewi Eris.


"Aku gak nge bos yah! Kamu kan menyediakan teh panas dengan sukarela." Violetta dengan matanya yang khas, mengendus bete.


"Aku keluar dulu yah." Pinta dewi Eris, mengedipkan matanya.


"Keluar?" Violetta.


"Aku juga kan mau rekreasi dulu sebentar." Jawab dewi Eris.


"Eng.. itu, apa ada seseorang yang dewi Eris taksir? Makannya malah tumben aja keluar." Balas Violetta.


"H~~huh? Gah ada kok." Jawab dewi Eris dengan nada kaget.


"Dengar.. aku cuma mau jalan-jalan aja, pergi ke kota mungkin terlihat seru." Ujar dewi Eris.


"Jangan lama-lama ya dewi ku." Violetta dengan senyum tipis dan mata pemalas nya.


Akhirnya dewi Eris pergi ninggalin ruangan. Sementara Violetta santai disana sambil menikmati teh panas buatan seorang goddess nan cantik. Bubuk teh di jaman kuno umumnya punya citarasa yang tinggi, harganya pun bervariasi. Kebetulan daun teh yang dipasok dewi Eris adalah yang dijangkau kalangan atas.


"Eh?"


Suara gumam kaget dari Satella saat sadar dari penerawangan yang dilakukannya. Dia terkaget karena pahanya ditimpa seorang remaja perempuan bertubuh mungil.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2