Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
mantra baru


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, fisik Satella telah pulih. Walau sekolah tak ada kegiatan lagi tetapi Satella sedang berada disini untuk kelas kursus darinya. Satella berada dihalaman belakang, yaitu training ground.


Satella berkonsentrasi.


Pseudo field !!


Satella memunculkan pijakan semu yang melayang diudara. Wujudnya semi transparan. Warna pijakannya adalah putih transparan dengan sedikit warna perak. Hampir mirip kaca jendela, amat sulit dilihat.


Lantai semu itu melayang pada ketinggian satu meter diatas diatas tanah. Satella memanjatnya lalu berdiri diatasnya. Kemudian ia memunculkan lantai semu yang lainnya lagi. Lantai semu yang selanjutnya dua meter di atas yang sebelumnya. Mustahil tuk dicapai dengan lompatan, begitu awalnya.


Tapi....


Satella melompat ke lantai semu berikutnya. Entah kenapa Satella mampu lompat setinggi dua meter meski terasa mustahil. Melawan prinsip gravitasi. Tapi kenapa.


Alasannya adalah efek sihir dari pijakan semu. Pijakan semu punya efek sihir memanipulasi gravitasi. Tidak peduli sekuat apa gravitasi planet ini, pengguna pijakan semu dapat mengatur gravitasi yang berlaku dipijaknya semuanya itu.


Pijakan semu adalah keterampilan baru yang dipelajari Satella belum lama ini.


"Yeay ... aku bisa!" Seru Satella.


Beberapa hari sebelumnya.


Ruang kepala sekolah.


Satella terlihat duduk disana menghadap kepala sekolahnya.


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya kepala sekolah.


"Aku minta tolong pak." Satella.


"Katakan apa itu?" Tanya kepala sekolah.


"Bagaimana caranya melakukan counter terhadap sihir manipulasi medan gravitasi?" Tanya Satella.


"Sebenarnya ada satu sihir yang mampu mementahkan sihir itu. Adalah sihir yang berbasis tenaga pysche. Asal kamu punya afinitas tinggi terhadap sihir Esper maka kekuatan sihir ini akan tinggi juga. Menimpa dampak dari manipulasi gravitasi bumi dengan lantai semu. Kalau sihir bumi memperberat gravitasi, maka lantai semu untuk memperingan gravitasi." Kepala sekolah memberi solusi.


"Pak aku mau belajar itu, ajarkan cepat!" Satella tidak sabaran.


"Haduh ... haduh...." Pak Kepala sekolahnya geleng-geleng kepala.


Flashback end....


Besoknya.


Ruang kebutuhan.


Satella menghadiri pesta teh biasa diruang kebutuhan.


Awalnya hanya bersama dewi Eris, Isyana, Iota dan Theodore yang lagi sibuk bersih-bersih sambil pegang bulu ayam dan sapu. Cangkir yang isinya masih beruap panas lengkap tersaji dengan aneka kue kering kecil-kecil yang lucu bentuknya.


Datanglah Minerva bergabung di pesta teh mereka.


"Hai hai...." Sapa Minerva yang bergabung.


"Ayo sini." Sambut dewi Eris.


"Hai mamah tiri." Isyana gesturnya mengolok-olok.


"Mamah tiri jidatmu!" Minerva menatap judes.


"Oh iya ... berarti kamu bawang merahnya." Isyana terus memberi olok-olokan pada Minerva.


"Udah!" Protes Minerva menolak pinggang dengan mimik galak.


"Melon." Sindir Isyana.


"Bumi datar!" Balas Minerva yang naik emosinya.


"Namanya juga masa remaja, nanti juga tumbuh jadi bukit. Daripada kamu, kalau udah jadi mommy tuh melon bakal jadi kelapa." Isyana memberi ekspresi meledek yang paling menyebalkan. Seolah asap mengepul dari ubun-ubun Minerva dan wajahnya merah marah.


Isyana menikmati setiap detik dari penderitaan Minerva, sampai titik dimana tensi darahnya naik lagi.


"Kamu mau bikin aku darah tinggi!" Omel Minerva, mengangkat tinju.


Semua terkekeh.


"Udah oy...." Potong Satella.


Beda cerita dengan Iota.


"Lanjut oy lanjut ... seru hihihi.


"Terusin berantemnya." Iota malah menikmati perselisihan.


Untuk pertama kalinya dewi Eris bereaksi.


"Hentikan itu!" Tegur dewi Eris, nadanya terdengar serius.


Saat dewi Eris serius, semuannya terdiam.


"Jangan berselisih, aku jadi sedih." Tegur dewi Eris.


Berdiri setelah menegur dewi Eris meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Eh ... kamu sih!" Satella nyalahin Isyana karena mulutnya toxic.


