Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
keluhan


__ADS_3

Lorong sekolah.


Pagi-pagi sekali Satella bergegas menuju kelas. Disana berpapasan dengan instruktur Ernest yang membawa peralatan mengajar. Semua ditaruh didalam tas besar.


"Hai Sat.. Tella, hei Stella." Sapa instruktur Ernest.


"Hai juga." Satella menyapanya, melambaikan tangan kearahnya.


Setelahnya Satella mendesis.


"Sudah kubilang yang benar ya mengeja namaku!" Omel Satella.


"Kalau sulit pakai kata ganti orang kedua tunggal saja." Seru Satella, memiringkan kepala dengan raut senyuman yang imut.


"Nyebutnya kamu ya?" Ernest.


"Bukan!" Satella mengayunkan telunjuknya.


"Kata ganti nama jadi, gadis imut." Satella menahan tawa.


"Gadis imut, ya." Ernest terdiam, wajahnya menegang ia menelan ludahnya.


Suasana hening sejenak karena instruktur Ernest merasa gugup. Sementara Satella masih berdiri dengan senyum yang indah.


"Apa sudah siap materi tentang manusia serigala?" Tanya Satella.


"Aku belum siap, hari ini materi lainnya dulu yang dibahas." Kata instruktur Ernest.


"Oke.. oke.. aku setuju, habisnya dadakan jadi aku baru sedikit menghapal materinya." Satella bernapas lega sambil terkekeh.


"Minggu depan kurasa." Ernest menampakkan ekspresi kurang percaya diri.


"Yes." Satella gembira karena presentasi sulitnya masih lama.


[Note : kelasnya Ernest hanya tiga pertemuan setiap minggunya.]


"Ayo menuju kelas." Ajak Satella.


"Jangan mogok mengajar lagi ya instruktur Ernest!" Seru Satella.


Ernest mengambil napas panjang dengan mimik tersindir.


Skip..


Kelas pun berjalan seperti biasa hingga tak terasa waktu rehat pun telah datang.


Kafetaria sekolah


Satella berjalan dari lorong lalu memasuki ruang kafetaria yang belum begitu rame. Violetta jadi orang yang pertama tiba disana.


Satella menuju kemeja Violetta.


Kemudian..


"Hai Vio!" Sapa Satella.


"Hai juga, Stella." Sahut Violetta.


"Kenapa kamu selalu bisa sampai disini duluan?" Satella bingung.


"Aku pakai sihir transfigurasi tuk mengubah diriku kedalam wujud kabut hitam. Kabut hitam ku itu movement speed nya lebih cepat daripada merpati hitam." Jawab Violetta, dengan mata sayu nya.


"Merpati hitam?" Satella mulai memanyunkan bibirnya.


"Itu sihir transfigurasi andalan ku, kamu nyindir aku ya Vio." Satella cemberut.


Violetta menutup bibirnya saat tertawa tanpa suara.


"Pelayan!" Violetta berniat untuk memesan.


Point of view.


Hampir semua mage berbakat itu menguasai sihir transfigurasi yang sempurna. Seperti Satella dengan wujud merpati hitam. Tak semua transfigurasi memiliki efek sihir menakjubkan. Misalnya saja kalau user kurang ahli itu hanya sebatas mirip saja, sebab ada efek khusus daripada transfigurasi sempurna.


Misalnya saja mage yang amatir mampu merubah wujud menjadi merpati, akan tetapi movement speed-nya itu cenderung lambat. Merpati hitam Satella cepatnya melebihi naga wyvern disebabkan bakat sihirnya yang tinggi.


Minerva sihir transfigurasi nya berwujud kucing. Nilai lebihnya adalah kekuatan untuk menutupi aura keberadaan manusia, mage tipikal sensor hanya merasakan keberadaan kucing. Dalam wujud transfigurasi itu Minerva dapat menyusup kemanapun dan juga meloloskan diri dengan mudah.


Sihir transfigurasi yang terbaik dipegang Violetta. Apakah kabut hitam bisa dilukai, tentu tidak.


POV end...


Satella dan Violetta masih duduk berdua. Kini cangkir kopi telah tersedia, tentu kopi mix yang tak memiliki rasa pahit. Murid juga banyak yang rehat di kafetaria.


"Ada banyak keluhan disini!" Ujar Violetta, memegang cangkir tapi cangkirnya tak disentuh bibirnya.


Jelas Violetta menunggu isian dari cangkirnya jadi lebih tiris.

__ADS_1


"Keluhan, apa kamu meramalkan atau menerawang sesuatu?" Tanya Satella.


