
Senja hari.
Senja hari adalah periode waktu antara sore dan malam. Adalah matahari yang nyaris tenggelam. Sebentar lagi acara makan malam diruang perjamuan akan dimulai. Tepatnya pukul tujuh malam.
"Lama banget ya!" Minerva berdiri sambil melipat tangan, kakinya dia hentakkan kelantai beberapa kali, cepat, dengan uring-uringan saja.
"Kamu sih.. tega nyuruh mata sayu buat beli item sihir sendiri, tega.. banget kamu." Komentar Isyana.
"Berisik." Omel Minerva.
"Ratu tega." Isyana menyindir lagi kearah Minerva.
"Biarin." Minerva melipat tangan seraya buang muka, jutek campur cemberut kesal.
Entah bagaimana Isyana kambuh lidah toxic nya..
"Kalau kamu jadi kepala sekolah, sebagai murid aku bakalan pindah sekolah. Wajah sih boleh cantik seperti ratu kerajaan, karena raja pengennya permaisuri yang cantik diantara putri paling cantik pasti Minerva yang paling utama jadi prioritas lamaran. Tapi kelakuan sangat temperamen seperti cewe brutal saja! Gak bisa bayangin deh kalau Minerva jadi ratu. Pastinya setiap tahun banyak hukuman mati terjadi, paling-paling alasannya gara-gara gak sengaja mandangin payudara ratu Minerva yang sudah dikenal galaknya." Dengan wajah enteng, mulut toxic Isyana telah memberi kritikan pada Minerva.
"Sumpah aku gak sekejam itu ya! Benar-benar terasa pedasnya lidah toxic Isyana itu." Minerva terpejam dengan mimik cemberut menahan sebal, sambil menolak pinggang.
"Habisnya.. gitu-gitu kan Violetta orangnya baik. Terlalu baik malah. Bisa setega itu, permaisuri cantik? Cocoknya dipanggil RATU TEGA! Paling emosian sejagat, murkanya sangat berbahaya." Isyana tak henti menceramahi Minerva.
"ISYANA STOP!" Protes Minerva dengan sebalnya.
Kepala Minerva berasap, itu sangat mengepul. Kepalanya menengadah keatas, enggan menatap ataupun ditatap. Tangan menempel sejajar dengan paha, dikepal. Wajahnya terlihat cemberut pada tingkatan sangat-sangat sebal. Minerva yang meredam emosi jiwa, membuatnya berucap sendiri, berulang, seperti mengigau saja.
"Aku gak tega aku gak tega aku gak tega aku gak tega aku gak tega aku gak tega aku gak tega!" Ucapannya berulang sebagai manifestasi dari alam bawah sadar yang menolak dikritik sebagai ratu tega.
"Biar gimanapun juga kalau diliat, Minerva cantik banget." Satella memberi pujian pemanis untuk memadamkan emosinya Minerva.
Minerva dengan latah berbicara sesuai alam bawah sadarnya. Itu manifestasi jiwanya yang terkena kritikan yang baginya terasa sakit.
"Cantik? Tapinya aku ratu tega, emosian juga." Minerva mendesau dengan sebal menolak pinangan sambil memperlihatkan wajah cemberutnya yang super manis.
"Wajah Stundere memang bikin terpesona." Pujian datang dari mulutnya dewi Eris dengan lidah manisnya.
"Apa itu Stundere?" Gumam Satella dengan mimik bingung, bengong.
Tau-tau suara gemuruh muncul sebagai tanda bahwa seseorang memasuki ruangan ini. Minerva bersama lainya menoleh dan itu Violetta pulang bawa kantung belanjaan bahan kulit nan kuat.
"Permisi.. aku datang." Violetta dengan nada datarnya. Menatap semua dengan tatapan ngantuk.
Menaruh kantung belanjaan bahan kulit hewan dimeja. Itu adalah tas dengan fitur sihir dimana inventori dimanipulasi. Ruang penyimpanan internal dapat memasukan barang yang umumnya bisa dibawa dengan bagasi, tapi ditampung di tas kulit yang ukurannya kurang besar tuk menampung barang satu bagasi.
"Aku beli banyak." Violetta bilang.
Violetta memasukan tangannya kedalam kantung. Ketika keluar, tangannya memegang tongkat berwujud totem pada umumnya dengan mata semu. Anehnya itu benda yang ditaruh didalam tas, panjangnya melebihi kantung itu sendiri. Kalau bukan karena sihir maka memasukan benda yang seukuran demikian kedalam tas berukuran segini tak masuk akal.
