Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Datangnya masalah


__ADS_3

Pagi hari.


Sehari setelah Satella diterima di kelompok Eris order, Satella makin akrab dengan Iota. Karena mereka berdua satu asrama, beda dengan trio Minerva, Violetta dan Isyana yang tinggal di asrama yang beda. Asrama putri dipisah berdasarkan blok, biasanya dua kelas berbeda akan digabung dalam satu blok asrama.


"Ayo." Seru Satella.


"Sudah siap?" Sahut Iota.


"Em." Satella mengangguk seraya menatap kearah Iota. Menghitung jarinya setiap kali menyebut satu per satu persiapan yang telah selesai.


"Sarapan sudah, mandi sudah, pelembab sudah, minyak wangi sudah juga. Em, lalu, rambut sudah dikeringkan setelah keramas."


Menanggapi persiapan Satella, Iota cuma komentar dengan.


"Sudah dua jam!" Iota tersenyum sarkastik.


"Eh, Ngeledek ya? Aku gak selelet itu juga tau!" Satella melotot sebal kearah Iota.


"Pipinya biasa aja dong! Gak usah diisi angin." Sindir Iota, melihat Satella mengembung kan pipinya.


"Ayo, Iota, atau aku tinggal!" Ucap Satella, berjalan kearah pintu keluar asrama tanpa menghiraukan Iota.


"Hei .. tunggu, hei ... tunggu!" Iota sampai berlari kecil mengejar Satella yang jalan cepat. Memaksa langkah kecil dari kaki lentiknya untuk menyusul.


Akhirnya mereka berdua pergi menuju luar asrama. Asrama putri berada dilantai tiga. Tujuan mereka adalah ruang kebutuhan yang jadi markas kelompok Eris Mereka.


Tapi,


Suasana tampak tidak biasa.


"Eh, Ada apa ini Iota?" Satella diam ditempat, menoleh kearah Iota.


"Jangan tanya aku, aku tidak tahu!" Iota diam.


Berada di koridor lantai empat dan mereka berdua melihat suasananya ramai sekali.


Sangat bising....


Umumnya para siswa-siswi sedang ujian, tapi banyak yang berada diluar kelas.


"Hei." Seorang anak laki-laki menyapa."


Satella menoleh kearahnya.


"Hai Jack." Sahut Satella.


"Eh ada teman kelas." Iota ngikutin Satella dari belakang.


"Ada apa ini Jack?" Tanya Satella.


"Ada apa, apanya?" Sahut Jack.


"Gess, kesel." Satella pun melipat tangannya. Satella buang muka kesamping.


"Kenapa banyak orang-orang?" Iota bertanya.


"Oh." Jack.


"Semua kelas diliburkan karena ada wabah kutukan." Jack bilang.


"Tadi juga kan aku tanya begitu Jack! Ya tuhan!." Umpat Satella.


"Emang tadi kamu tanya apa?" Jack bilang.


"Tadi kubilang," Satella bernada frustasi, wajahnya suram. "Oh my God!"


"Ada apa ini Jack?" Ucap Satella Sambil tangan mungilnya mengarah kearah orang-orang sebagai bahasa tubuh yang tegas dan jelas.


"Pertanyaan Tella itu sama saja denganku Jack." Iota menjelaskan.


"Oh." Jack menatap Satella dengan ekspresi datar.


"Oh, apa!" Satella melototi Jack.


"Aku kira kamu tanya apa." Jack dengan datarnya.


"Sudah jelas kan!" Sentak Satella dengan bernada frustasi dan sorot matanya yang telah murka.


"Hei ... Iota, apakah Satella sedang pms?" Balas Jack, menatap Iota yang bersosok cebol tapi imut.


"Kesabaran ku habis." Satella bergumam.


Satella melangkah lurus kearah Jack berdiri.


"Apa? Mau mencium bibirku?" Tanya Jack dengan ekspresi pervert.


"...." Satella menginjak kaki Jack sekuatnya.


"Sakit ... kelingking kakiku." Keluh Jack.

__ADS_1


Melihat posisi tempat sampah berukuran besar. Satella memberikan senyum yang menyeringai kepada Jack.


"Jack, dasar kamu lelaki kardus!" Umpat Satella, mengulurkan kedua tangan lentiknya kedepan.


Telekinesis !!


Kedua tubuh Jack melayang diudara bagaikan tidak memiliki berat tubuh sama sekali. Perlahan mendekati ke posisi tempat sampah besar. Jack meronta-ronta minta ampun juga permohonan maafnya. Emosi Satella dipenuhi rasa jengkel.


"Wa ... ha ... maaf. Aku menyesal ampun, damai Satella...." Teriakan Jack, tapi tak dihiraukan.


Bruk....


