Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
eksekusi dua sekaligus


__ADS_3

Note : karena ini bagian penting, makanya bakal dibikin spesial chapter. Ini spesial chapter makanya lebih panjang daripada bagian part biasa.


______________________________________________


Kafetaria sekolah.


Disebuah meja duduklah seorang gadis remaja berambut emas yang tubuhnya atletis. Ia sendirian saja meminum fruit tea apple segar. Hingga dua orang laki-laki datang, mereka punya rasa percaya diri cukup tinggi untuk berani deketin Minerva. Ia dia remaja tercantik diantara remaja satu kerajaan.


"Boleh kami duduk?" Tanya siswa laki-laki yang hadir di pesta itu.


Mereka itu dua laki-laki berambut hitam, tidak ada yang spesial dari mereka. Salah satu dengan rambut belah tengah setinggi 180cm kurang lebih. Satunya lagi dengan rambut jambul agak lancip yang tingginya 185cm kira-kira. Tapi Minerva itu punya tubuh atletis yang lumayan tinggi bagi ukuran cewe. Ketika mereka bertiga berada di satu meja, itu terlihat seperti sepantaran kalau dilihat dari segi postur tubuhnya.


"Silahkan saja, tapi kalau nanti kubilang pergi, kalian harus pergi! Ya." Balas Minerva.


"Lagipula aku sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki seperti kalian ini! Ya. Apa kalian rela mempermalukan diri sendiri tuk menghiburku?" Minerva nyolot.


"APA?" laki-laki yang duduk dekat dirinya mulai sedikit kesal.


"Ngomong-ngomong namaku itu Claude, salam kenal gadis paling cantik." Kata cowo rambut jambul sedikit lancip.


"Aku Minerva." Ekspresi wajah Minerva nampak dibuat masam.


"Senyum dikit dong." Rayu Claude.


Minerva menatap Claude lalu ia memberi senyum masam selama empat detik sebelum buang muka.


"Senyum yang indah." Rayu Claude.


"...." Minerva no respon.


"Ahem." Cowo satunya berdeham untuk mencuri perhatian, Minerva menoleh barang sebentar.


"Namaku Shean." Kata cowo yang rambutnya belah tengah.


"Lam.. kenal." Ucap Minerva agak cuek dan ekstra masam.


"Asem." Batin Claude.


"Gess...payah." Minerva mendesis.


"Hehe.. mungkin Minerva, ahem.. type stundere." Shean bilang.


Minerva hanya fokus melihat ke depan. Yaitu kursinya pembuat pestanya, Claude bersiul sebagai upaya mengambil atensi Minerva tetapi hal itu sia-sia saja.


"Jadi si pembuat pesta itu ya, itu siapanya kamu? Cantik." Tanya Claude.


"Teman kelas." Minerva dengan acuhnya, perlahan bar kekesalan mulai terisi kearah setengah.


"Boring ni orang." Bisik Minerva.


"Kenapa kamu datang tidak bawa teman?" Tanya Shean.


Minerva memegang kipas kayu dibuka untuk menutup bibirnya kemudian ia berbisik kepada diri sendiri dengan mood yang turun.


"Ya ampun boring banget, segala tanya yang gak penting, gak bisa banget bikin topik." Bisik Minerva.


"Pengen sendiri aja sih." Jawab Minerva.


Suasana kian kaku, saling diam tak satupun pembicaraan terjadi.


"Sudah ya." Minerva bilang.


"Kita diusir nih." Bisik Claude.


Mereka pergi ninggalin Minerva karena merasa usaha mereka gak berhasil memikat Minerva.


Persepsi berpindah ke Satella yang duduk di kursi panjang dipingigran lorong dekat kafetaria. Terpejam matanya karena inderanya telah dimatikan. Alasan dari inderanya dimatikan bukan lain karena dia sedang melakukan clairvoyance.


Diperlihatkan Satella duduk disana sambil terpejam layaknya orang sedang tertidur. Yang sebenarnya sedang melakukan penerawangan dengan clairvoyance. Satella dapat melihat apapun yang kini terjadi didalam ruang kafetaria sekolah. Penglihatan sangat jelas, begitupun dengan pendengaran didalamnya.


Yang Satella intip adalah Minerva. Tubuhnya yang duduk di lorong menjadi tersenyum dalam mata terpejam. Satella merasa geli atas Minerva yang mudah memikat beberapa laki-laki. Tetapi semua ditolaknya begitu saja tanpa rasa kasihan sedikitpun.


