
Satella santai sejenak di cafetaria sekolah bersama tiga teman, yaitu Violetta dan Emili. Suasana sangat tenteram awalnya, menjadi suram bagi Satella saat Isyana datang.
"Kenapa Stella seperti ketakutan begitu sama Isyana?" Tanya Emili.
Dengan datarnya Violetta memberi jawaban sederhana.
"Wajar aja sih, habisnya Isyana itu mulutnya toxic. Makanya Satella menjadi parno setiap ia melihat wajahnya Isyana." Kata Violetta.
"Kurang ajar kamu mata sayu, heh wajah lesu!" Isyana mendesis sebal.
Nyatanya mulut toxic Isyana gak mempan terhadap Violetta, justru memantulkan rasa kesal kepada Isyana setiap kali olok-olokan itu terjadi diantara mereka berdua.
Pelayan kafe datang..
"Permisi, mau pesan sesuatu?"
Semua menoleh kearah pelayan kafetaria. Dengan wajah bangga, Satella berlagak mau mentraktir.
"Silahkan semuannya pesan yang kalian mau, biar aku yang traktir." Kata Satella.
Baru saja menawarkan traktiran, beberapa orang pecinta gratisan muncul.
"Aku mau juga Tella!" Seru Iota.
"Eh?" Satella kaget.
Raut wajah bermasalah Satella itu bukan karena menyesal karena ia mentraktir, tetapi kaget karena tiba-tiba little Iota muncul tanpa terendus hawa kemunculannya.
"Tau-tau muncul, aku aja sampai kaget loh." Komentar Satella.
"Habisnya ada yang gratisan sih jadinya aku kesini." Kata Iota.
"Tapi kamu munculnya itu cuma berselang lima detik setelah aku bilang mau traktir, kan aneh tau." Satella gak habis pikir.
"Inilah ajaibnya si loli kampr*t ini, sekarang ngerti!" Komentar Isyana.
Semua tertawa.
"Mau pesan sekarang?" Kata pelayan itu, mendesak.
"Aku mau fruit tea." Pinta Satella.
Violetta menyela.
"Siang-siang gini enaknya minum kopi biar gak ngantuk." Violetta menyarankan.
"Kalau gitu aku mochaccino late." Satella memilih.
"Kalian pesan aku traktir." Kata Satella.
Iota memotong.
"Tella aku mau muffin." Pinta Iota, merengek.
"Serterah." Kata Satella.
"Boleh tidak?" Iota dengan wajah cemberut.
Satella menghela napas, menatap little Iota dengan wajah sebalnya.
"Gak usah pasang wajah sedih ya, apapun yang kamu mau juga aku traktir kok." Seru Satella.
Isyana dan Emili terkekeh atas tingkah lucu Iota, Violetta tertawa tanpa suara. Sementara itu Satella geleng-geleng kepala, dalam hati Satella sedang menahan tawanya.
Beberapa saat Minerva datang.
"Semuanya aku gabung ya." Sapa Minerva.
Mendahului Satella, Isyana pun bersuara.
"Silahkan pesan ya Minerva, ada Satella yang traktir." Kata Isyana.
"Serius?" Minerva tersenyum.
"Itu benar." Jawab Satella.
Beberapa saat..
"Pelayan!" Seru Satella.
Pelayan menghampiri meja.
"Ada yang bisa dibantu?" Tanya pelayan kafetaria.
"Kami sudah memesan!" Satella memberi kertas menu yang sudah diberi ceklis, itu mewakili semua pesanan teman-temannya juga.
Jam istirahat dihabiskan minum secangkir kopi agar tidak ngantuk nantinya, juga beberapa cemilan supaya ada nutrisi untuk fokus dikelas nantinya. waktu istirahat selama empat puluh menit pun berlalu dengan cepat, walau efek jenuhnya bisa diredakan olehnya.
Skip...
Didalam kelas.
Akhirnya semua murid memasuki ruangan kelas. Pelajaran kembali dimulai, Satella pun duduk manis. Satella menoleh kearah meja guru, yang dilihatnya adalah seorang laki-laki yang hampir seumuran dengannya. Awalnya Satella hanya diam sejenak, memandang dengan rona senyum pada wajahnya.
"Jadi itu guru muda tampan yang Violetta bilang. Mau dilihat dari manapun juga ia lebih muda dari kakak laki-laki ku." Ucap Satella.
__ADS_1
Satella bergumam santai dengan ekspresi bengong yang imut dari wajah khasnya. Mendengar arah ucapan Satella, Emili pun muncul secara tiba-tiba.
