Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
meracik ramuan sihir


__ADS_3

Violetta pun keluar dari toko sihir tersebut. Membawa kantung yang berisi bahan-bahan ramuan, itu sangatlah banyak kalau dilihat dari besar kantungnya. seperti kantung berbahan kain yang ditenun.


"Mahalnya." Keluh Violetta.


"Uangnya cukup kan?" Theodore berjalan dari sampingnya.


"Iya sih. Kalai aja aku gak dapat bantuan dari Stella, bakal susah." Violetta bilang.


Theodore menyimak.


"Aku bukan dari keluarga kelas ekonomi atas, kaya Stella." Keluh Violetta.


Melangkah beberapa langkah.


"Oh goddess.. aku butuh keledai courier." Keluh Violetta.


"Keledai courier." Tanya Theodore.


Violetta menoleh.


"Jadi dia yang mengangkat barang bawaanku. Satu mahluk sihir yang ada karena metode mutasi sihir, sehingga taraf kecerdasannya itu sedikit naik." Violetta mengoceh.


"Mau ku bawakan itu temannya master?" Tanya Theodore.


"Iya silahkan." Violetta memberi barang bawaannya pada Theodore.


Mereka berjalan pulang kearah sekolah. Lavender alley tak terlalu jauh dari kastel sekolah sihir. Dari jalanan kecil itu saat menengok ke kanan, dapat terlihat bagian atas bangunan kastel akademi walau terhalang beberapa bangunan yang tinggi menjulang. Ada bangunan untuk sewa kamar, persis rumah susun didunia modern. Banyak tanaman hias indah tergantung ditembok gedung-gedung sekitar.


"Tidak pakai magic bag?" Tanya Theodore.


"Sekantung bahan-bahan ramuan sihir ini tidak muat dimasukkan kedalam magic bag, mulut tas tak muat untuk dimasukan sekantung bahan ini. Kalau dimasukan satu demi satu nanti didalamnya bakal berserakan, diambilnya lagi jadi sulit." Ujar Violetta.


"Oh begitu." Sahut Theodore.


Sesekali Theodore menoleh kearah kanan dari jalur gang sempit yang mereka lalui. Saat menatap kearah kanan, Theodore melihat kastel bagian atas dari sekolah mereka. Ketika Theodore memandang ke kanan, yang terlihat cuma lantai enam sampai dua belas. Kastel akademi sangatlah megah dilihat ketika ada dijalan gang kecil ini.


"Lihat apa Theo?" Tanya Violetta.


"Aku hanya baru menyadari kalau bangunan yang kita tinggali selama ini ternyata sebesar ini." Komentar Theodore.


"Megah kan." Seru Violetta.


Hening sejenak.


"Eng.. anu, sebenarnya semua item yang dibeli itu untuk apa?" Tanya Theodore.


"Veritaserum." Ucap Violetta.


"Apa?" Theodore yang bernada bertanya.


"Veritaserum punya efek sihir tuk memaksa seseorang berkata jujur. Bahkan jika dia menolak untuk menjawab, pada akhirnya ia akan menjawabnya juga." Ujar Violetta.


"Oh.. aku ngerti." Sahut Theodore.


"Huh?" Violetta menoleh kearah Theodore, bernada bertanya.


"Pastinya temannya master ingin mencoba cara lebih halus dalam menginterogasi." Ucap Theodore.


"Itu benar." Seru Violetta


"Tapi cara ini ilegal." Violetta.


"Otoritas yang punya hak untuk menggunakan veritaserum adalah lembaga pengadilan, lalu otoritas sekolah, juga beberapa lembaga kerajaan lainnya." Ujar Violetta.


"Begitu." Gumam Theodore.


"Veritaserum sulit untuk diracik, mungkin aku akan gagal dalam membuatnya." Kata Violetta.


"Veritaserum juga bisa di counter dengan ramuan penawar." Ujar Violetta.


Angin berhembus sejuk, matahari menampakan cahaya cerah. Ada sekelompok anak-anak bermain dijalan sempit, dengan cerianya.


Keluar dari jalan gang sempit tuk masuk kejalan raya. Sebelum tiba di protokol utama, Theodore datang dengan usulannya.


"Sudah mau pulang?" Theodore bertanya.


"Iya." Jawab Violetta.


"Tidak mau jalan-jalan dulu atau semacamnya." Usul Theodore.


"Tidak mau, aku buru-buru nih." Jawab Violetta.


"Sayang sekali, padahal sedikit berbelanja boleh juga." Theodore menghela napas berat.


"Kenapa, kamu tidak senang?" Violetta pun menatap Theodore dengan tindak-tanduk suram.


"Uh.. tidak, bukan apa-apa." Ucap Theodore, masuk kedalam suasana yang canggung.


Violetta menghela napas berat.