"Kok aku?" Isyana berdalih.


"Jenong mah emang hobi ngatain orang." Iota nambahin.


"Sekarang kita eksekusi aja ini si mulut toxic!" Usul Minerva.


"Gimana Tella?" Tanya Iota.


Tau-tau Satella ingat momen saat Isyana ngerjain dia.


"Ide bagus." Satella menyeringai.


"Eh ... gawat!" Isyana kelabakan.


"Kita teman kan?" Isyana menatap Satella dengan raut memelas.


Satella menunjuk kearah Isyana sambil memasang mimik sebal.


"Gara-gara ide konyol mu tentang konsep tanggung jawab, aku jadi terkena ampasnya. Pantatku jadi ditampar orang satu kelas, rasanya perih tau. Pokoknya aku pengen membalas dendam!" Satella dengan nada menggertak.


Mendengarnya membuat Minerva tertawa terbahak-bahak selama beberapa detik lamanya. Minerva memegangi perutnya karena ia terlalu keras dan panjang durasi tertawa nya. Minerva seolah puas menikmati wajah penderitaan itu.


Begitu juga dengan Iota.


"Aku sering banget dikelitiki sama jenong. Sekarang waktunya untuk membalas. Ayo kita kelitik-kelitik jenong sampai Isyana mengompol." Iota tertawa jahat.


"Ide bagus tuh." Sahut Satella.


Sementara Minerva masih terus tertawa, seolah menikmati setiap detik penderitaan Isyana.


"Tidak...." Menjerit ketakutan.


Skip...


Sekarang mereka hanya duduk bertiga saja.


"Ngomong-ngomong kenapa dewi sedang sensitif?" Tanya Satella.


"Oh itu." Minerva menatap Satella.


"Oh iya, aku disuruh kesini oleh Violetta untuk memberitahu. Kata Violetta, ia akan memberikanmu sebuah kejutan." Kata Minerva.


"Kejutan?" Satella terbengong.


Beberapa saat kemudian.


"Kamu belum jawab pertanyaan dariku loh." Tagih Satella.


"Jadi gimana?" Tagih Satella.


"Soalnya dewi Eris itu pernah satu kali reinkarnasi. Sebelumnya dia seorang dewi major yang disebut dengan, 'Eris dewi perselisihan' makanya dia suka murung setiap melihat perselisihan. Jadi percaya kalau gen jahat pada dirinya masih ada, sekarang dia adalah dewi keberuntungan. Menurutku, kecurigaan dewi Eris hanya kecurigaan saja." Penjelasan Minerva.


"Oh begitu." Satella melongo.


"Pengetahuan seperti ini adalah sesuatu yang baru aku dengar." Komentar Satella.


Suasana diam beberapa saat.


Tau-tau ada yang mengejutkan.


"Kejutan!" Seru seseorang.


Suaranya seperti suara Violetta. Satella pun menoleh kearahnya. Kejutannya sukses bikin Satella tercengang sekaligus senang.


"Starla...." Seru Satella.


"Hai." Starla melambaikan tangan kearah Satella.


"Tapi bagaimana?" Satella heran.


"Jangan diam saja, ada peperangan menunggu!" Seru Violetta.


Starla tersenyum, memiringkan kepala dengan mimik imutnya. Memandang kearah Satella dan temannya di tengah ruangan ini.


"Aku Starla dari Blue rose academy Ivalice city, salam kenal." Starla memberi salam perkenalan kepada yang akan jadi teman barunya.


"Apa maksudnya perang?" Satella bertanya kepada Violetta, lalu ia menoleh kearah kembarannya.


"Kita akan melawan paman dan antek-anteknya sekali lagi." Kata Starla.


"Ayo kita musnahkan dinasti jahat paman Hesper!" Satella tak sabar.


"Kita gak ada waktu lagi, sekarang momentumnya pas." Ujar Starla.


"Peperangan apa?" Kini Minerva terdiam bingung.


"Peperangan dengan orang yang berniat memisahkan Satella dan Starla." Jawab Violetta.


"Saudari kembarku." Satella lirih.


"Aku ikut!" Minerva penuh dengan keyakinan.

__ADS_1


"Hoam ... ngantuk." Iota nyender disofa.


Tau-tau datanglah Isyana.


"Aku tau kok, aku menguping tadi." Tau-tau Isyana ada dibelakangnya Violetta tanpa disadari.


"Ya ampun ... tiba-tiba muncul aja, kamu mirip banshe." Ujar Satella dengan ekspresi kaget.


Semua terbahak.


"Ya ampun ... Kamu toxic juga ya. Masa aku disamain sama banshe, hantu mitologi yang seram itu sih. Emangnya paras ku sejelek itu oy!" Isyana memprotes, agak kesel.


