
Rumah sakit sekolah.
Terdengar suara lenguh napasnya Satella saat bangun.
"Kamu sudah sadar." Ada suara seorang perempuan dewasa.
Satella menoleh kearahnya.
Yang dilihat Satella adalah seorang perempuan dewasa dengan baju seragam suster. Suster ala Victoria bukannya yang ada di abad 21.
Rambutnya berwarna cokelat dan kunciran twin tail. Ia tersenyum ramah, sedang menaruh baskom berisi air hangat yang terlihat uap panasnya. Menatap kearah Satella.
"Aku harus menyeka tubuhmu."
Satella lemas untuk bersuara juga sekedar anggukan rasanya masih susah. Mengangkat sedikit bibirnya sebagai gestur setuju. Suster pun berjalan untuk menutup tirai nya.
Suara tirai digeser...
"Ayo kita buka bajumu."
Disini suster akan menyeka tubuh Satella yang terbaring sakit dalam waktu yang agak lama.
"Eh? Kamu tidur lagi." Ucap suster ketika tirai nya sudah ditutup.
"Capeknya dirimu gadis rambut silver." Suster tertawa kecil.
Satella tertidur.
Flashback..!!
Sore hari Satella terduduk dikursi meja rias dikamarnya. Disamping kirinya matahari sudah memerah. Satella menoleh kearah kiri untuk melihat sunset dibalik jendelanya.
Ini adalah memori tentang hari keempat. Sore hari sebelum malam pertempuran dengan guru Snape.
Satella sedang berkaca dan dengan konyolnya berpose. Bahkan Satella berakting dengan menirukan cara bicara orang lain. Sekilas wajahnya senyam-senyum menatap kaca saat memikirkan ide konyol itu.
"Ahem." Satella berdeham.
"Hoam.. aku ngantuk lagi, padahal udah cukup tidur ." Satella meniru suara ala Violetta yang terdengar seperti mengantuk dan kekurangan gairah dari nadanya.
Satella menggeser poni sebelah kiri agar menutup matanya, itulah ciri khas Violetta. Setelah menirukan poninya, Satella menirukan gestur bahasa tubuh Violetta semirip nya.
"Apa kalian mau dengar cerita tentang horor ataupun misteri? Sekarang dengarkan!" Satella menirukan suara ala paranormal yang identik dengan Violetta.
"Disebuah desa hidup werewolf, penduduk desa, dan penerawang."
Menutupi bibirnya dengan tangan Satella tertawa sendiri. Cekikikan tawan nya menggelitik.
"Ahem."
Bersiap menirukan yang lain.
Satella pun melotot kearah cermin sambil menolak pinggang. Satella berniat menirukan gestur Minerva.
"Kamu tuh ya.. yang bener kalau jalan! Pake nabrak segala, huf." Berakting sok jutek kemudian diakhiri dengan melipat tangan.
Menutup bibir dengan tangannya ketawa cekikikan. Kemudian masih berniat mengolok-olok lagi didepan cermin.
"Heh Isyana! Jangan ngatain terus dasar mulut toxic. Atau nanti aku kelitik-kelitik apel belum matang milikmu itu. Setelah dikelitiki lalu apel belum matang mu jadi lebih cepat matangnya, jadi apel besar." Satella meniru cara Minerva dalam membacot.
Satella kembali tertawa. Tawanya terhenti, dia tiba-tiba diam sendiri ketika menyadari.
"Argh.. ya ampun! Apel Isyana kan ukurannya sama denganku, artinya tadi aku ngatain diri sendiri." Ujar Satella, sedikit heboh.
"Beg*ok." Satella menjitak kepala sendiri.
Pletak, kena ubun-ubun.
Masih ingin menurunkan suaranya Minerva. Satella mengawali dengan memegang kedua payudaranya saat menatap cermin. Tetapi itu tidaklah sampai menyentuh bukit kecil nan kenyalnya tapi berjarak empat Senti dari gundukan kembarnya. Seolah sedang memegang melon bukannya apel kecil belum matang.
"Kamu kalau jalan hati-hati dong! Kamu menabrak dan menyenggol melon matang ku hingga hampir jatuh tau gak. Gila sampe enak gini sensasi geli nya, eh.. maksudku aku jari linu tau!" Sekali lagi Satella meniru Minerva dengan bernada mengolok-olok dibelakangnya.
Berlanjut melakukan gestur bisikan kesamping.
"Gara-gara kesenggol, melon terasa mengganjal, mungkin aku harus ke toilet untuk membongkar isinya dan mengencangkan penyanggahnya supaya gak meluber lagi." Satella bernada berbisik, mengolok-olok Minerva dengan puasnya. Tertawa sepuas-puasnya kemudian.
