Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
menciduk penjahatnya


__ADS_3

Note : karena ini bagian penting, makanya bakal dibikin spesial chapter. Ini spesial chapter makanya lebih panjang daripada bagian part biasa.


______________________________________________


Seperti sekumpulan party dalam game online yang sedang nunggu kemunculan boss monster di field ataupun dungeon. Bohlam kristal penerawangan diletakan di meja. Semuanya menatap bohlam kristal secara bersamaan layaknya nonton siaran langsung sepak bola atau apapun itu.


"Aku yakin, semua bermula dari sikepar*t Jason itu!" Umpat Satella yang dendam akibat di kambing hitamkan sebanyak dua loop.


"Aku sepakat." Sahut Minerva.


Minerva yang terbiasa dengan kegalakkan nya, kali ini wajahnya terdiam dengan pose manis nan tenang sesejuk air.


Penerawangan Violetta diarahkan kepada meja guru. Semua fokus terhadap guru sihir yang bernama Jason itu. Suasana awalnya sangat biasa saja, sampai tiba waktunya.


7.40


Tiba-tiba Jason naik keatas mimbar yang biasanya kepala sekolah pakai untuk pidato. Jason berjalan sambil membawa kantung sihir.


"Jason.. hai Jason?" Seru kepala sekolah, agak heran karena guru Jason naik keatas mimbar tanpa persetujuan.


"Hadirin sekalian.. siswa siswi ku tercinta, saya disini ingin angkat bicara tentang insiden yang telah terjadi akhir-akhir ini." Ujar guru Jason, memulai pidatonya.


Sementara kelompok Eris order sedang menonton bohlam kristal, seseorang berkomentar.


"Tuh kan benar." Satella geram saat melihat guru Jason naik mimbar.


Kembali ke ruang perjamuan..


"Saya mendeklarasikan diri saya sebagai pemimpin akademi Griffin quen! KALIAN BISA PILIH INGIN BERGABUNG DAN SELAMAT ATAU MATI DIEKSEKUSI!" Ujar Jason yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai perebut kastel akademi.


Jason mengangkat kantung sihir kemudian mengeluarkan sesuatu yang ada didalam.


Jason mengeluarkan batu katalis pemanggilan. Adalah batu kristal dengan fungsi sumoned monster. Akan tetapi bisa saja mahluk lain yang dipanggilnya.


Jason mengangkat batu katalis itu untuk memamerkannya.


Suara gemuruh berisik yang resah kian terdengar. Tindak-tanduknya Jason telah membawa keresahan di kastel akademi sihir ini. Para guru juga kepala sekolah kini berdiri dengan kondisi siaga. Mereka kini memandang Jason sebagai musuh.


"AKU PERSEMBAHKAN! Inilah dia pangeran kegelapan." Tau-tau sosok yang telah memakan tumbal siswi yang bernama Rika pun muncul. Kemunculannya sebagai pangeran kegelapan yang telah lama tiada.


Bellatrix telah muncul kembali..


Dirinya belum tentu mati, ia telah disegel oleh white mage bernama Gandalf si jubah putih.


Menyaksikan eksistensi yang dulu hidup menebar teror dikerajaan dengan rezim dead eater. Kultus penyihir jahat yang bernama dead eater memakai sihir jahat yang disebut fel. Sihir fel mengeringkan esensi hidup korbannya.


Sosok yang paling terpukul adalah kepala sekolah itu sendiri.


Bagaimana tidak..


Kepala sekolah sampai menuduh muridnya sebagai dalang. Lalu dia membela Jason, secara yakin ia berkata bahwa Jason bukanlah pemantra nya. Ternyata yang telah memanggil pangeran kegelapan adalah Jason sendiri. Raut wajah kepala sekolah semrawut, hanya memegang ulu hati sebagai gestur merasa terpukul.


Kepala sekolah pun melangkah kearah Jason.


Anehnya siluet hitam berwujud pangeran kegelapan tak bersuara sedikitpun.