Bukan...
Tapi inilah sihir, ini sihir loh.
"Mau dipasang dimana?" Violetta bertanya.
"Dipasangnya nanti malam, waktu semuanya lagi diruang perjamuan kita pasang totem ini." Satella pun memberi usulan.
"Bagus tuh ide." Komentar Violetta.
"I~~iya kurasa anak telat puber ini otaknya encer juga." Kata Minerva. Dengan sedikit ledekan.
__ADS_1
Alih-alih menasehati Minerva agar jangan meledek, Isyana malah ikut ngatain Satella.
"Karena anak ini belum puber dan masih jiwa anak-anak, cocoknya disebut gadis setengah matang tau." Komentar Isyana.
"Apa maksudnya gadis setengah matang?" Tanya Satella.
"Gadis remaja tapi belum puber, makanya buat ukuran cewe remaja kamu itu setengah matang." Jawab Isyana sambil menutupi bibirnya ketika ketawa puas.
"Eh.. loh kok gitu?" Satella jadi bete dibuatnya.
"Sudah.. sudah.. gak boleh kalian ngatain." Ucap dewi Eris datang memberi ceramah.
Skip..
Malam hari.
Tentu kelompok Eris order telah makan bersama ketika jam enam. Karena saat jam tujuh mereka itu harus berkeliaran di lorong untuk memasang totem. Iya item sihir bernama observer ward itu adalah benda berfungsi sebagai totem.
Shaman biasa menyebut sebagai totem, makanya dikalangan mage memakai nama observer ward.
Satella membawa satu totem lalu menaruhnya dilantai. Pada bagian bawahnya, seperti ada akarnya dan saat ditaruh ditanah akarnya itu seperti menancap ditanah. Itulah yang membuat totem bisa berdiri dilantai. Seperti tongkat dengan banyak mata palsu yang ditaruh ditanah ataupun lantai dan berdiri.
Meski begitu tak menyisakan retak yang merusak lantainya, akarnya sangat tipis. Observer ward sangat ajaib, karena itu adalah item sihir.
"Sudah." Ucap Satella, membawa kantung ajaibnya.
Berlari di lorong..
Skip..
Tiba di lorong lainnya, Satella pun terhenti di satu spot. Memasukan tangan kedalam kantung sihirnya, mengeluarkan totem lainnya, lalu memasang totem itu dititik yang menurutnya pas untuk mengintai vilain yang nantinya datang.
"Siapa yang merusak penerangan nanti kuhajar dia!" Satella menepuk tinju di telapak tangannya dengan mimik cemberut yang sebal.
Dia berlari lagi menelusuri lorong untuk mencari titik lainnya yang efektif tuk pasang totem. Tiba-tiba secara mengejutkan kucing oren berlari kencang dari belokan yang tidak terlihat oleh Satella karena terus berlari maju. Tau-tau kucing oren tersebut melompat dengan sangat tingginya. Melompat sampai setinggi wajah Satella, hampir saja menabrak wajahnya. Disertai nada meong yang kerasnya seperti kucing yang lagi berantem.
"Kya... Apa itu." Satella menjerit kagetnya, terjatuh dilantai.
Kucing oren itu telah mengejutkan Satella. saking kagetnya Satella pun terpeleset jatuh dibuatnya.
"Gila nih kucing, aku dibuat kaget. Hampir aja aku kena serangan jantung! Jantungku lagi berkedut untuk saat ini." Keluh Satella yang bicara sendiri akibat kesal.
"Fuh." Menghela napas, memungut kantung yang tergeletak Satella menghampiri kucing oren tersebut.
"Kucing nakal!" Satella mengangkat telunjuknya, menatap sebal kucing oren tersebut.
"Jangan lari sembarangan! Jangan lompat sembarangan, kucing nakal gak tau sopan santun. Pemilik mu tidak pernah ngajarin cara menjadi kucing yang baik ya?" Kucing oren memang nakal, fuh." Satella dengan konyolnya memarahi kucing seolah kucing akan mengerti apa yang dia katakan, tapi nyatanya iya.
Loh kok bisa?
Tentu saja bisa, karena kucing oren adalah manusia yang memakai sihir perbuatan wujud jadi hewan. Sihir yang dimiliki oleh Satella. Bedanya kalau Satella memakai sihir untuk berubah menjadi merpati hitam, seseorang ini merubah wujudnya menjadi kucing oren yang nakal. Kucing oren itu telah berada sangat dekatnya dengan Satella.