"Kalau begini caranya aku gak bakalan mengantuk dikelas lagi." Komentar Emili.
"Mana bisa ngantuk, tadi udah kan minum kopi!" Gumam Satella yang belum menyadari kalau Emili itu sudah berada disampingnya.
Tiba-tiba ekspresi Satella menjadi terdiam sesaat, kening mengkerut beserta alis berkedut. Satella mulai menampakkan mimik wajah kusut setelah menyadari sesuatu.
"Sejak kapan kamu disini!" Satella terkejut.
Sementara Satella menampakkan mimik wajah kaget, Emili malah terlihat sedang terpikat.
Satella menghalangi pandangannya Emili dengan tangan. Tangannya ia gerakkan seperti gerakan meraup angin diudara saat ia menghalangi arah pandang Emili.
Emili bergumam dengan ekspresi wajah berbunga-bunga.
"Jangan ganggu Stella."
Satella menarik tangannya hingga pandangan Emili tak terganggu.
"Tampan." Gumam Emili.
Satella menampakkan raut wajah sebal sambil menolak pinggang.
"Dasar bucin!" Omel Satella.
Suara meja diketuk.
Semua duduk manis dengan sorot matanya fokus kepada pemateri.
"Sepertinya dia baru." Ucap Satella.
"Ishh.. diam!" Emili mendesis.
"Kamu!" Satella makin sebel saja kepada Emili.
Satella menaruh ujung jarinya disamping bibir sebagai gestur berbisik.
"Aku semakin sebel sama si bucin!" Bisik Satella, pada dirinya sendiri.
"Ahem!"
Suara berdeham.
Suara itu muncul sampai tiga kali.
"Kamu yang disitu!"
Satella menyadari kalau orang itu adalah dirinya.
"Dari tadi tidak memperhatikan!" Omel instruktur muda itu.
"Apa materi sudah dimulai?" Balas Satella bernada kesal.
"Belum sih, tapi kamu harusnya memperhatikan kalau pengajar sedang berbicara!" Ujar instruktur.
"Aku cuma diam sebentar aja kok, siapa bilang aku gak fokus untuk mendengarkan." Bantah Satella.
"Kamu sepertinya gak ada mood untuk mengikuti kelas ini." Kata instruktur muda itu.
"Kok aku!" Satella dengan nada sedikit meninggi.
"Yang lain banyak kok yang lebih tidak fokus dari aku!" Omel Satella.
Sekilas instruktur muda itu heran kenapa ada murid yang berani memarahi balik gurunya. Satella dengan keras merasa tidak salah kemudian jadi kurang nyaman.
"Tidak usah melempar kesalahan! Orang yang melempar kesalahan kepada orang lain itu orang yang tidak punya rasa tanggung jawab." Instruktur menceramahi Satella.
Tapi apa yang dikatakan instruktur sungguh tidak bisa diterima begitu saja oleh Satella.
Satella malah berdiri.
"TAU APA TENTANG TANGGUNG JAWAB!" Sentak Satella.
Hening sejenak.
"Kalau ada seseorang yang paling memiliki rasa bertanggung jawab disini, ITU AKU!" Omel Satella.
Instruktur muda terdiam dengan mimik wajah menegang. Ucapan Satella ada benarnya juga.
Pertama, Satella meminta maaf kemudian siap menerima sebuah hukuman karena kesalahannya padahal ia tidak sengaja. Meski awalnya itu buah keusilan Isyana, tetapi Satella masih memiliki rasa tanggung jawab. Ditambah Satella orangnya mudah merasa bersalah, disisi lain ia menentang tuduhan kalau ia tidak merasa bersalah.
Kedua, orang-orang tahu bahwa Satella mengorbankan dirinya tuk menyelamatkan banyak orang di peristiwa yang telah lalu. Dimana penyihir ambisius yang ingin jadi penguasa telah meneror sekolah.
Instruktur muda yang tampan ini tidak terlalu mengenal Satella.
Parahnya instruktur baru malah menyamaratakan Satella dengan murid bandel pembuat onar lain.
"Dulu juga aku pernah jadi murid disekolah sihir. Tidak ada loh yang pernah melawan pengajar!" Protes instruktur baru ini.
"Cara anda mengajar sungguh tidak patut. Anda tidak boleh salahkan murid hanya karena kesalahannya sepele begitu." Satella terus terusan berdebat dengan instruktur muda.
"Kenapa kamu bertindak seperti begini, apa karena aku dan kamu usianya hanya beda sedikit begitu! aku terlalu muda untuk menjadi seorang pengajar?" Instruktur pun menyerang dengan argumentasi.
