Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
hukuman tampar pantat


__ADS_3

Didalam kelas.


Pagi-pagi sekali Satella sudah ada didalam kelas. Duduk manis saat mendengar wali kelas berbicara.  Murid-murid dikelas ini sepertinya sudah sembuh semua dari dampak demam karena pembekuan.


"Dengarlah anak-anak." Seru ibu gurunya dengan senyuman penuh semangat pagi. Wajah seorang mamah muda terpancar manis.


"Berita baik loh." Seru ibu guru.


"Ya.. bu." Sahut murid-murid.


"Mulai besok kalian libur selama empat hari saja. Setelahnya akan diadakan third semester." Ujar ibu guru, suasana tambah hening.


"Apa buk, third semester?" Seru murid-murid.


"Third semester adalah kebijakan terbaru dari kementerian sihir loh anak-anak. Third semester tidak mempengaruhi nilai kalian, yang lulus ya lulus saja. Third semester adalah pelatihan dari kementerian sihir, diadakan selama dua bulan." Ujar ibu guru, menerangkan itu secara tertata.


"Third semester itu berfokus pada spesialisasi seorang mage loh." Ujar ibu guru.


"Oh ya.. nilai sudah keluar loh." Kata ibu guru, sebagian merasa senang meluapkan sorak sorai.


"Sekarang waktunya kelas kosong anak-anak, sampai jumpa lagi ya." Melambaikan tangan kearah para murid, ibu guru muda melangkah keluar kelas.


"Yeay.. bebas." Pikir Satella, mata terpejam dengan ekspresi penuh kelegaan, garis senyum dibibir.


Bruk..


Suara pintu ditutup.


"Eh?" Satella cepat-cepat menoleh kearah pintu masuk, disana Satella melihat Isyana masuk kedalam kelasnya yang masih penuh ini.


"Kamu kesini!" Tegas Isyana pada Satella, menunjuk.


Satella melangkah kearah Isyana tepat didekat meja guru disamping papan tulis. Isyana mengerakan jarinya sebagai gestur meminta Satella mendekatinya. Satella pun terlihat melangkah kearah Satella.


"Satella sini!" Isyana kian mendesak.


"Iya sabar." Balas Satella dengan wajah penuh keluhan.


Suasana kelas masih hening.


"Satella tepati janjimu!" Tegas Isyana dengan mata besar yang melotot membuat jidat heningnya terlihat semakin menyebalkan tengilnya.


"Masalah itu kita lupakan saja ya Isyana, aku malu." Tolak Satella.


"GAK BOLEH!" Isyana melotot.


"Huh.. apa boleh buat." Keluh Satella yang menghembuskan napas panjang dikala keningnya mengkerut.


"Apa boleh buat, janji adalah janji." Ucap Satella yang wajahnya mulai memerah dikala ia hanya berani menunduk kelantai.


"Oke good!" Ucap Isyana sambil menyeringai jahat.


"Ahem!" Isyana berdeham, berdiri menghadap murid seluruh kelas.


"Namaku Isyana dari kelas sebelah kalian tau! Aku datang kemari itu karena satu alasan." Isyana bicara lantang didepan kelas tanpa ragu.


"Jenong cantik.. jenong cantik." Beberapa murid laki-laki bersiul menggodanya.


"Sial juga aku dikata jenong." Bisik Isyana dengan wajah tengil yang terlihat jengkel.


Isyana diam barang sejenak sambil bernapas meredakan rasa kesalnya seraya menyisir rambut terbelah tengahnya itu. Kemudian setelah kekesalan mereda Isyana lanjut.


"Cepatlah mau apa? Kami gak sabar mau menikmati liburan kami tahu tidak!" Selain siswa merayu adapula siswa mengomel.


"Temanku Stella sudah bikin kalian susah, kalian membeku saat praktik sihir lalu demam." Ujar Isyana yang men-jeda sedikit.


Suasana masih hening, semuanya menyimak Isyana.


"Dia mau minta maaf." Ujar Isyana dengan wajah diam yang memberi kesan tengil. Cewe yang tampang tengilnya bawaan lahir.


"Ayo bilang!"


Plak..


"Kya.. perih."


Isyana menampar pantat Satella membuatnya tersentak kaget saat merasa pedas di kulit pantatnya.


"Cepat bilang!" Isyana memberi tekanan pada Satella yang lama.


"Ahem." Satella berdeham seraya mengumpulkan keberanian.


"Cepat!" Sentak Isyana.


"Iya sebentar jangan ngomel terus." Keluh Satella yang melakukan upaya gerakan pernapasan agar rileks.


"Ahem." Satella yang masih merasa gugup, berdeham lagi.


Satella berdiri dengan ekspresi malu-malu. Kedua jari telunjuknya saling bersentuhan, diputar-putar sebagai gestur malu-malu penuh kegugupan. Semakin Satella lama semakin kening jenong Isyana dipenuhi kerutan urat syarafnya.


"Eng.. anu, begini man.. teman." Satella dengan gugup berusaha mengatakan semuanya.


