Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
penyalahgunaan potion


__ADS_3

Note : karena ini bagian penting, makanya bakal dibikin spesial chapter. Ini spesial chapter makanya lebih panjang daripada bagian part biasa.


______________________________________________


Libur hari ketiga.


Satella masih berada dikamarnya membaca buku. Satella membaca buku pengetahuan ramuan tingkat lanjutan. Satella memanfaatkan pusaka Helene diadem tentunya, supaya level intelektualnya naik.


Dua jam telah berlalu.


Satella menutup buku.


"Kabut hitam kadang cuma lewat dengan tenteram kalau pengguna sihir transfigurasi niatnya hanya lewat. Kemaren Violetta bar-bar banget, orang sampe terhempas. Kasian tau, terhempas kencang seperti itu kan sakit banget pasti." Gumam Satella.


"Nanti aku bakalan belajar lagi transfigurasi tingkat lanjut. Pasti wujud merpati hitam ku bakalan overpower." Pikir Satella.


Satella segera pergi keluar kamar asramanya.


Skip...


Kafetaria sekolah.


Satella sudah duduk manis sambil menyeruput kopi mix nya. Kali ini meminum caribean coffe. Tau-tau datang seorang yang merasa tahu banyak tentang kopi. Secara fisik tipe-tipe yang bikin Satella merasa enek hanya dengan melihatnya.


Rambut depannya belah tengah dengan model mangkuk mie. Lalu wajahnya ada bintik-bintik yang mengganggu penampilan. Bukan hanya itu, badannya gendut agak mirip seperti gentong air. Satu hal yang lucu adalah celananya yang kedodoran tanpa ikat pinggang. Saking buncitnya, sampai-sampai kancing bagian perut terlepas sebanyak satu kancing baju saja.


"Apa sih!" Satella membalas jutek.


"Itu kopi rasa caribean bukan, hei cantik?" Tanya pria jelek itu.


Satella risih atas pujiannya..


"IYA, INI CARIBEAN KOPI!" jawab Satella, sangat jutek.


"Sebenarnya kopi karibean yang dijual di kafe Ivalice city sangatlah enak, tapi yang dijual di Geffenia tidak kalah enaknya. Maksudku persimpangan jalan Monroe loh. Untungnya aku tahu loh bahan rahasia yang bikin kopi berjenis karibean lebih enak lagi, serius." Orang jelek itu bercerita.


"Kamu ini banyak bicara banget, DASAR GENDUT JELEK!" Satella membalasnya dengan amat jutek.


"Santai cantik, aku hanya ingin bersikap ramah." Ujar orang itu.


"Cih.. cantik.. cantik, aku jijik ya, DASAR GENDUT JELEK!" Satella mencelanya amat jutek.


"Maaf." Kata pria jelek itu.


"Perkenalkan namaku adalah Lei Alphard Romeo, salam kenal ya cantik." Orang jelek itu akhirnya memperkenalkan dirinya.


Tentu respon Satella adalah amat jijiknya.


Bagaimana tidak..


Terhadap instruktur muda Ernest yang ketampanannya diidolakan seluruh siswi dikelasnya, Satella merespon santai. Lalu Theodore dengan paras seperti duke pada umumnya, atau malah satu level diatas pangeran tapi dicuekin aja.


Lantas apa yang menjadi modal laki-laki gendut jelek ini selain bicaranya yang banyak ini. Mari saksikan saja kebolehan dalam merayu bangsawan cantik ini.


"Aku biasa dipanggil Romeo." Ujar laki-laki jelek itu.


"Cih.. najis." Satella seperti telah meludah kelantai.


"Namanya apaan!" Satella jijik.


"Namanya terlalu keren untuk seukuran muka jelek begini, udah begitu gendut pula terus culun." Satella mencela orang itu lagi.


Entah kenapa, pria jelek ini tidak kehabisan energi. Kita sebut saja sebagai Lei.


"Serterah sih kamu mau panggil diriku dengan apa." Ucap Lei.


"Gendut!" Satella membuang muka dengan mimik jijik.


"Gak apa-apa kalau kamu seperti begitu terhadap ku. Aku disini kan hanya ingin membagikan formula yang memantapkan rasa kopi ala caribean nuts tau." Ujar Lei.