"Tidak sama sekali." Balas Satella.
__ADS_1
"Sikapmu menyebalkan tau gak!" Umpat Satella.
"Setidaknya aku adalah personel mage di kementerian sihir." Kata instruktur, membanggakan diri.
"Paling-paling hanya staf biasa bukanya pasukan elit batalion penyihir." Sindir Satella.
Seolah tersambar petir seukuran benang dikepala yang melintas kebawah. Sangat kritikal ucapan Satella, sungguh memberi daya sengatan pada instruktur muda.
Instruktur muda itu mendesis.
"Nyonya kecil!" Instruktur muda menunjuk kearah Satella.
"Siapa gerangan namamu!" Seru instruktur muda tadi.
"Ahem!" Satella berdeham dengan raut wajah bangga.
"Perkenalkan namaku." memberi gestur penuh kebanggaan, Satella segera memperkenalkan diri.
"Satella shiela charlotte, putri dari keluarga bangsawan kelas satu keluarga Charlotte." Seru Satella.
Instruktur muda menundukkan kepalanya sebagai gestur muram.
"Aku merasa tidak dihargai jadi permisi semuanya." Instruktur itu segera meninggalkan kelas.
Sorak-sorai terdengar dari kubu laki-laki. Sementara aura negatif terasa dari kubu perempuan.
"Apa yang kamu lakukan Satella!" Emili mengomel dengan ekspresi tidak bersahabat.
"Hore.. kelas kosong!" Seru siswa laki-laki dengan semangat.
"Kalau sampai besok dia gak mau mengajar dikelas kita lagi gimana Stella!" beberapa siswi cewe mengomel.
Mendengar ocelah cewe satu kelas yang tak hentinya, kuping lancip Satella berkedut. Satella menjadi pusing, menutupi kedua kuping lancipnya itu dengan tangannya.
"Kamu sih!"
Atas semua ocehan bawel semua cewe dikelas Satella menanggapi dengan kesal.
"BODO AMAT LAH!" Satella kesal.
Satella pun berjalan keluar kelas sambil mengomel dengan bernada sedikit keras.
"Bukan urusan saya!" Satella kesal.
Sementara siswi cewe semakin cerewet, siswa cowo bergembira dengan sorak-sorai kemenangan.
"Hidup Satella!" Seru seluruh siswa cowo dikelas.
Setidaknya kelas bakalan kosong sampai empat jam kedepan.
Lorong sekolah.
Satella berjalan dilorong sekolah seorang diri. Ia hendak menuju kelantai sembilan untuk bertemu dengan dewi Eris. Saat berjalan dilorong ini lebih sepi dari biasa. Sedang berjalannya kelas bukan menjadi alasan, sebab sekolah menjadi sepi karena hanya siswa kelas tiga yang tersisa disini.
Siswa tahun pertama dan tahun kedua sudah diliburkan, mereka pulang ke kampung halamannya masing-masing. Hanya ada murid tahun ketiga yang tinggal selama kelas ekstra third semester.
Satella melangkah dengan wajah sedikit menunduk.
"Ternyata ramalan Violetta jadi kenyataan." Gumam Satella.
Ramalan yang terbukti benar...
Berjalan dengan wajah bete, pada akhirnya sampai dilantai sembilan.
Skip..
Ruang kebutuhan.
Satella pun memasuki ruang yang paling rahasia disekolah. Satu hal mengejutkan kembali terjadi saat Satella baru memulai tegur sapa dengan dewi Eris. Satella berjarak sangat dekat dengan meja kumpul.
"Hai Stella." Sambut dewi Eris.
"Hai juga dewi ku." Sapa Satella.
"Violetta bilang kepadaku kalau bertemu Satella setelah dua puluh menit kedepan, aku harus berkata begini padamu." Ucap dewi Eris.
"Eh?" Satella menampakkan raut wajah bengong yang imut.
"Ramalan ku benarkan." Terkekeh dewi Eris, menutup bibirnya.
"Begitu katanya." Seru dewi Eris.
"Walah.. bisa begitu." Ucap Satella dengan raut wajah kaget campur wajah menegang.
"Dipikir-pikir Violetta itu kadang lebih menyebalkan dari Isyana." Gumam Satella lalu menjatuhkan punggungnya disofa empuk itu.
"Sabar.. sabar." Seru dewi Eris, terkekeh.
"Mau nge-teh?" Tanya dewi Eris.
"Seduhlah untukku." Jawab Satella.
Setidaknya Satella dapat kesempatan tuk meredakan rasa jenuh yang menumpuk.
~bersambung~
__ADS_1