Beberapa moments yang Satella tonton, kemudian waktu dimana Jason memberi cincin kepada Rika pun segera dimulai..


"Aku menumbalkan tubuh siswi perempuan ini untuk jadi wadah pangeran kegelapan! Transkripsi jiwa." Guru memakai magic scroll.


Transkripsi jiwa !!


Jreng.. jreng.. jreng..


Sosok Rika berubah wujud menjadi sosok gadis yang mirip Satella tapi dengan kuping manusia. Sebagian orang terkejut sebagian masa bodo. Tapi khusus Satella efek shock nya sangat tidak terkira.


Satella berusaha mengakhiri skill clairvoyance nya.


Satella terbangun.


"Pusing." Keluh Satella, memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil terpejam.


Tujuh detik kemudian Satella bisa berdiri lagi. Satella berlari sekuat yang iya bisa tuk menuju kedalam kedalam ruang kafetaria sekolah.


Ruang kafetaria.


Yang didengar Satella adalah suara berisik. Bagaimana tidak! Sosok itu, siluet hitam mulai menembak sihir kepada tamu pesta. Sekalipun sihir tingkat satu tetapi cukup itu kuat.


Minerva masih diam dikursi nya tanpa sengaja melihat kearah pintu keluar. Yang dilihat Minerva adalah sosok Satella yang hubungannya kurang baik di loop waktu kali ini.


"Satella?" Gumam Minerva dengan ekspresi terbengong.


Satella berlari tau-tau terhenti dan balik badan. Menghadap kepintu kemudian bersiap-siap melakukan sihirnya untuk memblokir jalan masuk. Satella berniat mencegah ularnya masuk dan memangsa.


Ice wall !!


Pintu masuk kafetaria yang setinggi tiga meter dan seluas empat meter telah disulap menjadi tembok yang memblokir akses. Kemudian Satella berlari, sepertinya ia berniat untuk mencari keberadaan Minerva.


Satella menemukan lokasi Minerva berada, berlari kesana.


Tap.. tap.. tap..


Suara magician boot melangkah dilantai kayu kafetaria. Akhirnya Satella sampai ditempat Minerva.


"Minerva!" Seru Satella terlihat sedikit panik.


"Satella?" Sahut Minerva dengan wajah senang campur curiga.


"Kita harus membantu semuanya kabur dari sini, ada ular balisik menuju kemari!" Ujar Satella.


"H~~huh?" Minerva kaget.


"Aku sudah menutup jalan masuk bagi ular balisik. Sekarang giliran kamu jebol lantai supaya semuanya bisa kabur lewat situ." Seru Satella.


"Apa maksudmu?" Minerva masih bingung.


"Kita tidak punya banyak waktu! Kumohon Minerva ku yang cantik." Satella dengan paniknya.


"Eh? Kok kamu." Minerva diam.


Satella memegang bahu kekarnya Minerva. Ditarik kedepan dan juga kebelakang, Satella dengan gestur membuat Minerva cepat paham.


"Kumohon." Paksa Satella.


"Oke." Balas Minerva.


Minerva mengaliri energi sihir element tanah ketangan kanannya kemudian dipukul kelantai hingga lantainya jebol.


"Sudah cukup! Lantainya gak boleh lebih besar dari tubuh ular balisik." Satella bilang.


"Baik.. tapi, yang kamu bilang itu benarkan?" Minerva memverifikasi.


"Iya aku bersumpah." Satella.


Tak lama kemudian suara retakan bongkah es. Sedikit demi sedikit es mulai retak, itu tinggal menunggu waktu sebelum dinding sihir es nya pecah dan hancur.


"Siluet hitam itu menembaki kita dengan sihir? Apakah itu pangeran kegelapan yang dibangkitkan." Ucap Minerva dengan resahnya.


Satella memegang kedua tangan Minerva. Mereka saling menatap, Minerva sedikit menahan napas merasa sensasi canggung.


"Em itu, Satella?" Gumam Minerva.


"Sudah kubilang kan aku bukan Bellatrix, kenapa waktu itu kalian menuduh aku?" Satella dengan tatapan wajah sendunya.


"Maafkan aku." Minerva.


Minerva memberi pelukan pada Satella. Tapi itu bukan pelukan percintaan tetapi pelukan tanda persahabatan dan ungkapan maaf penuh penyesalan yang tulus.


