
Tiga hari kemudian kondisi jiwa Satella pulih kembali. Setelah ia mengikuti kelas dihari keempat segera menuju ruang kebutuhan. Satella mencoba membuat sosok Theodore menjadi lebih berguna.
Umumnya para murid kelas tiga langsung pergi ke kamar asrama untuk rebahan ataupun mandi. Berniat untuk mencoba efek sihir didalam jam pasir, Satella mampir keruang kebutuhan.
Sore hari.
Ruang kebutuhan.
Benar saja karena disaat Satella memasuki ruangan yang dilihat olehnya hanya dewi Eris saja.
"Selamat datang kembali." Sambut dewi Eris.
"Dengan senang hati, my pretty goddess." Sapa Satella.
Satella mendekati meja perkumpulan dititik paling tengah ruangan ini. Sementara dewi Eris sedang membaca sebuah buku dengan teh yang terlanjur dingin.
"Kok sepi?" Ucap Satella.
"Sepertinya mereka langsung ke kamar asramanya masing-masing." Jawab dewi Eris.
"Wajar sih, aku juga merasa capek sekali." Keluh Satella.
"Mau kubuatkan teh?" Dewi Eris menawarkan.
"Boleh sih, haus begini aku mau minum teh yang sudah dingin." Satella mendaratkan pantatnya di sofa, duduk selonjoran ia terlihat sangat kelelahan.
"Kebetulan teh di poci ini sudah dingin." Kata dewi Eris.
"Sini minta!" Pinta Satella.
Dewi Eris menuangkan teh yang sudah dingin dicangkir. Satella meletakan tangan diatas cangkir tanpa ia menyentuh air teh nya. Membuat gerakan jemari tangan seolah menaburi bumbu. Satella menyulap air teh manjadi dingin seperti air teh dengan es batu.
Satella minum es teh manis.
"Segarnya." Satella puas melepas dahaganya.
Satella kembali merebahkan tubuh disofa dan selonjoran. Satella pun menikmati relaksasi, lalu terkaget.
"Lesu sekali master." Tau-tau ada sosok Theodore berdiri disamping Satella. Padahal awalnya Theodore dalam keadaan pasif yaitu dalam wujud Phoenix nya.
"Kya... COPOT!" Satella menjerit karena ia kaget.
"Maaf master." Sahut Theodore.
Satella menghela napas panjang dengan garis wajah agak stress. Banyak urat syaraf menonjol di pelipis wajahnya. Mengangkat tinjunya dengan gestur mendidih.
"KAMU YA!" Satella mengomel pada Theodore.
"Aku salah apa master ku?" Tanya Theodore.
"Jangan tiba-tiba muncul begitu Theodore! KAMU MENGAGETKAN AKU." Omel Satella.
"Saya mohon maaf masterku." Theodore dengan gestur bersalah, minta maaf secara tulus.
"Lelahnya." Keluh Satella yang menghela napas panjang.
"Mau kompres dingin masterku? Lumayan ampuh meredakan rasa letih loh." Theodore menwarkan.
"Aku kan elves salju ya, jadi tidak peka terhadap rasa dingin. Kalau kulitku ditempel es batu selama berjam-jam juga gak ada rasanya. Paling agak adem sedikit, kurasa." Jawab Satella.
"Begitu ya." Theodore menaruh tangan didagunya.
"Mau mandi air hangat?" Tanya Theodore.
"Kamar mandi asrama pastinya mengantri." Gumam Satella.
"Goddess, tolong munculkan kuali perebusan." Pinta Theodore.
"Segera siap." Jawab dewi Eris.
Munculah sebuah kuali bundar berukuran besar yang biasanya dipakai untuk merebus ramuan.
"Tolong isi air!" Pinta Theodore.
"Aku bukan dewi air." Protes dewi Eris.
"Tapi aku bisa sihir element air tingkat dasar." Kata dewi Eris.
Mengarahkan telunjuknya kearah kuali bundar. Jari tangannya pun mengeluarkan air persis keran air. Sihir tingkat satu tergolong sihir tingkat dasar. Tapi ada sihir yang tingkatannya lebih dasar dari ini yaitu sihir tingkat nol yaitu paling dasar sekali.
Menatap kearah dewi Eris, Satella menanggapi enteng.
"Itu sih dasarnya dasar." Satella dengan entengnya.
Theodore melangkah kearah kuali sambil melihatnya.
"Sudah cukup airnya!" Theodore.
"Bisa berikan tatakan kepada kuali bundar ini, supaya lantainya tidak rusak." Kata Theodore.