Akhirnya Jack pun masuk kedalam tempat sampah besar. Satella pun tertawa puas setelahnya. Memberi gestur menjentikan jari, Satella meminta Iota mengikutinya keatas.


"Iota ayo cepat." Seru Satella.


"Ya." Sahut Iota, seolah paham mau kemana.


Benar saja karena tujuan Satella adalah berjalan menuju anak tangga dan menuju kelantai tujuh kastel akademi. Disanalah akses menuju ruang kebutuhan sebagai tempat berkumpul kelompok Eris order.


Skip....


Ruang kebutuhan.


Satella dan Iota memasuki ruang kebutuhan. Yang ada disana selain mereka hanyalah dewi Eris saja.


Melangkah dikarpet biru yang panjang itu. Menuju sofa panjang empuk nan mewah disatukan meja panjang eksotik. Dibelakang sofa-sofa bak ruang VIP adalah permadani yang dipaku didinding bergambar peta daratan Aluscia. Yaitu daratan yang ditempati kerajaan ini.


Dibawah permadani besar adalah meja kaca transparan setinggi satu meter, biasa dipakai untuk tempat simpan sepatu. Di kanan dan kiri karpet biru dekat pintu beberapa lemari, lemari pemindah. Lemari pemindah adalah item sihir. Lemari pemindah biasanya satu pasang, saling terhubung antara pasangan lemari itu.


Bahkan bagi siswi seperti Satella, tidak paham fungsinya. Karena ini adalah item yang sangat langka di dunia sihir.


Dinding kanan dan kiri disudut didekat sofa adalah lemari kaca berjejer. Anehnya ada sofa bed diruang ini seolah didesain untuk tempat menginap bersama.


Sofa itu panjangnya seperti sofa biasa, tapi lebarnya dua kali lipat daripada sofa biasa. Sehingga itu memungkinkan dipakai tidur. Ada delapan sofa bed bisa dibongkar pasang dengan mudahnya.


"Hai ... hai, kalian selamat datang." Sambut dewi Eris.


Satella dan Iota saling menatap sekaligus mengatakan kalimat yang sama persis secara bersamaan.


"Yang lain belum ada?" Ucap Satella dan Iota secara bersamaan.


"Yup, benar sekali. Baru kalian yang datang." Kata dewi Eris.


"Apa jangan-jangan!" Seru Satella bernada panik.


"Em." Iota mengangguk seolah tahu yang dipikirkan Satella.


Dewi Eris memejamkan mata kirinya sambil menaruh telunjuk dipipi kanannya. Sambil memiringkan wajah ke kanan seolah-olah menagih penjelasan.


Mimik wajah yang imut.


"Kami kemari ingin membahas ini. Tapinya yang lain malah gak ada disini." Satella khawatir.


"...." Dewi Eris menyimak sambil memiringkan kepalanya dengan gestur bingung.


"Diluar ada wabah kutukan." Iota dengan nada berbisik.


"Kutukan?" Sahut dewi Eris.


Skip....


Kini mereka bertiga sudah duduk bersama disofa. Bahkan ada poci berisi teh panas. Beberapa cangkir kosong ada disana. Ada juga toples kaca berisi biskuit dengan bintik Coco diatasnya.


"Terimakasih telah menyeduh teh untuk kami." Ucap Satella, dengan senyuman kecil.


"Jangan sungkan, anggap saja ini rumah sendiri." Kata dewi Eris.


Dari sini jelas kalau dewi Eris yang telah menyeduh teh nya. Kini dewi Eris menuang teh dari poci ke tiga buah cangkir kosong, perlahan. Cara Eris menuangkan teh terlihat sangat anggun.


"Kutukan, ya." Gumam dewi Eris.


"Kami tidak tahu, makanya kami datang kemari." Ucap Satella.


"Biar ku tebak." Potong dewi Eris, sambil mengangkat tangan.


"Kalian kesini untuk bertemu trio Minerva, Violetta dan Isyana lalu menanyakan itu kan? Tapi waktu sampai ternyata mereka tak ada." Ujar Dewi Eris, sambil sesekali mengangkat cangkir, diseruput.


"Waktu kami lewat tadi, situasinya sedikit mencekam." Kata Satella.


"Bukan sedikit lagi, tau! Tapi itu memang sudah mencekam." Iota mengoreksi.


Mereka duduk bersama selama beberapa menit. Menghabiskan sedikitnya tiga kali isi ulang teh dicangkir masing-masing.


"Belum datang juga." Gumam Satella.


"Iya, lama juga." Sahut Iota.


"Kalau begitu kalian tunggu aku disini, ya!" Pinta dewi Eris, ia berdiri. Terlihat sedang memasang cincin Kejari manisnya.