"Waktu ujian praktik itu kan aku tanpa sengaja membuat kalian membeku. Aku menyesal, aku gak sengaja tolong maafkan aku ya." Butuh banyak energi bagi Satella untuk mengatakan itu didepan teman-teman satu kelas.


Isyana menyela untuk membantu Satella..


"Gimana teman-teman sekalian, apakah kalian mau memaafkan Satella?" Kata Isyana.

__ADS_1


Mulanya satu kelas hening tanpa seorangpun menjawab. Lalu Isyana mengedutkan alisnya, mulutnya menyeringai menemukan ide-ide. Atas respon diam hening tertuju kepada Satella, Isyana memberi bantuan dengan cara yang lainnya.


Isyana mengangkat tangan.


"Aku punya ide." Seru Isyana.


Isyana men-jeda beberapa detik untuk memanen atensi yang lain dikelas. Sementara Satella lagi merenungkan keadaan sekarang.


[Satella : kenapa teman-teman ku dikelas ini hanya menurut kepada Isyana. Mereka lebih hormat pada Isyana daripada aku.] 😞


Untuk sejenak Satella merasa envy kepada Isyana..


"Saranku adalah."


"Kalian beri hukuman pada Satella supaya kalian merasa impas dan merasa enteng dalam memaafkan Satella."


"Teman-temanku, gimana ide ku?"


Isyana selesai menyampaikan, tapi suasana masih hening.


"Aku sarankan hukuman tampar pantat!" Seru Isyana.


Beberapa murid jadi bergemuruh heboh, terutama siswa laki-laki menyeringai genit. Tak banyak juga siswa laki-laki langsung menatap kearah pantat atau pinggang Satella setelah Isyana memberi saran.


"Aku yakin kalian sepakat." Isyana terkekeh memperhatikan murid dikelasnya Satella.


"Boleh juga!" Seru siswa laki-laki dengan nada heboh.


"Kami keberatan!" Seru siswi cewe yang duduk dibarisan depan.


"Bisa tolong jelaskan?" Isyana.


"Menurut kami menampar pantat perempuan itu tindakan pelecehan yang menjijikkan. Kalau boleh aku menyarankan hukum kelitik-kelitik perut atau kaki, lebih manusiawi untuk memperlakukan wanita." Jawab siswi itu.


"Kelitik-kelitik, memang kami ini laki-laki bencong lakukan seperti begitu." Protes siswa laki-laki.


"Baiklah kalau gitu, kalian boleh memilih dua hukuman tadi itu kepada Satella. Setelah itu tolong maafkan Satella untuk selama-lama lamalamalama lama lama dan selama-lamanya." Sahut Isyana.


Atas konfirmasi Isyana sebagian laki-laki bersorak gembira. Beda dengan Satella yang merasa akan kehilangan kebebasannya.


"Harga diri kewanitaan ku akan terampas." Batin Satella sambil menunduk pasrah.


"Hei.. jenong cantik, waktu Stella menerima hukuman bisa ia tidak dibuat berposisi merangkak diatas meja guru!" Usul siswa laki-laki.


"Dasar kalian semua CECUNGUK menjijikkan!" Teriak Satella dengan rasa frustasinya.


Berharap kubu siswi cewe memberi pembelaan, justru malah mendapat persetujuan.


"Sepakat! Kalau dia merangkak dimeja akan lebih mudah ketika dikelitiki." Ujar siswi cewe.


"Bagaimana kalau kedua tangan Satella kita ikat supaya gak bisa berontak waktu dikelitiki." Usul Isyana, menyeringai jahat.


"Ikat kedua pergelangan tangannya supaya gak berontak waktu Stella dikelitiki." Seru siswi cewe.


"Oke deal." Sahut Isyana.


[Satella : oh goddess.] 😭


"Oke cukup sudah tawar menawar selesai." Seru Isyana mencengkeram erat pergelangan tangan Satella tuk ditarik mundur kearah meja guru.


"Eh.. tunggu dulu Isyana!" Satella dengan paniknya.


"Naik keatas meja!" Paksa Isyana.


"No.. ini memalukan!" Keluh Satella.


"Naik gak!" Isyana memarahi.


"Gak!" Tolak Satella.


Plak...


Isyana memukul pantat Satella tuk yang kesekian kalinya.


"Aw perih." Keluh Satella.


"Cepetan naik meja!" Omel Isyana.


"Janji adalah janji, apa boleh buat." Batin Satella dengan wajah yang teraniaya.


"Hanya suami masa depanku yang boleh memukul pantatku." Gumam Satella dengan wajah muramnya.


"Cepat naik!" Isyana mengambil ancang-ancang memukul pantat.


"Kya.. jangan pukul, aku bakalan nurut." Jerit Satella.


Kini Satella berada diatas meja dengan posisi merangkak. Isyana mengambil seutas tali kemudian mengikat pergelangan tangannya Satella. Dieratkan ikatannya lalu Satella sedikit menjerit.


"Jangan keras-keras ikatannya itu bakalan membekas!" Protes Satella.


"Ayo siapa dulu yang mau punish Stella!" Seru Isyana, beberapa siswa laki-laki mengangkat tangannya.