"Maafkan aku.. aku sungguh minta maaf, aku menyesal, aku merasa bersalah." Minerva memeluk lebih erat, Satella mengukir senyum tipis.


"Badanku sakit." Keluh Satella.


"Maaf." Minerva melepas Satella.


"Bantu aku untuk mengevakuasi orang-orang yang ada disini, tolong aku Minerva." Pinta Satella.


"Tentu." Minerva tersenyum tulus, bahkan pipinya sedikit memerah pertanda merasa hangatnya rasa pertemanan.


"Semuanya lari lewat sini!" Teriak Minerva.


Minerva berulang kali memberi seruan untuk kabur, beberapa menoleh, mereka mulai bergerak kearah Minerva. Jason menyadari yang Minerva lakukan kemudian mengincar Minerva dengan sihir gertakan ditembak kearahnya.


Kini Satella menangkap tubuhnya Minerva hingga terhempas kelantai untuk menghindari tembakan sihir Jason. Mereka terhindar dari upaya gertak dengan tembakan sihir, itu hampir melukai Minerva walaupun hanya akan menciderai saja atau setara luka ringan saja.


"Terimakasih Satella." Minerva.

__ADS_1


[Satella : kamu pernah selamatkan aku di loop kedua, kita impas.] ☺️


"Semuanya lewat sini!" Minerva kembali memberi seruan supaya orang-orang berdatangan.


Jason kembali memberi gertakan berupa tembakan sihirnya. Tetapi Minerva sigap, pakai sihir tanah sebagai sihir defensif. Afinitas nya yang tinggi membuat dindingnya sekuat dinding berlapis batu keras berwarna putih.


Stone wall !!


Tetapi Jason tak berhenti memberi nada gertakan pada Minerva, terus melakukan gertakan. Tanah lemah terhadap api sehingga Jason segera menembak sihir fire ball untuk merusak sihir defensif Minerva.


Benar saja karena tanah yang kena tembak sihir api kadi mengering sedikit demi sedikit. Sangat kering menjadi tanah pecah-pecah, dindingnya pecah seperti bongkah pasir bukan lagi dinding tanah yang kuat.


Dinding tanah yang Minerva buat sebagai sihir pertahanan runtuh. Tidak sia-sia karena orang-orang berhasil berkumpul.


Kini gantian Satella menggunakan sihir pertahanan. Menyulap es jadi dinding pertahanan es, bola api pun menjadi uap seketika dan gagal tuk melukai orang-orang. Tapi Jason tak berhenti sampai disitu. Sekarang ia memakai sihir petir, karena es itu lemah dengan petir.


"Semua lompat kebawah! Kabur lah lewat sana." Seru Minerva.


Suara gemeretak es..


Petir ditangkal kedalam bumi oleh tembaga karena bumi kuat akan elemen petir. Tetapi kalau es tentu lemah akan petir, esnya menjadi retakan. Bagian yang kena kawat petir menjadi es yang melunak, itu tidak sekeras dinding pertahanan elemen es lagi. Kekerasan dinding sihir es telah dilunakan dengan panasnya benang kilatan petir.


Pecah...


Saat dinding pertahanan es rusak hingga pecah, orang-orang sudah banyak turun yang turun.


"Minerva.. dinding!" Pinta Satella.


"Iya.. ngerti." Balas Minerva.


Sihir pertahanan tanah dibentuk Minerva. Lalu distack oleh Satella dengan dinding pertahanan ice dibelakangnya.


"Semua cepat turun!" Minerva terus-menerus berupaya untuk membantu kabur yang lainnya.


Pada loop kedua ular balisik sudah terlanjur masuk jadi susah untuk membantu yang lain kabur. Tetapi pada loop ketiga ular balisik sukses ditahan dengan menutup pintunya dengan dinding es.


"Minerva buka jalan untuk mereka!" Pinta Satella.


"Gak perlu! Mereka semua ahli sihir juga, minimal bisa menjebol pintu dengan sihir ledakan dasar." Jawab Minerva.


"Eh.. iya juga." Sahut Satella.


Suara gemeretak es terdengar..


"Oh tidak! Pintu masuknya sudah diterobos ular balisik." Seru Satella.


"Kabur lah duluan." Kata Minerva.


"Tidak." Respon Satella.


"Kamu urus mereka, aku urus ular balisik." Satella mengeluarkan item dari magic bag miliknya.