__ADS_1


"Dewi Ilis?" Iota menoleh.


Setelah memakai cincin itu, wujud dewi Eris pun berubah, menjadi mirip siswi putri. Rambut silver panjangnya menjadi seleher saja panjangnya. Tadinya menggenakan gaun putih kahyangan ditambah sedikit biru, kini memakai jubah warna hitam dan satu set seragam siswi putri. Satella tercengang.


"Wah, dewi Eris sangat cantik, aku kagum." Satella tercengang.


"Aku gak bisa diam saja, melihat kelian terlibat masalah." Eris pun berjalan ke pintu keluar ruangan.


"Kalian jangan kemana-mana dulu! Tinggallah ditempat ini, o ... okai." Itulah pesan Dewi Eris sebelum ia pergi ke koridor lantai tujuh dalam wujud manusianya.


Eris meninggalkan ruangan.


"Apa boleh buat." Gumam Satella terpejam dengan wajah bete.


"Hei ... Tella, hei ... Tella." Panggil Iota.


"Iya apa?" Sahut Satella.


"Rasanya kaya anak bandel yang dititipkan diarena penitipan anak disaat orang tua lagi asik belanja di plaza." Komentar Iota yang memanyunkan bibirnya.


"Apa boleh buat." Gumam Satella sambil terpejam bete.


"Loh ... kamu, sepertinya ketularan sindrom apatis nya Violetta deh. Makin kesini makin mirip." Iota memberikan komentar.


"Kya ... tidak! Aku gak mau jadi kaya Violetta. soalnya aku gak mau jadi cewe lesu gairah kaya Violetta." Ujar Satella, membantah.


"Makannya semangat." Balas Iota.


"Mana bisa, habisnya sepi banget diruangan ini." Keluh Satella.


"Haah ... Bete." Keluh Satella, menidurkan diri disofa panjang sambil menguap sepanjang waktu.


Beberapa menit kemudian.


"Huh ... Stella bete nih." Keluh Satella.


"Em, yup, gak cuma Tella aja yang bosan." Balas Iota.


"Jangan keluar!" Gumam Satella.


Tau-tau ada suara seseorang yang datang dari pintu masuk ruang kebutuhan. Itu adalah sosok wajah lesu dan mata layu, salah satunya tertutup rambut ungu panjangnya.


Menguap panjang.


"Habisnya bisa repot." Violetta bilang.


"Violetta?" Sahut Satella, agak kaget setelah sekutunya datang.


"Huh?" Violetta memaksa matanya yang sayu tuk menatap Satella lebih melek lagi. Sambil melambaikan tangan, lesu tanpa gairah bawaan lahir. Menampakkan bibirnya yang melekuk ditekuk tanpa semangat.


"Ya, ampun." Satella kaget.


"Apa?" Violetta mengangkat bahu beserta tatapan sayu dan lekuk bibirnya yang lesu, tapi cantik.


"Hei ... Tella?" Iota ikut mengangkat bahunya.


"Ya ... ampun ... kamu benar Iota." Satella heboh tuk kali kedua.


"Bener apa huh? Tella ... Tella." Seru Iota, mengangkat bahu.


"Violetta menularkan sindrom apatisme. Kamu gak mau menjadi gadis minim gairah kan, Iota." Kata Satella, heboh.


"Dih ... gak, aku gak mau!" Iota ikut heboh.


"Eh, Eh... Loh aku!" Violetta pun menjadi marah. Wajah sayu minim gairahnya tak bisa menampakkan ekspresi wajah marah, tapi gestur tolak pinggang menunjukkannya.


"Ini bawaan lahir loh! Habisnya genetisnya begitu, turunan ortu." Violetta mengangkat telunjuknya sambil menatap bete.


"Jangan ngatain! Plis...." Violetta bernada mengeluh.


"Maafin Stella." Ucap Satella mimik merasa bersalah. Mencondongkan kepalanya kearah depan.


"Marahin aja Tella, jewer kuping lancipnya." Kata Iota bernada usil.


"Eh ... Iota! Loh malah nyalahin aku." Protes Satella.


"Hihihi." Iota ketawa cekikikan.


Violetta berjalan kearah Satella dengan wajah sayu.


"...." Violetta natap Satella sangat dekatnya.


"Apa?" Satella ketakutan.


Violetta mencapit pelan kuping lancipnya Satella. Diapit lembut dengan dua jari, belum dijewer Satella sudah gak karuan.


"Kya ... geli ... geli, kuping aku geli! Jangan disitu! Kuping elves amat sensitif. Tidak ... tidak." Sambil jejeritan, menggelinjang geli disofa. Satella kewalahan.


Tersenyum menang. Violetta pun menggelitik kuping Satella hingga jeritannya makin parah.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2