Apakah lord Bellatrix dibangkitkan sepenuhnya? Atau karena hanya potongan kecil jiwanya membuat kesadaran Bellatrix tidak bangkit sepenuhnya. Pangeran kegelapan sekarang hanya nampak seperti boneka pandora aktor yang kaku. Dengan kata lain tak lebih seperti jelangkung dengan tubuh manusia.


"APA YANG TELAH KAU LAKUKAN JASON!" Umpat kepala sekolah yang berteriak dengan lantangnya.


"Hahahaha." Jason ngakak.


"Namaku bukan Jason." Guru sihir yang bernama Jason menyatakan bahwa identitasnya itu palsu.


"Namaku Snape! Aku dulunya itu teman sekelas Bellatrix, aku adalah tangan kanan pangeran kegelapan. Aku pengguna sihir kultivasi yang telah hidup selama empat ratus tahun lebih." Ujar Snape.


Jason mendeklarasikan dirinya sebagai Snape.


"Kamu akan menyesali ini Jason! MAKSUD KU SNAPE." Umpat pak kepala sekolah dengan kesalnya.


"Apa?" Snape terkekeh, menaruh telapak tangan disisi kupingnya sebagai gestur seolah mendengar bisikan.


"Apa katamu?" Snape mengulang sebagai gestur mengolok-olok.


"Kalau begitu! bisakah anda selaku kepala sekolah, menyelamatkan murid sekalian dari peliharaan ku? Dengan bangga ku persembahkan ular balisik." Setelah itu gemuruh suara kepanikan terjadi dipintu keluar ruang perjamuan.


"JADI KAMU!" Kepala sekolah pun mengumpat, menunjuk-nunjuk kearah Snape dengan telunjuknya.


"Hahahaha." Terbahak-bahak menikmati tawa kemenangan.


Kepala sekolah yang kekuatannya terbatas baik segi fisik atau sihir memilih mengacuhkan Snape yang tertawa menang. Kepala sekolah memilih menolongmu muridnya.


Kepala sekolah tak bisa melawan mage yang memperpanjang usia sebanyak empat ratus tahun.


Kepala sekolah memiliki sihir yang kuat. Tetapi fisik dan gerbang sihir miliknya terbatas pada, kurang bisa memakai sihir terus menerus.


"Semuanya tenang!" Teriak kepala sekolah, dengan nekat ia berlari kearah ular balisik dengan cara menatap bayangan.


Melempar spell dengan efek sihir knock-back, kepala sekolah sukses memancing ular balisik. Apa yang dilakukan kepala sekolah sukses membuat beberapa murid lari dari ruang perjamuan.


Pysche wave !!


Alih-alih memakai tenaga psyche untuk telekinesis, kepala sekolah membentuk medan gaya seperti ombak bertenaga pysche. Sihir itu memukul mundur ular balisik, dipentalkan berguling-guling dan memporak-porandakan ruangan.


"TAK SEMUDAH ITU!" Tegas Snape.


Snape tidak akan membiarkan apa yang kepala sekolah lakukan sukses membawa kabur murid. Tentu saja Snape mengendalikan fragmen jiwa pangeran kegelapan tuk menyerang para murid yang kabur.


Tiba-tiba sihir kilatan petir datang menyambar kepala sekolah. Sihir yang sama dengan sihir yang telah memberi stunt pada wujud merpati Satella di loop pertama. Terpental jatuh kepala sekolah, tubuh renta kepala sekolah tak kuat menahan sihir yang pedih tersebut. Kepala sekolah memaksa tubuh berumur untuk segera bangkit tapi percuma karena ular balisik mencaploknya.


Kepala sekolah ditelan ular balisik mentah-mentah.


Tamat sudah riwayatnya..


Meanwhile.


Ruang kebutuhan.