Tingkah olok-olokan Satella pun berakhir disini.
__ADS_1
"Walau begitu aku sangat sayang dengan kalian, sebagai teman yang akrab." Gumam Satella, mengukir bibir manyun barang sebentar lalu kembali seperti semula.
Alih-alih mengolok-olok didepan orangnya langsung, Satella memilih mengolok-olok dibelakang supaya tidak membuat tersinggung orang yang bersangkutan.
"Fuh~~huh."
Menarik napas panjang, kemudian melepaskan napas lega.
"Aku berjuang agar siklus putaran waktu berakhir, supaya kita bisa bersama dan tidak kenangan tidak direstart lagi." Seru Satella, penuh dengan harapan.
Satella tersenyum menatap cermin dalam waktu beberapa lama.
"Eh?" Satella menoleh kearah kiri menatap jendela kamarnya.
Langit sudah hitam.
"Makan malam nanti akan menjadi penentu kemenangan!" Satella pun mengeluarkan tekadnya, mengepal tangan dan mengangkat tinjunya penuh semangat.
Inilah momen yang Satella lalui sebelum pertarungan. Ingatan ini terulang lagi didalam mimpinya.
Kemudian...
Sore hari.
Satella mulai membuka matanya terbangun dari tidurnya beserta mimpinya. Berkedip beberapa kali sebelum terbangun sepenuhnya.
"Bunga tidur yang indah." Gumam Satella.
"Hah..." Terdengar suara gadis terkaget.
"Siapa itu." Sahut Satella dengan bernada lesu.
"Kamu siuman." Ucap gadis itu.
Satella perlahan menoleh kearah kirinya, karena sumber suaranya berasal dari sana.
"Ini aku, Minerva mu."
"Eh?" Satella terkejut.
Seketika Satella berdulusi didalam alam pikirannya. Dalam delusinya Satella melihat dirinya terlentang diruang perjamuan pada putaran waktu yang terakhir. Ia terlentang ditengah pertempuran, matanya masih terbuka. Satella pun melihat Minerva berlutut disampingnya dalam posisi lututnya menyentuh lantai. Satella melihat tiba-tiba Minerva menciumnya, Minerva melepas ciumannya dan bekas air liurnya masih menyatu diantara mereka. Kemudian mulai tersadar.
"Em." Satella melenguh singkat.
"Katakan ada apa?" Minerva masih menepuk-nepuk bahu Satella dalam perasaan bingung.
"......" Satella pun menatap Minerva dengan ekspresi bengong yang imut sambil menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya yang lentik.
"Kamu kenapa? jangan buat aku khawatir!" Seru Minerva, resah.
"Eng.. anu." Satella terbengong.
"Katakan!" Minerva gak sabaran.
"Apa malam itu kamu menciumi aku?" Tanya Satella wajahnya kelihatan malu-malu.
"Eh... Apa!" Minerva kaget.
"Gak, tapi." Minerva melipat kedua tangan, sambil membuang muka kesamping dengan wajah cemberut, memanyunkan bibir jelitanya.
"Aku cuma melakukan pertolongan pertama, dengan cara memberikan napas buatan kok, itu aja." Minerva semula membuang muka perlahan menoleh kearah Satella, setelah ia ditatap balik pipinya memerah.
"Maaf sudah merampas ciuman pertamamu." Pipinya Minerva semakin menguat rona merahnya.
"Tidak apa-apa, yang penting kita menang lawan penjahatnya." Ucap Satella, pipinya ikutan merah.
"Aku gak bisa bayangkan kalau malam itu kita gagal, bisa-bisa korbannya banyak." Ucap Satella, menambahkan.
"Anu.. apa ada yang ingin kamu katakan atau inginkan?" Minerva bertanya.
"Sebenarnya aku ingin berteman dengan kalian semua, semua yang berada di kelompok Eris order." Jawab Satella dengan senyuman tulusnya yang berbunga-bunga.
"Itu saja? Dengan senang hati aku akan menjadi temanmu." Balas Minerva menyambut jabat tangan dengan Satella, ia menggenggam tangan Satella yang tidak sedang dipasang jarum diinfus.
"Apa?" Minerva kaget.
"Makasih." Ucap Satella.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu tentang kelompok Eris order? Perasaan kita-kita gak ada memberitahu. Kemudian dewi Eris gak cerita tentang kamu bergabung dengan kelompok?" Celoteh Minerva.