"Tapi itu Serterah kamu sih, kalau ingin tahu betapa lezatnya itu ya silahkan." Kata Lei.


"Baiklah kalau begitu, tapi kalau ternyata kamu membual awas ya!" Balas Satella, ketus.


"Ijinkan aku menuangkan tetesan formula ini." Ujar Lei, menuang semacam botol berukuran sekecil kemasan merica bubuk 100 gram.


Lei mengocek dengan sendok teh kemudian tersaji lah.


"Sekarang silahkan dicoba." Lei menyajikan.


Satella mencicipi satu teguk lalu tegukan ketiga.


"Mana ada enaknya, DASAR KAMU PEMBUAL!" Satella terlihat kesal.


"Baru juga sedikit, teguk lagi baru formulanya bereaksi." Ujar Lei.


Satella menghabiskan satu cangkir penuh.


"Sekarang sudah bekerja?" Lei bergumam.


Satella menatap bengong kearah Lei.


"Hei cantik." Seru Lei.


Sesuatu yang buruk terjadi.


"Apa tampan." Sahut Satella.


"Yes.. obatnya bekerja." Seru Lei, teramat gembira.


"Hai cantik, siapa namamu?" Lei bertanya lagi.


"Stella.. namaku Stella."


Lei sumringah.


"Stella cantik, maukah kamu jadi pacarku?" Tanya Lei.


"Aku mau sekali, aku menyukai dirimu." Balas Satella.


Mendapat lampu hijau, Lei amat gembira.


"Mau ikut denganku?" Tanya Lei.


"Kemana?" Tanya Satella terduduk manis, dua tangan menopang dagu lalu siku menyentuh meja. Satella seperti di sihir, tatapan matanya berbinar-binar. Sorot matanya pun nampak terkagum menatapi Lei.


"Pergi jalan-jalan ke kota." Jawab Lei.


"Baiklah." Jawab Satella dengan ekspresi wajah ala wanita yang sedang kasmaran.


Lalu Lei mendekati Satella untuk memberi gestur berbisik.


"Tapi aku mau liburan di hotel ya, apakah Stella cantik mau ikut juga?" Tanya Lei.


"Mau." Jawabnya tanpa ragu, dari ekspresinya sangat suka.


"Tapi aku tidak akan memesan dua kamar, kamu bersamaku nantinya." Ujar Lei.


"Gak masalah sayang." Ucap Satella.


"Nanti aku akan melakukan sesuatu yang nakal, sekalinya menakali mu maka selamanya kamu ingin aku menakali mu lagi." Lei bilang.


"Huhu.. kayaknya seru, aku gak sabaran nih." Sahut Satella.


"Bukan hanya seru, tapi bakalan membuat kamu merasa enak dan menggelitik loh. Lei memasang ekspresi yang sangat jahat.


"Oh, buat aku nikmat." Jawab Satella.


"Nikmat sampai berbulan-bulan." Ujar Lei, terkekeh.


"Aku gak sabar." Ucap Satella.


Akan tetapi...


Tau-tau dibelakang Lei, Violetta berjalan memegang sebuah buku tebal. Saking tebalnya mungkin mencapai seribu lembar lebih.


Tanpa basa-basi Violetta langsung menghajar Lei. Kepalanya Lei pun dihantam oleh buku tebal dengan sekuat tenaga. Secara tak terduga, awalnya Lei berdiri lalu terhentak jatuh kelantai. Padahal itu hanya sebuah buku tetapi kulit kepalanya Lei sampai sedikit berdarah.


Violetta tak memakai sihirnya sedikitpun.


Bukan tenaga pysche tapi murni kekuatan otot. Walaupun dari segi fisik, Violetta masih berada selevel dibawah Minerva tapi kekuatan ototnya cukup kuat. Sosok wanita jangkung ini sungguh kuat dan juga sangar kalau la lagi beneran serius.


Satella segera berdiri menentang Violetta.


"APA YANG KAMU LAKUKAN ITU WAJAH DATAR!" Satella sangatlah marah, hingga membentaknya.


"Tatap aku!" Ujar Violetta yang memberikan sugesti.