Semuanya terkejut setelah sempat bengong dan menonton saja yang terjadi disana. Tak ada yang shock setelah melihat kepala sekolah dicaplok ular balisik. Ia berakhir masuk kedalam pencernaan ular balisik yang panjang.


"Itu dia si kep*rat Jason! Dia itu tangan kanan pangeran kegelapan, Bellatrix. Pantas saja." Yang paling heboh adalah Satella.


"Tunggu apalagi!" Minerva sampai mengepal tinjunya, kemarahannya akan diberikan untuk guru Jason yang identitasnya adalah Snape.


Terlihat semua termasuk Violetta bergegas menuju lokasi.


Skip..


Ruang perjamuan.


Kini berpindah keruang perjamuan dimana sekumpulan murid sedang dicegat. Satella dan lainnya datang untuk menghadapi ular balisik dan Snape yang mengendalikan fragmen jiwa pangeran kegelapan.


Enam orang berlari menantang eksistensi yang berbahaya.


Satella kuat dengan sihir es dan telekinesis.


Minerva kuat dengan sihir element bumi dan ilmu beladiri.


Violetta memiliki third eyes, pysche wave sebagai sihir ofensif.


Little Iota memiliki attack wave berupa pisau angin.


Isyana memiliki sihir eksplosif ringan.


Sementara dewi Eris punya white magic dan penyembuhan.


"Ular balisik masih ada." Satella tak berani menatap kedepan ia hanya bisa tertunduk.


"Jangan takut." Ujar Minerva.


Ribuan orang sembunyi dikolong meja makan ruang perjamuan layaknya tahanan. Ada juga yang berjongkok ditanah, ia menyerah kepada pengikut fanatik pangeran kegelapan, ialah Snape.


Sedikit orang berhasil kabur dan beberapa mati disengat sihir kilat avatar Bellatrix. Tiga puluh jiwa membatu kena stone curse ular balisik. Alih-alih bermain rapih, Isyana mengacaukan


Duar..


Isyana melepaskan sihir ledakan tingkat satu. Cukup melukai kulit eksotis ular balisik. Ular balisik dibuat merayap menuju Isyana.


Satella berniat untuk melakukan spekulasi, baru mulai tapi datang Violetta dengan mata ketiganya.


"Bagus.. ular itu berdarah panas. Mereka lemah akan suhu dingin, mahluk itu lemah akan es!" Ujar Violetta memberi informasi jitu berdasarkan mata ketiganya.


Padahal Satella belum melakukan apa-apa tapi Violetta tahu kalau Satella hendak melakukan sihir element ice.


[Note : seolah mata ketiga Violetta mampu memprediksi yang akan terjadi beberapa detik kedepan. Seperti sekutu akan menyerang ataupun melepaskan sihir. Itu juga memberi informasi seperti apakah serangan akan ditangkis, atau sihir akan resist, imune atau weakness.]


Driver frost !!


Satella melepaskan proyektil ice kedepan tanpa natap ular balisik secara spekulasi. Pusaran bola es tersebut kena kepala ular balisik ternyata. Kemudian darah panas mahluk tersebut dipaksa untuk mendingin. Itu membuat balisik kehilangan tenaga karena darah panasnya dipaksa terkena suhu dingin ekstrem.


Satella mengeluarkan totem dari kantung sihir yang dia jinjing di pundaknya. Totem sudah dipasang kini Satella bisa lihat ular balisik melalui mata semu. Anggota party lain juga memakai cara Satella.


Melalui mata semu totem, Satella mengetahui kalau balisik tidak membeku. Tapi tubuhnya hanya melemah saja, kulit ularnya jadi memutih karena kena timbun partikel ice dari sihirnya Satella.

__ADS_1


[Note : wujud skill driver frost itu seperti pusaran bola salju. Mirip rasengan Narutong tapi ini versi element ice nya.]


Semua tak terhenti sampai disini..


Pusaran bola salju belum reda masihlah berpusar setelah ia membentur kepala ular balisik.


