Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Tetangga


__ADS_3

Satella terbangun dari mimpi buruknya.


Bangkit dan duduk disisi ranjang. Satella langsung mengambil teko berisikan air putih. Kondisi Satella sekarang sungguh mengesalkan.


Satella bernapas cepat.


"Ya ampun ... tuhan, duh jantungku."


Satella mengusap-usap dada kirinya dikala jantungnya berdetak sangat cepat. Jantungnya yang cepat jelas seirama dengan napasnya yang juga cepat. Napasnya bukan hanya cepat, tetapi setiap napas dipasok sangat panjang tanpa ia bisa kendalikan.


Seolah tubuhnya memaksa banyak oksigen masuk ke paru-paru. Udara dipaksa masuk sebanyak mungkin secara alamiah.


"Duh, jantungku." Batin Satella, ia terus menggosok dadanya. Satella berharap detak jantungnya kembali normal dan berdetak pelan.


Lehernya penuh keringat. Kulit seputih porselen Satella sampai mengkilap karena banjirnya air keringat.


Satella mulai merengek.


"Huhuhu ... takut, papah, kakak Diana ... hu Starla, semuanya. Takut, pengen pulang. Aku Takut, pengen pulang huhuhu...." Merengek disisi ranjang Satella hampir menangis.


Siapa sangka mage harapan kementerian sihir adalah seorang gadis kecil yang cengeng. Usianya sudah dewasa, mentalnya rapuh seperti putri kecil belia yang amat dimanja orang tuanya.


Satella mulai tersedu-sedu.


Ditengah tangisan kecil Satella, ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Mengusap pipi dan pelipis matanya dengan punggung tangan. Setelah menghapus air mata tangis cengengnya, ia bergegas menuju ke pintu kamarnya.


"Siapa itu?" Seru Satella.


"Ini kami, penghuni lainnya." Balas salah seorang.


"Kami?" Satella bengong.


"Berarti banyak orang dong." Pikir Satella.


Setelah tahu kalau diluar ada banyak orang, Satella pun merasa lebih tenang.


Akhirnya Satella membuka pintu.


"Ada apa ya?" Satella dengan raut wajah polosnya.


Ada lima orang berkerumun dan memandang kearah Satella. Seolah mereka bernapas lega karena tak terjadi kejadian yang kacau.


"Kami mendengarkan suara jeritan secara berulang. Kami pikir ada seseorang didatangi oleh werewolf. Syukurlah kalau adik kecil aman." Kata seorang bapak-bapak.


Kemudian seorang kakak-kakak mendatangi Satella. Dilihat dari penampilannya, ia seperti terpaut empat tahun diatas Satella usianya. Satella menyadari kalau jeritan itu berasal dari dirinya sendiri. Tanpa disadari ia menjerit saat mendapat mimpi yang buruk.


"Kalau butuh bantuan katakan saja adik kecil." Kata kakak-kakak.


"Makasih kak." Balas Satella.


"Namaku Osya, aku menempati kamar nomor 13 kalau adik butuh bantuan silahkan mampir." Kakak tersebut memperkenalkan diri.


"Kalau males jauh-jauh, pak Oman adalah orang yang tingginya tepat disebelah kanan kamarku, dik?" Diakhir kalimat Osya memberikan nada bertanya seolah ingin tahu siapakah nama tetangganya.


"Namaku Satella."


Kemudian seseorang datang.


"Sudah ada yang dijemput. Orang yang tinggal di sebelahku ditarget werewolf! Tubuhnya dimakan dan hanya menyisakan lengan kanan. Mengerikan...." Seru seorang pria dengan nada histeris.


Seseorang berlari mendekat kesini.


"Werewolf terkutuk telah memakan suamiku! Oh tuhan, kalian harus mencari siapa dalangnya! Semua ini salahnya pangeran!" Ujar seorang ibu-ibu berusia 30 lebih.


"Bersabarlah." Ucap paman Oman.


"Anakku juga ikut dimakan oleh werewolf itu! Huhu ... ha...."


Wanita rumah tangga itu telah kehilangan keluarganya karena werewolf.


"Benarkah?" Osya kaget.


"Sabar buk." Bujuk pak Oman.


Satella gemetar dengan suasana mencekam ini.


Bagaimana tidak.


Tadi sore baru saja dirinya shock karena diserang oleh pengguna senjata api. Padahal baru saja bisa selamat dari serangan werewolf. Sekarang diteror oleh mimpi yang buruk. Tau-tau suasana seorang ibu rumah tangga yang kehilangan keluarganya membuat suasananya semakin mencekam saja.


"Padahal, padahal, padahal dia itu suamiku tercinta. Segalanya bagiku, hu ... hu...." Sosok ibu rumah tangga itu menangis tersedu-sedu.