Hipnosis !!


"Kamu harus segera tidur Satella, karena kamu sangat mengantuk sekali!" Kata Violetta.


Sugesti diberikan !!


Tiba-tiba tubuhnya Satella jatuh kelantai, ia tertidur pulas.


Violetta memegang kerah baju Lei untuk mengangkat tubuhnya.


Padahal tubuhnya sangat gemuk, bisa-bisa sama beratnya dengan beberapa karung beras. Tapi entah bagaimana, otot tangan Violetta sangatlah kuat. Kuatnya Violetta membuat badan gemuk itu seolah hanya seberat lima kilogram saja.


Violetta yang jangkung itu segera mengangkat tubuh Lei sampai kakinya tidak menyentuh lantai. Violetta meletakkannya hingga berposisi duduk diatas kursi itu.


Violetta mengeluarkan satu botol potion. Tangan kirinya memegang sebotol potion, tangan kanannya mengangkat tinjunya yang kokoh.


Dipukul !!


Violetta pun memukuli perut Lei secara membabi-buta. Lei pun membuka mulutnya menganga sekaligus ia merintih kesakitan.


Violetta segera memaksanya tuk meminum potion yang ia pegang sampai habis.


Petrify !!


Lei kena efek kutukan pembatuan. Tubuhnya lumpuh hingga durasi sihirnya habis. Violetta memberi siulan sebagai tanda, setelah tanda diberikan munculah Theodore.


"Apa yang pria gendut jelek yang menjijikkan ini lakukan kepada masterku!" Theodore terlihat agak emosi saat ini.


"Pria bajing*n ini memberikan ramuan sihir love potion Satella. Kemudian pria ini berniat untuk melakukan s*xsual abuse kepada Satella, dia juga berniat untuk memperbudak Satella dengan cara-cara yang sangat jahat itu!" Violetta menjelaskannya kepada Theodore, membuat Theodore merasakan kekesalan memuncak.


"Akan ku beri pelajaran orang ini!" Theodore mengepal tinjunya lalu mengeretakan tulang tangannya.


Kretek.. kretek..


"Kamu sembunyikan dia didalam toilet, kunci rapat!" Violetta pun memberi arahan.


"Jangan main hakim sendiri oke. Tetapi setelah waktunya tepat, kubiarkan kamu menyiksa pria j*hanam ini!" Umpat Violetta.


"Baiklah teman masterku." Sahut Theodore, memberi gerak hormat.


"Dia terkena kutukan pelumpuhan jadi gak akan ada yang berhasil menemukan dia kalau saja kamu menguncinya di toilet." Violetta memberi arahan pada Theodore.


Violetta pun mengangkat tubuhnya Satella, lalu digendongnya Satella dengan gendongan ala pengantin. Sebenarnya Violetta ingin gendong dipunggung, tetapi karena Satella sedang terlelap jadinya Violetta mengurungkan. Violetta itu hanya takut kalau-kalau Satella terjatuh kelantai saat gendongan punggung.


Violetta menggendong Satella ala bridal style. Violetta pun bergegas menuju ruang inap rumah sakit sekolah untuk dirawat sejenak.


Skip...


Ruang inap.


Ruang inap di unit rumah sakit sekolah. Satella terlelap di ranjang dengan pulas nya. Sementara itu Violetta duduk dikursi kecil yang diletakkan disamping ranjang.


Violetta tersenyum tulus sambil mengusap lembut rambut silver Satella yang tertata amat cantik.


Tak lama kemudian datanglah Theodore kehadapan Violetta.


"Bagaimana keadaan masterku?" Tanya Theodore.


"Keadaan baik." Jawab Violetta.

__ADS_1


Theodore pun mengusap lembut rambut Satella.


"Tolong minum kan obat ini pada Satella setelah ia sadar!" Perintah Violetta.


Theodore pun menerima sebotol potion obat dari tangan Violetta.


"Ini obat cure, dengan obat cure ini kamu dapat menyembuhkan efek sihir pelet cinta yang diderita oleh Satella." Ujar Violetta.


"Aku harus pergi patroli!" Violetta melangkah pergi.


"Patroli?" Tanya Theodore.