Pusaran bola es semakin besar dan partikel salju yang disertai angin kencang berhembus. Sementara itu temannya mengomentari dengan.


"Hebat.. gadis setengah matang ini memang hebat. Sihir tingkat satu tetapi kekuatanya setara dengan tingkat empat." Komentar Minerva.


Satella menanggapi dengan..


"Iyakah.. kurasa hanya sihir es saja yang overpower, afinitas sihir lain sangat payah." Balas Satella.


"Iya wajar saja magic caster hanya punya dua afinitas unggulan saja. Tapi afinitas sihirmu itu impresif." Ujar Minerva.


Mata ketiga Violetta menangkap prediksi beberapa detik kedepan, spontan memberi arahan kilat.


[Note : mata ketiga itu skill pasive.]


"Semuanya gawat!" Seru Violetta.


"H~~huh?" Minerva kaget, disusul kekagetan yang lainnya.


"Berdiri dibelakang Satella! Sihir es akan meluap." Ujar Violetta.


Pusaran bola salju yang belum juga menghilang, menyemprot semburan salju kencang kesegala arah. Tau-tau dinding dan lantainya mengkristal seperti es seketika. Semua murid ikutan membeku layaknya teman sekelas Satella dikala praktik sihir.


Tapi..


Semua yang berdiri dibelakang Satella baik-baik saja. Mereka tak ikutan membeku. Saat gelombang udara pembekuan menyebar, itu terbelah oleh area yang diinjak Satella. Afinitas nya yang tinggi terhadap ice membuatnya mampu membelah badai es, seolah Satella mampu berlari dalam badai es layaknya berlari di cuaca cerah.


Semua beku kecuali Satella juga semua yang berdiri dibelakang Satella. Gelombang pembekuan terhenti sampai disini.


"Ini bagus semuanya.. saat beku murid-murid tak akan terkena pembaruan." Seru Violetta.


Gelombang pembekuan yang telah membekukan satu ruangan sudah berakhir. Kabut es yang memenuhi ruangan perlahan mereda, hingga daya penglihatan kembali normal.


Kabut mereda.. kabut mereda..


Setengah jarak pandang kembali. Terlihat banyak murid membeku dibawah meja juga berbagai sudut ruangan. Perlahan-lahan area yang bisa dilihat semakin luas saja.


"Ya.. ampun, aku baru tahu kalau Satella punya kekuatan seperti ini." Komentar Satella.


"Eh? Sudah jelas kan.. setelah aku membekukan seisi kelas bukankah kalian membuly aku karena hal itu. Ku masih ingat pipiku dicubit keras seperti adonan." Sahut Satella.


"Oh iya.. kenapa seolah baru tahu sekarang." Gumam Minerva.


"Tapi!" Ucap Minerva dengan agak sedikit kaget.


"Jangan diingat-ingat juga dong! Kan aku jadi gak enak kalau ingat bahwa kita pernah bulu kamu." Minerva memprotes ucapan Satella.


"Maaf." Balas Satella.


"Tunggu dulu!" Protes Isyana.


"Ada apa?" Tanggap Satella.


"Kita? Bukankah yang membuly hanya Minerva saja." Kata Isyana.


"Eh! Oke fiks besok aku perkosa Isyana." Ancam Minerva seraya mengangkat tinjunya. Wajah cantiknya terpejam dengan garis wajah menegang. Tampak lebih cantik saat Minerva marah.


"S1alan ini cewe yuri." Balas Isyana.


"MULUTMU TOXIC SIH!" Minerva tolak pinggang, melototi Isyana.


"Jangan dekat-dekat Minerva, nanti bisa ketularan virus lesbi. Ternyata Minerva itu cewe yuri." Violetta.


"BERISIK!" Minerva kesal.


[Note : Yuri \= girl x girl romance.]


[Satella : aneh rasanya ngedenger Violetta ngatain orang lain.] 🙄


Perlahan kabut mulai hilang..


"Hahahaha."


