Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
perang benteng [4]


__ADS_3

Restart !!


Satella mendapati kesadarannya kembali kebelakang. Waktu mundur ke titik simpan. Satella mendapati matanya sedikit buram, pendengaran agak hilang. Satella hanya bengong ditempat, tepat di turunan tangga diatas dinding.


Pandangan mulai jelas, kupingnya mulai mampu mendengar. Satella merasa bahunya didorong-dorong oleh Minerva, ditatap curiga oleh Violetta yang lagi menguap kantuk.


"Kamu gak apa-apa kan?" Minerva bertanya dengan nada khawatir.


"Agak sedikit pusing." Kata Satella, memegangi kepalanya.


"Mau istirahat dulu, apa kamu mau tiduran sebentar?" Kata Minerva, bernada peduli.


Sementara Violetta menanggapi dengan menguap.


"Gak jadi nih?" Violetta bernada pesimis.


"Lanjut aja, ya." Tukas Satella.


Mereka pun menuruni tangganya. Satella mendengar obrolan yang serupa dengan yang ia dengar saat putaran waktu yang lalu. Dalam hitungan detik rasa pusing Satella yang ia dapat akibat efek restart, perlahan-lahan mulai mereda.


Meanwhile.


Dibelakang dinding pertahanan terdapat pemukiman. Rumahnya ditempati seratus keluarga, para prajurit tinggal didalam gedung. Gedung tempat tinggal prajurit, biasanya disebut barracks.


Di belakang kompleks pemukiman terdapat gerbang kedua. Gerbang tersebut adalah gerbang pemisah antara pemukiman dan bangunan kastil dimana keluarga bangsawan tinggal. Sekumpulan pasukan yang tugasnya menghalau pasukan yang masuk setelah dinding dijebol ada didekat gerbang dinding kedua.


Regu pertahanan dalam dinding sedang stay ditempat menunggu tanda-tanda jebolnya dinding luar. Dinding kedua pun ada banyak kesatria dengan crossbow. Bukan hanya itu, banyak kesatria siaga diatas atap rumah. Mereka yang menjaga dari atap rumah telah dipersenjatai tombak yang akan dilempar, juga senjata crossbow.


Sekumpulan pasukan bersiaga, mendadak muncul suara letupan senjata api. Suara letusan flintlock pistol adalah penandanya. Sinyal bahwa temboknya ditembus musuh. Semua pasukan bersiaga dan Kaptennya bersiap-siap.


"Tujuh regu ikut denganku!" Seru kapten pasukan.


Sebagian dari pasukan pun maju, sebagian stay. Mereka naik naga darat. Yang paling depan biasanya adalah ketua regu. Tau-tau satu kepala regu terpeleset dari naga nya karena terkena mantra sihir petir.


Ternyata yang datang adalah para magician yang melewati dinding dengan sapu terbang. Beberapa mengunakan flying magic tapi itu sedikit. Ternyata dindingnya belum dijebol, Sekelompok mage melewati dinding dengan menaiki sapu terbang.


"Semua maju!" Seru kapten.


Perspektif pun kembali kepada Satella.


Ini adalah saat ketika sihir badai saljunya telah reda. Sekumpulan pasukan musuh menerobos masuk. Tetapi Satella menyulap dinding es keras untuk menutup celahnya. Sekarang giliran Satella yang membekukan unit pasukan musuh yang tadi menerobos.


Pada putaran waktu yang kedua Satella langsung sembunyi dibalik tumpukan jerami didalam gerobak.


Tetapi kali ini Satella memakai transfigurasi untuk menuju atas dinding. Mencoba cara alternatif untuk mengakhiri putaran waktu.


Starla fokus menatap merpati hitam yang terbang kearahnya. Merpati hitam berubah menjadi Satella.


"Hai...." Sambut Starla, merasa gembira.


"Kamu baik-baik saja kan Starla?" Tanya Satella.


Starla mengangguk dengan garis senyum dibibirnya.


"Bagaimana caranya memancing paman keluar?" Tanya Starla.


"Aku ada ide!" Seru Satella.


"Benarkah?" Sahut Starla.


Satella memberikan item sihirnya kepada Starla. Item sihir tersebut adalah cincin horcrux Bellatrix.


"Apa ini?" Tanya Starla, bingung.


Skip....


Seperti diputaran waktu yang sebelumnya.


Starla memakai flying magic tuk menuruni dinding yang tinggi itu tanpa lewat anak tangga. Starla menginjakan kaki ditanah berbatu pondasi jalan, titik yang sama.


