
Ini adalah sore hari dimana keddua siswi sedang mengobrol. Satu siswi bertubuh mungil bersama satu lagi siswi yang lebih pendek dan kecil namanya Iota. Mereka duduk manis diruang tengah asrama putri. Dibandingkan Satella, Iota sangat kecil.
Iota memiliki perawakan semungil loli.
"Kamu seneng aku terkunci ya?" Tatapan marah ditunjukkan Iota.
"Bukan seperti itu." Satella membantah. Satella menggelengkan tangannya.
"Lalu, Apa?" Iota lebih tenang.
"Sebenarnya aku malu bilangnya." Ucap Satella, memalingkan wajah kesamping sambil menyatukan dua telunjuknya.
"Ayo bicara!" Tagih Iota.
"Aku maksa buat maju pertama di ujian praktik. Terusnya aku pakai sihir es ya, kan." Satella menjelaskan perlahan, nada pelan juga raut malu-malu.
"Lalu apa, Stella?" Iota gregetan lihat bicara Satella yang kelamaan.
"Dan duar ... Sekelas membeku. Makannya aku takut kalau mereka udah sembuh dari demam bakalan marah sama aku. Syukur aja deh ternyata Iota bukan termasuk yang ikut membeku. Habisnya nanti kalau sampai Iota marah, aku semakin kesepian lagi gara-gara jarang punya teman." Satella ngejelasin. Iota pun mengangguk seakan menyimak.
"Terus kelas kita?" Tanya Iota.
"Eng ... anu, kelas diliburkan dulu sampai semuanya pulih dari sakit demam." Jawab Satella.
"Yeay ... Libur." seru Iota, kegirangan.
"Eh?" Satella kaget.
"Tadinya aku bakalan nunggu ujian susulan dua minggu setelah selesai ujian. Ternyata ujian yang asli malah diundur, syukur, lega deh aku." Ujar Iota.
"Iota?" Gumam Satella.
"Udah ah, aku mau ke ruang rekreasi dulu." Iota berdiri dan melambai kearah Satella, berniat pergi lagi keluar asrama putri.
"Tunggu dulu!" Satella menahan.
"Apa?" Iota nengok.
"Besok mau main keluar sama aku gak?" Tanya Satella.
"Kemana?" Tanya Iota.
"Persimpangan." Satella bilang.
"Persimpangan ada banyak ya! Yang mana yang kamu maksud?" Iota.
"Elevenia street." Jawab Satella.
"Huh ... apa, main ku kurang jauh ternyata. Besok lanjut bicara lagi, kita kan masih satu asrama." Iota bilang.
"Iya deh." Jawab Satella.
"Sudah ... Ya." Iota melambai kearah Satella lalu pergi keluar.
Akhirnya Satella banyak berdiam didalam kamarnya. Hingga hari berganti lagi.
Skip....
Pagi hari.
Satella bangun tidur. Ia bercermin didepan kaca. Tak lama dia pergi keluar membawa keranjang kayu berisi handuk dan pakaian ganti. Harusnya Satella pergi ke kamar mandi putri, akan tetapi berniat mencari Iota dulu untuk diajaknya bermain nanti. Akan tetapi teman kelasnya itu tak ada dimana-mana.
"Iota ... dimana kamu?" Seru Satella yang berada diruang tengah asrama putri. Terus memanggil teman kelasnya itu. Tapi tak ada jawaban. Iota tidak berada diruang tengah.
Akhirnya Satella berdiri didepan kamar Iota dan hendak mengetuk pintunya.
"Hei ... Iota hei ... Iota. Apa kamu ada disana?" Satella memanggil teman sekelasnya itu.
"Iota ini aku ... Iota, aku temanmu, Satella." Terus mengetuk pintunya tetapi Iota tak kunjung keluar. Tidak ada suara balasan.
Satella mengetuk pintu berkali-kali tetapi tak mendapat jawaban dari temannya. Jawaban juga gak ada seolah didalamnya gak ada orang. Benar saja saat seorang siswi putri datang kepada Satella.
"Kamu cari Iota ya?" Kata siswi itu.
"Iya benar, aku teman sekelasnya Iota." Jawab Satella.
__ADS_1
"Tapi Iota sudah pergi keluar sejak setengah jam yang lalu loh." Kata siswi putri tersebut.
"Loh kok aku ditinggal?" Ucap Satella yang sedikit kecewa.
"Terimakasih banyak." Ucap Satella.
Satella pergi ke kamar mandi putri untuk bersiap-siap. Setelah itu dia mencari siapapun yang bisa diajak bermain keluar.
Sudah wangi.