Suara ngakak terdengar.


"Apa?" Semua terkejut.


"Sihir rendahan seperti ini bukan tandingan ku!" Ujar Snape.


"HEBAT SEKALI! Kamu akan jadi anggota potensial dari dead eater generasi baru." Ujar Snape.


"GAK! MAKASIH." Balas Satella.


"Baiklah itu jawabanmu, artinya kalian akan mati!" Ujar Snape.


Tiba-tiba sesuatu dirasakan oleh Violetta melalui sense. Untuk kali kedua third eye Violetta bereaksi.


[Note : sense disini; skill pasive, efeknya bisa merasakan hawa kehadiran, entitas apapun itu.]


"Oh tidak!" Violetta terkejut.


"Ada apa?" Satella yang kagetan segera menoleh kearah Violetta.


"Ada yang datang!" Ujar Violetta, memberi tanda bahaya.


Satella berlari kecil tuk berpindah posisinya. Kini posisinya sejajar dengan pintu keluar masuk ruang perjamuan yang besar. Setidaknya punya tinggi tiga meter, lebar dua meter. Satella memejamkan mata untuk memperkuat sense.


"Mereka dekat!" Seru Satella yang merasakan hawa keberadaan dari sekumpulan mage yang datang.


Sense milik Satella ada dibawah Violetta tingkatannya. Satella harus melemahkan indera lainya untuk mendapatkan sense yang tajam. Sementara Violetta tanpa menutup mata dan memperlemah indera, kepekaan sense nya sudah tinggi.


Merasakan kehadiran sekumpulan mage, Satella berlari kearah pintu keluar. Satella membentuk baut es yang tajam, bentuknya mirip seperti tombak runcing.


Baut es runcing yang dibentuknya sangat banyak. Hampir mencapai seratus kurang lebih. Hingga tiga orang baru muncul dari koridor, spontan Satella melesatkan semua baut es miliknya, melesat kencang.


Ice bolt !!


Tiga orang mage berjubah hitam terpental. Luka memar sampai luka sayat diderita karena baut es yang runcing juga kuat, pecah saat baut bertubrukan. Bahkan dinding pun terkikis terkena baut es yang pecah seperti ledakan kecil. Dampaknya terhadap dinding persis yang bisa disebabkan oleh bullet sniper rifle.


"Hahaha."


Suara ngakak dari Snape.


"Percuma saja! Pasukan dead eater yang kubawa berjumlah ratusan." Ujar Snape, tertawa menang.


Menanggapi itu dewi Eris berlari menuju pintu masuk, menyulap dinding semu yang menutup pintu keluar, berproperti white magic.


White imprison !!


Jalur masuk ditutup oleh dewi Eris yang menyulap dinding semu. Lalu sekumpulan pasukan yang datang terkena knock-back setiap mereka menerobos pintu masuk yang telah disulap dengan dinding semu.


Sebuah dinding transparan yang setengah tembus pandang seperti kaca. Dinding yang melebihi beton kuatnya. Menghalangi pasukan berjubah untuk memasuki ruang.


"Terobos sajalah!" Mereka berlari masuk, dan dihempaskan hingga menubruk dinding koridor.


"Nah sekarang aman." Ucap Satella, terpejam imut dan menghembuskan napas yang lega.


"Hahahaha." Snape dengan tawa jahatnya.


"Mengesankan! Tetapi bersiaplah untuk mati." Ujar Snape.


Alih-alih menembaki lawannya dengan tombak api, Snape malah menembak api ke ular balisik.


Fire bolt !!


"Kenapa menyerang peliharaan sendiri?" Satella bingung.


"Tidak! Kamu salah." Kata Violetta.


"Eh?" Satella bingung.


"Ular balisik imune terhadap api. Bahkan dirinya mendapat regen setelah dibakar dengan api." Ujar Violetta, dengan mata ketiganya.


"Oh begitu." Gumam Satella.