Beberapa detik berdiri disana, akar belukar muncul menjerat Starla. Akar mengikat kaki sampai pinggang, bahkan ujung akarnya sampai dileher. Starla pun meronta-ronta.

__ADS_1


Satella berlari dan menebas akar belukar dengan pedang es tajam miliknya. Perlahan akarnya robek, tapi gaun merah Starla jaga ikut tersobek. Kemudian datanglah paman Hesper dengan flying magic, bermanuver cepat kearah Satella. Satella hapal betul polanya. Tebasan belati ganda membentur perisai es yang keras.


Satella pun segera mengeluarkan Griffin sword andalannya. Satella berbalik badan, menghunuskan pedangnya kearah paman Hesper.


Padahal Satella sudah menumpuk perisai esnya sebanyak empat stack, tapi pamannya tetap saja menikam belatinya kearah Satella berkali-kali. Tau-tau tangan kirinya terkena tusuk anak panah dari longbow. Paman elves terkejut menyaksikan kejadian ini. Spontan belati ditangan kirinya terjatuh ketanah.


Baru saja melihat tangan kiri yang tertusuk anak panah, tau-tau perutnya terkena anak panah lagi. Dampak tusukan anak panahnya membuat tangan kiri pamannya jadi susah digerakan. Paman segera menatap kearah datangnya anak panah. Paman menyadari kalau penembaknya berdiri diatas dinding. Paman menatap sosok penembak gelap itu, tau-tau anak panah berikut datang kearahnya.


Tangan kiri sulit digerakkan, ia memilih memakai tangan kanan untuk melindungi kepalanya.


Tangan kanannya kini terkena tusukan anak panah, di telapak tangan tepatnya.


"Starla?" Paman kebingungan.


Paman melihat bahwa penembak gelap tersebut adalah Starla. Lalu paman pun menoleh kearah Starla yang terjerat akar belukar, ternyata Starla menguap bagaikan siluet hitam.


"Cuma ilusinya!" Pamannya dibuat merasa dipermalukan.


Tak lama, anak panahnya berubah menjadi api. Tubuh paman terbakar tak karuan. Ia berguling diatas jalan merasa kesakitan dan syarafnya mulai mati rasa. Syaraf sensoris nya hampir pasti lumpuh. Empat detik yang pertama, apinya berwarna hijau. api hijau sangatlah panas, rasa sakitnya diluar nalar. setelah empat detik, api hijaunya menurun menjadi api merah kekuningan yang biasa. api biasa bertahan selama belasan detik.


Kulitnya menjadi gosong seperti diolesi oleh abu gosok. Tubuhnya mengeluarkan api, pakaian pun terbakar. Menyisakan chain mail didalam jubah dan pakaian yang terbakar. Chain mail bagian atas beserta bawah. Chain mail bagian atas hanya sampai siku untuk tangannya, sampai pinggang tuk atasnya. Chain mail bagian bawah panjangnya sampai mata kaki.


Untuk sejenak, pemandangan ini sukses mengukir senyum penuh kelegaan dibibir Satella. Starla pun segera turun. Dengan kondisi yang kritis tanpa daya, paman berjalan merangkak kearah Satella. Paman berusaha merangkak hanya dengan tangan yang kosong seolah sudah tidak berniat bertempur kembali.


Starla yang semula berdiri diatas dinding kemudian turun kebawah dengan flying magic. Sesampainya dibawah ia berlari kearah Satella.


Paman Hesper memegang erat pergelangan kaki Satella, malah seperti cengkeraman.


"Kenapa?" Ucap Satella, heran.


Tau-tau muncul lingkaran sihir dibawah tubuh pamannya. Empat detik kemudian terjadi ledakan. Satella sangat dekat dengan titik ledakan tersebut. Tak banyak yang dirasakan, tau-tau Satella sudah mengalami restart berikutnya.


Ini adalah restart yang ketiga dan putaran waktu yang keempat.


Efek sihir sage diary bekerja. Setelah restart yang ketiga, bau miasma hitam semakin tercium. Bau miasma penyihir nya mulai terendus oleh Violetta.


Restart !!


"Loh ... kok begini lagi?" Satella bernada pasrah.


"Ada apa?" Sahut Minerva.


Violetta bertingkah seolah-olah sedang mengendus bau. Violetta pun mengendus tepat ditubuh Satella. Violetta mengendus bahu, punggung sampai leher Satella.


"Bau busuk!" Seru Violetta.


"Heh, jangan rasis ya!" Minerva membentak Violetta dengan emosi.