Benda yang dia keluarkan adalah sebilah pedang. Griffin sword yang Satella dapatkan belum lama ini.


"Satella apa itu?" Tanya Minerva.


"Ini pedang keramat! Griffin sword yang tak terkalahkan." Jawab Satella.


Satella berlari kesisi paling kanan ruang kafetaria, yaitu sisi dekat dengan pintu. Dengan cepat Satella memasang observer ward supaya mata semu bisa dipakai. Perspektif berganti ke third person shooter.


"Enyahlah dari hadapan ku ular balisik!" Seru Satella, sambil menenteng pedangnya yang mistik untuk jaga-jaga.


Satella mulai membentuk baut es dalam jumlah banyak. Semuanya melayang diudara, melalui mata observer ward Satella membidik ularnya. Sementara ular balisik semakin mendekat Satella terus membidik, mengatur akurasinya.


"Aku bisa, tidak masalah! Aku bisa melakukannya, pasti kena." Satella hampir siap menembak.


Ice bolt !!


Baut es dalam jumlah banyak pun ditembak secara beruntun. Fokus tembakan adalah pada mata ular balisik. Secara tak terduga ular itu meliuk berbelok menghindar, tapi beberapa rentetan baut es masih mengenai badan bagian tengahnya. Adalah weak point yang membuat ular balisik sedikit lebih lambat


Slow...


"Astaga dia menghindar!" Satella menendang lantai, sangat geram.


"Mungkin harus di disable terlebih dahulu." Pikir Satella.


"Ah aku tahu!" Satella menjentikan jarinya.


Satella memakai sihir terkuat yang mampu dia pakai saat ini. Adalah sihir tingkat empat, melesatkan satu bongkah es yang amat besar tapi tak terlalu besar karena ini didalam ruangan jadi pecahan serpihan es kerasnya jangan sampai terpantul kepada dirinya sendiri.


Satella membentuk satu kotak es awalnya, es semakin membesar menjadi balok segi enam besar. Baloknya cukup runcing dan bisa meledak. Hingga saat ini Satella masih memperbesar balok es nya sambil membidik ular balisik.


Lalu...


Frost shock !!


Sebuah bongkah kristal es besar melesat ke tubuh ular. Karena itu masih meliuk dengan lincahnya bongkah es masih meleset. Meski meleset tapi setelah menabrak lantainya. Bongkah es meledak sampai pecahan kristal kerasnya menyerempet badan ular balisik hingga menyebabkan luka.


Stunt..!!


Ular tidak hanya kena efek weak beserta slow, tapi stunt alias jadi terdiam ditempat mengerang sakit.


"Nice!" Seru Satella, mendapat advantage.


Karena ular balisik sudah dalam keadaan lumpuh, Satella dengan cepat melakukan combo serang. Membentuk banyak baut es yang melayang diudara. Membidik mata ular balisik agar dia menjadi buta, dengan begitu Satella aman dari pembantuan kutukan stone curse.


"Pasti kena!" Seru Satella.


Ice bolt !!


Dan kena..


"Yes.. kena." Satella melompat girangnya.


Ular balisik meneteskan darahnya yang mengalir dari mata yang telah dirobek baut es. Dia buta dan tidak bisa memberikan kutukan lagi.


"Sekarang saatnya! Inilah pedang hebat milikku." Satella menodong pedangnya kearah ular balisik.


Satella membidik..


Ular balisik bersiap menembak semprotan bisa korosif. Inilah pamungkasnya ketika mata ular pemberi kutukan batu tak bisa digunakan kembali.


Tapi Satella lebih cepat.


Telekinesis !!


Pedang terbang menuju rongga mulutnya. Pedang keramat telah menembus rongga mulut ular itu sampai menembus tengkoraknya. Sampai ujung bilahnya nampak dibagian kening sang ular balisik.


"Yeah... Aku menang!" Satella pun melompat kegirangan.


Mvp !!


Berbekal Griffin sword dan skill telekinesis yang kuat Satella telah sukses melakukan solo mvp. Walau beberapa sihir es nya pun punya peran dalam membunuh balisik seorang diri saja. Mvp adalah saat manusia sukses mengalahkan boss monster. Boss monster adalah tingkatan monster dimana punya kekuatan yang bisa menewaskan pasukan dalam jumlah banyak.