Siapakah orang ini?
Dan tiba-tiba..
Jreng.. jreng..
Kucing oren berubah menjadi gadis rambut pirang kuncir satu dengan tubuh atletisnya. Dan tau-tau gadis tersebut memberi surprise heboh.
__ADS_1
"Do~~dor!" Minerva berteriak keras dengan niat mengagetkan Satella.
"EH.. COPOT! JANTUNGKU KEJANG DEH." Jerit Satella merasa sensasi shock pada jantungnya.
"Jantungku berdetak nya kencang seperti habis lari maraton, karena kamu ngagetin aku tau!" Satella bernada protes.
Menanggapi omelan Satella, yang bersangkutan yaitu Minerva hanya menanggapi dengan terkekeh saja. Sementara Satella dengan kepolosan yang menggemaskan malah bicara sendiri dengan lucunya.
"Hari ini sudah empat kalinya aku dikagetkan! Sabar ya jantung." Ucap Satella, seolah jantungnya bisa dia ajak untuk berbicara.
"Ya.. ampun Satella, kamu lucu banget." Minerva yang kebanyakan ketawa jadi kehabisan suara tawa sehingga kini tertawa tanpa suara, hanya semburan suara napas saat tertawa saja.
"Dengan konyolnya kamu bicara dengan kucing oren.. serius deh? Emangnya kucing oren bisa ngerti dengan ucapan mu? Dasar gadis setengah matang." Minerva masih terkekeh atas kekonyolan Satella.
"Kita kan berpencar kenapa kita ketemu? Jangan-jangan sengaja pengen jahili aku ya!" Ucap Satella bernada protes.
"Gak sengaja kok." Minerva masih terkekeh, lidahnya menjulur.
"Jadi, Minerva bisa berubah jadi kuncing oren?" Tanya Satella.
"Iya sihir perubahan wujud, kalau menguasai satu bentuk saja cuma sebentar kok belajarnya." Minerva bilang.
"Oy! Berpencar lagi cepet." Satella meminta supaya masing-masing selesaikan tugasnya dulu.
"Iya bawel." Balas Minerva.
"Hai semua.. ini gawat!" Violetta mengawasi dari ruang kebutuhan sebagai kru Esper, melaporkan sesuatu yang terjadi.
"Isyana ketauan penjaga sekolah! Penjaga patroli itu, karena Satella menguasai hipnosis maka hanya Satella yang bisa tangani, tolong bantu ya." Pinta Violetta.
[Author : disini peran Violetta itu seperti operator ruang cctv, juga penghubung jalur komunikasi.]
"Dimengerti." Sahut Satella.
Satella berubah kedalam wujud burung merpati hitam. Merpati terbang menuju lokasi Isyana tuk memberikan bantuan padanya.
Skip..
Ruang kebutuhan.
Selama satu jam, totem berhasil dipasang diberbagai titik di kastel sekolah yang luas. Semua sudah bekerja sama dengan baik, diruang kebutuhan semua duduk manis. Violetta memantau segala sudut ruangan melalui totem. Sementara mata semu yang terpasang pada beberapa titik, terhubung dengan bohlam penglihatan yang biasa dipakai Violetta untuk memantau.
"Kalau sekiranya kita masih bisa mengungsikan orang-orang, maka kemana kita ungsikan?" Satella bertanya, membuka percakapan.
"Masih saja berniat selamatkan orang-orang!" Minerva marah atas idenya Satella, ia marah karena peduli dengan keselamatan Satella.
"Yang pasti jangan ruangan ini." Violetta membalas.
"Aku kan goddess tau! Aku bisa.. menciptakan dimensi supranatural yang sama bagusnya dengan dewi Aqua." Balas dewi Eris.
"Palace itu ya." Sahut Satella.
"Aku kirim yang bisa ku kirim ke palace miliku." Ujar dewi Eris.
Sementara Violetta masih sibuk memantau keadaan diruangan perjamuan. Teknik clairvoyance dihubungkan Violetta menuju ke bohlam penerawangan yang bisa memunculkan gambar nyata.
"Kapan tepatnya ular itu muncul?" Seru Violetta.
"Iya.. kapan dia muncul, itu yang ingin aku tahu." Sahut Satella.
__ADS_1
Rasa gabut menjangkit mereka saat menunggu detik demi detik waktu kemunculan ular balisik dan siluet hitam pangeran (putri) kegelapan.
~bersambung~