"Menerawang!" Jawab Violetta.


"Menarik." Sahut Satella.


"Setidaknya murid harus diberikan libur selama seminggu!" Violetta.


"Aku juga pengennya begitu Vio! Tapinya mau gimana lagi?" Kata Satella, dengan wajah cemberut.


"Sampaikan pada kepala sekolah, kemungkinan bisa." Usul Violetta.


"Akan kucoba." Kata Satella.


"Bagus, jadilah pahlawan bagi murid-murid yang sudah jenuh." Violetta tertawa kecil.


"Kamu tahu!" Violetta mengangkat tangannya.


"Malam setelah jam makan malam, kepala sekolah biasanya berada di menara astronomi!" Kata Violetta.


"Eh.. loh bisa tau sih, eh?" Satella terkejut.


"Aku aja gak tau, dasar Vio cewe paranormal." Gumam Satella.


Violetta tertawa tanpa suara.


Skip..


Menara astronomi.


Tiba di menara lantai dua belas. Tempat tertinggi ini adalah satu ruangan tunggal dengan dekorasi beberapa rak buku. Buku-buku astronomi dan lainnya lengkap berada disini. Disana ada globe astronomi, ada bola planet biasa dengan gambar daratan dan laut. Sistem koordinat ekuator adalah sebuah bola planet dengan cincin lintasan garis lingkaran. Beberapa bola astronomi yang sulit untuk dijelaskan juga berada di sana.


Yaang terpenting penting adalah teropong luar angkasa. Dengan ini bintang-bintang bisa dilihat dalam perspektif asli. Ada bintang yang bercahaya warna-warni tergantung dengan tingkat panas bintangnya.


Teropong tersebut tabungnya saja sebesar kuali lebar diameternya, panjangnya tiga meter. Ruangan astronomi lebih banyak kacanya daripada dinding batunya apalagi material bahan kayu jarang ada.


Satella melangkah kearah kepala sekolah yang sedang meneropong bintang-bintang. Kini Satella ada dibelakang kepala sekolah. Tanpa Satella menegur sapa dulu, kepala sekolah sudah mengetahui aura kedatangan Satella. Sambil lihat bintang kepala sekolah menyapa.


"Apa kamu suka melihat bintang nyonya kecil charlotte." Sambut kepala sekolah, yang matanya itu masih fokus dengan teropongnya.


"Bagaimana." Gumam Satella.


Satella heran kenapa bisa kepala sekolah mengetahui kedatangan dirinya, padahal dia tidak melihat kearahnya sama sekali.


"Aku jarang sih melihat antariksa." Jawab Satella.


"Em." Satella mengiyakan saja.


Kepala sekolah melangkah kearah belakang untuk mempersilahkan Satella memakai teropong bintang.


Satella meneropong antariksa. Terbengong dengan suara yang terbungkam diam, sorot mata berkaca-kaca. Kelap-kelip langit antariksa seperti kemilau warna bebatuan berlian. Walau Satella melihatnya dua hari yang lalu diruangan perjamuan sekolah.


Tapi melihat bintang memakai teropong antariksa, sungguh jauh lebih indah lagi.


"Indahnya." Gumam Satella.


Sebuah kegelapan yang dilukis warna-warni gemerlap. Terang bintik-bintik putih kecil nampak memancarkan berbagai warna. Melihatnya dari daratan sungguh berbeda, planet lain bisa terlihat dengan teropong antariksa. Lalu setiap satelit yang berotasi pada planet lain juga bisa dilihatnya.


"Kenapa planet itu gak kelihatan kalau dilihat tanpa teropong ini?" Gumam Satella, sambil ia fokus melihat antariksa pakai teropong.


Kepala sekolah menjawab.


"Karena planet itu tidak seperti bintang, mereka memancarkan cahayanya sendiri. Langit luar angkasa itu diselimuti kegelapan pekat jadi yang tak memancarkan cahaya takkan terlihat. Bintang dilangit saja cahaya warna-warni telah tereduksi jadi cahaya putih biasa yang tak terlalu terang. Lalu planet tanpa cahaya sendiri lebih tereduksi lagi, sampai-sampai tak terlihat mata biasa."


"Penjelasan yang mudah untuk dicerna, bapak dulunya itu pasti pengajar astronomi ya?" Satella berkomentar.


"Memulai karir keguruan sebagai pengajar astronomi. Sepuluh tahun kemudian menjadi pengajar mata pelajaran sihir transfigurasi." Ujar kepala sekolah.


"Indahnya." Gumam Satella, yang melihat bintang-bintang.


Suasana hening sejenak.