Ada banyak monster ras ular yang mampu dilawan kesatria seperti python. Tetapi ular balisik adalah rajanya monster ras ular sehingga kekuatannya tak sebanding dengan monster ras ular yang standar.


Mungkin masih banyak monster dengan kekuatan diatas ular balisik ini. Monster yang kekuatannya itu lebih tinggi dari boss monster biasa disebut sebagai Mega boss.


Satu pasukan kesatria bisa dibabat habis oleh satu boss monster saja saking kuatnya mereka. Job class paling ampuh untuk melawan boss monster sampai saat ini barulah magic caster, karena mage punya sihir yang damagenya amat besar.


Apalagi kalau mereka punya satu senjata pusaka atau lebih, pastilah menjadi spesialis anti monster.


"Sekarang ini aku adalah seorang spesialis anti monster." Satella pun malah selebrasi.


"WOY!" Panggil Minerva yang lagi kerepotan dengan siluet hitam dan Jason.


Minerva terus menumpuk tembok tanah didepannya. Terus menyulap tembok tanah keras untuk berada diposisi bertahan total.


Karena siluet hitam mengincar Minerva, Satella jadi punya celah untuk menyerang. Dari posisinya Satella, siluet tidak punya sekat pertahanan. Posisinya pun terbuka karena sedang all out attack.


Satella menggunakan telekinesis untuk memaksa mulut ular balisik untuk menganga. Setelah mulut dibuka, Satella bisa menarik bilah pedang miliknya. Griffin sword berada digenggaman Satella.


Satella berlari kecil ke sudut yang sesuai untuk menembak pedang dengan lesatan sihir. Sihir angin takan bisa menerbangkan pedang. Dengan Telekinesis baru bisa.


"Telekinesis!"


Pedang melesat..


Tangan lentik Satella jadi tambah indah dengan gemstone hijau itu terpasang. Dalam perspektif mata Satella, siluet hitam mengeluarkan kabut hitam. Selain itu miasma berasal dari sihir gelap, itu juga menandakan bahwa siluet hitam berproperti dark element. Dalam penglihatan Satella juga terlihat bahwa Griffin sword memberikan pancaran silau cahaya matahari.


True sight membuat Satella bisa membaca element lawan tanpa memakai skill penerawangan.


Dark element lemah terhadap white element.


Griffin sword sukses menembus tubuh siluet hitam. Dada ditembus pedang berproperti white magic.


Weak !!


Kena kontra element membuat damage yang diterima sangatlah besar. Siluet hitam menguap dan sosoknya kembali berubah lagi kewujud siswi tingkat ketiga yang bernama Rika. Satella dengan cepatnya berlari menuju Rika.


"Hei tunggu!" Minerva berlari tuk menghentikan tingkah bodohnya Satella yang berlari lengahnya saat berada didekat musuh.


Tapi tak ada yang dilakukan oleh Jason, dia terdiam saja seolah ia mengkonfirmasi kekalahannya.


"Hei kamu baik-baik saja?" Tanya Satella.


Satella menaruh kuping didada kirinya Rika.


"Dia tewas." Ucap Satella.


Satella melepas cincin dijari Rika yang merupakan horcrux pangeran kegelapan, Bellatrix. Memegang cincin tersebut di telapak tangan.

__ADS_1


"Minerva.. lindungi aku!" Pinta Satella.


Satella memegang erat cincin itu untuk melakukan psikometri.


Diam-diam Jason berjalan kearah bangkai ular balisik.


Satella berkonsentrasi..


"Benda ini memiliki fragmen jiwa didalamnya, mungkin 1/8 potongan jiwa manusia." Ucap Satella dalam keadaan terpejam.


Alih-alih menggunakan psikometri andalannya, Satella malah pakai mediumship. Yaitu sihir digunakan untuk komunikasi dengan arwah. Dalam beberapa kejadian indera Satella masuk kedalam dimensi apapun yang dihuni arwah yang dihubungkan dengan mediumship.


Mediumship !!


Afterlife dimensi..


Great hall.


Dimensi ini wujudnya sangat luas seperti aula besar yang lebih besar lagi dari aula yang sangat besar.


Sebuah marmer kotak-kotak warna abu-abu. Setiap kotak dari lantainya sangatlah besar. Menoleh kesegala arah hanya ada kabut putih seperti awan sepanjang mata memandang.