"Panutan ku." Ceracau wanita itu sambil tersedu-sedu.


"Aku kehilangan segala-galanya."


Semua yang berada disana sedang berusaha menenangkannya.


"Walah, bakalan gak bisa tidur." Keluh Satella.


Satella berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Satella merebahkan dirinya dikasurnya. Justru suasana bising membuat Satella lebih tenang dari sebelumnya. Satella jadi nyaman dengan banyaknya suara diluar.


Tanya kenapa?


Sebab kalau hening, Satella malah ditakutkan oleh werewolf yang bisa muncul kapan saja. Karena diluar banyak orang, makanya Satella jadi merasa aman sekarang.


Satella mengantuk.


"Gini kek dari tadi." Ceracau Satella sambil menguap ngantuk.


Satella tertidur pulas.


bahkan terdengar nada suara dari napasnya.


Semakin terdengar nada di mulut Satella kala tidur, semakin jelas ia merasa lelah.


Pagi hari.


Karyawan penginapan berseragam butler membawakan sarapan tuk setiap penghuni. Satella menyantap sarapan dengan penuh selera. Lalu ditengah sesi sarapan, suara pintu diketuk pun terdengar.


"Siapa?" Tanya Satella.


"Ini aku, Climbt." Sahutnya.


"Masuk!" Balas Satella.


"Pintunya terkunci!" Balas Climbt.


Satella terkekeh.


"Oh, iya, aku lupa." Satella hendak membuka pintunya.


Kini Satella dan Climbt bertemu.


"Satu orang tewas!" Ucap Climbt.


"Beserta anaknya kan." Satella membalas.


"Aku menerawang seorang yang kemarin jadi perusuh di forum. Ternyata ia bukan werewolf yang kukira. Lantas apa tujuan mereka melakukan itu? Siapa provokator sebenarnya? Apa provokator itu bagian dari tim werewolf?" Climbt bertanya-tanya.


"Beritahu aku siapa nama orang tersebut! Kemaren itu siapa yang kamu terawang?" Tanya Satella.


"Yang mengusulkan sistem voting untuk memberikan hukuman mati pada orang yang dituduh sebagai werewolf." Jawab Climbt.


"Kenapa kamu mencurigainya?" Satella bertanya.


"Aku curiga, sistem voting adalah siasat tim werewolf untuk bikin penghuni salah eksekusi. Seiring berjalannya waktu, orang-orang banyak yang tewas. Baik dimangsa werewolf atau di eksekusi mati." Begitulah alasan Climbt.


"Eh, imutnya." Climbt gelisah saat melihat ekspresi wajah polos dari Satella.


"Apa kamu bilang?" Satella bete.


"Gak apa-apa, kamu salah dengar." Climbt membuang muka.


Satella tak memperpanjang.


Satella mengeluh.


"Situasinya parah banget. Pertama, penjagaku diserang werewolf dan terluka parah. Kedua, tau-tau ada seorang yang salah tembak sampai warga tak bersalah menjadi korban. Lalu sistem vote membuat seorang yang bukan werewolf mati. Kalau terus berlanjut, lama-lama semua tewas dalam scenario tim werewolf."


Satella menarik napas berat.


"SEMUANYA KACAU!" Keluh Satella, dengan ekspresi heboh campur rasa frustasinya.


Disaat yang sama Climbt juga ikut mengeluh.


"Semua ini salahku." Keluh Climbt.


"Kamu salah apa?" Satella dengan ekspresi bingungnya.


"Aku tidak mampu mengungkap kedok werewolf." Climbt dengan frustasi.


Susana kian suram.


"Ditambah, menerawang satu demi satu tidak mungkin. Bisa-bisa nanti orang-orang mati dimangsa mereka. Korban salah hukum pun semakin banyak." Curhat Climbt.


"Oke, sudah tahu siapa yang akan kamu terawang?" Tanya Satella.


"Belum tau." Jawabnya.


"Kalau begitu aku punya nama." Satella memberi usulan.


Orang yang ingin diungkap adalah tetangga Satella. Sebelum mencari kedok werewolf, Satella ingin agar orang terdekat diungkap terlebih dahulu. Sebenarnya ini akal-akalan Satella supaya merasa aman.


Skip....


Pada kesempatan kali ini Satella menghadiri forum. Semua akan memperdebatkan siapa yang akan dituduh sebagai werewolf.


Sajian telah tersaji.


Ditengah jalannya forum.

__ADS_1


"Saya ucapkan bela sungkawa pada orang yang kehilangan keluarganya malam tadi. Kedok werewolf yang bersembunyi diantara kita ku akui telah menjadi momok yang amat mengerikan. Saya inspektur Jay memohon maaf karena tak becus menanggani masalah yang sedang berlangsung ini."