"Aku harus merazia orang-orang kurang bertanggung jawab yang berniat menyalahgunakan potion sihir tersebut!" Ujar Violetta.


"O~~oke." Jawab Theodore.


"Tolong paksa agar Satella minum obatnya, paksa saja kalau Satella susah minum obat penawarnya!" Perintah Violetta.


"Jangan ceritakan apa yang telah terjadi! Sebab kalau sampai Satella mengingatnya, bisa-bisa kondisi pikirannya jadi muram." Violetta mewanti-wanti pada Theodore.


"Akan kulakukan segalanya demi masterku." Sahut Theodore.


Violetta pergi..


Skip...


Meanwhile.


Entah bagaimana Violetta masuk kedalam toilet laki-laki. Bahkan didalamnya sedang ada beberapa murid. Suasana sedikit heboh, Violetta hanya bergerak sesuai penerawangan yang ia dapatkan.


"Maaf tapi ini toilet laki-laki!" Seru beberapa murid cowo.


Bahkan ada beberapa bernada melecehkan.


"Jangan-jangan kamu siswi yang nakal ya." Seru murid cewe.


Akhirnya Violetta pun bergerak sampai di bilik pintu toilet yang khusus duduk. Ia mengarahkan telapak pintu kearah batang slot pengganjal dari kunci pintunya.


Pysche wave !!


Tenaga supranatural berproperti netral element melesat merusak pintunya. Alih-alih terbuka seperti ditendang berkali-kali, pintunya terlepas dari kusen besi yang telah terpaku kuat di bilik kayu super tebalnya. Spontan papan pintunya membentur seorang yang berada didalamnya. Suara jeritan lelaki terdengar. Tiba-tiba Violetta pun melompat kearah samping. Lalu setelah dua detik Violetta lompat kesamping, seseorang didalam toiletnya memukul pintu hingga terpecah berkeping-keping. Kalau Violetta tidak sembunyi, bisa jadi pecahan kayu yang berserakan melukai dirinya dengan telak nya.


Violetta melangkah menuju bilik toilet tersebut. Yang didalamnya sungguh tak terduga, tapi mimik wajah Violetta tampak biasa saja seolah itulah ciri khasnya.


"APA YANG KAMU LAKUKAN!" Sentakan suara perempuan yang dipenuhi rasa murka.


Yang berada didalamnya adalah sepasang laki-laki dan perempuan. Sementara sosok laki-lakinya itu berjongkok dilantai sambil tangan melindungi kepalanya. Itu sosok laki-laki yang berpenakut.


Tapi yang mengejutkan adalah.


Sosok wanita itu adalah Minerva.


Violetta melangkah terus kearah Minerva.


"Minerva.. tatap aku!" Violetta memberi sugesti.


Hipnosis !!


"Kamu gak bisa bergerak!" Ujar Violetta.


Minerva terkena sihir ilusi yang membuatnya menjadi tidak bisa bergerak.


Violetta berjalan dengan santai menuju Minerva, memaksanya meminum cure potion. Ini bukan sembarang cure potion, karena komposisinya dibuat khusus tuk memulihkan efek love potion.


Dicekoki secara brutal, Minerva hampir saja tersedak.


"Semua demi kebaikan kamu ya Minerva." Pikir Violetta.


Cure !!


Minerva pulih.


Violetta menatap Minerva.


"Sekarang kamu udah bisa gerak!" Violetta memberi sutesti nya.


Minerva terbebas dari esek sihir ilusinya Violetta.


"Apa ini?" Minerva kaget.


"Pikir sendiri!" Seru Violetta.


"Eh kok tubuhku terasa panas!" Minerva mulai merasa janggal.


"Kalian baru saja berbuat hal yang mesum." Kata Violetta.


"Apa katamu?" Minerva kesal.


"Orang ini memberi ramuan sihir love potion padamu!" Violetta.


Minerva diam sejenak.


"Katanya kalau baru pertama kali melakukan punyaku bekalan nyeri sekali." Pikir Satella sambil dirinya mencari apakah ada rasa sakit.


"Punya mu belum berdarah kok." Violetta ngasih tahu.


"Syukur deh." Batin Minerva.