"OH TIDAK! Ular balisik bergerak aktif kembali." Ujar Violetta yang bernada panik.


"Pakai baut es! Serang matanya dengan itu, ular balisik lemah terhadap ice." Seru Violetta.


Satella berlari ke observer ward. Memanfaatkan totem yang telah dipasangnya sebagai media untuk melawan balisik tanpa melihat matanya yang mengutuk.


Satella mensejajarkan penglihatan dengan mata semu observer ward. Dampak negatifnya, serangannya menjadi kurang akurat. Perspektif berubah dari first person shooter menjadi third person shooter. Hal tersebut menyulitkannya dalam menembak baut dengan akurat.


Satella mulai membentuk baut es yang banyak untuk dilepaskannya secara serentak. Hampir seratus banyaknya baut es melayang.


"Incar matanya!" Ujar Violetta.


"IYA AKU TAHU!" Satella jadi kesal karena bidikannya terganggu.

__ADS_1


"Ini sulit tau! Menembak baut es melalui mata semu." Keluh Satella.


"O~~okey aku bisa. Aku pasti bisa melakukan." Ucap Satella masih membidik, hampir yakin.


"Tembak!" Seru Satella dengan teriakan heboh.


Ice bolt !!


Seratus baut es runcing nan keras melesat secepat peluru. Baut es tak terlalu besar memungkinkan bisa melesat sekencang proyektil peluru senjata api modern. Dengan akurat seluruh baut es melesat ke kepala mahluk myth itu, pecah belah.


Beberapa baut super tajam, super keras mengenai mata ular balisik dengan telak. Sukses membutakan mata ular itu, sehingga mata ular balisik sudah tidak berbahaya.


Tapi..


"Semua hati-hati, ular balisik akan melepaskan bisa!" Seru Violetta.


Alih-alih menggunakan taring tuk menggores kulit kawan, ular malah menyemprotkan cairan bisa ular. Cairan bisa menyemprot deras dan cepat, semprotannya jauh. Cairan bisanya sangat korosif, semprotan pertama nyaris mengenai Satella.


Ular balisik memang buta tetapi masih bisa tahu posisi lawannya berdiri. Lidahnya mengecap hawa panas, sensor panas itu berfungsi seperti infrared scope. Lidahnya adalah mekanisme sang predator dalam mencari mangsa yang layak diburu berdasar rantai makanan.


Satella menoleh kebelakang dan terkejut histeris.


"Ya.. ampun! Mejanya meleleh jadi bubur kayu." Dengan hebohnya Satella jejeritan histeris sebelum menoleh kearah ular balisik yang sudah dibuat buta.


Ular balisik melakukan percobaan kedua. Semprotan kencang bisa korosif kali ini kembali mengincar Satella. Satella masih terdiam diri dengan perasaan yang shock.


"MENGHINDAR!"


Dengan cekatan, Minerva berlari kearah Satella dan melompat tuk mendorongnya. Mereka berdua terperosok kelantai dan terhindar dari semprotan bisa ular balisik. Minerva menindih tubuh Satella dengan niat menjadi perisai daging dan pasang badan kalau-kalau ada serangan bisa korosif yang ketiga.


"Oh.. tidak, lakukan sesuatu!" Seru Violetta. Kalau tindak-tanduknya sepertinya ular akan menyerang dengan bisa korosif nya lagi.


Sebelum itu terjadi dengan cepat dewi Eris menyulap tanah. Lantai disulap menjadi mengeluarkan sepasang rantai. Paku besar adalah ujung dari rantai besar itu, rantai disulap untuk memaki kepala ular. Kemudian rantai baja besar itu menjerat kepala ular supaya mulut ular tidak bisa dibuka.


"Excellent goddess." Seru Violetta.


Dengan cerobohnya Isyana pakai sihirnya. Sihir ledakan tingkat satu menghujani kepala ular balisik. Membaca situasi itu Violetta pun segera menginterupsi Isyana.


"Tidak.. jangan!" Seru Violetta.


