Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
penyesalan sebagai kakak


__ADS_3

Kamar inap.


Sebuah kamar inap dirumah sakit kota Ivalice. Diranjang itu, Satella tertidur setelah disuntikkan obat penenang. Violetta duduk disana disamping Satella. Sementara itu beberapa orang lainnya terduduk diposisi yang agak jauh. Betapa perhatiannya Violetta, mengusap lembut pipi Satella yang basah.


Tunggu dulu....


Satella tertidur dengan mata yang mengalirkan air mata.


Satella menangis didalam mimpi.


"Lantas, apa yang sedang gadis ini mimpikan?"


Begitulah yang dipikirkan Violetta.


"Ada apa Violetta?" Tanya Minerva yang lagi berdiri sambil berjalan mondar-mandir, sangat resah.


"Satella menangis saat tertidur." Jawab Violetta.


"Apakah master sangat sedih?" Nada yang sangat khawatir keluar dari mulutnya Theodore.


Awalnya Satella hanyalah tertidur sambil berlinang air mata.


Tau-tau Satella mulai mengigau disela-sela tidurnya.


"Aku janji gak akan memarahi dik Stalla lagi." Ucap Satella didalam tidurnya.


"Jangan pergi adik." Air matanya semakin membanjir.


Dengan penuh kasih, Violetta pun mengusap rambut Satella.


Skip....


Akhirnya Satella membuka mata. Membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah wanita rambut ungu violet dengan mata sayu dan bibir yang datar akan eskpresi.


"Sudah sadar ya...." Seru Violetta, dengan nada datarnya yang khas.


"Dimana adikku Starla, saudari kembarku dimana dia?" Satella bernada sendu.


"Adik kembar mu sudah." Bahkan Violetta yang pembawaannya datar juga Kuudere sampai sulit untuk mengatakan kepada Satella.


"Dimana Starla?" Satella sangat merasa frustasi.


"Starla telah tiada." Ucap Violetta.


Bahkan Violetta dengan karakter tenang dan datar mulai membuat lekukan sedih dibibirnya. Matanya yang sayu dan sulit berekspresi menjadi bergetar. Kening Violetta mengerut, bibirnya yang kaku akan ekspresi telah tertekuk sedemikian rupa hanya untuk menampakkan bahwa Violetta ikut bersimpati.


"Apa katamu?" Satella memberikan nada yang hampir tanpa semangat.


"Starla meninggal dalam ledakan kemaren." Jawab Violetta dengan nadanya yang lirih.


Seketika tatapan Satella menjadi kosong.


"Apa kamu masih berada di sana, tolong jawab aku!" Violetta mulai merasa panik.


Tiba-tiba Theodore ada disisinya.


"Kuatkan dirimu, master." Seru Theodore sambil menggenggam tangan tuannya erat-erat.


Tiba-tiba third eyes Violetta pun bereaksi.


"Jangan lakukan!" Seru Violetta dengan nada pilu.


Dari udara melesat tombak es yang melesat ke jantung Satella. Satella membunuh dirinya sendiri hanya supaya ia bisa mengulang lagi dan merubah takdir yang ada. Satella tewas, tetapi artefak sihir miliknya bereaksi, restart pun terjadi lagi.


RESTART !!


Tapi....


"TITIK SIMPAN, SUDAH BERUBAH!" Satella sangat emosi, dalam posisi duduk ia mengumpat.


"Sudah bangun?" Susternya sedikit gelisah atas kondisi pasiennya.


"Starla sudah...." Seketika Satella terjengkang kebelakang dan hilang kesadaran.


"Pasien pingsan." Susternya jadi sedikit panik.


Satella terlelap, dalam tidurnya mengalirkan air mata yang turun deras ke pipinya.


Bermimpi....


Satella kembali mendapatkan kilas baliknya bersama Starla.


Satella berada dikamar tidurnya.


Munculah Starla kecil, apapun yang Satella coba katakan ia tak mampu mengeluarkan suaranya.


"Maafkan aku kak, jangan marah sama aku lagi." Suara Starla kecil.


"Starla, Starla, Starla, Starla, Starla, Starla, Starla, Starla...." Manifestasi alam bawah Satella tidak sanggup mengucapkan kata-kata dibibirnya.

__ADS_1


"Jangan tinggalin aku sendirian lagi kak, temenin aku main kak." Starla kecil merengek sendu.


"Kemarilah Starla...." Seruan Satella berusaha meraih adik kembarnya.


"Aku gak bisa kalau tanpa kakak." Manifestasi suara Starla terus saja terdengar.


Tetapi Satella hanya mematung ditempatnya. Satella tak mampu bergerak dan bersuara.