"Oh aku ingat, orang ini memberi traktiran padaku." Minerva agak jengkel, menunjuk-nunjuk kearah lelaki yang berjongkok ketakutan.


"KAMU CAMPUR APA MINUMAN MILIKKU DASAR KAU BAJINAN!" Minerva meluapkan kemurkaan.


"Lo.. lo.. love potion." Tergagap ia dengan nada gemetaran takut.


Minerva melipat lengan bajunya, memamerkan otot tangan bagian bycep yang sangat atletis seperti kesatria wanita.


Minerva meremas kerah bajunya lelaki itu, tubuhnya diangkatnya sampai keatas. Lelaki itu semakin gemetaran, kakinya bahkan tak menyentuh lantai sama sekali.


Minerva mengangkat tubuhnya laki-laki itu, dibenturkan dirinya hingga punggungnya membentur dinding bilik kayu tebal. Minerva mengangkat tinjunya.


"Jangan!" Violetta menahan.


Minerva meninjunya diperut.


Dia batuk-batuk.


Dari luar bilik terdengar suara pukulan membentur kayu. Dan teriakan laki-laki yang merasa ketakutan. Ia terdengar takut, merengek meminta ampunan.


Violetta membawakan ember yang berisi air penuh.


"Ini dia!" Seru Violetta.


Minerva menoleh.


"Tidak!" Jejeritan suara laki-laki tersebut terdengar histeris.


Dengan rasa murkanya Minerva menceburkan kepalanya kedalam ember penuh air. Beberapa detik kemudian diangkat lagi kepalanya.


Minerva memukul keras kearah tubuhnya hingga terperosok, lalu diseret keluar toilet.


Kemudian..


Lorong sekolah.


Digenggamnya kerah baju lelaki tersebut.


"DENGAR!" Minerva amat murka.


"Harga diriku itu selangit nilainya ngerti! Kamu menodai diriku yang berharga ini, kamu melakukan pelecehan kepadaku!" Sorot mata penuh kemurkaan terlihat dari Minerva yang melototi dan juga memarahi siswa dengan niat yang buruk tersebut.


Diangkat tubuhnya keatas, kerah bajunya diremas dan diangkat. Tubuhnya terangkat, kakinya pun tidak menyentuh lantai.


"S1ALAN KAMU TELAH MENCURI CIUMAN BIBIRKU, SIAL4N KAMU MEREMASI PAYUD*RAKU!" Amat murka, Minerva melemparnya kelantai, ia terhempas sejauh dua meter kelantai.


Mulanya Minerva menduduki pinggang atas lelaki itu dengan pantatnya yang empuk. Tapi ini hanyalah rencana Minerva tuk memberikan satu perhitungan.


"Astaga kamu mengeras." Minerva menggoda dengan nada manja. Perkataan Minerva yang bernada manja membuat organ lelaki itu Semaki mengeras saja.


Saat kekerasan organ jantannya mencapai puncak, Minerva pun menendang organ itu sekuatnya.


Lelaki itu menjerit...


Jeritannya penuh penderitaan.


"Enak aja kamu udah menjamah gunung kembarku yang paling berharga, S1ALAN YA KAMU!" Minerva meluapkan rasa murka.


Sementara itu.


Ruang inap.


Diruang inap Theodore dengan kesetiaannya terus menunggu tuannya disana. Sesekali merasa khawatir, Theodore memegang tangannya dengan hangat hingga tangan lentik itu pun digenggam secara hangat dan tulus. Sesekali Theodore mengusap rambutnya Satella dengan penuh rasa kasih.


"Apa aku pantas merawat master dengan membelai lembut seperti begini." Gumam Theodore, seolah berbisik kearah Satella.


Satella masih belum sadar, masih terlelap tidur.


"Ataukah aku ini telah kurang ajar karena berani menyentuh tuannya seperti ini?" Gumam Theodore.


Theodore duduk disana, tau-tau Satella sudah sadar.


"Theodore." Seru Satella.


"Master." Sahut Theodore, lirih.


"Dimana sayang ku kemana dia perginya Theodore?" Tanya Satella dengan gelagat yang amat gelisah.