"....." Satella diam, seolah sedang memikirkan sesuatu.
[Satella : kalian tidak ingat tentang aku yang pernah bersama kalian semua. Aku mengalami segala hal didalam time-loop, tetapi semua ingatan dan kenangannya terulang kembali. Selesai sudah perulangan waktu, syukurlah, senangnya.] 😁
"Hai Satella." Minerva menangkap angin didepan wajah Satella pakai tangan untuk menyadarkan Satella dari lamunannya.
"Tidak usah kamu jawab ucapan dariku." Seru Minerva.
"Gila.. deh, aku gak nyangka bisa dapat pengalaman menegangkan seperti malam itu." Ujar Minerva, bibirnya tersenyum matanya terpejam dengan perasaan lega terpuaskan.
"Anu.. sudah berapa lama kah aku berada disini?" Tanya Satella.
"Dua Minggu." Balas Minerva, memamerkan senyumnya yang bernada sarkastik.
"APA!" Satella kaget.
"Sudah.. sudah.. biasa saja, ya." Minerva mengayunkan tangannya kemudian menutupi bibir dengan ujung jarinya.
"Ya ampun cantiknya." Gumam Satella, tanpa sadar saat melihat ekspresi Minerva.
"Walah." Minerva dibuat merah pipinya.
"Aku pergi dulu deh, kalau ingin request katakan. Cepat sembuh ya, dadah." Minerva melangkah saat Satella berkata.
"Aku tidak butuh apapun, aku ini sudah ok." Satella tersenyum.
Minerva pergi..
Point of view.
Berkah Phoenix berhasil untuk melakukan cure terhadap racun mematikan ular balisik. Tapi efek pelemahan tubuh tetap berlaku. Terbukti dengan pelemahan dari tubuhnya Satella, hingga dirinya pingsan selama dua Minggu.
Putaran waktu berakhir sekarang. Kedepannya kenangan yang akan dibentuk Satella Takan diulang kembali. Pelan-pelan kondisinya membaik dan pulih dengan cepat.
POV end..
Besoknya.
Ruang kepala sekolah.
Duduklah Minerva didalam ruang kepala sekolah. Bisa dilihat kepala sekolah sedang menanyai Minerva.
"Yang mengalahkan ular balisik beserta pasukannya adalah Satella pak. Pokoknya dialah yang paling berpengaruh." Ujar Minerva.
"Tapi bukankah aku melihatnya pingsan?" Kepala sekolah bingung.
"Itu hanyalaj efek sementara dari electric shock pak, beberapa saat kemudian Satella sukses untuk memulihkan dirinya." Minerva memberi kesaksian.
"Kalau begitu terimakasih untuk kesaksiannya, aku terkejut kalau orang yang bisa bertahan sampai akhir hanya lima siswi putri saja." Komentar kepala sekolah.
Mengusap janggut putihnya lalu kepala sekolah pun berkomentar sedikit.
"Siapa sangka kalau pembekuan dipakai untuk menyelamatkan beberapa orang. Hanya Satella lah orang yang mampu membekukan satu ruangan dengan sihir tingkat satu. Umumnya sihir tingkat satu hanya membekukan singgel target, ditangan gadis rambut silver itu membekukan satu ruangan, wow."
Setelah berkomentar, berlanjut dengan penilaian kepala sekolah.
"Aku jadi merasa gak enak karena menyalakan Satella karena bakat dirinya yang membekukan murid sekelas dengan sihir tingkat satu. Ternyata keunikan yang seperti miliknya sangat berguna dalam kondisi seperti ini."
Kemudian Minerva kaget dengan kata-kata yang paling terakhir itu.
"Ya ampun." Respon Minerva.
"Kenapa?" Tanya kepala sekolah.
"Aku nyesel pernah menyalahkan Satella atas perbuatannya yang membekukan seisi kelas. Sekarang aku sadar, harusnya aku gak boleh mengatakan itu padanya." Minerva menyadari sifat kasarnya kepada Satella waktu di tangga berputar.
"Ku kira apa." Ucap kepala sekolah.
"Ngomong-ngomong, aku sudah diperbolehkan pergi?" Minerva terlihat bosan.
"Oh tentu." Jawabnya.
Minerva meninggalkan ruangan..
Kemudahan..
__ADS_1
Minerva berjalan dilorong sekolah dengan keadaan seperti biasanya. Siswa yang dibekukan telah pulih karena dua Minggu telah berlalu. Karena kondisi yang mengganggu jalannya kegiatan ujian, sekolah mempermudah jalannya kegiatan ujian untuk mata pelajaran sisa.
~bersambung~