Suara yang menjadi manifestasi Starla dalam alam bawah sadar Satella terus terdengar.


"Kakak janji loh, jangan marah lagi sama aku." Suara dari Starla kecil.


Tiba-tiba muncul suara Satella, tapi bukan Satella yang mengucapkan kata-kata itu. Yang keluar adalah manifestasi suara Satella yang ada dimasa lalu. Ingatan dan juga alam bawah sadarnya berkecamuk.


"Habisnya aku kesel, punya adik kembar t*lol banget." Suara Satella dimasa lalu, muncul kembali.


"Kakak...." Suara sendu Starla.


"Tidak Starla, aku tidak bermaksud mengatakan itu. Maafkanlah aku Starla. Aku menyesal, Starla...." Seru suara jeritan hati Satella yang telah terbungkam alam bawah sadarnya.


Kini muncul suara Margareth kecil.


"Hush ... jangan kasar sama adik kembar sendiri. Nanti kalau kamu seperti itu, suatu saat kamu akan kehilangan adik kembar mu loh."


Atas manifestasi suara Margareth kecil, Satella bereaksi.


"Aku tidak akan kasar kepada adik kembarku, aku gak mau kehilangan adik kembarku. Aku gak mau, aku, kembalilah Starla." Manifestasi dari jeritan hati Satella.


Suara Margareth muncul lagi.


"Suatu saat nanti kamu bakalan menyadari, betapa berharganya saudari kembar mu itu loh, sepupu Stella...."


Ucapan suara masa lalu dari sosok bayangan Margareth kecil telah membuat Satella kian tertekan.


"Tidak ... tidak, tidak, jangan. Iya sekarang aku sadar. Starla sangat berharga bagiku, aku menyesal, menyesal. Betapa berharganya adik kembarku. Starla berarti bagiku."


Alam bawah sadar Satella kian menjerit.


"Aku sayang kakak...." Manifestasi suara Starla kecil terdengar sangat tulus juga ceria.


"TIDAK...." Satella menjerit, hatinya hancur.


Skip....


Waktu berjalan hingga Violetta bersama lainnya ada menemani Satella yang belum sadar. Violetta kembali melihat air mata yang mengalir di pipi Satella yang masih belum sadarkan diri. Saat melihat betapa banjir air mata, membuat Violetta merasa firasat tak enak.


Tiba-tiba suara napas Satella jadi semakin berat dan panjang.


"Tidak...." Jerit Satella.


Setelah bangun, Satella semakin kencang tangisannya dan tidak karuan jeritannya. Violetta sangat eratnya mendekap Satella seraya mengusap punggungnya lembut.


Ditengah pelukan Violetta, Satella menangis tersedu-sedu. Tangisan Satella sangat berat, sangat pilu.


Skip....


Kota Ivalice.


Beberapa hari berikutnya Satella sudah berada di mansion keluarga charlotte. Disisinya Violetta datang menjenguknya. Tidak lama datang anggota keluarga yang lain, yaitu sepupunya sendiri. Awalnya ada suara ketukan pintu dan seruan.


Tok ... tok....


"Ini aku, Margareth." Seru seorang yang mengetuk pintunya.


"Sepupu Margareth, masuklah!" Jawab Satella.


Margareth pun masuk.


Yang nampak adalah Margareth remaja.


Margareth memiliki rambut yang disanggul rapih dan cantik. Kemeja putih dipadukan dengan blazer berwarna biru cerah. Kalau dilihat dari segi postur, Margareth sama tingginya dengan Satella. Remaja berambut pirang itu pun telah mendekati Satella, ada disisinya.


"Aku dapat kabar kalau kamu lagi sakit, makanya aku datang kesini." Ucap Margareth.


"Terimakasih mau datang, sepupu Margareth." Satella pun tersenyum lunglai.


"Kamu pasti temannya Stella?" Margareth menatap Violetta.


"Iya benar, dan namaku Violetta Luciana. Aku datang menjenguk Stella, boleh kan." Kata Violetta.


"Boleh dong." Margareth tertawa kecil.


"Sepupumu itu periang yah." Ucap Violetta sambil menatap Satella, ia memberikan kesan pertama.


Margareth terkekeh dan berbisik kepada Satella.


"Sepupu Stella, temanmu itu seperti gadis paranormal saja, ya." Komen Margareth, berbisik pelan.


"Sudah kuduga." Balas Satella yang menampakkan raut kaget.

__ADS_1


Setiap beberapa detik kemudian Satella akan melamun. Wajahnya kelihatan tambah suram.


"Sepupu Stella, kenapa melamun?" Tanya Margareth.


"Em, begini loh." Satella men-jeda beberapa saat.