"Minum obatnya dulu master, setelahnya aku antarkan tuan menemuinya." Theodore mulai menyodorkan cure potion.


"Janji?" Tagih Satella.


Theodore menyambut salam jari kelingking Satella.


Satella meminum cure potion.


Cure !!


Efek sihir telah ditiadakan, Satella terbebas dari efek love potion.


Satella bengong sejenak.


"Aku dimana Theodore?" Satella bernada lirih.


Theodore menutup bibir dengan ujung jarinya, sekuat mungkin ia menahan tawa.


"Mau ku antar kepada yayang nya tuanku?" Theodore terkekeh.


"NAJlS!" Jerit Satella.


Satella memberi gestur muntah kearah lantai.


"A*JIN* Banget tuh gendut jelek, amit-amit cabang bayi, NAJ1S!" Jejeritan histeris lah Satella.


Theodore tertawa terbahak-bahak.


Hening sejenak.


"Hei.. Theodore." Seru Satella.


"Yes.. master." Sahut Theodore, memberikan senyum merekah.


"Aku pingsan ya?" Tanya Satella, bernada lirih.


"Violetta yang membawamu kesini. Sejujurnya, aku sangat khawatir kepadamu master." Ucap Theodore.


Tau-tau Satella pun sesenggukan menangis.


"Terimakasih Vio, berarti aku jadi korban ramuan love potion yang sangat jahat. Kamu emang yang terbaik Vio." Ucap Satella sambil sesenggukan, nadanya dipenuhi dengan sendu bercampur sedikit perasaan trauma.

__ADS_1


"Kalau tidak ada Vio, nasibku itu bakalan sama kaya buku dongeng beauty and the beast." Ucap Satella, dengan nada sesenggukan.


Tangisnya pecah.


"Aku sangat mengkhawatirkan masterku." Ucap Theodore yang menggenggam erat tangan sang masternya dengan erat.


Tangisnya terhenti beberapa saat seolah di pause. Satella menatap tangannya yang digenggam oleh Theodore secara erat.


"Maafkan aku master, Theodore mu ini sudah lancang memegang tangan tuan." Seru Theodore, melepaskan genggaman tangannya.


"Kenapa.. kenapa dilepas?" Tanya Satella lirih, masih merasa sendu.


"Master?" Seru Theodore bernada bertanya.


Satella menunjukkan gestur ingin meraih tangan Theodore. Hal ini membuat Theodore sangat senang. Theodore menggenggam tangan Satella sekali lagi.


"Theodore.. aku takut." Seru Satella.


Theodore semakin erat dan hangat dalam menggenggam tangan sang master. Theodore sesekali datang dengan usapan nan lembut kearah rambut silver Satella. Theodore pun melihat senyuman kecil diwajah tuannya, rona lega nan senang pun terpancar diwajah Satella. Melihat keadaan tuannya membaik, jelas bahwa Theodore menjadi tambah gembira. Membaca situasi seperti sekarang, Theodore sangat puas.


"Hei.. Theodore." Seru Satella.


"Yes master?" Sahut Theodore.


"Aku.. aku takut, mau kah kamu menemaniku?" Pinta Satella.


"Aku akan menemani masterku." Sahut Theodore, dengan bernada penuh ketulusan.


"Maukah kamu menjagaku dari orang-orang jahat?" Pinta Satella.


"Tentu master, aku akan menjaga masterku." Ujar Theodore.


"Jangan kemana-mana tunggulah disini, Theodore.. aku takut." Seru Satella amat manja.


Theodore tersenyum lebar, amat bahagia hatinya kala ini.


Satella menatap sendu kearah Theodore.


"Mulai sekarang kawal aku setiap saat." Satella bernada manja yang campur perasaan trauma. Satella dengan kepolosan ala kanak-kanak miliknya, membuatnya berfikiran dirinya akan mengalami kisah yang sama seperti dongeng masa kecil.


Dongeng masa kecil yang berjudul beauty and the beast adalah satu cerita yang tak ingin dialami oleh dirinya. Dengan polosnya Satella percaya bahwa ia bisa saja jatuh kedalam alur yang sama dengan cerita dongeng tersebut. Wajahnya yang bersedih sungguh dipandang imut dimata Theodore.