"Kenapa satelit itu bergender pria?" Tanya kepala sekolah.


"Tebak-tebakan?" Gumam Satella.


Satella melupakan bintang dan sejenak konsentrasi.


"Eh.. mana mungkin satelit punya gender?" Satella terkejut setelah berpikir penuh.


"Tebak aja." Kata kepala sekolah.


"Gak tau, huf!" Satella cemberut.


"Kalau cowo itu satelit, kalau cewe namanya Satella." Canda kepala sekolah.


"Emang aku satelit?" Satella pun malah sebal.

__ADS_1


"Receh banget." Gumam Satella, kembali fokus pada teropong.


Suara jangkrik..


"Andai aku menjadi muda lagi." Kepala sekolah berandai-andai.


"Kenapa tuh pak?" Tanya Satella.


"Saya jadi ingat dulu selalu lihat bintang bersama istri saya. Kami sama-sama guru sihir dulunya." Kepala sekolah bercerita.


"Aku gak bisa ngebayangin kalau sampai bapak muda lagi." Ucap Satella, sambil fokus oihat bintang.


"Hahaha." Kepala sekolah tertawa, dengan nada jenaka.


"Kenapa?" Kepala sekolah dengan nada biasa.


"Tapi aku jadi kepikiran." Gumam Satella.


"Kepikiran saya kalau muda lagi." Canda kepala sekolah, dengan tawa jenaka.


"Dih.. bukan." Satella bernada jijik.


"Aku kepikiran kalau pasanganku berasal dari ras manusia. Nantinya dia jadi kakek tua kaya bapak ini, sementara aku masih seimut ini." Kata Satella, terkikik.


[Note : elves itu bisa hidup sampai ratusan tahun lamanya.]


"Kamu gak suka lagi karena sosok pasangan laki-laki manusia mu tak muda lagi?" Tanya kepala sekolah.


"Gak tau." Jawabnya cuek.


"Kenapa bapak berandai-andai menjadi muda lagi?" Tanya Satella.


"Soalnya waktu muda bapak ini populer dikalangan banyak cewe." Kepala sekolah terbahak-bahak.


"Eh?" Satella tersentak kaget.


"Kalau jadi muda lagi godain aja Minerva tuh, jangan aku." Satella dengan nada heboh.


"Hehe.. emang almarhum istrinya bapak ini mudanya mirip dengan Minerva." Ucap kepala sekolah.


Suasana hening sejenak..


"Aku gak begitu paham astronomi, rasanya kesel mempelajari cabang ilmu ini." Komentar Satella.


"Aku tidak." Kata kepala sekolah.


"Apa sih tujuannya meneropong setiap malam?" Ucap Satella.


"Maksudnya bapak?" Tanya kepala sekolah.


"Oh ada." Ucap kepala sekolah.


Seketika Satella menoleh kearah kepala sekolah.


"Dengan ilmu astronomi aku bisa memprediksi datangnya peristiwa bulan merah." Ujar kepala sekolah.


"Blood moon kah." Sahut Satella.


"Kapan pak?" Tanya Satella.


"Dua tahun lagi, kira-kira bulan Oktober, tapi bapak belum bisa memprediksi tanggalnya." Jawab Kepala sekolah.


Satella melangkah kemeja baca astronomi.


Satella duduk berhadapan dengan kepala sekolah.


"Aku datang untuk mengeluh pak!" Ujar Satella.


"Keluhan?" Sahut kepala sekolah.


"Murid tingkat tiga merasa jenuh karena belajar mulai pagi hingga menjelang sore." Lapor Satella.


"Kami butuh libur seminggu pak!" Satella dengan tuntutannya.


"Kenapa harus libur seminggu?" Kepala sekolah mengangkat bahu.


"Padahal aku bisa memberi jeda liburan sebanyak dua minggu loh." Kata kepala sekolah.


"Walah.. jadi begini, enak dong." Satella mengedutkan alisnya.


Satella cengar-cengir, ia berdiri sambil mohon pamit.


"Aku pergi dulu." Satella pamit, dengan masih cengengesan.


Akhirnya Satella menuruni lantai memutar di menara kastel sekolah sihir. Ruangan paling atas adalah lantai sembilan, hanya saja ada ruangan yang terpisah dari ruang utama. Menara adalah ruangan tambahan yang terdiri dari satu ruangan disetiap lantainya. Dari lantai sembilan hingga lantai dua belas adalah menara dengan anak tangga bundar memutar.


Satella balik ke kamar asramanya untuk istirahat. Berharap usulan tentang liburan bisa diterima oleh kepala sekolahnya.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2