"Kamu bisa membuat rantainya menjadi pecah." Ujar Violetta.


"Maaf." Sahut Isyana berhenti memakai sihir ledakan.


"Ular balisik kuat terhadap sihir ledakan, kena resist yang besar." Violetta bilang.


"Yes.. dia udah terperangkap." Kata Isyana.


"Iyakah." Satella yang ketindihan tubuh kuat atletis Minerva, segera berusaha bangun.


"Ouch.. sakit! Kamu menyikut dadaku, bukit kembarku nyeri!" Minerva mengomel.


"Maaf.. gak sengaja." Sahut Satella dengan wajah takut.


Satella segera berdiri.


"Hahahaha."


Snape kembali tertawa ngakak dan bersuara.


"Impresif.. kalian mengatasi ular balisik peliharaan ku itu dengan mudahnya." Snape, tepuk tangan.


"Sekarang! Serang pakai fisik pasti bisa." Seru Violetta.


"Sekarang giliran ku!" Ujar Minerva sambil menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan tangan atas yang sangat atletis.


Satella dengan konyolnya ngasih komentar..


"Ya.. ampun, lengan atas Minerva seperti lengan lelaki jantan." Ujar Satella tercengang.


"Diam! Atau aku jantani kamu." Minerva tersulut kesal.


Earth spike !!


Minerva memakai sihir element tanah untuk membunuh ular itu. Sama seperti Satella, Minerva satu talenta dengan afinitas yang diatas rata-rata. Afinitas tanah mencapai tingkat sebelas per sepuluh, angka sepuluh adalah afinitas maksimal untuk manusia miliki.


Yang digunakan Minerva hanyalah sihir tingkat satu. Karena afinitas tanahnya setara monster, Minerva menyulap tombak dari tanah jadi seukuran yang tidak wajar. Tidak wajar tuk ukuran sihir tingkat satu.


Tombak tanah itu warnanya putih seputih batu marmer keras.


Diameter tombak kayu hanya 30 centimeter saja. Tapi panjangnya hingga tiga meter. Empat tombak tanah marmer menusuk tubuh atasnya ular. Afinitas yang tinggi menyulap tombak tanah biasa menjadi tombak tanah marmer.


Darah ular mengalir.


Minerva lari kearah ular balisik sambil mengepal tinju. Setelah jaraknya sangat dekat Minerva melompat keatas kepala ular itu. Tangannya dialiri kekuatan sihir element tanah yang kuat.


Tangan Minerva meninju kepala balisik. Telak mengenai tengkorak ular balisik sehingga terdengar gemeretak suara tengkorak pecah. Tinjunya menyebabkan gelombang kejut yang membuat circle retak dilantai yang amat rusak parah.


"Hahaha." Snape kembali tertawa.


"Apa kalian pikir ular balisik bisa dibunuh hanya dalam sekali pukul saja? Aku akan memantrai dengan sihir api untuk memberikan regen terhadap ular balisik." Ujar Snape.


"TIDAK KUBIARKAN!" Minerva menyentak keras.


Minerva mengaliri sihir element tanah ditangannya. Minerva pun meninju lagi dengan sihir tanah berkekuatan gelombang kejut.


Pada pukulan keempat lantainya retak parah. Lantainya pun runtuh kebawah, Minerva melompat agar tidak jatuh kelantai bawah. Kepala ular balisik terjuntai kebawah jadi seperti jemuran digantung. Kalau tubuhnya tidak dipaku dengan tombak tanah, ular balisik pastinya akan terjatuh kelantai bawah.


[Author : wah bahaya, lantai cor dengan kerangka kawat besi bisa hancur pakai tangan kosong ] 😬


"Oh tidak.. aku keliru, ternyata peliharaan ku bisa terbunuh oleh gadis blonde molek ini dengan pukulan keempat." Ucap Snape.