"Imutnya masterku." Theodore pun terkekeh melihat betapa polosnya ekspresi wajah masternya. Satella memiliki garis wajah yang sungguh imut seolah ia seperti anak belia.


"Aku mau makan." Pinta Satella.


"Akan aku ambilkan." Theodore berdiri, tapi tangannya ditahan Satella.


"Tunggu.. jangan pergi." Satella bernada manja sedikit sendu.


"Aku takut." Ucap Satella.


"Kuatkan dirimu master, penyihir sekuat anda tidak patut ketakutan seperti ini." Ucap Theodore.


"Panggil suster!" Pinta Satella.


"Baiklah aku akan memanggilkan perawat untuk menemani master disini, lalu aku akan mengambil makan siang untuk master." Kata Theodore, tapi dibantah Satella.


"Jangan Theodore!" Tolak Satella.


"Kamu saja yang temani aku, biar susternya saja yang membawakan makanan." Ujar Satella.


"Sebentar, aku panggil susternya terlebih dahulu." Kata Theodore, mulai berdiri untuk memanggil susternya.


"Master, dasar manja." Theodore terkekeh puas.


Sebenarnya hatinya itu sungguh merasakan kegembiraan karena masternya sedang manja kepada dirinya. Mendapat tindak-tanduk seperti ini dari masternya bikin Theodore merasa melayang.


Skip...


Theodore kini duduk memegang mangkuk. Nampan terletak dimeja samping kasur yang diatasnya ada minuman dan sepiring makanan lainnya lagi.


Theodore terkekeh sesaat.


"Kamu gak sakit loh master, cuma sedikit trauma aja." Ucap Theodore.


Satella hanya menatap diam.


"Kamu sehat loh master." Ujar Theodore.


Theodore menyendokkan sesuap makanan, diarahkan perlahan menuju kemulut Satella. Satella melahapnya dengan perlahan.


"Enak master?" Tanya Theodore.


Seolah ia tak ada tenaga untuk menjawabnya, Satella hanya bisa mengangguk saja.


Skip...


Theodore telah selesai menyuapi Satella.


"Master." Seru Theodore.


"....." Satella menoleh.


"Apa master membenci dongeng berjudul beauty and the beast?" Theodore bertanya.


"Sangat." Satella bernada galak, dengan mimik wajah suram.


"Kenapa?" Tanya Theodore.


Ini cara Theodore supaya Satella bercerita tentang apapun. Sebab kondisinya nyaris bungkam tidak ingin berbicara. Kalau saja Satella mulai banyak berbicara mungkin suasana hati dan mentalnya akan segera membaik lagi.


"Em, ya itu." Satella menatap atap dengan tatapan kosong. Walau ia masih kaku mulutnya tapi mulai berusaha bicara lagi.


Hening..


Terjeda beberapa saat.


"Waktu aku kecil." Ucap Satella.


Satella mulai mencicil sepatah kata.


Theodore mengambil cangkir tuk disodorkan kepada Satella.


"Minum dulu, master." Theodore menyodorkan cangkir ke Satella.


Semula terlentang, Satella berposisi duduk. Satella menegak cangkirnya penuh dahaga, lalu menghela napas yang tersendat suara ingus layaknya anak kecil yang baru selesai nangis.


Theodore ingin ketawa tapi dia menahannya. Berusaha untuk menahan tawa, Theodore sukses tertawa tanpa suara. Menutupi bibirnya supaya tidak dimarahi masternya.


Terkadang yang terdengar adalah suara ingus disedot akibat menarik napas tapi tersendat ingus.


Dalam hati Theodore berpikir.


"Masterku ingusan." Theodore Berbisik pada diri sendiri.


Theodore mengambil sapu tangan miliknya, didekatkan di hidungnya Satella. Satella membuang napas kuat-kuat, lalu mengeluarkan isinya agar tidak menyumbat lagi. Satella membuang ingusnya pada sapu tangan milik Theodore. Theodore tersenyum melihat kelucuan dari Satella. Langsung saja dibuangnya sapu tangan itu ketempat sampah.


"Sudah baikan master?" Theodore bertanya.