"Well.. kita punya tiga gold coin pemberian Stella, berbelanja gak masalah. Aku tuh gak ada waktu, harus selesaikan masalah saat ini tentang sindikat penyalahgunaan potion. Lain kali ya." Kata Violetta.


Mereka bergegas menuju kastel sekolah sihir.


Skip...


Lorong sekolah.


Violetta berjalan kaki sampai di lorong sekolah. Berhenti dipintu masuk sebuah ruangan.

__ADS_1


"Bisa bantu aku?" Violetta bicara kepada Theodore.


"Iya tentu." Jawabnya.


"Masuklah dulu!" Kata Violetta.


Mereka pun masuk keruangan tersebut. Theodore pun menaruh bahan ramuan yang mereka beli diluar sekolah.


"Bawakan aku kotak berisi bahan ramuan yang telah aku panen dari rumah kaca." Pinta Violetta.


"Akan aku bawakan." Theodore bergegas pergi.


Skip...


Ruangan yang sedang ditempati Violetta adalah kelas praktikum ramuan. Untuk saat ini ruangan praktikum tidak terlalu banyak dibutuhkan.


Beberapa saat kemudian.


Ruang praktik ramuan.


Theodore memasuki ruangan lalu menaruh sekotak bahan ramuan Violetta. Theodore menaruh kotak diatas meja, lalu mendekat kearah Violetta berdiri.


"Aku masih butuh bantuan, tapi aku gak maksa." Pinta Violetta.


"Tentu ku bantu." Sahut Theodore.


"Karena aku meracik ramuan sihir yang dilarang, tolong jaga pintunya supaya tidak ada orang yang masuk kedalam sini." Ujar Violetta.


"Baiklah temannya master, akan segera ku laksanakan." Theodore menuju pintu keluar.


Kemudian..


Violetta mencuci bahan-bahannya, mengupas bersih lalu melakukan brewing. Kuali berisi air Violetta panaskan, satu demi satu bahan dimasukan ke kuali bundar hitam khusus meramu potion. Kuali nya mengeluarkan gumpalan asap berwarna, diujung proses reaksi uapnya kembali memutih. Proses meracik ramuan butuh waktu dua jam kurang lebih. Terlihat Violetta mengusap keringat seolah merasa tersiksa dengan gerahnya ruangan yang penuh uap air perebusan.


Ramuan ditiriskan Sebelum bisa dimasukkan kedalam botol kaca. Ramuan dalam kuali ditiriskan dengan cara alami tanpa campur tangan sihir angin, sebab akan mempengaruhi senyawa nya.


Dua puluh menit berlalu, ramuan sudah tiris. Belasan botol kaca itu diisikan ramuan dari kuali bundar. Diakhir proses perebusan airnya menjadi sedikit. Ramuan yang jadi hanya belasan botol kaca bundar yang volumenya hanya 500ml.


Jelas-jelas volume air awalnya sebanyak setengah kuali bundar perebusan yang besar. Tapi air banyak menguap selama masa perebusan ramuan sihir. Violetta memasukan enam belas botol veritaserum kedalam magic bag.


Skip..


Lorong sekolah.


Violetta berjalan keluar ruangan praktik ramuan.


"Sudah selesai." Seru Violetta.


Theodore menoleh.


"Ya ampun, anda sangatlah basah oleh keringat." Komen Theodore.


"Selama proses perebusan bahan ramuan, ruangan jadi panas akibat dipenuhi uap air yang panas. Aku kegerahan karena panasnya suhu ruangan deh." Keluh Violetta.


"Tunggu aku di ruang kebutuhan oke." Kata Violetta.


"Aku pulang dulu ke asrama, aku rasanya pengen mandi supaya aku merasa sejuk." Violetta pamit.


Violetta pun berjalan dilorong, Theodore memandangnya yang berjalan kearah berlawanan.


"Aduh..." Theodore geleng-geleng kepala.


"Benar-benar tipikal wanita yang mandiri dan pekerja keras." Ucap Theodore, senyam-senyum.


Skip...


Satu jam lebih telah berlalu dan Violetta datang kembali keruang kebutuhan.


Ruang kebutuhan.


Sekali lagi Violetta tiba diruang kebutuhan. Memasuki ruang dan disambut oleh Satella dan butler setianya, juga dewi Eris. Violetta  menuju meja perkumpulan yang berada paling tengah, dikelilingi banyak sofa mewah nan empuk.


"Hai Vio." Sapa Satella.


"Kemari Violetta." Sambut hangat dewi Eris.


Saat Violetta melangkah, bajunya nampak baru dibanding tadi pagi ataupun siang. Rambutnya masih basah walau hampir kering karena dikeringkan handuk dan angin.


"Ganti baju nyonya." Theodore menggoda.


Theodore masih teringat betapa mengkilap kulit Violetta karena basahnya keringat. Bahkan kain lembut gaun hitamnya menggelap karena basahan keringatnya. Tapi sekarang dengan gaun berwarna ungu purple, masih kering sangat wangi dan rapih tertata.