Setelah Satella melihat-lihat area kabut putih ini akhirnya Satella berhenti menoleh kesegala arah. Penyebabnya adalah sosok orang berjubah abu-abu gelap, kepalanya ditutupi jubah kerucut di kepala. Sosok berjubah itu memegangi tingkat sabit ala malaikat maut.


"Huh?" Satella melangkah kearah malaikat maut tanpa ragu.


Mengapa harus takut, yang ada disana hanya ilusi Satella. Karena Satella memakai mediumship makannya semua indera miliknya terhubung ke dimensi ini. Bukan hanya indera penerawangnya saja berada disana, Satella memakai sihirnya untuk membentuk ilusi dirinya yang nampak seperti roh.


Ilusi dirinya, arwah buatan dari sedikit mana jiwa. Setelah ilusi miliknya dibunuh, Satella kembali kedalam tubuh aslinya. Karena ini hanyalah ilusi untuk menjelajah.


Menjelajahi dunia lain...


Tap.. tap.. tap..


Sense !!


Tiba-tiba perwujudan ilusi Satella terhenti.


"Eh?"


"Aku merasakan keberadaan tiga orang. Itu aku dan malaikat maut disana, lantas siapa yang ketiga?"


Satella bingung, mengangkat bahu kemudian melangkah lagi.


Satella melangkah..


Langkah demi langkah, tak terasa sudah berapa langkah ia berjalan mendekati shinigami itu. Pokoknya langkah sudah banyak tercapai.


"Apa.. itu?" Gumam Satella.


Satella melihat handuk digelar dilantai marmer putih yang amat besar itu. Satella tidak bisa untuk mengabaikannya karena ditempat handuk itu digelar, Satella merasa hawa keberadaan mahluk hidup.


Tap.. tap..


Satella terus melangkah menuju gelaran handuk itu. Satella sampai menggaruk dagunya dengan jari telunjuk sambil menduga-duga.


"Mahluk seperti apa yang berada diatas handuk itu? Pastinya kecil sekali, mungkin fairie pixie." Ucap Satella, memberi tebakan.


Satella belum bisa mengetahuinya secara pasti. Yang bisa dilakukan Satella hanyalah terus melangkah mendekati handuk itu. Penasaran tentang mahluk sihir apa yang ada diatas handuk yang digelar diatas lantai bagai keset kamar mandi.


Beberapa saat kemudian..


Satella sudah berada diposisi yang sangat dekat untuk memerintah matanya mengidentifikasi mahluk sihir yang berada disana.


Tapi...


"Kya.. apa itu!" Satella terlonjak mundur, tersentak kaget juga.


Bentuknya seperti anak kecil yang tidur bergelung diatas handuk itu telanjang gemetaran. Kulitnya itu kasar kemerahan seperti dikuliti walau tidak sampai terlihat serat ototnya atau putih tulang. Merah kulitnya lebih seperti warna kulit pada bayi tikus. Sosok itu berjuang untuk sekedar bernapas.


Lebih tepatnya...


Seperti bayi prematur seukuran genggaman tangan.


Satella sedikit takut akan sosok tersebut. Meski itu rapuh dan juga terluka, tapi Satella enggan untuk menyentuhnya. Secara bersamaan meringdinglah tengkuknya Satella seperti ditiup angin yang dingin.


[Note : kalau di Indonesia sosok ini serupa dengan jenglot, tapi disini sosoknya tanpa kuku panjang dan rambut jarang serupa uban maupun gigi taring, kaya bayi prematur.]


Pada dasarnya cewe itu kadang memiliki sifat ingin tahu. Satella penasaran sehingga perlahan jari telunjuk didekatkan ke sosok itu. Tangan Satella bergetar perlahan mencapainya. Satella sadar diri bahwa dirinya berpenakut walau berniat menyenangkan sosok itu. Merengek diatas handuk tanpa kemampuan berbicara, kesakitan, bernapas pun ia merasa kesulitan.


Walau takut akan sesuatu yang berbau horor, akan tetapi Satella masih ada ditengah-tengah antara penakut dan berani. Sedang ada ditengah kedua itu Satella lebih memilih memenangkan sisi yang berani dalam dirinya. Satella pun mengalahkan sisi penakutnya.


Berniat memungut dan mengusap sosok itu untuk menenangkannya. Dengan sifat berpenakut bisa saja Satella terlonjak mundur ketika mahluk itu mengagetkannya.


Jari lentik Satella hampir meraih mahluk aneh itu.


"Kamu tidak bisa menolongnya."