Satella berjalan disepanjang lorong tapi tak bertemu Iota ataupun Jack. Mampir diruang perpustakaan tapi gak ada yang orang yang dikenalnya. Karena tidak bertemu siapapun Satella jadi merasa sepi. Terlintas dikepala nya untuk mengeksplor ruang kebutuhan.
"Ah ... benar." Satella menjentikan jarinya. Satella hendak menuju koridor lantai tujuh. Sesampainya disana ia langsung mencari sebuah permadani yang bergambar Shrek yang menari balet.
Skip....
Lorong lantai tujuh.
"Ah, ketemu!" Satella kini berdiri didepan permadani dengan gambar Shrek menari balet.
[Note : Shrek adalah tokoh kartun berasal dari ras troll.]
"Baiklah ... ayo mulai!" Satella.
[Satella : Aku ingin ruangan yang terdapat banyak teman yang bisa kuajak bermain bareng-bareng.]
Setelah memikirkan apa yang dia mau. Lalu berjalan mondar-mandir keliling permadani yang aneh itu sebanyak tiga kali. Betul saja setelah tiga kali putaran, sebuah pintu pun muncul secara ajaib. Sepasang pintu besar berwarna biru. menghasilkan rona cahaya warna biru kelap-kelip bintang.
"Wah ... hebatnya ... ternyata betulan ada." Gumam Satella.
Berdiri menghadap pintu rahasia tersebut. Satella bersiap memasuki ruang kebutuhan.
"Oke mulai." Satella melangkah.
Ketika memasuki ruang kebutuhan yang Satella lihat adalah ruangan VIP ala vila bangsawan. Hal yang biasa bagi Satella mengingat dirumahnya juga ada ruangan yang seperti ini. Sesuatu yang membuat Satella kaget adalah sekumpulan anak cewe yang bisa diajak main. Mereka adalah siswi putri di akademi sihir ini juga, sama seperti Satella. Hanya sedikit yang tahu tentang keberadaan ruang ini. Bahkan para guru saja tidak tahu kalau ada ruang tersembunyi yang seperti ini di akademi Griffin quen.
Tapi....
"Permisi ... ya, semuanya." Satella segera menyapa penghuni ruangan ini.
"Eh, Kenapa bisa?" Itulah jawaban dari penghuni ruangan.
"Loh kok? Satella!" Iota merespon dengan mimik wajah yang agak bermasalah.
"Kamu kasih tahu ya Iota?" Seorang siswi berambut pirang dengan tubuh atletisnya nampak memarahi Iota.
Iota hanya bisa diam melongo. Iota amat tercengang dengan fakta bahwa Satella berhasil menemukan ruangan rahasia ini.
"Tidak, bukan!" Seru Iota bernada kaget.
Didalam ruang ini para siswi putri terduduk bersama. Mereka, beberapa siswi yang Satella kenal. Salah satunya adalah Iota, teman sekelasnya. Kemudian siswi rambut pirang dengan tubuh atletis. Lalu siswi jangkung dengan rambut berwarna ungu nan panjangnya menutupi satu mata, Violetta nama siswi itu. siswi lainnya adalah Isyana.
Disana ada banyak siswi tetapi diantara semua yang ada disana hanya satu yang paling mencuri perhatian. Adalah gadis remaja dengan paras tak kalah imutnya dengan Satella.
Satu-satunya yang duduk dikursi goyang. Adalah siswi dengan sosok wajah seputih boneka porselen, rambutnya perak bergaun putih. Garis wajah sedikit mirip dengan Satella, tinggi badannya, imutnya, semua sedikit mirip.
Yang membedakan antara Satella dengan gadis itu adalah bentuk kupingnya. Kalau kupingnya Satella lancip pendek maka bisa disimpulkan dia setengah elves. Sementara gadis itu punya kuping layaknya manusia.
"Haduh ... haduh ... kita kedatangan tamu." Ucap gadis remaja yang sangat mirip Satella.
"Kita usir saja dia, dewi Eris." Usul Minerva, menatap Satella dengan aura permusuhan.
"Ya. .. ampun ya ... ampun, baru saja datang sudah diusir. Bukankah itu kurang sopan Minerva? Menurutku kita beri kesempatan nyonya kecil ini untuk bicara." Kata gadis remaja yang dipanggil dewi Eris.
[Satella : Gadis remaja yang sedikit mirip denganku, namanya itu dewi Eris.] 🙄
Eris adalah gadis remaja berambut perak dengan iris mata biru. Gaun cantik yang dikenakan Eris adalah didominasi warna putih, sedikit warna biru. Eris memakai tudung warna biru yang hanya menutup bagian ubun-ubun kepala. penutup kepala yang dipakainya adalah penutup kepala tradisional Inggris era Victoria.