__ADS_1
Dewi Eris menyulap batu marmer yang pipih seperti pelat batu alas untuk mengganjal kuali. Sekarang lantai yang indah sudah menjadi terlindungi dari kotor atau rusak.
"Silahkan masuk kedalam kuali master!" Ujar Theodore.
"APA!" Satella segera berdiri, kini menatap Theodore dengan nanar.
"KAMU INI PENGEN MEREBUS AKU HIDUP-HIDUP!" Omel Satella.
"Bukan itu, tapi mandi air hangat didalam kuali ini." Kata Theodore.
Satella menurunkan tensi emosi sambil melangkah kearah kuali sekaligus Theodore.
"Gimana caranya mandi didalam kuali? Ini tidaklah didesain untuk mandi loh." Protes Satella masih tersisa sedikit emosi.
"Master jongkok didalam kuali ini nanti aku bakar kuali nya sampai suhu airnya pas." Kata Theodore.
"Eh?" Satella hampir paham.
"Beneran kan." Gumam Satella.
"Aku sungguhan, master." Jawab Theodore dengan mimik serius.
"Em, anu.. handuknya?" Satella menunduk malu.
"Biar kubawa kan."kata Theodore.
"Em itu, jangan ngintip." Satella melangkah lebih dekat ke kuali.
"Aku segera berbalik." Theodore memutar badan.
Skip..
"Lakukan sekarang." Seruan suara dari dalam kuali.
"Iya master." Sahut Theodore.
Theodore mengulurkan kedua tangannya kearah kuali. Beberapa saat kemudian muncul api yang merambat panjang dari kedua tangannya menuju bagian tengah kuali. Ini bukan api pembakaran biasa dengan arang atau kayu, ini adalah api yang sangat kuat sekali.
"Katakan bila suhunya sudah pas." Seru Theodore.
"Oke." Sahut Satella dengan nada dikeraskan.
Beberapa saat kemudian.
"A~~ah, enaknya." Gumam Satella.
"Jangan, sedikit lagi!" Sahut Satella.
Satella berjongkok didalam kuali bundar besar. Dari luar bahkan kepalanya Satella tidak nampak seolah tenggelam didalam kuali.
Theodore menahan lebih lama lagi kobaran api pembakarannya. Air didalam kuali pun dipanaskan lebih lama lagi. Setiap saat suara Satella mengomentari nikmatnya mandi didalam kuali. Hanya suara napas Satella saja membuat Theodore jadi menelan ludah.
"Tolong jangan buat suara aneh seperti itu master, nanti aku jadi gelisah." Protes Theodore.
"Apa? aku tidak dengar ya!" Seru Satella.
Dewi Eris berseru.
"Jangan buat suara napas seperti begitu!" Seru dewi Eris.
"Tidak dengar!" Balas Satella.
"Jangan buat suara napas yang bergairah seperti itu, kasian tau Theodore nya." Seru dewi Eris.
"Ngomong apa sih, gak dengar nih akunya." Sahut Satella.
"Gess.. yasudah!" Eris mendesis.
"Theodore sudah cukup, tolong padamkan apinya!" Seru Satella.
"Iya master." Theodore berhenti membuat apinya merambat kearah kuali bundar besar.
"Ah.. enaknya." Seru Satella yang sesekali membuat suara napas teramat mengairahkan.
"Maafkan tingkah Satella yang tak tahu tempat ya." Bisik dewi Eris kearah Theodore.
"Cepat ambilkan handuknya dong Theodore, gak lama lagi aku mau udahan!" Seru Satella.
"Baik master." Sahut Theodore.
Skip..
Satella sudah duduk disofa, ia selonjoran. Merasa segar yang mengganti keletihan tubuhnya. Satella masih menghela napas panjang seraya menyender disofa seperti mahluk tanpa tulang belakang. Bahkan Satella masih terus saja mengeluh.
"Apa-apaan third semester." Ujar Satella menggerutu dengan gestur yang terlihat pusing. Theodore setia untuk mendengar curahan tuannya.
"Ada apa master?" Tanya Theodore.
"Datang pagi, selesainya sore-sore sekali kan cape." Keluh Satella.
__ADS_1
"Beristirahat yang banyak master." Saran Theodore, memberi gestur penuh perhatian.
"Aku mau kamu melakukan hal berguna hari ini." Kata Satella.
"Apa pelayanan ku masih dibawah ekspektasi master?" Theodore pun menjadi setingkat lebih muram.
"Aku pengen kamu melakukan satu hal lagi sekarang." Ujar Satella.
"Yes master." Sahut Theodore yang bernada penurut.
Dewi Eris mengambil duduk dekat Satella. Mendekatkan wajahnya ke wajah Satella, tepat dikuping elves yang lancip itu ia membisiki.