"Waktu kita kecil." Satella mencicil ucapannya saat bercerita.


"Iya, kenapa?" Mendengar Satella berlama-lama, bikin Margareth semakin gregetan.


"Apa aku selalu galak ya terhadap Starla?" Tanya Satella.


"Oh ... adik kembar mu itu?" Sahut Margareth.


"Aku menyesal, aku baru menyadari betapa berharganya punya seorang adik kembar." Ucap Satella, lirih.


"Ya ampun, adik dan kakak yang bertengkar itu kan hal yang biasa, kan...." Kata Margareth.


"Tapi, kan, jangan sampe berpisah seperti ini juga kan." Kata Satella.


"Aku tau ini menyakitkan, ingatan tentang dirimu dimasa kecilmu itu terulang kembali." Margareth pun menundukkan kepalanya.


Satella menghela napas panjang penuh rasa frustasi.


"Aku gak akan galak lagi kepada saudari kembarku." Ucap Satella, bernada sedih.


"Aku kenal Starla loh. Starla selalu mengagumi sosok kakaknya loh, kakak kembarnya." Kata Margareth menyemangati.


"Starla...." Seru Satella, lirih.


"Aku lihatnya lucu aja, Starla selalu menjadi buntut mu. Starla kecil itu selalu mengikuti kakak kembarnya kemanapun." Margareth terkekeh.


Margareth menatap Satella dengan wajah ekspresi menahan tawa.


"Kamu pernah ninggalin adikmu dihutan dekat desa kan, hayo ngaku dasar jahat." Margareth nahan tawa.


Satella mendesau.


"Starla kecil anaknya penakut, tapi kalau melihat kakak kembarnya itu terjebak dalam bahaya ia langsung berani." Margareth bercerita.


Margareth terus bercerita supaya Satella tidak melamun lagi.


"Waktu kamu main ke bukit kamu bandel, kamu mungut anak ayam untuk diayun-ayun bagai sebuah boneka. Induk ayam hutan marah hingga mengejar mu. Starla jadi mendadak berani, Ia melindungi kakaknya dari dikejar induk ayam hutan. Akhirnya adik kembar mu dipatuk paruh induk ayam hutan." Margareth bercerita.


Sejauh ini Satella masih cenderung selalu diam. Hatinya tak berselera untuk bicara. Tetapi sorot matanya sudah tidak melamun lagi tapi mulai fokus memperhatikan Margareth.


"Setelah yang dialami Starla kecil, kamu hanya menjawab 'adik itu memang harus berguna untuk kakaknya' huh ... tega!" Margareth memanyunkan bibirnya menatap Satella yang menyimak, lunglai.


Tidak lama kemudian datanglah seorang pria muda jangkung yang rambutnya silver dengan seragam butler. Melangkah kearah Satella.


"Bagaimana keadaanmu master?" Tanya pria berseragam butler.


Margareth terkejut.


"Kya ... ada butler baru." Margareth menjerit histeris.


Margareth telah lama menetap dimansion ini, hapal betul siapa orang-orang yang bekerja disini. Butler ataupun maid Margareth mengenal semuanya, tetapi sosok butler yang ada dihadapannya terlihat asing bagi Margareth.


"Theodore." Sahut Satella dengan nadanya yang lunglai.


Mewakili Satella, Violetta memberi jawaban pada Theodore.


"Satella sudah mau makan sejak kemarin malam." Jawab Violetta.


"Syukurlah, saat membayangkan masterku mogok makan spontan membuatku khawatir loh." Komen Theodore.


"Wah, ternyata Stella itu memiliki butler pribadi. Butler nya sepupu Stella emang mantep." Margareth nampak berseri-seri kala menatap avatar manusianya Theodore.


"Ahem!" Satella sedikit kesal.


"Iya, nyonya, saya pelayannya tuan Satella." Tukas Theodore.


"Aku juga pengen punya butler yang tampan." Margareth menunjukkan gestur kesenangan yang persis kaya cacing kepanasan.


"Silent please!" Satella mengerutkan keningnya.


"Ya, deh." Margareth cemberut.


"Theodore...." Seru Satella.


"Yes, master." Sahut Theodore.


"Apa ada cara supaya Starla bisa dihidupkan kembali. Apakah ada kekuatan Phoenix yang mampu menghidupkan orang mati? Cepat jawab aku!" Tanya Satella.


"Phoenix tidak memiliki kekuatan yang bisa menghidupkan lagi orang mati, master." Jawab Theodore.


"KALAU GITU AKU GAK AKAN MAU MAKAN LAGI!" Satella frustasi.


Satella memalingkan wajahnya dari siapapun.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2