Satella tersenyum lebar dengan matanya masih sendu, Satella pun mengangguk saja.


"Hei master." Seru Theodore.


[Note : dalam versi kuping indo Theodore mengeja master seolah seperti terdengar, mastah.]


Satella melamun suram.


"Hei master." Seru Theodore lagi.


"...." Satella hanya menoleh kearah Theodore.


Satella menatap Theodore dengan tatapan wajah bengong yang raut wajahnya sangat imut parasnya, seolah ia seorang gadis kecil yang penuh kepolosan.


Theodore tak kuat dalam melihat ekspresi masternya yang dipenuhi keimutan. Theodore tak tahan tuk tidak senyam-senyum. Betapa imut ekspresi bengong Satella sungguh menaikan level senyum Theodore menjadi tersenyum sangat berseri.


"Master belum jawab pertanyaan dariku." Keluh Theodore.


"Dongeng itu ya." Gumam Satella.


"Lanjutannya master." Theodore menagih.


Satella memulai.


"Waktu aku kecil." Ucap Satella.


Terkadang suara napasnya masih tersedak kecil.


"Ibu membacakan buku cerita berwarna." Ucap Satella.


"Yang judulnya, beauty and the beast ya master." Theodore memotong.


"Jangan memotong, gess." Satella mendesis.


"Maaf." Theodore terkekeh.


"Ahem." Satella berdeham.


"Buku cerita berwarna, berjudul beauty and the beast. Ibu mulai membacakannya padaku sambil memperlihatkan gambar yang berwarna itu padaku. Gambarnya menarik sih untukku yang kala itu berusia lima tahun." Kata Satella.


Theodore cengar-cengir.


"Aku gak bisa ngebayangin betapa imutnya master kala itu." Potong Theodore.


Theodore tak bisa mengendalikan gelak tawanya, hingga Satella pun menoleh dan melotot dengan kesal.


"Ahem!" Satella berdeham.


"Maaf master." Theodore berhenti tertawa.


"Mau lanjut gak!" Satella dengan tatapan galak.


"Akhirnya kegalakkan tatapan masterku telah pulih kembali." Theodore berbisik sendiri.


"Singkat cerita, ibu selesai baca ceritanya. Alurnya itu memang di seting sebagai happy ending, tapi mindset ku berkata lain. Aku yang anak-anak itu berpikiran bahwa akhiran ceritanya adalah ending terburuk. Aku menangis karena menganggap tokoh utama wanita sebagai menderita." Ujar Satella.


"Ibuku membujuk meyakinkanku bahwa itu happy ending, tapi pola pikirku sangat keras menentang." Satella menghela napas nan penuh kelegaan.


Theodore terkekeh lagi.


"Master kala kecil memang keras kepala juga lucu." Tawa Theodore.


"Jelas-jelas dibilang happy ending, tetapi maksa anggapnya sebagai akhiran yang bad end." Theodore semakin keras tawanya.


Satella merasa kesal langsung mencubit Theodore sekerasnya.


"Hei.. Theodore." Seru Satella.


"Yes master?" Sahut Theodore.


"Sejak kecil aku phobia dengan dongeng beauty and the beast." Curhat Satella.


Theodore menahan tawa atas kelucuan Satella.


"Sampai sekarang aku masih saja phobia dengan dongeng tersebut. Jangan sampai aku jadi pasangan mahluk ras mengerikan." Curhat Satella.


"Tenanglah master, menurutku masterku cocoknya dengan sosok bangsawan juga atau pangeran." Mengatakan itu, wajah Theodore nampak suram.


"Itu sih aku gak mikirin, habisnya katanya ibu aku dulu aku itu baru mengalami pubertas mental saat berusia seratus tahun." Kata Satella.


"Selama seratus tahun aku akan menunggumu." Gumam Theodore.


"Huh?" Satella bernada heran.


"Tidak, bukan apa-apa." Theodore kelihatan heboh karena dirinya keceplosan tanpa disengaja.


"Ngomong-ngomong makasih ya Theodore, aku merasa lebih baik." Satella merasa lega.

__ADS_1


Perlahan suasana hati Satella mulai terasa lega.


~bersambung~


__ADS_2