"Tapikan aku mencium bau busuk penyihir gelap loh. Mereka biasa disebut sebagai the witcher, mereka telah mempelajari ilmu gelap terkutuk." Kata Violetta, mimik wajah saat ini kelihatan agak jijik.


"Kamu jijik sama aku?" Satella berwajah muram.


"Apa yang kamu pikirkan barusan, Violetta!" Minerva pun emosi.


"Lupakan saja!" Violetta pun terlihat sedikit masa bodo.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju kebawah.


Skip....


Segalanya berjalan persis seperti putaran waktu yang sebelumnya. Paman dalam kondisi kritis lalu merangkak kearah Satella. Satella mengetahui apa yang akan terjadi.


"Jadi begitu ya, bom bunuh diri." Satella pikir.


Satella pun melangkah menjauhi pamannya itu. Akan tetapi putaran waktu kali ini, kesialan tetap ada. Satella telah menjauh dari paman Hesper. Tapi Starla malah berlari kearah pamannya. Dengan aura pembunuh, Starla pun mencekik leher pamannya sekuat tenaga.


Yang Starla tau hanya perasaan membalas dendam yang kuat.


Tau-tau lingkaran sihir muncul ditanah yang pamannya pijak.


"Starla cepat lari!" Seru Satella.

__ADS_1


Starla hanya menoleh kebelakang sambil bertanya.


"Kenapa?" Tanya Starla.


Empat detik berlalu sangat cepat ketika Satella teriak berulang-ulang kearah Starla. Ledakan pun terjadi. Bahkan Satella yang posisinya agak jauh dari pamannya ikut terkena dampak ledakan tersebut. Satella terhempas jauh kebelakang lalu kehilangan kesadaran. Apakah ia mendapatkan restart nya kembali.


Yang Satella rasakan adalah persis seperti sedang tidur dalam waktu yang sangat lama.


Entah berapa lama waktu sudah berlalu.


Skip....


Rumah sakit kota.


Satella tidak mengalami kematian seperti sebelumnya lagi. Sekarang Satella terbangun dirumah sakit. Ketika membuka matanya yang dilihat adalah suster yang belum dikenal sebelumnya. Mengangkat kedua tangannya, kulitnya nampak lecet-lecet seperti terserempet oleh serpihan kerikil saat terperosok.


"Dimana aku?" Itulah kata yang pertama diucapkan Satella.


"Rumah sakit kota Ivalice." Jawab susternya.


"Ivalice?" Tanya Satella.


"Iya benar, kamu dibawa kesini karena kecelakaan." Kata suster.


Susternya berambut pirang dengan satu kunciran dibelakang. Postur tubuhnya tinggi layaknya seorang model. Walau wajahnya biasa saja.


"Tentu saja kecelakaan." Satella bernada biasa.


Beberapa detik kemudian.


"Apa...." Satella baru ingat.


"Dimana dia suster, dimana dia?" Tanya Satella.


"Dia siapa?" Tanya suster.


"Kembaran ku, suster!" Seru Satella, heboh.


"Aku ingat ada seorang lagi, remaja sepertimu. Wajahnya itu identik denganmu, Apakah itu yang kamu maksud?" Tanya suster.


"Iya itu dia, dimana Starla?" Tanya Satella.


"Sayangnya ia tak selamat." Itulah jawaban susternya


Satella terdiam.


Tau-tau Satella memaksakan dirinya untuk berdiri. Susternya berlari kecil ke posisinya Satella. Yang suster lakukan, memegangi kedua bahu Satella. Suster menahan agar sang pasien tetap tenang. Satella melawan dengan tubuhnya yang meronta-ronta liar.


"Tenanglah ... hei tenanglah...." Seru suster, kewalahan.


"Lepas, aku harus mencari tahu sendiri!" Ujar Satella.


"B*dohnya aku." Batin susternya sambil geleng-geleng kepala.


"Dokter, tolong aku! Siapapun itu tolonglah aku...." Seru susternya.


Tidak lama datang suster yang satu lagi membantu. Suster yang datang rambutnya berwarna cokelat.


"Ada apa ini?" Tanya suster yang barusan datang.


"Pasien tidak mau tenang." Jawab suster pirang.


"Akan kuberi obat penenang." Kata suster rambut cokelat.


"Iya, tolong." Tukasnya.


Tidak lama kemudian Satella pun diberikan obat penenang.


Tubuhnya menjadi hilang tenaga. Tak bisa bergerak lagi, dimatanya mengalir air mata. Tangisan yang membawa menuju alam tidurnya. Diberikan obat penenang, suara Satella menjadi hening, pikirannya menjadi tenang barang sejenak.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2