Violetta melotot kesal kearah Theodore, mendesau sebal.


"Yang mana yang lain?" Tanya Violetta.


"Mereka sudah lama pergi." Jawab dewi Eris.


Satella komentar.


"Mereka becicilan kemana-mana." Satella tertawa kecil.


"Panggil salah satu dari mereka, tolong ya." Pinta Violetta.


Satella berdeham.


"Theodore tolong ya." Seru Satella, memberi perintah.


"Baiklah."

__ADS_1


Theodore menghela napas berat.


"Gak suka?" Satella pun melototi Theodore dengan wajah juteknya.


"Suka kok." Theodore dengan raut cengengesan.


Akhirnya Theodore meninggalkan ruangan.


"Mau teh?" Tanya dewi Eris.


"Wah boleh." Seru Satella.


"Entah kenapa aku lagi pengen minuman dingin." Ucap Violetta.


"Nanti ku sulap minumannya jadi dingin, aku kan snow elves." Kata Satella.


"Ya.. aku tau, aku meramalkan itu akan terjadi." Gumam Violetta yang bernada lesu, sambil sesekali Vio menguap seperti tanpa semangat.


Skip...


Beberapa menit pun telah berlalu dengan tiga gadis sedang asiknya pesta minum teh. Hanya Violetta seorang yang minumannya dingin.


"Segarnya." Seru Violetta, bernada lesu dengan mimik wajah datar.


"Sebegitu dahaganya kamu karena meminum air dingin, apa kamu itu habis dehidrasi ya Vio?" Komentar Satella.


"Peka nya kamu. Aku habis bikin ramuan, uap perebusan ramuan membuatku kegerahan." Violetta bercerita.


"Apalagi aku. Kaum snow elves itu paling gak bisa kegerahan. Rasanya seperti disiksa." Komentar Satella.


Hening sejenak.


"Ngomong-ngomong kamu mau manggil satu orang itu untuk apa Vio?" Tanya Satella.


"Buat uji coba ramuan." Violetta menjawab.


"Ramuan apa?" Tanya Satella.


"Veritaserum." Jawab Violetta.


"Apa katamu?" Satella tercengang.


"Veritaserum." Violetta sekali lagi menjawab.


"Kamu pasti gagal." Kata Satella.


Violetta mendesau bete. Melihat ekspresi Violetta yang lebih suram dari biasanya, Satella jadi merasa bersalah dan mencoba meluruskan.


"Maaf bukannya aku meremehkan kamu loh Vio, veritaserum bukan ramuan yang mudah diraciknya. Veritaserum adalah ramuan sihir yang paling sulit diraciknya, lalu presentasi suksesnya juga sangat tipis." Ujar Satella.


Violetta menjawab dengan nada suram.


"Apa salahnya mencoba." Violetta bilang.


"Semoga berhasil ya Vio." Satella mencoba membangun kepercayaan diri Violetta.


Violetta tersenyum tipis.


Tidak lama kemudian datanglah Theodore. Orang yang dibawanya adalah Isyana dengan mood yang kurang begitu baik.


"Permisi man teman sekalian, aku dipanggil kesini buat apa? Tanya Isyana, dengan senyum masam.


"Aku butuh bantuan." Violetta merengek.


"Hu.. mata sayu, ayo buku akunya yang bener." Isyana dengan nada mengolok-olok.


"Ayolah jadi kelinci percobaan ku, seperti saat-saat yang sebelumnya." Violetta bilang.


"*****.. kelinci percobaan." Isyana tersentak kaget bercampur sedikit perasaan suram.


"Beginilah caramu membujukku dasar mata sayu, dasar wajah lesu tanpa gairah." Omel Isyana.


Violetta mendesau hampir saja menyerah. Sementara itu Satella memberi bantuan.


"Ayolah bantu Vio, nanti kamu kuberikan uang saku loh Isyana." Bujuk Satella.


"Yeay.. uang saku buat shopping." Isyana kegirangan.


"Dasar matre." Satella pun berbisik saat menyindir.


"Berapa?" Tanya Isyana.


"Lima keping koin silver." Tawar Satella.


"Bahkan cuma setengah dari gold koin." Gumam Isyana, kurang puas.


"Satu koin gold deh." Ucap Satella menaikkan tawaran.


"Jadikan itu dua gold koin." Isyana menaikan permintaan.


"Ayolah satu koin sudah banyak." Sindir Violetta.


"Benar kata Violetta, tapi sebagai tanda pertemanan maka akan aku berikan tiga gold coin." Satella pun menaikan nilai hadiahnya.


"Wadidau.. bisa shopping banyak akunya." Isyana senyam-senyum.


"Deal nih?" Tanya Satella.


"Iya deal." Jawab Isyana.

__ADS_1


Satella dan Isyana berjabat tangan.


~bersambung~


__ADS_2