Inspektur berbicara tanpa adanya motivasi.


Tingkat kepuasan inspektur Jay sebagai perwira polisi militer pun menurun drastis.


"Dikarenakan saya gagal dalam mencari petunjuk, saya memberi usulan agar tidak ada orang yang memberi vote dulu. Jangan sampai salah hukum, mengakhiri hidup seseorang yang tidak bersalah itu sungguh tak etis." Inspektur Jay menghela napas berat.


Sekali lagi inspektur menegaskan.


"Walau begitu sistem vote tetap berlaku. Hanya saja saya memberi usulan agar tidak melakukan vote terlebih dahulu." Ucap inspektur.


Suasana hening namun cukup mencekam. Siapa saja bisa mati setelah malam tiba.


Forum selesai.


Malam pun berlalu.


Skip....


Kamar Satella.


Satella duduk sambil menatap ke cermin dimeja rias kamar. Hari ini Satella tidak mendapat petunjuk tentang siapa yang harus ia tuduh sebagai werewolf. Satella hanya bisa tidur, melakukan skip sampai esok. Sambil memandangi wajah pada pantulan cermin, Satella meneguk segelas air putih. Menghela napas.


Kemudian menelan pil karena ia kesulitan tidur. Akankah tidurnya menjadi nyenyak, lalu tak datang mimpi tentang werewolf lagi.


Memejamkan mata, ia berhitung sampai mengantuk. Mempercepat kerja obat tidurnya.


"Satu domba, dua domba, tiga domba, empat werewolf." Ia berhitung.


"APA...." Satella heboh sendiri.


"Jangan ada werewolf, jangan lagi." Satella mengeluh.


Berjalan menuju kasur, Satella pun menjatuhkan dirinya diranjang.


"Satu kucing, dua kucing, tiga kucing, empat kucing, kucing oren." Satella berhitung dan terlelap.


Malam pun berlalu, Satella tidur sangat nyenyak.


Besoknya....


Satella terbangun. Akhirnya bisa membuka matanya dengan tenang. Tidak ada mimpi buruk malam ini. Menoleh kearah jam yang setinggi setengah lemari. Waktu di jam-nya menunjukkan pukul enam pagi.


Matanya melihat jelas kearah jam kayu antik. Walau pendengarannya masih samar-samar, perlahan mulai mendapatkan pendengaran kembali.


Ketika pendengaran pulih, Satella mendapati suara berisik di luar. Seolah orang-orang mengobrol dilorong dekat kamarnya. Sangat ramai suara yang didengarnya.


Bahkan,


Suara ketukan palu terdengar disamping kamarnya.


"Tetangga, kenapa berisik. Tetangga sedang membetulkan apa?" Keluh Satella, mengucek matanya ia pun mulai duduk disisi ranjang.


Mengucek mata lalu bercermin. meminum segelas air, menyisir rambutnya. Satella penasaran lalu beranjak menuju pintu kamar.


Pintu dibuka.


Menengok kearah kanan dan kiri, banyak orang berkumpul dilorong penginapan. Para penghuni sedang mengobrol. Para pekerja sedang memperbaiki pintu kamar yang berada disebelah kanan kamarnya Satella. Melihat ada pintu sedang diperbaiki, firasat Satella buruk.


"Ada apa ini?" Satella resah.


"Selamat pagi." Seorang ibu yang belum lama ini kehilangan anggota keluarga, menyapa Satella.


"Pagi juga." Balas Satella.


"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya ibu itu.


"Tentu." Jawab Satella dengan raut wajah lega.


"Seharusnya begitu, mungkin akan jadi yang terakhir. Dalam situasi ini siapapun bisa mati, kapan saja tau." Kata-kata horor diucapkan ibu itu.


Satella mengerutkan keningnya.


"Namaku Rocele." Ia memberikan namanya.


"Aku, Satella. Aku tak punya marga jadi, panggil saja Satella." Mereka sudah berkenalan secara formal.


"Semua salah pangeran keempat!" Ucap Rocele.


"Permisi?" Satella.


"Pangeran mengkarantina kita bersama werewolf itu. Kita semua dijadikan pion. Semua ini karena kegagalan pangeran keempat tuk menangkap werewolf. Harusnya pangeran mengirimkan para ahli. Menurutku pangeran memakai seorang staf kementrian untuk menangani ini. Sepertinya orang kiriman kementerian sihir masih amatiran." Rocele berkomentar.


"Permisi, aku mau mandi." Satella segera kembali ke kamar.


Satella heran, kenapa kedoknya tercium.


Apakah tim werewolf mengetahui keberadaan magic caster kiriman kementerian sihir?


Satella semakin tak tenang.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2