"Hai ... hai, nyonya kecil. Siapa namamu?" Seru dewi Eris.
"Namaku?" Satella sedikit kaget.
"Iya namamu!" Pinta dewi Eris.
"Kalau begitu, perkenalkan." Baru saja akan memperkenalkan nama, tetapi dipotong dengan tidak sopan.
__ADS_1
"Cewe bakadere itu bernama Satella." Potong Minerva sambil menatap sinis.
"Ya ... ampun ya ... ampun, Minerva tolong hentikan itu. Jangan bertindak seperti itu." Kata dewi Eris memberikan koreksi.
"Maaf." Ucap Minerva, pelan.
"Sekarang aku ulangi." Dewi Eris tersenyum manis. Imutnya persis seperti Satella.
"Siapakah namamu?" Tanya dewi Eris.
"Namaku, Satella Shiela Charlotte." Jawab Satella, memperkenalkan diri.
"Charlotte kah. Apa kamu putri keluarga bangsawan atau mungkin semacamnya itu?" Tanya dewi Eris.
"Iya, benar." Satella membalas dengan anggukan.
"Ayo Kemarilah, Satella." Dewi Eris pun mengayunkan tangan meminta Satella mendatanginya.
"Em." Satella mengangguk.
Berjalan perlahan kearah dewi Eris. Satella mendapatkan berbagai aura dari beberapa penghuni ruangan rahasia ini. Ditatap Minerva sinis dengan aura permusuhan. Ditatap Iota dengan tatapan yang senang. Ditatap acuh oleh yang lainnya.
Satella pun telah berdiri pada jarak sangat dekat. Minerva mengepalkan tinjunya yang diremas dihadapan Satella, tanpa kelihatan dewi Eris. Violetta tampak apatis, ia tidak memperdulikanl Satella. Sementara Isyana menjulurkan lidah meledek kearah Satella. Iota melambai seraya tersenyum ramah kearah Satella.
Dewi Eris mengarahkan telapak tangannya kearah Satella. Dewi Eris dengan anggukan beserta senyum tipis. Satella hanya berdiri diam dengan canggungnya.
"Iya ... menarik, sungguh menarik." Gumam dewi Eris.
"...." Satella bingung.
"Satella punya afinitas yang tinggi terhadap sihir es dan Esper." Ucap dewi Eris.
"Loh ... bisa tahu?" Satella bengong.
"Hola ... muka diamnya sangat imut sekali bukan." Ucap Iota, memberi komentar pada Satella.
"Em, itu benar." Dewi Eris memberi anggukan.
"Eh?" Satella.
"Pokoknya aku gak mau anak ini berada disini." Tolak Minerva.
"Kenapa, Minerva?" Tanya dewi Eris mengangkat bahunya.
"Pokoknya gak!" Minerva bernada jutek.
"Aku sih satu pendapat dengan Minerva." Violetta bilang.
"Ara ... ara ... kamu juga Violetta? Minerva awalnya udah sensi sama Stella, tapi. Aneh rasanya sampai Violetta ikut-ikutan." Ucap Isyana, berkomentar.
"Apa kalian belum pernah dengar ceritanya?" Violetta bilang.
Semua terdiam. Violetta lanjut menjelaskan.
"Apa kalian pernah dengar kisah tentang Bellatrix?" Tanya Violetta.
"Bellatrix?" Iota bernada bertanya.
"Bellatrix." Violetta berkata dengan nada berbisik yang amat dramatis seolah itu menegangkan.
Mengangkat tangannya Violetta melanjutkan ceritanya.
"Empat ratus tahun yang lalu era pangeran kegelapan. Dialah Bellatrix dengan kultus pengikut setianya yang bernama dead Eater." Ujar Violetta.
"Konon katanya Bellatrix, membagi jiwanya kedalam tujuh benda mati agar kelak bisa dibangkitkan kembali. Membagi fragmentasi jiwa menjadi beberapa bagian, disebut sihir horcrux." Ujar Violetta.
Suara tepuk tangan.
"Violetta pintar." Iota menepuk tangannya, heboh sendiri.
"Iota ... Stop!" Tegur Minerva.
"Jangan dipotong dong." Isyana ikutan memberi protes kepada Iota.
"Oke ... lanjut." Violetta pun menyisir poni panjang. semula menutup sebelah dari matanya menjadi wajah cantik jelita.
__ADS_1
Violetta hendak melanjutkan lagi ceritanya..
~Bersambung~