"Kya... Apa itu!" Satella terlonjak mundur kebelakang hingga jatuh terduduk dilantai.


Adalah sosok lainnya yang tau-tau berbicara. Yang tadi bersuara itu adalah sosok berjubah yang sedang memegang sabit kematian.


"Lihat." Kata malaikat maut.


"Iya lihat, hu.. waa.. tapi apa itu?" Satella gemetaran merasa nuansa horor. Lututnya gemetaran dan bisa-bisa dia membasahi pantsu miliknya karena mengompol.


Rasa takutnya memberikan Satella perasaan kebelet pipis yang tidak sanggup iya tahan. Tapi untungnya Satella bisa menahan untuk tidak mengompol meski dia merasakan sensasi takut hingga kebelet pipis.


"Kutanya siapa dia! Cepat jawab." Satella merinding ngeri.


"Adalah orang yang memakai sihir gelap. Jiwanya tidak utuh menjadi satu karena ia membagi jiwanya kedalam beberapa bagian untuk mengakali kematian. Adalah sihir keabadian yang sangat gelap." Ujar shinigami tersebut.


"Apa mungkin.. jangan-jangan!" Satella terkejut menyadarinya.


"Iya itu benar, dia Bellatrix yang kamu tahu." Jawab shinigami.


Belum tentu juga yang berbicara kepada Satella adalah malaikat kematian. Barangkali manifestasi imajinasi Satella. Barang kali sosok aslinya adalah pecahan roh.


"Bisakah aku bicara dengan orang itu?" Tanya Satella.


"Silahkan saja." Jawabnya.


Satella kaget ketika ada sosok lain yang muncul. Adalah sosok keempat didalam dimensi misterius itu.


"Hai." Suara perempuan.


"H~~hai juga." Satella terkejut.


Mereka saling bertatap.


"Kamu mirip denganku dengan kuping manusia. Apakah kamu Bellatrix?" Tanya Satella.


"Iya itu benar." Jawabannya.


"Lalu itu siapa?" Tanya Satella, menunjuk kearah sosok prematur seukuran genggaman tangan.


Bellatrix bernapas berat...


"Itu adalah aku yang berada pada ambang antara hidup dan mati." Jawab Bellatrix.


"Hhah apa? Kakatamu." Satella merinding.


"Jiwaku masih terperangkap pada beberapa benda mati. Jasadku itu tidak mati juga tidak hidup, tubuh jasmani ku terkubur tanah dalam keadaan abadi yang cacad." Jawab Bellatrix, agak berat.


"Kya.. apa katamu!" Satella makin merinding dengan suasana horor yang diceritakan Bellatrix.


"Oh my goddess! Aku kebelet pipis akibat dengar cerita yang seram." Keluh Satella, awalnya ia berdiri saling bertatap dengan Bellatrix. Akhirnya jongkok menahan rasa kepengen pipis.


"Apa kamu mau menolong aku? Sungguh aku menyesal karena menghindari kematian. Dengan kekuatan gelap dengan niatan mencapai keabadian." Bellatrix bernada merengek.


"I~~iya ya.. itu, aku harus gimana?" Satella masih ngeri.


"Tolong kumpulkan semua jiwa milikku yang tersimpan didalam benda mati." Jawab Bellatrix.


"Maksudnya horcrux." Satella.


"Transfer semua fragmen jiwaku kedalam jasadku. Setelahnya baru bakar jasadku itu. Barulah jiwaku bisa pergi ke alam baka, bukanya mengambang antara kondisi tidak hidup juga tidak mati." Bellatrix menjawab.


"Aku akan menolong, aku janji." Satella bilang.


"Apakah kamu ada permintaan?" Tanya Bellatrix.


"Permintaan? Tidak ada." Jawab Satella.


"Tapi kamu akan menolong aku bukan? Mustahil kalau kamu gak menagih balasan apapun." Kata Bellatrix.


"Menagih balasan? Gak karena ku hanya ingin menolong, cuma ingin berbuat baik saja." Satella bilang.


"Serius?" Bellatrix tercengang.


Ketika mereka berdua berbicara, mereka seperti kembaran sedang mengobrol. Rupa mereka sangat mirip, hanya saja kupingnya beda.


"Em." Satella mengangguk.


"Kamu orang baik. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih."


Tiba-tiba dunia lain tak dikenal tersebut perlahan memudar.


Hilang...


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2