"Aku tidak yakin Theodore itu jadi penurut karena mantra perintah perbudakan. Bagaimana kalau dia penurut karena suka dengan mu. Tanpa mantra perintah Theodore tetap nurut. Bahkan kalau kamu perintahkan Theodore membunuh kesatria pedang suci atau bahkan seorang raja, pasti dia melakukan tanpa ragu dan tanpa bantahan." Itulah bisikan dewi Eris.
Satella membalas dengan bisikan kearah dewi Eris.
"Apa maksudnya penurut tanpa mantra perintah? Theodore kan peliharaan sihir, dia penurut itu karena mantra perbudakan."
Satella membantah, dewi Eris pun memberi argumen lain.
"Theodore sebenarnya menyukai kamu, ia akan melakukan apapun supaya kamu suka padanya." Kata dewi Eris, dengan ekspresi tawa ditahannya.
"Suka?" Balas Satella dengan nada berbisik.
"Theodore sepertinya cinta pada kamu tuh. Kayanya bersedia buat melakukan apapun agar kamu membalas perasaannya." Bisikan dewi Eris sedikit terkekeh, tawa kecilnya kelepasan tak tertahan.
"Eh.. cinta?" Satella masih dengan nada berbisik.
"Apa.. ayam jago itu!" Satella tidak mau menerima ucapan dewi Eris.
"Mendengarnya membuat ku jadi merinding." Batin Satella.
"Mate ku seorang ayam jago, aku tidak Sudi huf!" Satella mendesis.
"Kamu gak suka?" Tanya dewi Eris.
"Ayam jago, ENGGAK YA!" Satella bernada mengomel.
"Tapi kupikir aku membutuhkan Theodore deh buat menyelesaikan beberapa persoalan." Kata Satella.
"Kalau itu aku setuju. Kamu cukup beruntung punya sosok yang bisa diandalkan, Theodore juga sangat loyal padamu. Apapun yang kamu mau akan dia penuhi tanpa syarat." Kata dewi Eris, berpendapat.
Pada titik ini obrolan mulai bisa didengar Theodore karena mereka menambah volumenya.
"Kayanya gak hari ini deh soalnya tubuhku kurang begitu fit." Satella menampakkan wajah lesu.
"Kenapa kamu kurang fit?" Tanya dewi Eris.
"Soalnya kebijakan third semester porsi belajarnya tambah banyak. Hampir dua kali lipat dari porsi belajar yang biasa." Curhat Satella.
"Wajar sih kamu cape." Kata dewi Eris, dengan wajah prihatin.
Theodore memotong.
"Mau kucari kan vitamin untuk masterku?" Theodore nawarin.
"Eh.. itu manis Theodore, sangat perhatian." Satella tersipu malu.
"Vitamin agar tidak mudah cape." Theodore memperjelas lagi saat Satella tak kunjung berkata mau.
"Iya aku mau, bawakan!" Satella mengiyakan tawaran Theodore.
"Aku cape, tapi jujur aja mandi air hangatnya enak banget. Aku mau pulang ke asrama untuk langsung rebahan dikasur." Satella pamitan.
Satella pun berdiri.
"Semoga sehat selalu masterku." Theodore memberi ucapan pamit yang terasa hangat.
"Terimakasih ya Phoenix ku yang penurut, sampai nanti Theodore." Satella memberi salam pamit pada Theodore. Satella memberi senyum yang manis pada Theodore.
Theodore merasa senang, hatinya terasa berbunga-bunga sekarang. Sorot matanya berkaca-kaca memandangi Satella yang berjalan kearah pintu keluar ruangan ini.
Lorong.
Satella melangkah secara perlahan dengan kondisi yang lelah akibat porsi belajar yang tak biasa. Semua pun merasakan hal yang sama. Satella pun melewati lorong bagian samping kastel sehingga banyak jendela besar yang menampakkan pemandangan diluar. Memandang ke jendela kaca besar Satella memandang langit sudah gelap. Bintang-bintang yang terang, lampu-lampu bangunan kota amat terang terlihat saat Satella terus memandangi jendela besar ditepi.
Skip..
Kamar asrama.
Suara pintu dikunci.
Satella pun menjatuhkan dirinya dikasur. Terbaring tengkurap ia menoleh dinding dimana jam kayu tua di patri didinding. Sekarang sudah jam setengah delapan.
"Pantas saja aku ngantuk banget rasanya." Ucap Satella setelah ia melihat kearah jam.
Membenamkan kepalanya diatas bantal, perlahan terlelap ditelan keletihan yang diderita tubuhnya.
~bersambung~
__ADS_1