"H~~huh molek? APA KATAMU... BR*NGSEK!" Umpat Minerva yang emosi karena seorang pria bicara tentang bentuk tubuhnya. Secara tidak langsung itu menggerayangi tubuh wanitanya via jalur verbal.


"Kalian boleh saja mengalahkan peliharaan ku! Tapi kalian akan segera tewas olehku." Ancamnya.


"BERISIK!" Sentak Minerva yang berdiri paling depan.


"Serang dia lord Bellatrix!" Seru Snape, memberikan perintah pada siluet hitam tersebut.


Siluet hitam melompat dari atas mimbar, tetapi dia tidak terjatuh kebawah setelahnya.


Iya, itu benar..


Karena Bellatrix terbang.


Kakinya ada setengah meter diatas tanah, ataupun lantai. Melayang ia kearah Minerva yang berdiri paling depan diantara lain. Berhadapan  dengan pangeran kegelapan tidak membuat Minerva gentar, entahlah. Meski wajahnya sok berani tetapi lututnya gemetaran sedikit.


"AKU TIDAK TAKUT!" Ujar Minerva berteriak lantang.


Terbang melayang. Maju kearah Minerva, siluet hitam menembak proyektil petir berbentuk pusaran petir melesat kencang.


Thunder shock !!


Dengan cepat Violetta melakukan peran support yang krusial.


"Tanah itu resist terhadap petir!" Violetta meneriakkan bantuan.


"Makasih." Senyum tipis terukir diwajah remaja tercantik diantara remaja se-kerajaan.


Stone wall !!


Membentuk dinding batu yang tak terlalu luasnya. Dinding tanah itu hanya untuk media penyerap kilat proyektil petir.


Proyektil bola petir diserap oleh tembok tanah sebagai media anti setrum. Minerva dengan senyum menantang fragmen jiwa pangeran kegelapan yang sangat kuat.


Minerva menyulap defense barier berelement tanah. Puing-puing berterbangan mengitari tubuhnya. Itulah sihir pertahanan yang akan mementahkan semua sihir petir. Setidaknya sihir lightning berdaya serang tinggi jadi terasa geli, nilai serangan yang masuk jadi sedikit.


"Siapa namamu gadis blonde yang bertubuh molek?" Snape bertanya.


"PERSET*AN!" Umpat Minerva.


"Jadilah haremku! Akan aku bagi harta karun ku." Snape mengedip sebelah matanya kearah Minerva yang dibalas tatapan jijik yang dipenuhi kemarahan.


"PERS*TAN! dengan harta karun. Tidak sudi rasanya hidup dengan orang berusia empat ratus tahun lamanya!" Balas Minerva.


"O, k~~key." Snape pun tersenyum masam setelah pernyataan cintanya dibalas sebelah mata.


Mungkin hanya takjub akan pesona remaja paling cantik se kerajaan.


"Kalau kamu bisa mengalahkan ku dalam satu giliran maka aku akan mundur dari sini! Dan menemui dirimu lagi nanti." Snape bilang, menyeringai penuh percaya diri.


"Itu mudah.. ku terima tantangan darimu. Dasar kau kerangka awet muda YANG BAU TENGIK!" Balas Minerva menerima tantangan.


Mendengar umpatan bagai Raung singa dari Minerva, Snape menguap sembari tersenyum terhibur.


"Hoam.. aku bosan, tapi. Jadi penasaran seberapa kuat wanitaku yang molek ini. Haremku sangat mantap gila bodinya, ku nantikan malam pertama penuh gairah."


Kata-kata Snape yang asal bicara bukan hanya memprovokasi saja tetapi membuat Minerva menjadi sangat~ sangat murka.


"NA*JIS BAGET DEH! Ku hajar ya. Bakal ku buat tewas dalam sekali serang kau kerangka awet muda. Dasar mayat yang diawetkan jadi muda lagi. Hiduplah di neraka KULTIVATOR HINA!"


Minerva meraung bagai singa dan meluapkan kemurkaannya..

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2