"Mulai dari kamu terus yang ada dibelakang berikutnya, seterusnya dan seterusnya." Ujar Isyana.


Beberapa orang maju kedepan.


"Yang sudah dapat giliran silahkan pergi keluar kelas!" Seru Isyana.

__ADS_1


"Aku terjajah." Batin Satella dengan wajah menampakkan sendu.


Beberapa murid maju kedepan terkekeh kemudian.


Plak...


Pantat ditampar dengan kuat dan kasarnya.


"Kya... Pedas!" Jerit Satella.


"Ampun mama papa." Satella dengan latahnya sedikit mengigau.


"Berikutnya!" Seru Isyana.


"Tolong agak menungging sedikit untuk menambah ketegangan saat menampar." Ujar siswa.


"Stella nurut!" Pinta Isyana.


Isyana menyentil kuping lancip Satella, ia menjerit kegelian.


"Nurut atau ku jewer!" Ancam Isyana.


Satella kini sedikit menungging dan tiba-tiba tamparan mendarat tepat dipantat nya.


Plak...


"Kya.. aaa, ekstra pedas." Jerit Satella sambil meneteskan setitik air mata sendu dihatinya.


Plak...


Tamparan kesembilan dari siswa kesembilan membuat Satella diam meringis diatas meja.


"Isyana jahat!" Satella merengek.


Isyana mendekatkan mulutnya di kuping lancip Satella, berbisik pada kuping sensitif itu.


"Enak bukan.. rasanya di jahatin senikmat ini." Bisik Isyana dengan nada mengolok-olok.


Satella mendesis geram.


"Hihihi halo Stella." Suara siswi perempuannya terkekeh.


"Ini aku Emily, aku balas kamu dengan kelitik-kelitik." Tanpa lama siswi itu menggelitik perut Satella.


"Kya.. geli.. geli.. hentikan itu geli sekali, Emili stop!" Satella menjadi menggelinjang kegelian sampai jejeritan heboh.


"Sudah.. sudah kamu udah terlalu lama, silahkan pergi!" Isyana pun ngebelain Satella.


Plak...


Pantat Satella ditampar.


"Isyana tolong aku.. kalau pantatku ditampar lagi, pertahanan otot urine ku bisa mengendur dan makin sulit menahan pipisnya." Keluh Satella meringis menggigil.


"Bertahanlah." Bisik Isyana yang terkekeh puas.


Skip..


Setelah beberapa kelitik-kelitik dan tamparan bokong kemudian. Lalu Isyana membuka ikatan tali pada pergelangan tangan lentik Satella.


"Semuanya sudah pergi, Satella ayo turun dari dari meja." Ujar Isyana.


Satella jalan sambil merapatkan kedua kakinya. Langkah kaki yang diambil Satella hanya sedikit demi sedikit bikin Isyana gregetan.


"Cara berjalan kamu kok malah semakin mirip cewe yang habis melewati malam pertama!" Isyana terlihat geram.


"Kya.. apa katamu Isyana aku tidak paham." Balas Satella sambil jalan dengan kedua kaki dirapatkan dan ekspresi wajah yang mengejan.


"Otot urine ku mengendur, akibat dikelitiki terus aku jadi gak kuat kepingin pipis." Keluh Satella.


"Isyana gendong aku atau nanti bisa-bisa aku mengompol disini. Bakalan malu rasanya kalau aku mengencingi lantai." Keluh Satella yang tak kuasa menahan sensasi kebelet pipis yang hampir klimaks.


"ISYANA GENDONG!" Pinta Satella.


"Cepat naik." Isyana menyodorkan punggungnya untuk ditunggangi Satella.


Lorong sekolah.


Isyana menanggung berat bagai keledai pengangkut barang saat mengendong Satella.


"Tentang aku menggendong kamu jangan sampai diketahui kelompok Eris ya." Kata Isyana.


"Hu.. hu.. hu.. ISYANA CEPATLAH MENUJU TOILET WANITA, aku bisa kebocoran kapan saja, otot urine tidak mampu menahan sensasi menahan pipis lebih lama lagi nih." Satella menggelinjang menahan sensasi menahan pipis, merengek kepada Isyana agar cepat sampai di toilet wanita.


"Kalau gak ada aku yang gendong kamu, kamu bakalan mengencingi lantai. Kalau itu terjadi bakalan merasa malu seumur hidupmu." Isyana terkekeh, ia menyeringai dengan senyum jahatnya.


"Kalau kelak kamu datang di acara pernikahanku, jangan ceritakan cerita memalukan ini pada suami masa depanku oke." Ucap Satella bernada terisak-isak.


"Iya janji!" Isyana menyodorkan kelingkingnya.


Mereka bersalaman kelingking.


"Janji adalah janji." Ucap Satella.


"Kya... pengen pipis, BAWA AKU KE TOILET WANITA CEPAT! Uhu.. hu... Otot urine ku mulai kebocoran nih Isyana.. cepat bawa aku." Satella semakin terisak-isak gak tahan.


Isyana bagai keledai yang dipaksa bekerja mengangkat beban menuju toilet terdekat.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2