"Gak kok kamu cantik, seperti kembang desa." Satella terkekeh.


"Well ... tau aja kalau aku ini orang desa. Ngomong-ngomong maaf aku gak bisa ikut ya." Ujar Isyana.


"Gak setia kawan banget jenong!" Minerva mengomel.


"Aku cuma gak mau jadi beban aja. Kemampuan tempurku tak seperti kalian. Aku takut nanti jadi useles. Pertempuran yang lalu aja aku gak bisa apa-apa, gak ada kontribusi." Menolak ikut, Isyana merendah.


"Ya sudah itu hak mu." Minerva memaklumi.


"Gak apa-apa kan, maaf ya." Isyana menatap Satella.


"Iya." Satella mengangguk.


"Lagi pula sihir yang aku kuasai hanyalah sihir lemah. Nantinya tumpul bagi lawan yang kuat-kuat." Isyana duduk disofa.


Beda hal nya dengan Iota.


"Aku ikut deh." Iota mengangkat tangannya.


Satella dan minerva sama-sama melongo menatap Iota.


"Serius heh ... bocah kecil?" Tanya Isyana.


"Iya Sahna jenong." Jawab Iota.


"Ini bahaya loh." Tegur Satella.


"Aku mau pamer sihir angin, aku pengen kasih lihat kalau aku jago sihir angin." Kata Iota.


"Kamu bisa flying magic gak?" Violetta bertanya.


"Gak bisa." Jawab Iota.


"Jangan ikut deh, bahaya tau." Violetta melarang.


"Meremehkan." Iota cemberut.


"Ayo kalau mau ikut." Ajak Starla.


Iota mengangkat mimik ceria diwajahnya.


Selanjutnya Starla memberikan masing-masing satu portal scroll.


"Ini untuk apa?" Tanya Satella.


"Itu untuk ke tempat sekutu kita. Bukan cuma kita yang mau paman membusuk dipenjara." Kata Starla.


"Kamu manggil polisi militer tuk bantu kita?" Tanya Satella.


"Jadi gini." Starla bersiap.


Satella nyimak.


"Paman menjadi mercenary untuk satu keluarga cabang bangsawan. Tugasnya adalah perebutan kastil keluarga bangsawan lainnya. Aku membocorkan informasi ini juga menawarkan kerja sama, karena musuh kita sama kan. Malah ada hadiahnya loh untuk kita." Starla menjelaskan pada Satella.


"Bagus deh." Sahut Satella yang mendapat semangat.


Satella dan Starla melakukan tos bersahabat.


Skip...


Kastel Sesilia.


Kastil Sesilia adanya di dekat Ivalice city.  Arah jam satu dari kota tersebut tepatnya. Kastil ini dimiliki kepala keluarga cabang dari keluarga Foster. Kubu yang ingin merebut kastil ini adalah cabang keluarga Proteger.


Paman Hesper memiliki pasukan darat mele unit dan mage. Sekitar seratus mage dan tiga ratus milisi. Berada dibarisan bersama korps Proteger yang berjumlah 700 unit pasukan penyerang, empat ratus pasukan stationary yang gunanya mengoperasikan mesin perang.


Starla sudah ada disini bersama Satella dan tiga lainnya. Berada di ruang aula kastel yang dikelilingi benteng yang kuat. Dindingnya tak sekuat dinding defensif yang ada di kota-kota utama. level defensifnya masih cukup baik untuk perang melawan sesama klan bangsawan.


"Kita ada didalam kastel?" Gumam Satella.


"Kastel Sesilia." Seru Starla.


Starla membawa Satella bertemu seseorang.


Secara genetis keluarga Foster pada umumnya mayoritas punya rambut ungu. Walau begitu beberapa ada yang berambut hitam atau pirang. Karpet merah terhampar layaknya dekorasi kastel pada umumnya. Marmernya sangat indah, dinding terpasang permadani dengan gaya seni tinggi pada motifnya. Atapnya papan kayu berserat kayu indah disertai beberapa ukuran kayu berseni tinggi. Dibeberapa sisi ada kesatria zirah sebagai kru penjaga. Beberapa orang dengan pakaian mewah adalah kerabat keluarga bangsawan Foster. Pada akhirnya Starla sampai di suatu ruangan. Seperti ruang kantor yang besar. Seperti ruangan seorang bos.


"Permisi tuan." Salam sapa dari Starla.


"Oh yeah ... pasti anda Starla ya." Seseorang menyambut.

__ADS_1


Seorang pemuda agak jangkung dengan paras muda dan lumayan tampan menyambut. Rambutnya berwarna ungu dengan tuxedo berwarna putih yang amat elegan.


~bersambung~


__ADS_2